
Lien Hua menatap dua anak kecil di depannya dengan berkacang pinggang, dia terlihat sedang menilai keduanya. Sementara itu, kedua anak kecil itu saling berpegangan tangan seolah saling memberi kekuatan.
Setelah lama dikuasai kesunyian, Lien Hua berjongkok dan menyamakan tingginya dan anak laki-laki tersebut.
“Apa kau ingin tinggal di sini sementara waktu? Kau bisa tinggal bersama adikmu, tapi dengan syarat. Jangan mengacaukan rumahku dan bersikap baiklah selama aku pergi, mengerti!”
Keduanya hanya mengangguk kecil sebagai jawaban, Lien Hua tersenyum tipis dan mengusap rambut kedua kakak beradik itu dengan lembut.
“Siapa nama kalian? Kalau aku, panggil saja Kak Lina. Dia Xia.” Lien Hua melirik ke arah Xia He yang tersenyum.
“A-aku Juan, dan dia adikku. Xiu,” jawab anak laki-laki itu, sementara adik perempuannya bersembunyi di belakangnya sambil memegang tangan sang Kakak.
“Salam kenal ya, Juan. Xiu, semoga kalian bisa betah di kediaman ini. Dan selamat datang.”
“I-iya, terima kasih. Kak Lina,” kata Xiu, Lien Hua sempat terpanah dengan suara Xiu yang sangat indah dan juga terdengar lembut.
'Aku yakin keduanya bukan anak biasa, tatapan mata Juan. Suara Xiu, semuanya seolah memiliki arti dan juga sangat bahaya. Aku harus lebih mengawasi mereka, dan.. sepertinya mata berwarna emas itu langkah. Dan Juan, memilikinya?'
Lien Hua semakin yakin kalau keduanya bukanlah kakak adik pada umumnya, melainkan kakak adik dengan kekuatan atau rahasia yang amat tersembunyi.
“Kak Lina.”
Lamunan Lien Hua seketika terbuyar saat Juan memanggil namanya. “Iya, ada apa Juan?”
“Begini--” Juan menunjuk ke belakang Lien Hua dengan bola matanya yang agak bercahaya terang.
“Kenapa naga itu ada di belakang Kakak, apa dia mengikuti Kakak?”
“Eh??” bingung Lien Hua, begitu pula dengan Xia He yang tak mengerti dengan ucapan Juan yang aneh.
“Naga? Apa, maksudnya di belakangku? Tapi tidak ada apa-apa Juan, apa kau salah lihat?” Lien Hua menoleh ke belakang namun tak menemukan naga yang dimaksud Juan, anak laki-laki itu menggeleng.
“Aku tidak salah lihat, Kak. Dia ada di belakang Kak Lina, sepertinya menjaga dan melindungi kakak.”
“Ah baiklah, dia ada di belakangku. Apa sekarang kau senang?” Lien Hua menganggap Juan hanya bercanda padanya.
Juan mengangguk kecil. “Bentuknya seperti naga kristal, apa. Kakak tidak bisa melihatnya?”
“A-aku bisa melihatnya, tadi hanya bercanda saja kok. Sudah ya, aku kita makan. Xia He sudah menyiapkan makanan untuk kalian berdua, setelah itu. Istirahatlah, pelayan lain akan mengantar kalian ke kamar,” Lien Hua tersenyum lembut.
“Baik, K-kak Lina.” jawab Xiu setelah lama terdiam, dia menyembunyikan dirinya di belakang Juan.
“Imutnya, Xiu sangat manis ya.”
...----------------...
“Ada apa, Nona Lina? Kenapa Anda memanggil saya.”
“Xia, apa kau merasakan hal yang sama sepertiku?” Bukannya menjawab, Lien Hua malah balik bertanya.
“Tentang Juan? Ya, memang dia sedikit aneh. Tapi mungkin saja Juan bisa melihat hal-hal yang tidak bisa kita lihat.”
“Maksudmu, hal seperti. Supranatural? Roh? Atau makhluk halus?”
“Bukan seperti itu, Nona. Tapi maksud saya--” Xia He langsung diam saat pintu terbuka, keduanya menoleh dan melihat Xiu yang tampak ingin mengucapkan sesuatu namun malu-malu.
“Xiu, ada apa? Apa kau perlu sesuatu?” tanya Lien Hua lembut, Xiu memberanikan dirinya dan melangkah masuk sambil memainkan jemarinya gugup.
“A-aku, ingin memberitahu Kak Lina sesuatu.” Xiu hanya menunduk sambil terus memainkan jemarinya, Lien Hua berdiri dan berjalan ke arah Xiu. Dia berjongkok dan menyamakan tingginya dengan anak perempuan itu.
“Tentang apa? Jangan takut, Kami tidak akan memakanmu kok.” Lien Hua terkekeh kecil di akhir kalimatnya, dia dapat melihat wajah Xiu yang sedikit memerah. Dengan refleks, Lien Hua mengangkat tangannya dan mengusap kepala Xiu.
“Sebenarnya, Kak Juan bisa melihat hal seperti itu sejak kecil. Kata Kak Juan, hewan-hewan seperti itu adalah pelindung manusia, tapi bisa juga menjadi musuh. Semuanya tergantung dari pembuatan dan juga sikap manusia itu kepada sang pelindungnya, dan dari buku yang Xiu baca. Sepertinya naga yang melindungi Kak Lina itu sangat langkah, bahkan di buku-buku yang Xiu baca. Xiu tidak pernah menemukan catatan tentang naga kristal yang disebutkan kak Juan.”
Lien Hua terdiam, dia masih sibuk mencerna semua ucapan Xiu barusan. “Baiklah, terima kasih sudah memberitahu Kakak. Kakak akan mencari buku-buku lain, mungkin ada tentang naga yang dibicarakan Juan. Xiu juga, kalau ingin membaca. Perintahkan saja salah satu pelayan untuk mengantarmu, jangan sungkan ataupun malu. Semua di kediaman ini adalah keluargamu sekarang, mengerti?” Lien Hua langsung menarik pipi Xiu pelan.
“Baik, Kak Lina,” jawab Xiu antusias, Lien Hua tersenyum tipis.
'Sepertinya Xiu menyukai buku, dan juga. Jika benar yang diucapkannya tadi--' Lien Hua tersenyum masam. 'Sudah pasti naga yang menjagaku adalah musuh, karena. Sikapku dan juga perbuatanku yang hina ini, tapi tak apa. Selama membantu-- tunggu, membantu? Wah, wah. Kau sungguh munafik Lien Hua, kau ingin membantu seseorang? Sejak kapan, bukankah kau hanyalah gadis naif yang kebetulan mati dan dirasuki jiwa Lilia. Gadis tak berperasaan yang sekarang memperdulikan siapapun.'
Lien Hua menutup wajahnya dengan sebelah tangan, dia muak dengan dirinya yang bersikap sok alim dan juga sok suci. Padahal kedua tangannya telah penuh dengan darah orang-orang yang telah dia habisi.
Xia He yang menyadari perubahan sikap Lien Hua langsung berdiri di belakang Xiu. “Xiu, biar aku antar ke perpustakaan sekarang ya. Kak Lina sedang merasa tidak enak, jadi biarkan Kakak istirahat dulu. Ok?”
Xiu hanya mengangguk kecil, berbekal boneka di pelukannya. Dia mengikuti Xia He yang membuka pintu dan menggandengnya keluar dari ruangan tersebut.
Saat pintu tertutup, Lien Hua membuka matanya. Dia berdiri dan berjalan ke arah jendela dengan tatapan datar. Ekspresinya sangat sulit dimengerti, dia menunduk dan menatap kedua tangannya.
“Kau sungguh, jahat. Bodoh, dan menyebalkan. Li Lien Hua!” kesal Lien Hua, matanya seolah berkilat tajam ketika melihat tangannya dipenuhi darah. Dia terkekeh kecil sambil menggenggam pergelangan tangannya, hingga kuku-kukunya menancap di permukaan kulitnya.
'Ingin mencuci tangan setelah mengotorinya, Lien Hua? Kau sangat bodoh! Sangat, sangat bodoh!!'
...----------------...
“Apa?? Dia melukai dirinya sendiri?”
“Benar Yang Mulia, saya dan prajurit yang lain melihat Nona melukai pergelangan tangannya hingga mengeluarkan darah. Namun sepertinya tidak terlalu dalam hingga mengancam nyawanya.”
Pria yang duduk di kursi keberadaannya itu mengetuk-ngetuk sandaran kursi seolah berpikir. “Awasi dia terus, jangan biarkan dia terluka lagi. Atau kalian akan tau akibatnya!”
...----------------...