Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 27. Pusing



“N-nona Lily, perintah Anda sudah kami laksanakan,” kata Rio tergagap-gagap, Lien Hua memiringkan kepalanya bingung.


“Lalu, kenapa wajah kalian sangat pucat seperti orang sakti.”


“N-nona Lily, bukankah cara membunuh itu sangat.. tragis?” ucap Ify takut, Lien Hua menatapnya dengan kening berkerut. “Tragis? Aku bahkan ingin menambah ketragisannya tadi, namun karena sibuk. Jadi biarkan saja, bagaimana dengan target?”


“Khem.. Seperti yang Anda duga, keluarga mereka terpukul ketika melihat mayat ayah atau suaminya. jadi, apa besok kita habisi ibunya?”


“Tidak, jangan terburu-buru. Cukup berikan surat ancaman dan perjanjian.”


“Perjanjian?” bingung Rio, dia sama sekali tidak dapat memahami isi pikiran gadis di depannya. Lien Hua mengangguk.


“Aku akan mengurusnya, kalian cukup berikan surat itu. Dan untuk keluarga mereka yang lain, jangan kalian bunuh. Setelah kupertimbangkan, aku tidak bisa menghabisi orang yang tidak bersalah.” Rio dan Ify bernapas lega mendengarnya.


“Jadi, mari kita lakukan tawar-menawar. Jika mereka setuju, jangan habisi siapapun lagi. Tapi jika mereka menolaknya.. maka kalian tau yang harus dilakukan, bukan?” tanya Lien Hua diakhiri seringai kecil, Ify menahan napasnya.


“Aku mengerti.” Rio membungkuk hormat dengan wajah datar, hal itu membuat Ify berdecak kagum. Tidak biasanya pria yang telah menjadi temannya itu tidak takut ketika mendengar ucapan pembunuhan secara tragis, padahal dia sendiri juga seorang pembunuh.


“Hem, pergilah. Aku ingin istirahat.” Lien Hua menutup pintu kamarnya, Ify hendak memuji Rio. Namun suaranya tertahan di tenggorokan ketika mendengar ucapan pria itu.


“Huh, hampir saja. Aku pikir aku akan mati, Nona Lily kenapa sangat tragis pada keluarga mereka sih? Aku benar-benar sangat takut sampai tidak berani bernapas,” kata Rio sambil mengusap dadanya lega.


“Bodoh!” Ify memukul kepala Rio saking kesalnya. “Aku pikir kau itu sangat keren hingga tidak takut dengan ucapan Nona Lily tadi, hampir saja aku memujimu jika aku tidak mendengar ucapan bodohmu itu!”


“Astaga, tidak perlu sampai memukul kepalaku juga kali.” Rio memegang kepalanya yang terasa sakit, Ify memukulnya dengan menggunakan tenaga dalam hingga dia hampir saja tersungkur ke lantai.


Ify berdecih, dia berjalan menjauh dan membuat Rio menatapnya kesal. “Tunggu aku, Ify sayang!!”


“Diam! Bodoh!!” kata Ify, dia mempercepat langkahnya agar Rio tidak berhasil menyamai langkahnya. Ify menutupi wajahnya yang memerah.


'Rio bodoh, bodoh, bodoh!!'


----------------


“Yang Mulia--”


“Diam!” Pria itu melempar gelas di tangannya hingga menimbulkan suara nyaring ketika terpental di lantai.


“Kenapa kalian bisa kecolongan hingga rumah gadis itu terbakar!? Apa yang kalian lakukan selama ini??” murka Pria itu.


“M-maafkan kami, Yang Mulia. Ini semua salah kami yang teledor menjaga mereka.” Prajurit itu menunduk dengan badan gemetar ketakutan, Pria itu memijat pelipisnya pusing. Emosinya jadi tidak terkontrol sejak kemarin.


“Pergilah, jangan menggangguku sekarang.” Prajurit itu membungkuk hormat dan berjalan pergi, Pria itu menatap foto yang tergantung.


'Kenapa kau sangat tidak terkendali, Carmelia.'


----------------


Lien Hua menutup mulutnya, pil yang belum dia keluarkan itu kembali bereaksi dan membuat Lien Hua dengan terpaksa memakan banyak pil obat.


'Bagaimana caranya agar aku bisa mengeluarkan pil ini? Itu benar-benar menyebalkan! Zhang Xue bilang dia tau penawar pilnya, tapi pria menyebalkan itu malah membawaku ke gua naga itu!' Lien Hua memijat pelipisnya, rasa pusing menyerangnya tiba-tiba.


Lien Hua berbaring, dia menatap langit-langit kamarnya yang mulai mengabur. Rasa pusing di kepalanya tidak kunjung sembuh.


Suara ketukan pintu terdengar. “Nona Li--”


“Bawakan aku obat pereda pusing, kepalaku sangat pusing sekarang!” kesal Lien Hua sambil memijat pelipisnya, Rio yang tengah berdiri di depan pintu menghela napas. Dia berbalik badan dan berjalan pergi untuk mengambil kotak obat kayu yang ada di ruangan Ify.


“Wanita itu memang sangat pemarah dan pemalas,” gerutu Rio dan mengetuk pintu kamar Ify.


“Ada apa sih!? Aku sedang mandi!" Ify membuka pintu kamarnya hanya dengan menggunakan handuk, Rio dan Ify sama-sama terkejut. Pria itu langsung berbalik membelakangi Ify sambil menutup matanya.


“Kau! Kenapa kau kemari!?” tanya Ify dengan wajah memerah karena malu. “M-maaf, aku ingin meminta kotak obat di kamarmu. Nona Lily katanya sedang pusing.”


“O-oh, tunggu di sini!” Ify berjalan masuk ke kamarnya dan menutup kembali pintu, Rio menghela napas lega.


'Hampir saja, jika aku melihatnya tadi. Entah apa yang akan terjadi padaku, errg. Sangat mengerikan!'


Pintu kembali dibuka, Rio masih membelakangi Ify yang telah mengenakan jubah. “Ini kotak obatnya.” Ify menyerah kotak obat kecil di tangannya, Rio mengambil tanpa melihat Ify.


Dia menutupi pandangannya dari gadis itu dan berjalan pergi, Ify yang melihat hal itu terkekeh kecil dan kembali menutup pintu kamarnya.


'Dasar aneh, tapi dia pria yang baik. Padahal aku sangat cantik mengenakan handuk, tapi dia tetap menjaga pandangannya dan menghormatiku. Ah Rio bodoh!! Kenapa aku jadi tidak bisa melupakanmu sih!?' Ify bersandar di tembok sambil menutup wajahnya yang semakin memerah bak kepiting rebus.


----------------


“Silahkan, Yang Mulia ratu.” Rio membungkuk hormat sambil memberikan kotak obat yang dia bawa, Lien Hua hanya menatapnya sekilas dan mengambil kotak obat itu lalu kembali menutup pintu.


“Dingin sekali, sangat cocok dengan musim panas seperti sekarang,” gumam Rio sambil berjalan pergi.


Lien Hua mengambil satu pil berwarna putih dan menelannya, dia kemudian meminum air dan menghela napas pelan.


'Lebih baik aku istirahat, mungkin itu akan membuatku lebih baik.' Lien Hua berbaring di atas kasurnya, dia kemudian menutup matanya dan tanpa sadar terlelap.


Angin bertiup dengan kencang hingga membuat beberapa dedaunan layu beterbangan dan menerpa jendela kamarnya, namun gadis itu seolah tidak terganggu sama sekali.


----------------


Pria dengan pakaian kekaisaran khas Putra Mahkota tiba-tiba muncul di sebuah kamar, dia menatap datar seorang gadis yang tengah tertidur lelap dengan angin yang kencang.


Dengan langkah pelan, pria itu berjalan mendekati sang gadis dan mengusap wajahnya lembut. “Tidur yang nyenyak ya, jangan sampai kau sakit. Biar aku yang mengurus orang-orang biadab itu,” gumam Pria itu.


Gadis tersebut menggeliat lucu, matanya yang terpejam perlahan terbuka. Dia bangun dan mengucek matanya pelan, setelahnya. Gadis itu melihat sekeliling namun tak menemukan siapapun.


'Sepertinya aku mendengar suara seseorang tadi, atau aku hanya berhalusinasi saja? Atau mungkin mimpi yang kuanggap nyata?' Gadis itu mengangkat bahunya acuh, dia kembali berbaring dan bersiap untuk kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda.


----------------