
“Apa gadis itu benar-benar bodoh!?” Pria itu memukul tembok di sampingnya, prajurit yang memberi informasi seketika bergetar ketakutan.
Pria itu berdiri dari kursi keberadaannya dan berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
'Dasar gadis bodoh!!'
----------------
Lien Hua merasakan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, lingkaran sihir di bawahnya mulai bercahaya merah darah.
'Badanku.. terasa remuk, jantungku seolah ingin keluar, kepalaku sangat pusing. Kakimu seolah mati rasa.' Lien Hua terhuyung-huyung ke belakang, namun dia tetap memaksakan diri untuk berdiri dengan tangan yang masih memegang buku tersebut.
Cairan merah kental tiba-tiba keluar dari hidung dan mulutnya. 'Aku harus, menghidupkan mereka kembali!' kekeh Lien Hua.
Langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah mendung dengan kilat yang muncul di langit. Petir menggelegar di langit.
Rakyat dari desa-desa yang melihat cuaca itu langsung terduduk di tanah dengan kedua tangan yang terangkat ke langit dan terus memohon belas kasih.
Lien Hua terbatuk darah, jantungnya berdetak sangat cepat hingga menimbulkan rasa nyeri.
“Se-bentar lagi. Se-muanya akan, berakhir,” gumam Lien Hua, badannya seakan dicabik-cabik dan dikuliti hidup-hidup. Dia menutup matanya dan tetap berusaha bertahan, buku di tangannya bahkan hampir terjatuh.
Di atas dataran tinggi, sebuah petir menyambar pepohonan dan menyebabkan kebakaran. Auman naga tiba-tiba terdengar ditempat kejadian.
Seseorang berjubah yang melihat naga itu dari kejauhan menghela napas, dia berbalik dan berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
'Kau terlalu tergesa-gesa, Carmelia. Aku tidak ingin melukaimu, tapi jika kau melakukan hal ini. Maka tidak ada cara lain selain, menghabisimu.'
----------------
“Lepaskan aku! Aku harus menghentikan gadis bodoh itu!” teriak pria itu dan meronta, namun para Kesatrianya tidak mendengarkannya sama sekali.
“Xue, cuaca sedang tidak stabil sekarang. Kau tidak boleh keluar kemanapun!” Zhang Xue menoleh ke belakang dan melihat sang kaisar dan permaisuri yang berjalan ke arahnya.
“Ibunda, aku harus menyelamatkannya!!”
“Tapi Xue, cuaca sedang tidak bagus. Ibunda dan Tuan khawatir padamu,” kata permaisuri sambil menatap kaisar yang menatap datar Zhang Xue.
“Tapi Ibunda--”
“Xue! Dengarkan kata ibumu dan kembali ke kamarmu sekarang!”
“Tap--”
“Sekarang!" tekan kaisar, Zhang Xue berdecih. Dia berjalan pergi dengan arogan.
“Audrey.” Salah satu kesatria wanita menunduk hormat. “Iya, Yang mulia.”
“Awasi dia, jangan biarkan dia keluar selama cuaca buruk!” Audrey mengangguk kecil, dia berjalan pergi dan mengikuti Zhang Xue dan kesatria lain.
----------------
“Carmelia.”
Lien Hua yang terduduk di atas lingkaran sihir melirik ke belakang dengan napas terengah-engah, dia membuka mulutnya sedikit namun tak mengeluarkan suara apapun.
'Siapa dia? Dan siapa Carmelia? Aku tidak pernah mendengar nama itu,” batin Lien Hua, tangannya masih memegang buku suci yang kesepuluh.
“Hentikan sekarang juga.”
'Apa menurutmu aku akan mendengarkan dan menurut dengan mudah? Jika benar, kau sangat bodoh. Aku sudah menahan rasa sakitnya hampir sejam lebih dan dia menyuruhku untuk menghentikan pemanggilan naga terakhir? Sungguh gila.'
“Carmelia!!”
Buku suci di tangan Lien Hua tiba-tiba terbakar, gadis itu terkejut bukan main. Cahaya yang mengelilinginya mulai memudar.
“Tidak, tidak, tidak!! Di mana buku sucinya!?” panik Lien Hua sambil mencari buku suci di tumpukan abu, cahaya dari lingkaran sihir yang mengelilinginya menghilang dan membuat Lien Hua terdiam.
Badannya terasa kaku, mulutnya tidak bisa digerakkan. Matanya bergetar.
“Car--”
“Berhenti di sana!!” teriak Lien Hua sambil menoleh ke belakang dan menunjuk pria berjubah itu. “Semuanya, semuanya karena kau!!”
“Dengar--”
“Diam!!” Lien Hua menunduk dan menatap abu dari buku suci itu, dia tau buku itu tidak mungkin terbakar dan pasti hanya disembunyikan oleh pria di belakangnya di suatu tempat.
Badan Lien Hua tampak sedikit bergetar, air mata semakin mengalir dan jatuh ke abu buku suci kesepuluh.
“Nona Li!” Pria berjubah itu melirik ke belakang, kepalanya sedikit dimiringkan ke kiri ketika melihat siapa yang datang.
Zhang Xue berlari masuk ke altar dan berjongkok di samping Lien Hua yang terisak. “Ada apa? Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja kan? Apa ada yang terluka?”
Lien Hua terisak. “A-aku--”
“Sstt, tidak apa-apa.” Lien Hua tanpa sadar bersandar pada Zhang Xue sambil terisak. “Aku gagal, adikku.. mereka--”
“Aku tau Nona Li, mereka akan baik-baik saja. Aku akan menyelamatkan mereka.”
Pria berjubah yang berdiri di pintu masuk hanya menatap diam keduanya, dia menggosok telinganya yang sedikit gatal.
Dengan senyum miring yang ditutupi jubah, Pria itu berbalik badan dan berjalan pergi.
'Sepertinya aku tidak diperlukan lagi di sini, semoga kau bahagia. Carmelia, jangan melakukan hal bodoh lagi atau aku akan benar-benar membunuhmu.'
----------------
Karena terus menangis, Lien Hua tanpa sadar tertidur. Zhang Xue melirik ke arah Lien Hua dan menghela napas.
“Kau ini, selalu saja berbuat sesuka hati.” Zhang Xue menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
“Sekarang, bagaimana menyingkirkan dua naga yang telah kau panggil? Dasar gadis merepotkan,” gumam Zhang Xue, dia menggendong Lien Hua ala bridal style dan berjalan keluar.
Setelah kepergian keduanya, altar pengorbanan yang digunakan Lien Hua langsung runtuh. Tulisan aneh yang Lien Hua lihat sebelumnya perlahan memudar dan menghilang tanpa jejak sedikitpun.
Seseorang muncul dari balik tembok dan menatap kepergian keduanya, dia menoleh ke arah altar yang telah hancur dan menghela napas.
'Dasar adik merepotkan, aku jadi haeus membangun kembali altar dengan sihir waktu hanya demi kau. Tapi kau malah tidak menyelesaikan pemanggilan naganya.' orang itu tersenyum tipis.
'Sepertinya Ibunda akan senang jika melihatmu secara langsung, Carmelia.'
----------------
Lien Hua membuka matanya karena merasa silau, dia bangun dan menatap sekeliling dengan wajah bingung.
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan membuat Lien Hua menoleh. “Nona Lina, apa Anda baru bangun?? Tuan Rio dan Nona Ify menunggu Anda dari tadi.”
Mata Lien Hua sedikit membulat, dia hanya diam karena masih belum mencerna apapun. “X-xia? Apa kau benar-benar Xia?”
Xia He memiringkan kepalanya bingung. “Maksud Nona apa? Tentu saja ini aku.”
Lien Hua berdiri dan berlari ke arah Xia He dan memeluknya erat. “Xia, akhirnya kau kembali.” Lien Hua terisak.
Xia He tersenyum tipis dan mengusap punggung Lien Hua. “Saya baik-baik saja, Nona. Sebenarnya, sebelum kediaman lama kita terbakar. Nona Audrey datang ke kediaman kita dan memberitahu Semuanya.”
Lien Hua melepaskan pelukannya.
“Nona Audrey?” Xia He mengangguk.
“Nona Audrey adalah salah satu kesatria Yang Mulia Putra Mahkota, dan mereka membantu kami.”
“Membantu? Tapi aku melihat, mayat kalian di dalam kebakaran,” gumam Lien Hua di akhir kalimatnya.
----------------