Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 26. Ritual terlarang



“Tunggu apa lagi!? Lakukan ritualnya sekarang!”


Para penyihir lain seketika ketakutan, mereka membuka buku sihir masing-masing.


Sepuluh penyihir bijaksana kini tengah mengelilingi satu meja besar yang memiliki dua mayat beda gender, Lien Hua menatap kesal mereka semua.


“Cepat lakukan!” kesal Lien Hua, para penyihir itu mengangkat kedua tangan mereka dan diarahkan ke mayat yang dikelilingi oleh lilin.


Para penyihir menutup mata mereka dan mulai membaca mantra terlarang, Lien Hua mengigiti kukunya frustasi. Dia sedari tadi mondar mandir di sudut ruangan.


“Jika gagal lagi, akan kupastikan kalian semua menyesal!” ancam Lien Hua yang tidak sabar, sudah dua kali mereka mencoba. Namun selalu gagal, dan ketiga adalah percobaan terakhir. Jika tetap gagal, maka keduanya tidak akan bisa dihidupkan lagi.


Waktu penghidupan hanya 24 jam, sementara membaca mantra dan membentuk formasi membutuhkan waktu 2 setengah jam. Apalagi hanya bisa dilakukan tiga kali, jika berlebihan. Itu akan membuat mayat korban terkoyak dan hancur.


“K-kak Lina.” Lien Hua menoleh ke asal suara, dia berjalan keluar dan menutup pintu ruangan tersebut lalu berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Xiu.


“Ada apa? Apa kau kesepian?” tanya Lien Hua sambil mengusap rambut Xiu lembut, gadis kecil itu memeluk bonekanya dan menggeleng kecil.


“Apa, Kak Juan dan Kak Xia masih belum kembali?”


Lien Hua terlihat resah, namun dia berusaha untuk tetap memperlihatkan wajah tenangnya. Lien Hua tersenyum. “Kak Juan dan Kak Xia sepertinya masih betah berada di sana, jadi mereka belum ingin kembali. Tapi jangan khawatir, Kakak akan berusaha untuk membawa mereka kembali, Xiu kembalilah ke kamar. Kakak akan menyuruh Rio dan Carla untuk menemanimu.” Xiu mengangguk kecil, dia berjalan pergi dan menelusuri lorong dengan pencahayaan yang minim.


Lien Hua kembali masuk dan mengunci pintu dari dalam, dia menatap dingin para penyihir yang kini tengah membentuk formasi sihir.


----------------


“Profesor, bagaimana ini? Kalau kita tidak menemukan pemilik buku suci itu. Maka pemanggilan tidak akan bisa dilakukan dan para iblis akan semakin liar dan buas!”


Profesor Agra menatap ke arah suara sekilas, dia sendiri juga bingung dan ragu. Mereka belum sempat melihat pemilik buku suci itu dan tiba-tiba bukunya menghilang.


“Aku juga tidak tau harus bagaimana, Profesor. Waktu kita tinggal sebulan lagi dan kita belum menemukan pemilik buku suci ke sepuluh.”


Profesor Hanna hanya diam, dia tidak berkomentar sama sekali.


“Bagaimana kalau kita gunakan gadis itu sebagai tumbal?” saran Profesor Alice. “Gadis siapa?”


“Gadis dari menteri Li, kalau tidak salah. Namanya.. em, Li-lien Hua!” Profesor Hanna langsung menolaknya. “Maaf Profesor, tapi akademi kita sudah membuat peraturan untuk tidak mengorbankan murid dari akademi. Jadi tolong buat ide itu jauh-jauh.”


“Tapi Profesor, keluar dari akademi itu sudah melanggar aturan dan bisa dikeluarkan!”


“Tapi--”


“Benar apa kata Profesor Alice, mungkin saja kalau kita mengorbankan gadis itu. Kita jadi bisa mendapatkan lebih banyak waktu untuk mencari tau pemilik buku suci itu,” kata Profesor Agra.


“Tapi Profesor--”


“Aku setuju-setuju saja.” Profesor Hanna menatap tak percaya pada Profesor Anie. “Apa maksudmu, Anie?? Kau ingin mengorbankan anak orang lain demi hidupmu sendiri!?”


“Hanna, kau harus mengerti keadaan kita sekarang! Kita sedang dalam keadaan terdesak, penyihir kesepuluh itu sangat sulit ditemukan!”


“Tapi--”


“Terserah kalian, tapi aku tidak akan ikut campur!” Profesor Hanna berjalan keluar, dia tidak bisa apa-apa jika Profesor Agra yang selaku pemilik akademi telah membuat keputusan.


“Profesor, apa tadi itu kita keterlaluan?” tanya Profesor Anie yang merasa bersalah, mau bagaimanapun. Profesor Hanna adalah sahabat pertamanya saat masuk ke akademi.


“Tidak perlu merasa bersalah, Profesor. Langkah yang kita ambil sudah benar, kita juga dipaksa oleh waktu.” Profesor Alice kemudian berjalan keluar disusul profesor lain, hingga yang tersisa hanya Profesor Agra dan Profesor Anie.


“Profesor, apa--”


“Cukup Anie, jangan berdebat lagi.” Profesor Agra berjalan pergi, dia membuka pintu ruangan.


“Tapi Kak, apa Kakak akan mengorbankan Nona Li!?” tanya Profesor Anie dan membuat Profesor Agra menghentikan langkahnya, dia melirik ke arah Profesor Anie.


“Jangan berdebat lagi, Anie. Jika tidak, semua orang akan memusuhimu.”


“Kakak! Kau tidak seharusnya seperti itu!!”


----------------


Lien Hua mengacak rambutnya frustasi, dia memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara lutut. Suara isakan kecil terdengar darinya.


'Waktu kamu habis, Lilia. Waktu kamu udah habis! Semuanya berakhir, nggak ada lagi yang bisa dipertahanin. Xia, Juan.. mereka udah pergi ninggalin kamu buat selama-lamanya,' batin Lien Hua, dadanya kembali terasa sangat sesak. Dia mengusap wajahnya kasar dan kemudian berdiri.


“Tidak Li! Kamu tidak boleh menyerah sekarang! Kau sudah berjanji dengan Xiu dan kau harus menepatinya! Kau harus membawa Xia dan Juan kembali!” Lien Hua menutup matanya, dia memegang dadanya. Jantungnya berdetak sangat cepat.


“Jangan menangis!” Lien Hua mengusap air mata di pipinya, namun percuma. Air matanya terus membasahi pipinya tanpa bisa dicegah.


Dia mengusap kasar wajahnya, Lien Hua menghela napas pelan dan berjalan ke arah jendela. Rumah yang ditempatinya sekarang adalah rumah yang disediakan kakek tua untuknya sementara waktu.


Lien Hua tersenyum miris, suara ketukan pintu membuatnya menoleh. Dia mengusap air matanya dan berjalan ke arah pintu.


Lien Hua menatap Xiu yang Sentiasa membawa boneka kecil di genggamnya, Lien Hua tersenyum dan berjongkok di depan Xiu. “Xiu kenapa di sini? Xiu nggak istirahat?”


“X-xiu kangen kak Juan, kakak masih betah ya tinggal di sana?” napas Lien Hua langsung tercekat, dia berusaha untuk tetap tersenyum meski pelupuk matanya telah dipenuhi air mata.


“Kak Juan dan Kak Xia udah pulang, cuman mereka pergi lagi. Katanya perginya bakalan lama karena urusaan penting.”


“Kenapa tidak membangunkan Xiu?” tanya Xiu sambil memegang erat bonekanya. “Kak Juan sama Kak Xia tadi mau ngasih tau Xiu Kok, tapi Xiunya lagi tidur. kakak-kakak kan nggak mau ganggu tidurnya Xiu, makanya nggak bangunin kamu.” Lien Hua berusaha menetralkan suaranya yang sedikit bergetar.


“Xiu tidur lagi ya, nanti Kak Lina mau kasih sesuatu buat Xiu,” lanjut Lien Hua, Xiu mengangguk kecil dan berjalan menuju kamarnya.


Lien Hua hendak menutup pintu kamarnya, namun tidak jadi karena tiba-tiba melihat Rio dan Ify berjalan ke arahnya. “Ada apa?” tanya Lien Hua bingung, tidak biasanya wajah keduanya pucat pasi.


----------------