Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 31. Ingatan masa lalu



Lien Hua menatap datar pria berjubah di depannya. “Ada apa, Lily?”


“Begini, aku ingin.. berhenti menjadi pembunuh!” kata Lien Hua dengan berat. “Kenapa?”


Dia menunduk. “Entahlah, mungkin karena aku tidak ingin orang di sekitarku terluka. Jika aku masih menjadi pembunuh bayaran, akan ada banyak bahaya yang harus dilalui keluargaku. Aku tidak ingin kehilangan mereka.”


“Hem, begitu ya. Baiklah, tapi dengan satu syarat.” Lien Hua mendongak dengan wajah terkejut.


“A-apa? Kau menyutujuinya semudah itu?” tanya Lien Hua. “Memang apa masalahnya?”


'Ini tidak benar kan? Di organisasi dulu, ketika aku ingin keluar dari pekerjaan membunuhku. Mereka malah melarang dan justru mengancamku, tapi di sini. Wah, wah. Bahkan tidak ada yang perduli sama sekali.'


“Apa, syaratnya?”


“Pertama, kau harus menjaga rahasia guild. Kedua, jangan beritahu siapapun tentang pekerjaanmu. Ketiga, bertemu dengan Nyonya.”


Lien Hua berkedip bingung. ,“Nyonya, siapa?”


“Beliau adalah Ibunda dari pemilik asli guild ini.” Lien Hua mengangguk kecil.


“Em, baiklah. Aku akan ikut. Tapi apa hanya itu syaratnya?” tanya Lien Hua ragu. “Memang kau mau syarat lain?”


“Ah, bukan begitu. Aku hanya sedikit heran.”


“Sudah! Kembalilah, aku akan meminta Eli untuk menjemputmu nanti.” Lien Hua berdiri dan menunduk sopan, dia kemudian berjalan keluar dengan rasa lega di hatinya.


Senyum tipis muncul di wajahnya. 'Akhirnya, setidaknya aku tidak perlu meninggalkan mereka lagi. Jika soal pekerjaan lain, mungkin aku bisa mencarinya nanti.'


Lien Hua melihat sekitaran, dia merasa aneh dengan suasana jalan yang sepi. Lien Hua berjalan cepat ke arah rumahnya, namun di tengah perjalanan.


Sebuah sihir mengenainya dan membuatnya pingsan, beberapa orang muncul dan mengelilinginya.


“Profesor, aku pikir--”


“Sudahlah, Profesor Anie. Kita melakukannya juga demi rakyat dan kerajaan lain,” potong Profesor Alice.


Profesor Anie melirik ke belakang, tepatnya ke arah Profesor Hanna yang berdiri tak jauh dari mereka. Tatapan profesor Hanna membuat jantung profesor Anie seolah berhenti sedetik.


Tatapan kecewa, marah, dan sedih. Dia berbalik dan berjalan pergi. Profesor Anie menunduk dengan perasaan bersalah yang semakin membengkak di hatinya.


“Ayo, Profesor Anie!” panggil Profesor Alice, Profesor Anie tersadar dari lamunannya. Dia segera mengikuti para profesor yang berjalan pergi.


'Aku harap, tidak akan terjadi apa-apa setelah ini. Aku tidak ingin ada korban lagi, dan.. maafkan aku, Hanna. Aku tidak bisa membujuk kakak.'


----------------


Taman luas tanpa batas di depannya memanjakan mata seorang gadis dengan gaun brokat merah darah, wajahnya tampak linglung dengan sebuah tanda berbentuk kristal di dahinya.


'Di mana aku?' batin gadis itu, dia melihat sekeliling namun tak menemukan apapun kecuali taman bunga yang tak terbatas. Dia melangkah sedikit demi sedikit sambil melihat sekeliling.


Dengan wajah penasaran, gadis itu melangkah mendekat ke arah gerbang penjaga dan gerbang itu secara otomatis terbuka untuknya.


Dia menatap bingung beberapa anak kecil di depannya, saat dia menyentuh salah satu anak. Tangannya tembus seperti hantu yang gentayangan.


“Hahaha, ayo coba tangkap aku,” seru seorang gadis kecil yang berlari di sekitar istana itu, dia dikejar oleh beberapa anak laki-laki yang tingginya tidak jauh dari anak gadis itu.


“Lihat saja nanti! Aku akan menangkap dan menghukummu, dasar adik bodoh!!” teriak salah satu anak kecil sambil terus mengejar si gadis.


“Wle, kakak tidak mungkin bisa-- aww.” Anak gadis itu langsung meringis sambil memegangi lututnya yang memar, matanya seketika berkaca-kaca melihat lututnya yang mengeluarkan sedikit darah.


“Melia!” teriak dua anak kecil yang bermain dengannya, mereka langsung berjongkok di depan gadis kecil itu dan mengecek luka di lututnya.


“Kakak, sakit,” cicit gadis kecil itu. “Eh, ja-jangan menangis. Lukanya hanya sedikit kok, aku akan memberitahu Ibunda.” Pria kecil itu langsung berlari ke dalam istana sambil berteriak memanggil Ibunda dan Ayahanda.


Sementara satu pria kecil yang masih menjaga gadis itu memperhatikan luka di lutut si gadis.


“Kau itu benar-benar bodoh ya.” Pria kecil itu langsung saja menyentil dahi gadis kecil di depannya, air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya mengaliri pipi gadis itu.


“Hua!! Kak Jian jahat!!” teriak gadis itu keras, bahkan pria kecil di sampingnya sampai menutup kedua telinganya.


“Heh bodoh, diam sekarang!” Gadis kecil itu langsung diam meski masih terdengar suara isakan kecil, gadis bergaun merah yang tidak lain adalah Lien Hua itu memiringkan kepalanya ke samping.


“Ibunda, cepat!!” pria kecil yang mencari ibunya tadi kembali sambil menarik tangan seorang wanita paruh baya yang terlihat masih sangat muda, bahkan Lien Hua sampai terpesona melihat kecantikan dari wanita itu.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Wanita itu dengan nada lembut. “Ibunda, Melia jatuh.” Pria kecil itu menunjuk sang adik yang masih terisak sambil memegangi lututnya dan memperlihatkan memar.


Wanita itu tersenyum lembut, dia berjongkok di depan gadis kecil itu dan mengusap rambutnya lembut.


“Sayang, kenapa nangis? Melia kan kuat, jadi Melia nggak boleh nangis. Ok? Katanya Melia mau jadi istrinya Jian, jadi Melia nggak boleh nangis lagi. Nanti Jiannya nggak suka Melia Loh,” kata wanita itu sambil menghapus air mata di pipi gadis kecil itu.


“Xue, tolong panggilkan tabib ya.” Pria kecil yang dipanggil Xue itu mengangguk dan berlari masuk ke istana.


Lien Hua tampak tertarik dengan cerita satu keluarga di depannya, namun yang membuatnya merasa aneh. Ada sesuatu di hatinya, sesuatu yang tak bisa dia pahami sama sekali.


'Xue? Apa dia Zhang Xue? Jadi ini cerita tentang keluarga Zhang, tapi siapa gadis bernama Melia itu? Sepertinya Xue tidak pernah menceritakan apa-apa.'


Tiba-tiba, istana megah dan indah di depannya berubah. Lien Hua sampai terkejut karena hal itu, banyak darah berceceran di tempatnya berdiri.


Mayat menumpuk di mana-mana, Lien Hua seolah tercekat melihat pemandangan di depannya. Wanita itu telah bersimbah darah di gaunnya sambil terus memeluk Melia.


“Tolong, kumohon jangan ambil putriku,” mohon wanita itu, namun pria di depannya hanya menampilkan wajah dingin. Dia langsung menarik Melia dan mengarahkan pedang di tangannya tepat di jantung wanita itu.


Jantung Lien Hua seolah berhenti berdetak, matanya membulat. Tiba-tiba, ada rasa sakit aneh di hatinya. Rasa sakit yang hampir mirip seperti ketika dia kehilangan Xia He dan Juan.


“Ibu! Lepaskan aku!!” berontak Melia, pria itu langsung menarik rambut rambut Melia hingga gadis itu meringis kesakitan.


“Diam atau aku akan menghabisi keluargamu yang lain!!”