Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 3. Pasar



Lien Hua terbangun dari tidur nyenyaknya, dia bangun dan melihat sekeliling namun tidak menemukan Black di manapun. Lien Hua mengucek matanya pelan dan menghela napas.


'Sepertinya yang kemarin itu mimpi.' Lien Hua berdiri, dia menggenggam sebelah tangannya yang terasa sakit.


'Jadi memang bukan mimpi? aku memang menemukan Black, tapi di mana dia sekarang? apa Xia He membawanya pergi?' Lien Hua bergegas keluar kamarnya tanpa mengganti piyama yang digunakannya, dia berjalan cepat ke kamar Xia He dan mengetuk pintu dengan keras.


“Xia He! apa kau ada di dalam?”


tidak lama setelah teriakan Lien Hua, Pintu kamar Xia He terbuka. “Oh, Nona Lien Hua. Ada apa?”


“Xia, di mana black??”


“Black?” bingung Xia He.


“Kucing hitam itu! kau tidak membawanya pergi kan??”


“Nona, saya tidak tau Black dimana. bukankah dia kemarin tidur bersama Nona?”


Lien Hua mengigit kukunya panik. 'Tunggu! Lilia, sejak kapan kau perduli dengan siapapun? meskipun Black kucing, seharusnya kau tidak menjadikannya kelemahanmu!' Lien Hua menutup wajahnya dengan sebelah tangan.


'Sial! ini sebabnya aku membenci perasaan, Lien Hua, kau seharusnya tidak memberikanku perasaan menyebalkan ini!'


Lien Hua menutup matanya sejenak, dia kemudian menatap Xia He kini dengan tatapan tenang.


“Apa saya perlu mencarinya, Nona?” tanya Xia He menawarkan diri, Lien Hua menggeleng.


“Tidak perlu, lupakan yang ku ucapkan tadi.” Lien Hua melangkah pergi dan meninggalkan tanda tanya besar di kepala Xia He.


'Nona sebenarnya kenapa? dia sangat aneh sejak Nona Li Yao dan Nona Li Mei menenggelamkannya di sungai suci.'


...----------------...


“Xia, apa saja yang harus kulakukan hari ini?” tanya Lien Hua sambil mengiris steak.


“Nona, Anda tidak perlu melakukan apapun. Anda hanya akan bersantai hari ini.”


“Bersantai? kalau begitu, temani aku ke pasar nanti, aku ingin membeli beberapa barang dan juga makanan untuk Bla--” Lien Hua terdiam, dia kembali memakan steak nya tanpa melanjutkan ucapannya.


“Nona, apa saya boleh bertanya satu hal?” tanya Xia He dan membuat Lien Hua sedikit mendongak ke arahnya.


“Hem.. tanyakan saja.”


“Apa.. Anda baik-baik saja? Anda terlihat berbeda sejak ditenggelamkan oleh Nona Li Yao dan juga Nona Li Mei.”


Lien Hua meletakkan garpu di meja dan menatap Xia He dengan tenang seolah tidak memiliki beban apapun. “Emm.. mungkin karena aku hampir mati, atau mungkin juga karena waktu itu aku ditenggelamkan di sungai suci dan membuat kepribadian ku menjadi beda.”


“Begitu ya,” gumam Xia He sambil menunduk. “Ada apa, Xia He? apa kau ragu aku bukan Lien Hua?”


Xia He segera menggeleng. “Bukan itu Nona, hanya saja.. saya merasa sedih ketika melihat Anda selalu diganggu oleh Nona Li Mei dan Nona Li Yao, saya harap.. Anda bisa menjaga diri Anda, Nona. saya tidak ingin Anda terluka lagi,” cicit Xia He, Lien Hua menghela napas pelan. dia mengibaskan tangannya mengisyaratkan agar Xia He mendekat.


dengan wajah bingung, Xia He berjalan ke arah Lien Hua dan berdiri di sampingnya. Lien Hua berdiri dan mengusap kepala Xia He. ”Tenanglah, Xia He. aku akan baik-baik saja kali ini.”


“Tapi Nona, saya tetap takut keduanya akan mencoba melukai Anda lagi.”


'Xia He cukup baik, tapi tidak mungkin aku langsung percaya padanya. Bisa saja dia berpura-pura agar bisa menjadi mata-mata untuk Kedua Nona manja itu!'


“Kalau kau takut aku terluka, ikutlah denganku. Kita akan pergi dari kediaman menteri.”


ucapan Lien Hua barusan membuat Xia He yang menunduk langsung menatapnya. “Apa maksud Anda Nona?”


“Ya, sebenarnya aku berencana untuk kabur dari rumah. itu sebabnya aku mengajakmu, mungkin aku akan membawa Black juga,” ucap Lien Hua sambil menggaruk pipinya dengan jari kelingking, Xia He tersenyum dan menggenggam kedua tangan Lien Hua.


“Nona, saya pasti akan terus setia dan mengikuti Anda kemanapun Anda pergi!”


...----------------...


“Nona, Anda ingin membeli apa saja?” tanya Xia He sambil terus mengikuti Lien Hua yang sedari tadi hanya berjalan-jalan di dalam pasar sambil melihat-lihat.


“Entahlah, tidak ada yang membuatku tertarik.”


Xia He menghela napas pasrah, dia terus mengikuti Lien Hua hingga sampai di depan seorang pedagang kaki lima.


Lien Hua berjongkok dan melihat aksesoris yang dijual nenek tua itu.


“Apa ada yang perhatianmu, Nona?”


“Emm.. berapa harga kalung ini?” tanya Lien Hua mengambil kalung dengan liontin berbentuk kristal.


“Ohh, kalung itu hanya seharga 5 koin perak. Nona.”


“Semurah itu? tapi kalung ini terlihat cukup indah dan mahal.” Lien Hua menatap lekat kalung yang ada di tangannya, Nenek itu tersenyum tipis.


“Harga sebenarnya hanya tiga koin perak, Nona. Tapi demi keuntungan, saya menjualnya 5 koin perak.”


“Apa memang semurah itu?” Lien Hua menoleh ke arah Nenek tua yang mengangguk pelan.


“Iya, Nona.”


“Emm..” Lien Hua mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, dia menoleh ke arah Xia He yang masih berdiri di sampingnya.


“Apa kau tidak ingin membeli sesuatu?”


“S-saya? apa boleh?”


“Belilah yang kau inginkan, aku akan membayarnya.”


Xia He tersenyum senang, dia berjongkok di samping Lien Hua dan mengambil sebuah jepit rambut berbentuk bintang. “Saya hanya ingin ini saja, Nona.”


“Hanya satu? apa tidak ingin yang lain?” tanya Lien Hua menawarkan, dia memilih kalung dan juga gelang kemudian memberikannya pada Lien Hua.


“Berapa semuanya?” Lien Hua menoleh ke arah Nenek tua yang sedari tadi memperhatikannya.


“Harganya hanya 50 koin perak, Nona.”


“50 koin perak?” gumam Lien Hua, dia merogok saku jubahnya dan memberikan 10 koin emas kepada Nenek itu.


“Ayo, Xia!” Lien Hua berdiri dan langsung menarik tangan Xia He pergi.


“Semoga Dewi memberkatimu, Nona Li Lien Hua,” ucap Nenek itu pelan, dia terus memperhatikan Lien Hua dan Xia He yang sudah jauh.


...----------------...


“Nona, ada apa? anda kelihatan aneh didepan Nenek tua itu.” Xia He memerhatikan Lien Hua yang hanya diam.


“Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa tidak asing dengan Nenek itu. seolah aku pernah bertemu dengannya.”


“Nenek itu?” Xia He menoleh ke belakang namun tidak menemukan siapapun lagi, Nenek tua itu telah menghilang. begitu juga dengan jualannya, semuanya kosong seolah tidak ada siapa-siapa di sana.


Lien Hua yang mendengar gumaman Xia He menoleh ke belakang dan mengerutkan keningnya. “Nenek itu di mana?”


“Nona, bukannya tadi Nenek itu duduk di sana.” tunjuk Xia He di tempat nenek tua itu tadi, Lien Hua mengangguk.


'Benar, kemana nenek tua itu? jika aku salah liat, tidak mungkin kan semua barang yang kubeli benar-benar ada.' Lien Hua membuka kantong kresek yang dibawanya, semua aksesoris yang dibeli dari nenek tua itu masih ada.


...----------------...