
“N-nona, bukankah itu tidak sopan?” tanya Audrey yang masih dalam mode terkejut, Lien Hua mengangkat bahunya acuh. Dia duduk di sofa dan memijat pelipisnya pusing.
“A-apa Nona perlu sesuatu?”
“Tolong ambilkan aku air putih.” Audrey mengangguk, dia berjalan keluar dengan pikiran yang berkelana ke mana-mana.
'Apa Nona Lien Hua tidak menyukai Yang Mulia Jian Yang? Jadi apa dia benar-benar menyukai Yang Mulia Putra Mahkota Zhang Xue??' Audrey tersenyum sambil menuang air ke gelas, dia kemudian membawa gelas berisi air itu ke kamar Lien Hua.
Audrey mengetuk pintu kamar berkali-kali namun tak ada suara dari dalam, dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar dan tak melihat siapapun.
“N-nona Li-Carmelia, saya sudah membawakan air untuk Anda.” Audrey meletakkan gelas di meja, dia mencari Lien Hua di seisi kamar namun tak menemukan gadis itu.
Audrey hendak keluar, namun langkahnya terhenti ketika melihat bayangan seseorang di balkon. Dia berjalan ke arah balkon dan menggeser gorden yang menghalangi.
Dan benar saja, Lien Hua berdiri di balkon dengan kotak kecil di tangannya. Audrey melangkah mendekat dan memegang pundak Lien Hua.
“Nona, saya sudah membawakan air untuk Anda.” Lien Hua tersadar dari lamunannya, dia berdehem dan berjalan masuk sambil menyembunyikan kotak itu di balik gaunnya.
'Itu kotak apa ya?' batin Audrey penasaran, dia tersenyum licik.
“Nona, Yang Mulia ingin Anda menemuinya di taman belakang istana. Yang Mulia bilang, dia ingin mengatakan sesuatu.” Lien Hua yang tengah duduk di tepi kasur mengerutkan keningnya.
“Tentang apa?”
“Saya kurang tahu.” Lien Hua mengangguk, dia berdiri dan berjalan pergi. “Saya akan di sini dan merapikan kamar Anda!”
Setelah kepergian Lien Hua, Audrey segera membuka laci meja, laci lemari dan di balik selimut namun tak menemukannya. Audrey berdecak, dia mengambil sapu dan mulai menyapu lantai.
Tanpa sengaja, saat Audrey menyapu bawah kasur. Dia tanpa sengaja melihat kotak kecil yang dia cari-cari, Audrey dengan senang mengambil kotak itu dan membukanya.
'Surat? Apa Nona suka berkirim surat dengan seseorang?' batin Audrey ketika membuka kotak itu, dia kemudian mengeluarkan kertas itu satu-persatu dan membacanya.
Semakin banyak kertas yang dibaca Audrey, semakin mengembang juga senyum di wajahnya. Setelah surat terakhir selesai dia baca, Audrey tersenyum lebar. Dia memasukkan semua surat-surat itu ke dalam kotak dan menyembunyikan di balik seragam pelayan.
'Yang Mulia pasti akan kaget kalau membaca isi surat itu, xixixi.'
----------------
“Apa maksudmu? Rayna bilang, kau memanggilku dan ingin mengatakan sesuatu!”
Jian yang tengah duduk di kursi taman melirik Lien Hua sekilas. “Untuk apa? Kau kan juga tidak menerima ajakan ku tadi.”
Lien Hua berdecak. 'Apa Reyna membohongiku? Heh, dia benar-benar berani!' Lien Hua mendengus, dia berjalan pergi tanpa mengatakan sepatah kata lagi.
“Tunggu! Lien Hua berhenti melangkah. “Ada apa?”
“Kemarilah, ada sesuatu yang ingin memberikan padamu.” Lien Hua berdecih. “Tidak butuh!”
Dia kembali melangkah, namun lagi-lagi terhenti karena ucapan Jian.
“Sebuah kalung dengan liontin kristal,” kata Jian sambil memperlihatkan benda yang dimaksud, Lien Hua melirik ke arah pria itu. Matanya seketika berbinar saat melihat liontin yang pernah diberikan oleh ibundanya.
“Berikan padaku!” mohon Lien Hua dengan memelas. “Baik, mendekatlah!” Lien Hua mengangguk.
“Cantik.”
“Aku?” tanya Lien Hua. “Kalungnya” Lien Hua berdecih, dia berdiri dan berjalan pergi. “Sama-sama.”
Lien Hua menahan geram. “Terima kasih.”
Lien Hua dengan kesal kembali ke kamarnya, dia akan menghukum Reyna karena mempermainkannya. Begitupun dengan Jian nanti.
Pintu kamarnya dia buka dengan kasar. “Reyna!” panggil Lien Hua namun tak ada siapapun di sana, keningnya berkerut.
“Reyna, kau di mana??”
Pintu terbuka dan membuat Lien Hua hendak menoleh dan mencaci Reyna, namun seluruh caciannya tertahan di tenggorokan.
“Ada apa?” Lien Hua mengerutkan keningnya, dapat dia lihat ketakutan yang amat jelas dari raut wajah wanita paruh baya dengan pakaian pelayan itu.
“N-nona Carmelia--”
“Lien Hua!”
“Yang Mulia Raja ingin Nona Lien Hua tidak keluar dari kamar sampai dia pulang.”
“Pulang? Memang Jian kemana? Bukankah dia ada di taman?”
“Iya, Nona. Yang Mulia baru saja berangkat ke suatu tempat, katanya Anda tidak boleh meninggalkan kamar ini.”
Lien Hua memegang dagunya berpikir. 'Suatu tempat? Kenapa dia tidak memberitahu apa-apa padaku? Aneh, aku sepertinya harus mencari tahu semuanya sendiri!'
Lien Hua berdehem. “Baiklah, kau pergilah. Aku akan istirahat.” Pelayan itu mengangguk, dia membungkuk hormat dan berjalan pergi.
Lien Hua menutup pintu kamarnya dan berjalan ke arah balkon. 'Ini waktu yang tepat untuk kabur, kan? Zhang Xue juga tidak menemuiku dalam beberapa hari ini. Padahal dia seharusnya mem-- astaga Lilia! Kenapa kau malah memikirkannya sih??' Lien Hua memukul kepalanya pelan.
'Lagipula aku bingung dengan diriku sendiri! Sejak kapan aku memiliki perasaan pada pria sinting bin gila itu??' Lien Hua menggeleng cepat, dia menghela napas dan menaiki pembatas balkon.
Lien Hua merentangkan kedua tangannya, dia kemudian menutup matanya dan melompat turun. Untungnya, dia mendarat dengan aman meskipun jatuh terduduk di tanah.
Lien Hua berdiri dan segera membersihkan gaunnya, dia memakai jubah yang dia sembunyikan sejak tadi dan berjalan pergi dengan aman. Lien Hua sesekali melirik sekeliling, penjagaan di istana cukup ketat. Namun dia tau, beberapa prajurit tidak ada di istana.
Lien Hua semakin yakin kalau terjadi sesuatu di luar sana, dia menghela napas pelan. Dia menatap tembok tinggi di depannya.
'Gunakan sihir? Tidak mungkin, pasti akan ketahuan. Sekarang aku harus bagaimana?' Lien Hua mengigiti kukunya resah, dia tiba-tiba teringat sesuatu.
Dia berlari menuju taman belakang dan menjentikkan jarinya. “Seharusnya aku masih bisa lewat sini!” Lien Hua berjalan ke arah tembok, dia terus berjalan dan berjalan hingga tiba-tiba dirinya tembus dari tembok itu dan berhasil keluar.
Lien Hua tersenyum bangga, dia kemudian berlari kecil keluar dari hutan itu. Istana itu sendiri berada di tengah hutan, dan untuk sampai di luar hutan. Lien Hua harus berlari dengan cepat selama sejam lebih, jadi dia memutuskan untuk beristirahat sejenak di tempat-tempat yang menurutnya aman.
Karena hal itu juga, Lien Hua jadi membutuhkan waktu lebih dari yang dia perkiraan. Namun Lien Hua tetap bahagia, karena dia akhirnya bisa keluar dari hutan.
Lien Hua menoleh ke arah hutan. 'Maaf Jian, tapi aku tidak bisa meninggalkan keluargaku cukup lama.' Lien Hua berjalan menuju Kediamannya.