Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 41. Hari kebangkitan



“Melia, temui Pangeran. Mungkin kau bisa mengeluarkan racunnya karena kau keturunan dari Bibi Izumi.”


“Aku tidak yakin, lagipula. Bagaimana dengan kau?? Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini!!” tolak Lien Hua, dia tak ingin kehilangan yang berharga dalam hidupnya.


Jian tersenyum misterius.


“Ada aku.”


Lien Hua menoleh ke asal suara, seorang pria berjubah muncul di belakangnya entah sejak kapan. “Kakek, tua?”


Pria itu membuka jubahnya, Lien Hua membulatkan matanya terkejut. Dia langsung memeluk pria itu dengan erat.


“Kak Xue, k-kakak masih hidup?”


Wang Xuemin berdecih. “Kalau aku mati, menurutmu siapa pria di depanmu ini?”


Lien Hua menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia menoleh dengan senyum di wajahnya berharap seseorang datang. Namun tidak ada.


“Apa Ayahanda tidak kemari?” tanya Lien Hua dengan lesu.


“Ayahanda berada di ruang bawah tanah dan menjaga rakyat yang masih hidup, kau juga ke sana lah. Pangeran Xue juga ada di sana,” kata Wang Xuemin dengan senyum jail.


“Benarkah? Aku ingin bertemu Ayahanda! Tetapi, bagaimana aku bisa masuk ke sana?”


“Soal itu, Audrey yang akan mengantarmu.”


Lien Hua menoleh ke arah seorang gadis yang tersenyum, senyuman yang familiar dan juga mengesalkan. “Reyna?? Kau!”


“Nanti saja berdebatnya, Audrey. Bawa Melia ke ruang bawah tanah.”


Audrey mengangguk. “Tidak masalah!” ucapnya dengan sebelah mata yang dikedipkan, dia kemudian menggenggam tangan Lien Hua.


“Siap?”


Lien Hua mengangguk, Audrey menutup matanya dan bergumam. Mereka menghilang bagai petir yang menyambar, Wang Xuemin merangkul pundak Jian.


“Maaf adik, kau gagal menjadi adik iparku,” kata Wang Xuemin dengan senyum penuh kemenangan, Jian menepis tangan Wang Xuemin. Dia kemudian mencabut pedangnya dan mengayunkannya ke arah para monster, begitupula dengan Wang Xuemin.


“Ayo kita bertanding, siapapun yang menghabisi monster lebih banyak. Maka dia bisa.. menjadi teman dekat adikku.”


“Untuk apa? Dia juga sudah menyukai orang lain.”


Wang Xuemin mendekati Jian. “Apa kau cemburu, kawan?”


Jian berdecih, dia menghiraukan Wang Xuemin yang terus saja menganggunya.


----------------


Lien Hua menutup mulutnya tak percaya, di hadapannya kini berbaring seorang pria yang amat dia kenali.


“Tabib, apa masih belum menemukan penawar untuk racunnya?” tanya Lien Hua, tabib yang tengah merawat Zhang Xue menggeleng.


“Racun itu sangat kuat, dua tabib saja sudah kewalahan untuk memperlambat penyebaran racun. Jadi kami tidak sempat untuk meneliti jenis racunnya dan tidak bisa membuat penawarnya.”


“Jika boleh, mungkin aku bisa membantu!”


Tabib itu berhenti, dia menatap lekat Lien Hua. Tabib itu menghela napas. “Untuk membuat penawarnya tidak mungkin, apalagi kau yang orang awam tidak mungkin mengerti apapun.”


“Ap--”


“Tuan, racunnya menyebar dengan sangat cepat!” kata salah satu tabib, pandangan Lien Hua langsung mengarah ke Zhang Xue.


Lien Hua berjalan keluar dengan pikiran yang berkecamukan, Dia menutup pintu ruangan agar para tabib bisa lebih fokus untuk menggunakan sihir. Lien Hua menunggu diluar hingga dia tanpa sengaja mendengar suara salah satu tabib.


“Tuan, Yang Mulia Putra Mahkota tidak bisa diselamatkan lagi. Racunnya telah menyebar ke seluruh tubuhnya dan membuat jantungnya berhenti berdetak.”


Seolah disambar petir di siang bolong, air mata yang ditahannya sedari tadi akhirnya tumpah tanpa bisa dihentikan lagi. Lien Hua merasa sangat sesak di hatinya, dia berlari pergi sambil menghapus air matanya.


Lien Hua mengunci dirinya di sebuah ruangan kosong dan menangis dalam diam, suara isakan kecil terdengar darinya.


“Rio,.Ify,” panggil Lien Hua dengan suara parau, dua orang beda gender muncul di belakangnya.


“Iya, Nona.”


“Bantu keluargaku yang melawan para monster, jangan biarkan mereka terluka.”


“Anu, N-Nona.” Ify seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa.


“Nona, Ketiga keluarga Anda terkena serangan dari para monster. Yang Mulia raja terdahulu, ayah Anda. Mati di medan pertempuran.”


Jantung Lien Hua seolah berhenti berdetak, napasnya terengah-engah. Air matanya semakin deras.


“Lalu, Yang Mulia Raja Jian dan Tuan Wang Xuemin menderita luka berat dan kini sedang dalam perawatan.”


Jantungnya seolah ingin melompat keluar, hatinya terasa sangat sakit setelah mendengar dua kabar duka dari orang-orang yang dia sayang. Lien Hua menghapus air matanya.


“Pergilah, rawat keduanya dengan baik.”


Ify dan Rio saling menatap, keduanya tau gadis di depan mereka hanya berpura-pura kuat. Sebenarnya, gadis di depan mereka ini seperti gadis pada umumnya, rapuh bak gelas kaca yang mudah pecah.


“Baik, Nona.”


Keduanya menghilang dalam kegelapan, Lien Hua memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut.


Jantungnya berdetak sangat cepat hingga terasa sakit, hatinya seolah ditusuk oleh pisau berkali-kali, badannya sangat lemas hingga tak bisa digerakkan sama sekali.


Lien Hua terisak, dia tiba-tiba merasa seseorang mengusap punggungnya. Lien Hua mengangkat kepalanya namun tak melihat siapa-siapa, dia terkekeh geli dengan air mata yang masih terus mengaliri pipinya dengan deras seperti sungai.


Kalung yang dia kenakan tiba-tiba muncul retakan yang bercahaya, retakan itu semakin membesar dan membuat liontin itu terjatuh dalam keadaan pecah.


Cahaya yang keluar dari liontin semakin membesar dan menyilaukan mata Lien Hua, gadis itu secara refleks menutup matanya dan menghalangi cahaya dengan tangan.


Seseorang seolah menariknya untuk berdiri dan membuat Lien Hua dengan terpaksa berdiri meski matanya masih terus terpejam, tanpa dia ketahui.


Kakinya tidak lagi menyentuh lantai, jubah coklat yang dia kenakan berubah menjadi gaun merah darah. Sebuah tanda berbentuk api berwarna merah muncul di dahinya, rambutnya yang terikat tiba-tiba tergerai indah dan muncul sebuah mahkota di kepalanya.


Setelah merasa cahaya yang menyilaukan telah menghilang, Lien Hua membuka matanya. Dia dengan sendirinya turun perlahan hingga high heels yang digunakannya kembali menyentuh lantai.


Lien Hua mengangkat kedua tangannya di depan dada, muncul sebuah bunga yang berwarna emas dengan bentuk aneh melayang di atas tangannya.


Lien Hua tersenyum tipis. “Aku kembali, Ibunda. Ayahanda, Putrimu telah kembali. Izumi Carmelia telah hidup kembali dan akan membalas dendam.” Tatapan Lien Hua terpokus pada bunga aneh yang melayang di atas tangannya.


Dia menyatukan kedua tangannya dan membawanya ke dadanya, bunga itu menghilang dan menyatu dengan jiwa Lien Hua. Atau lebih tepatnya, jiwa Lilia yang bersatu dengan jiwa Lien Hua asli.


Lien Hua menghela napas, Dia mengangkat kedua tangannya ke arah langit dan mengucapkan mantra.


“Blue fire, ice water, thunder earth, light peril.”


----------------