
'Sial! Bau amis darah masih saja tercium di tanganku!' batin Lien Hua ngeri, namun dia tetap tersenyum karena berhasil mendapatkan 50 koin emas karena keberhasilan misinya. Belum lagi tambahan 20 koin emas karena membawa bukti keberhasilannya.
'Hidup di dunia ini benar-benar menyenangkan! Semalam saja, aku bisa mendapatkan 70 koin emas tanpa menjual diri. Yah, setidaknya. Harganya lebih mahal daripada menjadi pelacur di rumah bordil.' Lien Hua masuk ke kamarnya melewati jendela, karena mustahil jika dia harus lewat pintu dan pasti akan ketahuan Oleh Xia He yang mungkin telah bangun.
Untungnya, kediaman milik Lien Hua kali ini tidak bertingkat. Jadi membuatnya lebih mudah untuk masuk dan keluar lewat jendela jika ada misi dadakan.
Setelah berhasil masuk ke kamarnya, Lien Hua menghela napas dan duduk di lantai. Dia menatap datar Koin yang ada di depannya.
'Kau itu sangat menjijikkan, Ya. Lilia, setelah berhenti menjadi pembunuh. Bukannya tobat, malah jadi pembunuh lagi. Apa kau tidak takut jika semua orang yang sudah kau bunuh masuk ke mimpimu dan terus menganggu tidurmu?' batin Lien Hua pada dirinya sendiri.
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Lien Hua kaget. “Siapa?”
“Nona Lien Hua, saya membawakan sarapan untuk Anda.” Suara Xia He terdengar dari balik pintu, Lien Hua berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dia kemudian membukanya dan melihat Xia He yang tengah membawa nampan.
“Xia, jangan memanggilku Nona Lien Hua. Panggil Lina saja, dan juga. Di mana Black? Aku tidak melihatnya lagi, apa dia menghilang lagi?”
“Maafkan ke lancangan saya, Nona. Dan maaf karena saya tidak bisa memanggil Anda dengan sebutan tersebut, bahkan. Saya sudah salah karena tidak memanggil Anda dengan sebutan asli.” Xia He menunduk dengan wajah yang sedih.
“Sebutan asli? Maksudnya, Li Lien Hua?”
Xia He mengangguk membenarkan, Lien Hua memijat pangkal hidungnya. “Xia He, kau seharusnya tidak perlu sedih atau merasa bersalah. Lagipula, aku bukan anak dari menteri Li. Jadi aku memang tidak boleh mendapatkan marga keluarga Li! Jadi, mulai sekarang. Panggil aku Lina!” tekan Lien Hua di akhir kalimatnya.
“Tapi Nona--”
“Xia He, dengar ya! Lina itu juga berasal dari Lien Hua, huruf pertama Li sama dengan Lien. Dan kemudian, Aku menggabung huruf terakhir. Yaitu N dengan huruf terakhir Hua. Yaitu A, jadi. Kalau semuanya disambungkan akan menjadi nama baru, yaitu Lina. Nama Lina hanya singkatan dari Lien Hua, agar kau tidak perlu kesusahan memanggilku Lien Hua lagi. Jadi cukup panggil aku, Lina!” Lien Hua berusaha menjelaskan sedetail dan sesederhana mungkin, entah apa Xia He akan memahami ucapannya yang sangat acak dan juga membingungkan.
“Baik, Nona Lina.” setelah lama terdiam, Xia He akhirnya membuka suara. Lien Hua tersenyum. “Baiklah, aku akan memanggilmu Xia.”
“Baik, Nona Lien-- maksud saya, Lina. Silahkan sarapan Anda.”
“Baiklah, kau juga sebaiknya makanlah dulu. Dan istirahat, kediaman ini tidak sebesar dan seluas kediaman menteri. Jadi kau tidak akan terlalu kelelahan membersihkan semuanya, aku juga mungkin akan menyewa beberapa pelayan lagi untuk membantumu memasak dan bersih-bersih, ingat! Jangan kelelahan, jika kau merasa tidak sehat. Perintah saja pelayan lain!”
...-----------------...
“Hoam.. setelah selesai menulis laporan keuangan, mungkin aku akan tidur saja. Karena ulah Kakek tua kemarin, aku jadi tidak sempat tidur malam dan sekarang.. aku sangat mengantuk.” Lien Hua menguap sambil terus menulis di atas kertas putih yang dibuat dari pohon khusus.
'Sempurna, semuanya telah selesai. Buku ini juga akan sangat bagus! Pohon itu memang sangat bagus untuk dijadikan kertas, tidak salah aku membelinya dengan harga mahal hanya demi satu buku.'
“Nona Lina, saya membawakan teh untuk Anda.” Xia He membuka pintu kamar Lien Hua, dia terdiam sesaat ketika melihat kamar Lien Hua yang sangat berantakan. Bahkan di bawah mata Lien Hua terlihat sedikit menghitam.
“Astaga Nona, apa Anda tidak tidur semalaman?” tanya Xia He shock, sementara Lien Hua hanya mengangguk kecil sambil mengucek matanya.
“Nona, Anda seharusnya bilang jika memiliki gangguan tidur! Saya bisa membantu Anda dengan buku ini.” Xia He memperlihatkan buku yang dia bawa dari perpustakaan.
“Hem? Buku apa itu?”
“Saya kurang tau, tapi buku ini mungkin bisa membantu Anda tidur dengan nyenyak. Saya juga belum sempat membukanya karena sibuk membuat makanan.” Xia He membuang muka.
“Nona Lina, seharusnya Anda tidak menolak masakan buatan Koki! Itu sangat enak, loh!” kesal Xia He.
Xia He menghela napas. “Nona Lina, lalu untuk apa Anda menyewa koki?”
“Untuk apa? Tentu saja membantumu, jika ada yang tidak mematuhi ucapan atau menghinamu. Beritahu aku saja!”
“Baiklah, Nona Lina. Saya permisi dulu.” Xia He menunduk sopan dan berjalan keluar dari kamar Lien Hua, setelah Pintu tertutup. Lien Hua merapikan kertas-kertas yang berserakan di lantai.
“Egh, akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang.” Lien Hua berdiri dan berjalan ke arah jendela, dia menutup jendela kamarnya dan menuju ke kasurnya.
'Entah apa ada misi lagi malam nanti, jika benar. Aku bisa kewalahan karena tidak tidur setiap malam.'
----------------
Suara ketukan pintu membuat tidur nyenyak Lien Hua terganggu, dia menggeliat lucu sambil mengucek matanya pelan.
“Hoam.. Siapa?” tanya Lien Hua sambil bangun.
“Nona Lina, apa Anda ketiduran? Ini sudah siang!”
“Xia, jangan ganggu aku. Aku masih sangat mengantuk!” Lien Hua kembali berbaring namun Xia He terus mengetuk pintu dan membuatnya kesal.
“Ada apa, Xia??”
Pintu kamar Lien Hua terbuka. “Nona Lina, Nyonya ingin bertemu dengan Anda.”
“Nyonya siapa? Ayolah Xia, jangan menganggu tidur nyenyak ku!” Lien Hua merenggangkan badannya, dia menatap Xia He yang berdiri di depan pintu.
“Nona ini, tentu saja Nyonya menteri! Apa Anda sudah lupa dengan Nyonya?” kesal Xia He sambil berkacang pinggang.
“Ada apa lagi? Untuk apa Nyonya dari menteri ke mari? Memang dia tau kediamanku ini dari mana?”
“Nona bertanya nya nanti saja, ayo. Saya bantu anda bersiap-siap!”
“Baik.”
...-----------------...
“Ada perlu apa, Nyonya?” tanya Lien Hua dengan nada sopan, dia menatap datar wanita paruh baya di depannya.
“Li Lien Hua, ibu--”
“Stth, Anda bukan ibu saya. Ok, jadi ada perlu apa Nyonya kediaman menteri kemari?”
Wanita paruh baya itu menunduk. “Lien Hua, ibu ingin meminta dua hal padamu.”
“Apa? Anda siapa ingin memerintah saya? Ingat ya, kita tidak memiliki hubungan apapun itu, bukankah Anda juga membenci saya?”
...----------------...