Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 30. Pil obat



Lien Hua menatap taman bunga di depannya, pikirannya kini penuh tanda tanya setelah mendengar cerita Xia He.


'Kalau mereka memang dibantu Zhang Xue, kenapa pria itu tidak memberitahu apa-apa denganku?' Lien Hua menghela napas, dia berbalik dan berjalan pergi.


Namun langkahnya terhenti ketika melihat sekelebat bayangan hitam lewat. “Siapa di situ??” Tak ada jawaban dari siapapun, Lien Hua melirik sekitaran namun tak menemukan siapapun.


“Apa hanya perasaanku saja ya?” gumam Lien Hua, dia berjalan masuk dan kebetulan melihat Rio dan Ify.


“Eh kalian.” Keduanya menoleh ke arah Lien Hua. “Ada apa?”


Lien Hua melirik sekeliling dan berjalan mendekat. “Berikan surat ini pada Kakek tua itu, beritahu padanya. Aku akan menemuinya sore nanti.”


Ify menerima sepucuk surat itu dengan wajah bingung, Rio mengangguk. “Mengerti.”


“Dan juga, awasi kediaman ini. Aku merasa ada yang mengawasi kediaman ini.” Ify dan Rio saling menatap. “Apa perlu kami mencarinya?” tanya Rio, Lien Hua menggeleng.


“Tidak perlu, aku yang akan mengurusnya nanti. Kau cukup berikan pesan dan surat itu pada si kakek tua.”


“Nona Lily, apa kau bisa memanggil tuan dengan sebutannya. Bukan dengan nama ‘kakek tua’”


Lien Hua melipat tangannya di depan dada. “Apa urusannya denganmu? Dia sendiri saja tidak masalah kenapa kau yang sewot?”


“Buk--”


“Sudah, sudah. Kami akan pergi,” ucap Ify sambil menepuk-nepuk pundak Rio, Lien Hua mengangguk dan berjalan pergi.


“Nona itu sangat aneh ya.” Ify menoleh ke arah Rio, dia mengangkat bahunya acuh dan berjalan pergi.


'Dasar wanita.'


----------------


“Profesor! Saya sudah menemukan tempat tinggal baru Nona Lien Hua,” kata Profesor Alice dengan senang, para profesor yang sedang mengadakan rapat menoleh ke asal suara.


“Berikan berkasnya!” Profesor Alice berjalan ke arah Profesor Agra dan memberikan berkas di tangannya.


“Profesor--”


“Semuanya boleh keluar sekarang.” Profesor Anie melirik ke arah Profesor Hanna yang langsung berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.


“Kak,” panggil Profesor Anie, Profesor Agra hanya berdehem sebagai jawaban. Tatapannya fokus pada isi berkas di depannya.


“Apa Kakak akan benar-benar mengorbankan Nona Li?”


“Ya, bukankah sudah kuberitahu. Keputusanku sudah bulat, dan juga. Profesor lain setuju dengan saran Profesor Alice.”


“Lalu bagaimana dengan Hanna? Dia menentang keputusan Kakak bukan?” Profesor Anie menatap datar Profesor Agra.


“Keluarlah sekarang, aku akan memanggilmu lagi kalau semuanya telah selesai.”


“Tapi kak--”


“Anie!”


Profesor Anie menunduk, dia berjalan pergi dan menutup pintu dengan wajah tertunduk.


----------------


“Halo, Nona Li,” sapa Zhang Xue dengan senyum manisnya, Lien Hua yang tengah duduk di tepi kasur meliriknya sekilas.


“Kenapa kau kemari?”


Zhang Xue melompat dari jendela dan masuk ke kamar Lien Hua. “Aku ingin menemuimu dan membicarakan sesuatu.”


Zhang Xue berjalan mendekat dan memperlihatkan dua pil di tangannya. “Apa?” tanya Lien Hua dengan kening berkerut, dia menatap wajah Zhang Xue dan pil di tangan pria itu.


“Ini? Tentu saja obat, bukankah beberapa bulan yang lalu aku membawamu menemui naga itu dan lupa memberikan pil ini.”


Lien Hua menatap pil di tangan Zhang Xue lekat. “Apa pil ini bisa menghilangkan racunnya?”


“Em, tidak. Hanya saja, pil ini bisa menekan racunnya untuk sementara waktu sampai aku menemukan penawar racunnya.”


“Kau! Lupakan saja, apa kau kemari hanya untuk mengantar pil itu?” tanya Lien Hua. “Tidak, aku kemari juga ingin mengajakmu jalan-jalan ke taman. Semoga kau mau.”


“Em, baiklah. Kau keluar sekarang! Aku tidak ingin ada yang salah paham tentang kita.” Lien Hua membuang muka ke arah lain, Zhang Xue mengerutkan keningnya.


Dia berdiri dan berjalan mendekat, Lien Hua yang melihat itu membulatkan matanya. Dia berjalan mundur dan menabrak dinding di belakangnya.


“K-kau mau apa!?”


“Eh, kenapa kau sekaku itu?”


“Berhenti di sana!!”


“Ada apa, Nona Li? Aku kan. Tunanganmu,” bisik Zhang Xue di akhir kalimatnya, Lien Hua langsung merinding. Dia menatap kesal Zhang Xue.


“Pergi!” Lien Hua mendorong Zhang Xue menjauh, namun pria itu tak bergerak sedikitpun.


“Ada apa, Nona Li. Wajahmu terlihat memerah.”


Karena terlalu kesal dan malu, Lien Hua langsung menginjak kaki Zhang Xue itu dengan keras pria itu mengadu kesakitan.


“Rasakan itu! Lain kali jangan membuatku kesal lagi!” Lien Hua berjalan keluar dari kamarnya, wajahnya sangat memerah bak kepiting rebus.


Zhang Xue bersandar di dinding dan menatap pintu yang masih terbuka. 'Apa dia malu? Sangat imut dan cantik,' batin Zhang Xue dengan senyum di wajahnya.


----------------


'Ah bodoh!! Kenapa aku jadi malu?? Lilia bodoh, bodoh, bodoh!!' batin Lien Hua sambil menutup wajahnya.


“Nona Lily, kenapa wajahmu memerah begitu?” tanya Rio yang kebetulan lewat, Lien Hua menatapnya garang.


“Pergi sana! Jangan mengurusi urusanku!”


“Ya, ya. Aku akan pergi.” Rio berjalan pergi, Ify mendekati Lien Hua yang bersandar di tembok.


“Nona Lily, apa kau menyukai seseorang? Wajahmu memerah seperti orang yang malu, atau mungkin kau marah?” Lien Hua menatap Ify dengan mata memicing.


“Jangan menganggu dan jangan mencari tau apapun!”


Ify menghela napas, dia berlari kecil dan menyusul Rio yang sudah pergi menjauh.


Lien Hua menghela napas dan melipat tangannya di depan dada. 'Kenapa aku jadi sensitif sekali? Aneh, apa aku benar-benar menyukai seseorang?' Lien Hua menggeleng cepat, dia menepuk-nepuk wajahnya agar sadar.


“Sadarlah Lily, kau tidak boleh menyukai siapapun!!” Lien Hua berjalan pergi dengan pikiran yang menerawang jauh.


----------------


“Tuan.”


“Ada apa lagi?” tanya pria dengan jubah yang menutupi seluruh badan dan wajahnya.


“Apa Anda tidak menemui Nona Carmelia?”


“Untuk apa? Dia saja tidak mengingat aku,” kata Pria itu dengan nada sinis.


“Tapi Tuan--”


“Pergi! Jangan menggangguku sekarang!”


Pria di depannya menghela napas, dia berjalan keluar dan melirik pria itu sekilas sebelum menutup pintu.


Pria berjubah itu memijat pelipisnya pusing, dia menatap foto gadis kecil yang terpajang di ruangan gelap itu.


'Carmelia, dulu kau berkata. Bahwa aku adalah tubuh dan kau adalah hatinya, lalu kenapa kau sekarang meninggalkanku? Apa kau benar-benar tidak mengingatku sama sekali?' Pria itu memukul tembok dengan keras.


'Semuanya karena ulah keluarga sialan itu! Akan kubuat perhitungan yang pantas untuk mereka nantinya! Carmelia, meskipun kau melupakanku. Setidaknya, jangan lupakan janjimu di waktu kecil. Dan jangan hilang kendali lagi, aku tidak ingin membunuhmu. Tapi jika kau melakukan pemanggilan hewan spiritual lagi, maka aku tidak ada cara lain.'


----------------