
“Kakak pergi dulu, ya. Hati-hati di kediaman, jangan membuka pintu tanpa tau siapa yang datang. Mengerti!” Lien Hua mencubit pipi kakak beradik itu.
“Baik, Kak. Kak Lina juga hati-hati di jalan.”
Lien Hua menoleh ke arah Xia yang tengah menggendong Black, sejak pagi. Dia terus membawa Black karena tau kucing hitam nakal itu akan selalu menghilang di pagi hingga sore hari.
Lien Hua terkekeh kecil melihat Black yang terus meronta ingin dilepaskan. “Xia, tolong jangan marah pada Black. Dia memang sangat nakal dan menyusahkan.”
“Tenang saja, Nona. Akan saya pastikan, Black akan menurut saat Anda kembali!” kata Xia He sambil melihat Black dengan tatapan tajam.
“Baiklah semuanya, aku berangkat.” Lien Hua melambaikan tangannya dan naik ke kereta kuda, dia menatap ke arah jendela dengan senyum manis di wajahnya.
“H-hati-hati, Kak Lina,” ucap Xiu pelan, kereta kuda mulai berjalan. Lien Hua bersandar dan menghela napas pelan.
Senyum di wajahnya menghilang dan digantikan wajah datar tanpa ekspresi, tatapan lembut yang menghiasi matanya telah digantikan dengan tatapan tajam seolah siap menerkam mangsanya.
Bahkan sang kusir sampai takut melihat tatapan Lien Hua, gadis itu menopang dagunya malas.
'Apa yang diinginkan kakek tua itu sih? Kenapa aku disuruh untuk meninggalkan kediaman dan ke sana, hanya karena sebuah misi. Apa misi itu sangat penting hingga harus meninggalkan kediaman, atau sangat jauh? Tapi kalau memang penting dan jauh, kenapa tidak para senior saja yang mengambilnya. Kenapa malah aku orang awam yang dijadikan mangsa?' Lien Hua menghela napas, dia melirik pergelangan tangannya yang meninggalkan bekas merah.
'Huh.. ternyata ini sebabnya organisasi melarang ku memiliki perasaan, ya. Itu sangat merepotkan dan menyusahkan, kalau dipikir-pikir. Kehidupan pertamaku tidak beda jauh dari kehidupan keduaku sekarang, sama-sama menjadi pembunuh bayaran.' Lien Hua kembali menghela napas, dia menatap lurus.
“Pak, tolong berhenti di depan sana.”
“Baik, Nona.”
Kereta kuda yang ditumpanginya berhenti, Lien Hua berjalan turun dan menatap datar hutan lebat di depannya. Dengan langkah pasti, Lien Hua berjalan masuk dan menelusuri hutan yang dipenuhi oleh pohon-pohon yang sama.
Setelah lama berjalan, dia sampai di tengah hutan. Tepatnya di depan sebuah danau kecil yang ada di tempat terdalam hutan.
“Ada apa, Kakek tua? Kenapa kau menyuruhku kemari?”
Lien Hua menatap datar pria berjubah di depannya.
“Lily, misimu kali ini akan sulit dan juga susah untuk dilakukan.”
“Hah? Tidak ada misi yang tidak bisa dilakukan olehku, Lily!" ucap Lien Hua dengan bangganya.
“Benar, tidak ada yang tidak bisa kau lakukan. Itu sebabnya aku menyarankan misi ini padamu.” L menjeda ucapannya sejenak. “Kau akan masuk ke akademi, targetmu kali ini adalah pangeran yang menjadi siswa di akademi.”
“Apa? Permintaan dari siapa?” Lien Hua mengerutkan keningnya dengan wajah bingung. 'Siapa yang ingin mencelakai pangeran?'
“Lily, Kau tidak perlu tau siapa yang memintanya. Cukup laksanakan misinya, dan kau akan mendapatkan bayaran yang setara.”
“Baik, tapi dengan satu Syarat.” Lien Hua menatap datar pria berjubah yang membelakanginya.
...----------------...
“Egh, akhirnya selesai. Cukup menyebalkan sih, baru juga aku sampai. Tapi langsung dikirim ke Akademi, berarti. Si Kakek tua itu sudah merencanakannya dari awal, karena seharusnya ada dua bulan lagi sebelum pendaftaran selanjutnya.” Lien Hua menatap kesal langit-langit asramanya, setelah menyetujui syaratnya tadi. L langsung menyuruh orang untuk membawanya ke Akademi saat itu juga.
Suara ketukan pintu membuat Lien Hua bangun, dia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Lien Hua membuka pintu asramanya sedikit dan mendapatkan celah.
“Siapa kau?”
“Tidak, sana pergi. Jangan mengangguku!” Lien Hua menutup pintu asramanya kembali, dia berbalik dan berjalan menuju dapur asrama.
'Skil memasak ku di kehidupan pertama cukup bagus, mari kita tes. Apa skilku masih sebagus dulu.' Lien Hua meregangkan otot-otot tangannya, dia kemudian memasang celemek dan mulai memasak.
...----------------...
Malam harinya, Lien Hua mulai menjalankan misinya. Dia berdiri di atas pembatas balkon asrama siswa dengan jubah hitam dan tudung jubah yang menutupi wajahnya.
'Apa benar, disini asramanya? Kalau tidak salah, namanya.. emm, pangeran Yu. Nama aslinya disamarkan untuk keamanan, ya?' batin Lien Hua, dia melompat turun dan menyentuh lantai tanpa sedikitpun suara.
Selangkah demi selangkah, Lien Hua melangkah masuk tanpa menimbulkan suara langkah kaki ataupun suara apapun. Seolah dia terbang dan sepatu yang digunakannya tidak menyentuh permukaan lantai sama sekali.
Dia menatap datar seorang pangeran yang tengah tertidur lelap sambil mengigau, Lien Hua mengambil belati yang tersembunyi di balik jubahnya.
Niatan ingin menyiksanya terlebih dahulu, namun jika melakukannya. Dia bisa ketahuan ataupun sang pangeran bisa diberi pertolongan dengan cepat dan misinya bisa gagal.
'Selamat tinggal, pangeran Yu.' Lien Hua langsung menancapkan belatinya, namun belati itu justru melayang di udara.
Ujungnya hampir mengenai dada sang pangeran, dia menoleh dan menatap kesal pria yang menggagalkan misinya.
“Kenapa kau ingin menghabisinya?”
Lien Hua tersentak kaget ketika mendengar suara familiar tersebut. 'Bagaimana mungkin? Itu mustahil, Zhang Xue tidak mungkin di sini!' Lien Hua berusaha menyakinkan dirinya sendiri.
Dia diam-diam mengambil belati lain dan dengan cepat mengarahkannya tepat di leher pria yang bertanya tadi. “Diam, atau kau akan mati!”
“Nona Li Lien Hua? Apa itu kau?”
Lien Hua berdecih, dia melempar belati itu dan menimbulkan suara nyaring ketika bersentuhan dengan lantai. Saat pria itu menoleh ke asal suara, Lien Hua langsung menusuk pangeran Yu dan dirinya beserta pangeran Yu ditelan oleh kabut hitam dan menghilang.
Setelah kepergian keduanya cukup lama, pintu didobrak secara paksa hingga terbuka. Seorang profesor segera menyalakan penerangan dengan sihir dan menghampiri pria yang mengambil belati di lantai.
“Ada apa, Xue? Aku mendengar suara nyaring tadi, dan di mana pangeran Yu?” tanya profesor wanita tersebut.
“Profesor, pangeran Yu.. diculik seseorang.”
...----------------...
“Cih, sungguh merepotkan!” kesal Lien Hua sambil melepaskan tudung jubah yang menutupi wajahnya, dia menatap datar pangeran yang kini terikat di atas kursi dan dalam keadaan pingsan.
'Misi semudah ini, kenapa malah me-'
“Argh..” Lien Hua memegang kepalanya yang terasa sangat sakit, dia terduduk di lantai yang kotor.
'Sial, apa yang--' Lien Hua membuka matanya, tatapannya yang sedikit kabur. Namun, dia dapat melihat ada bayangan hitam berbentuk seorang putri di belakang pangeran Yu.
Dia dengan sekuat tenaga meraih belati di lantai dan langsung melemparnya ke arah bayangan hitam Samar itu, namun malah tembus dari bayangan hitam dan menancap di dinding.
...----------------...