Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 17. Rahasia Lian



“Lalu, apa ada yang berhasil menemukanku di sini?” tanya Lian sambil mengetuk-ngetuk meja, pria berjubah menggeleng.


“Belum ada yang menyadari Anda disini, Yang Mulia. Hanya saya dan juga satu kesatria terpercaya Anda yang tau.”


“Begitu ya? Huh.. ibunda selalu saja memaksaku menikah dengan gadis bodoh itu,” gumam Lian sambil memijat pelipisnya, Lien Hua masih setia mendengarkan sambil bersembunyi di belakang pot bunga yang cukup besar.


“Yang Mulia, sepertinya Yang Mulia Putra Mahkota berusaha mencari gadis itu.”


“Ah, gadis yang bisa mengambil bunga kristal itu ya? Apa dia sudah menemukannya?” Lian menoleh ke arah Pria berjubah yang menggeleng.


“Belum, Yang Mulia. Jadi Anda masih ada kesempatan untuk mendapatkan gadis itu terlebih dahulu dan merebut gelar Putra Mahkota dari Kakak Anda.”


“Hm.. baiklah, tetap cari tau keberadaan gadis itu dan juga bunga kristal itu. Dan, jangan sampai seseorang tau aku di sini. Jika tidak kau akan terkena akibatnya!” Lian mengibaskan tangannya, pria berjubah itu seketika menghilang ditelan kabut hitam. Lian bersandar dan tersenyum tipis.


“Hua, setelah mendapatkan gadis itu dan menghabisinya. Aku akan mendapatkan gelar Putra Mahkota dan akan menjadikanmu Permaisuri-ku.”


“Ahahaha, Kakakku sayang. Kau juga akan mati di tanganku, dan tunangan mu akan kujadikan selir ketika aku menjadi kaisar.” Lian tertawa jahat.


Lien Hua yang mendengarnya seketika merinding, dia merasa aneh dengan sikap Lian yang berbeda dari biasanya.


'Apa dia benar Lian temanku? Dia sangat berbeda dan juga aneh, sikap. Cara bicaranya, tatapannya yang menusuk, dan.. menghabisi? Dia rela menghabisi gadis yang bisa mengambil bunga kristal hanya demi menjadi Putra Mahkota, Lian. Apa ini adalah sifat aslimu? Bahkan berani membunuh kakaknya sendiri dan akan merebut tunangannya? Cih, kau sungguh-sungguh.. Gila! Aku menyesal menganggap-mu sebagai teman!' Lien Hua yang kesal dan merasa dibohongi tanpa sengaja menyenggol pot bunga di sampingnya dan jatuh, dia langsung membekap mulutnya sambil melihat Lian yang menoleh ke arahnya dengan tatapannya yang tajam. Untungnya, tembok yang ada di sana menghalangi cahaya penerangan dan membuat Lien Hua maupun pot yang digunakannya berlindung tidak terlalu terlihat.


“Kenapa potnya bisa terjatuh? Apa tertiup angin? Ah kau sungguh bodoh, Zhang Lian. Mana ada angin yang bisa meniup pot yang berisi tanah yang berat. Apa jangan-jangan, ada yang menguping?” Lien berdiri, dia berjalan ke arah pot yang terjatuh.


Namun, sesampainya di sana. Dia tidak melihat siapapun kecuali pot bunga dan juga tanah yang tumpah. 'Sepertinya aku salah lihat, mungkin saja itu ulah Kucing? Atau sihir dari orang iseng.' Lian mengangkat bahunya acuh, dia kembali ke tempat duduknya dan menunggu Lien Hua.


----------------


'Katakan itu semua bohong!! Akh Lian-ku yang manis, pembohong! Sadis dan jahat!' Lien Hua mengumpat dalam hati, dia menghela napas dan melirik ke dalam kafetaria.


Syukurnya dia sempat kabur sebelum ketahuan oleh Lian. 'Apa aku harus ke sana ya?' batin Lien Hua bimbang, dia kini tidak boleh asal percaya pada Lian setelah melihat sifat aslinya dengan mata kepalanya sendiri.


Lien Hua menutup matanya sejenak, setelah dia membuka matanya lagi. Lien Hua berlari masuk dan mengatur napasnya di depan Lian seolah baru saja berlari dari jauh.


“Maaf, aku lupa. Kau menungguku di sini,” ucap Lien Hua terengah-engah, Lian tersenyum tipis.


“Tidak apa-apa, aku tau kau sibuk karena tidak hadir beberapa hari. Duduklah, aku ingin menceritakan sesuatu padamu." Lian menepuk kursi di sampingnya, Lien Hua duduk sambil menetralkan jantungnya yang berdetak cepat.


“Aku sungguh minta maaf ya, aku benar-benar lupa karena terlalu sibuk. Bahkan aku kembali ke asrama saat sore hari.” Lien Hua menunduk, pikirannya kini sangat rumit hingga dia sendiri tidak mengerti dengan dirinya.


'Apa Lian-ku sudah kembali? Apa dia tadi itu benar-benar Lian? Atau hanya peniru nya saja? Ah mustahil, aku sedari tadi memperhatikannya dan tidak ada tanda-tanda dia pergi ataupun bergerak dari tempatnya. Jadi tidak mungkin jika orang yang kulihat tadi itu orang lain.'


“Kemana?”


“Em.. ada tempat rahasia yang ingin ku-tunjukkan padamu, jadi besok ikutlah denganku. Aku akan membuat surat izin pada Profesor besok.”


“Besok? Tapi aku harus ke kelas.” Lien Hua berusaha mencari alasan yang tepat, dia masih belum tau apa rencana dan juga strategi dari Lian.


“Bukankah besok hari libur, kau bisa ikut denganku kan?”


'Sial, aku lupa besok hari libur!'


Lien Hua tersenyum maksa. “B-baiklah, aku juga ingin melihat salju turun besok.”


“Bagus! Kita bisa melihat salju bersama,” kata Lian antusias, Lien Hua mengangguk kecil dengan wajah masam.


'Bagaimana aku bisa lari sekarang? Hah, sepertinya aku harus mempersiapkan diri besok!'


----------------


'Belati, pisau lipat, racun, buku suci, jarum, kunai, Bulatan merah itu, dan kotak obat.' Lien Hua memperhatikan semua barang-barang yang akan dibawanya, dia memasukkan semuanya ke dalam tas kecuali belati yang diselipkan di gaun yang digunakannya.


'Sempurna, meskipun aku mendengar dia menyukai dan ingin menikahiku. Tapi tetap saja, bisa jadi dia hanya pencitraan atau mungkin juga dia tau aku menguping mereka dari awal. Jadi aku menyiapkan bulatan merah itu untuk berjaga-jaga, itu akan sangat membantuku di situasi genting!' Lien Hua memakai tasnya, dia kemudian berjalan keluar dari asrama.


Lien Hua melihat Lian yang sudah menunggunya di depan Asramanya, dia menghela napas pelan. “Lian, sudah kukatakan bukan? Kau tidak boleh ke asrama putri! Apalagi jika dilihat seseorang, bisa saja dia salah paham!” kesal Lien Hua.


“Iya, iya. Maafkan aku, tapi tadi aku dilihat siswi lain kok, mereka malah menyapaku dan memberi tahu kau dimana.”


Lien Hua memutar bola matanya malas. “Nasib jadi orang ganteng gini,” gumam Lien Hua, Lian menarik tangannya dan langsung berjalan pergi sambil mengoceh.


'Cih, sudah kuduga. Dia pasti membawa bawahannya untuk mengawasi ku atau mungkin untuk menghabisi ku!' Lien Hua melirik ke sekeliling dengan tatapan penuh selidik, matanya memicing ketika melihat beberapa orang berjubah yang tengah mengawasi mereka.


'Ah, mereka di sana. Tapi lambang itu kan, lambang kekaisaran? Kenapa prajurit kekaisaran bisa sampai di sini, benar juga! Orang yang mendatangi Lian juga memiliki lambang yang sama, dan marga Zhang yang dimaksud--' Lien Hua menatap Lian yang masih setia menariknya keluar dari Akademi.


'Zhang Lian, pangeran dari.. kekaisaran, berarti. Zhang Xue juga--' Lien Hua menatap penuh terkejut, siapa yang sangka dia akan bertunangan dengan pangeran dari kekaisaran.


Lian menoleh ke arah Lien Hua. “Hua, aku ingin selalu bisa melindungimu.”


----------------