
Keesokan harinya, Lien Hua sudah merasa lebih mendingan. Dia berjalan masuk ke ruangan kosong tanpa barang apapun, Lien Hua berjalan ke sudut ruangan dan membuka tingkap ruang bawah tanah.
Lien Hua berjalan masuk dan menelusuri lorong yang hanya diterangi pencahayaan minim, dia membuka pintu besi di depannya dan menatap sayu dua peti mati di dalam ruangan.
Lien Hua melangkah mendekat hingga terlihat dua orang yang menjadi orang terpercayanya.
'Aku pasti akan membalas dendam, akan kubuat mereka semua sangat menderita sehingga mereka menginginkan kematian!'
----------------
“Nona Lily, ada surat dari akademi.” Lien Hua yang tengah sibuk mengajari Xiu menoleh ke asal suara dan melihat Ify, bukan hanya dia. Ada Rio di belakangnya yang terlihat basah kuyup.
“Terima kasih,” ucap Lien Hua sambil tersenyum tipis dan mengambil surat itu, Ify terdiam sesaat. Dia seolah terhipnotis dengan senyuman dari Lien Hua.
'Astaga, dia begitu cantik. Aku yang seorang perempuan saja tertarik dengan kecantikannya, jika dia menyukai Rio-- Ify bodoh!! Kenapa kau jadi membahas pria tidak ada otak itu sih!?' Lien Hua melirik wajah Ify yang tiba-tiba memerah tanpa sebab, namun dia tetap acuh.
“Ify, tolong temani Xiu belajar. Rio, kembali ke kamarku dan ganti pakaian.”
“Apa kau mengkhawatirkanku?” tanya Rio dengan tatapan berbinar. “Tidak, aku takut kau flu dan menulari Xiu.” Lien Hua berjalan pergi sambil membawa amplop yang diberikan Ify.
Sementara gadis itu sendiri tengah menahan tawa saat melihat wajah masam Rio yang terlihat sangat manis di matanya. “Rasakan itu, Pria bodoh!” ejek Ify, Rio mendengus dan berjalan ke kamarnya dan mengumpat.
----------------
'Heh, mengusirku dari akademi? Kalian memang cari mati ya.' Lien Hua menyinggung senyum misterius, dia meletakkan amplop di meja dan berjalan pergi.
“Tapi terserah saja sih, aku memang tidak ingin berlama-lama di akademi. Misi itu biar dikerjakan orang lain saja.”
Lien Hua memijat pelipisnya yang kembali terasa pusing, dia melihat Ify yang tengah mengajar Xiu meski sesekali mengerjai Rio dengan kulit kacang.
'Dasar mereka, bisa-bisanya bermesra-mesraan di depan Xiu. Apa yang akan dipikirkan gadis kecil itu nanti?' batin Lien Hua ketika melihat Xiu yang menatap keduanya bergantian.
Lien Hua terkekeh kecil dan berjalan keluar dari rumah, dia meregangkan tubuhnya dan berjalan keluar untuk sekedar mencari angin.
“Nona Lina.”
Lien Hua berhenti berjalan, dia menoleh dan berusaha mencari asal suara namun tak menemukan apapun. Lien Hua menunduk.
'Apa itu halusinasiku ya? Xia tidak akan pernah bisa kembali lagi, aku sudah gagal. Gagal menepati janjiku pada Xiu, gagal menjadi kakak yang baik untuk Juan. Gagal melindungi mereka.' Lien Hua menghela napas, dia berjalan pergi dan masuk ke hutan yang tak jauh dari rumahnya sekarang.
Lien Hua mengambil pil coklat yang tersembunyi di lengan bajunya, dia menatap sekeliling dan menulis sesuatu di pohon menggunakan pil coklat itu. Lien Hua membuat lima pohon lain sebagai jarak sebelum kembali menulis sesuatu, jika dilihat dari atas langit. Pohon-pohon yang digunakan Lien Hua untuk menulis itu membentuk lingkaran jika semua pohon yang memiliki tulisan digabung.
Setelah selesai, Lien Hua membersihkan tangannya dari pewarna coklat yang masih menempel. Dia kemudian berjalan ke tengah-tengah lingkaran dan mengigit jari telunjuknya.
Lien Hua mulai menggambar lingkaran sihir di tengah hutan dan dikelilingi pohon yang telah dia beri tulisan.
'Selesai, dengan ini aku bisa menjalankan semuanya sekarang. Benda itu juga bisa menjadi milikku!' Lien Hua merogoh sesuatu dari saku celananya, dia mengeluarkan sebuah kalung dan mengenakannya.
Lien Hua berjalan masuk ke lingkungan sihir yang dia buat, dia duduk di tengah-tengah lingkaran dan menutup matanya seraya membaca mantra. Dirinya kini seperti orang yang tengah bersemedi.
----------------
“Belum Profesor, kami sudah berkeliling untuk mencari buku suci itu. Tapi tidak ketemu, kami juga mendatangi rumah Menteri Li. Tapi Lien Hua tidak ada di sana, setelah dicari dengan teliti. Dia pernah tinggal di kediaman tuan Fu, tapi kediaman itu terbakar beberapa hari yang lalu. Dan keberadaan Lien Hua tidak diketahui lagi.”
Profesor Agra menghela napas, dia memijat pelipisnya pusing. “Tetap cari gadis itu!”
“Baik, Profesor.” Profesor Agra berjalan keluar dan menutup pintu ruangan, Profesor Alice kembali pada berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
'Apa, orang itu tau keberadaan Lien Hua?'
----------------
“Apa!? Apa maksudmu??” tanya Lien Hua murka, Rio dan Ify sama-sama menunduk. Tidak ada yang berani menatap wajah marah Lien Hua.
“Nona, kami--”
“Diam! Kenapa mereka bisa menghilang hanya dalam sehari?? Apa kalian tidak mengawasi mereka semua!?”
“Kami sudah mengawasi semuanya, tapi beberapa prajurit kekaisaran membawa mereka semua pergi. Dan kami tidak bisa menghentikan mereka,” ucap Ify memberanikan diri, Lien Hua memukul tembok di sampingnya hingga retak.
'Bocah sialan!! Ingin bermain-main denganku! Baik, akan kuladeni.' Lien Hua melirik keduanya dan menghela napas. “Pergilah, jangan menggangguku sekarang!”
Ify dan Rio berjalan pergi tanpa sepatah katapun, Lien Hua bersandar di tembok dengan tangan yang dilipat di depan dada sambil berpikir.
“K-kak Lina.” Lien Hua menoleh ke asal suara, dia tersenyum tipis. “Ada apa, Xiu? Kenapa belum tidur?” Lien Hua berjongkok di depan Xiu.
“Xiu tidak bisa tidur, Xiu merindukan kak Juan.” Lien Hua memaksakan senyum di wajahnya. “Xiu malam ini tidur dengan kak Lina dulu ya, em.. mungkin Xia dan Juan akan kembali beberapa hari lagi.”
“Janji?” tanya Xiu sambil mengulurkan jari kelingkingnya, Lien Hua membalasnya dengan senyum manis. “Janji.”
“Sekarang Xiu tidur ya, kakak akan menemui mereka besok dan menanyai kapan mereka pulang.” Xiu mengangguk kecil, Lien Hua menggendong Xiu dan berjalan ke kamarnya.
----------------
Seorang gadis berdiri di tengah sebuah altar tua yang dikelilingi tembok yang telah berlumut, gadis itu menatap sebuah tulisan aneh yang ada di tembok yang hampir runtuh.
“Apa ini akan berhasil? Aku tidak ingin meninggalkan Xiu, tapi jika hal ini bisa menghidupkan mereka. Aku akan melakukannya,” gumam gadis yang tidak lain adalah Lien Hua, dia mundur beberapa langkah dan mengangkat kedua tangannya.
“Fire blue, Ice water, Thunfer earth, right peril.” Sebuah buku yang familiar muncul di tangan Lien Hua, gadis itu membuka buku itu dan menghela napas pelan.
'Ah, hari-hari terakhirku telah tiba.'
“Gragon blue, fire dragon, earth dragon.”
----------------