Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 5. Kabur



“Nona, kita akan kabur lewat mana? Pengawal berkeliling di sekitar kediaman.”


Xia He dan Lien Hua sedari tadi memperhatikan keadaan sekitar dan juga para pengawal yang sedang berpatroli.


“Ikuti aku!” ucap Lien Hua dan berlari kecil sambil menggendong Black, Lien Hua melihat sekeliling dengan waspada dan berhenti di depan tembok yang tidak terlalu tinggi, menurutnya.


Namun, dia tetap tidak bisa menaiki tembok karena Xia He yang menolak pakaian yang diberikannya dan lebih memilih mengenakan seragam pelayan.


'Aku bisa menaiki tembok ini, tapi bagaimana dengan Xia He?' batin Lien Hua sambil melirik Xia He yang tengah mengawasi sekitaran.


“Xia He, apa kau bisa memanjat?”


“Maafkan saya Nona, tapi saya tidak bisa memanjat. Apalagi tembok setinggi ini.”


Lien Hua mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, dia menganalisa tinggi tembok di depannya.


“Lien Hua!”


Senyum tipis terbit di wajah Lien Hua ketika namanya dipanggil.


...------------------...


“Egh, akhirnya bisa keluar dari kediaman itu,” gumam Lien Hua sambil meregangkan tubuhnya, dia menatap ke arah tembok tinggi yang menjadi penghalang dirinya untuk melihat rumahnya untuk terakhir kalinya.


“N-nona Lien.”


Lien Hua melirik ke belakang, dimana Xia He tengah terisak sambil menggendong Black.


“K-kenapa Nona Li Yao dan Nona Mei sangat tega pada Anda?”


“Lupakan saja Xia, kenapa kau sedih? Seharusnya kau senang, setidaknya. Tidak perlu lagi menerima caci-maki ataupun penghinaan dari dua Nona manja itu. Ayo kita pergi, aku memiliki banyak koin untuk kita menyewa rumah.” Lien Hua berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan kediaman menteri dengan senyum puas di wajahnya.


'Ah, seharusnya aku berterima kasih pada dua adikku. Mereka ternyata cukup pintar sampai aku tidak perlu melakukan apapun untuk kabur atau diusir.'


“Xia He, berhenti menangis! Kau menganggu konsentrasi ku!”


“M-maafkan saya Nona,” ucap Xia He terisak, dia menghapus air matanya dan berlari kecil untuk menyusul Lien Hua yang sudah berjalan jauh.


'Sekarang, tinggal pikirkan cara mendapatkan pekerjaan. Aku harus bekerja apa? Jadi pembunuh lagi? Atau perampok? Bandit?' Lien Hua menggeleng pelan.


'Ide aneh, kalau pembunuh bisa saja. Tapi bandit atau perampok, akan repot karena harus mengumpulkan banyak orang. Jadi, em.. lebih baik kupikirkan lagi, mungkin juga kita bisa mendapatkan pekerjaan di pasar. Aku akan ke sana besok.'


“Nona Lien Hua.”


Lien Hua berhenti dan menoleh ke belakang. “Ada apa?”


“Apa Tuan tidak akan mencari kita?” tanya Xia He ragu, Lien Hua menghela napas pelan. Lien Hua kembali berjalan dan membuat Xia He kembali mengikutinya.


“Xia He, kau pasti sudah tau kan. Siapa aku dan apa pentingnya aku di keluarga mereka.” Mendengar suara Lien Hua yang agak serak, Xia He menunduk.


Lien Hua tersenyum tipis. “Aku bukanlah anak kandung mereka, Xia He. Bagi mereka, aku hanyalah beban dan akan selalu menjadi anak pungut yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka.” Lien Hua terkekeh miris.


“Bagaimanapun juga--” Lien Hua menoleh ke belakang. “Anak yang dipungut di jalan akan tetap kembali ke jalan.”


“N-nona Lien, saya tidak bermaksud--”


Lien Hua menunduk. “Tidak apa, Xia He. Aku tau kau tidak ingin membuatku mengingatnya, kumohon tolong jangan ungkit mereka lagi. Anggap saja mereka semua hanya orang asing.”


Rambut Lien Hua menutupi sebelah matanya, tanpa sadar. Tangannya terangkat dan membalas pelukan Xia He.


'Sial! Bukan ini yang kuinginkan, kenapa.. cih! Rasanya begitu nyata, rasa sakit di hatiku ini. Apa Hua juga mengalaminya?'


Xia He melepaskan pelukannya dan membuat Lien Hua sedikit menjauh. “Nona Lien, saya--”


“Ada apa Xia?” tanya Lien Hua yang merasa aneh dengan Xia He yang tiba-tiba diam sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“N-nona Lien--”


“Wah, wah. Sepertinya kita menemukan dua gadis cantik.”


Lien Hua yang mendengar suara asing di belakangnya menoleh, matanya menatap datar beberapa pria berbadan kekar yang tengah berdiri di depannya. Hanya seorang pria yang mengenakan jubah hitam berdiri di tengah-tengah pria berbadan kekar itu.


'Bandit Di jalan seperti ini? Dan sepertinya, pembunuh bayaran juga bekerja sama? Hahaha, aneh sekali.' Lien Hua tertawa dalam hati, dia menatap para pria berbadan kekar itu dengan tatapan menelisik.


“N-nona Lien, bagaimana ini?”


“Xia He, dengarkan ucapanku! Saat hitungan ketiga, kau balik badan dan lari secepat mungkin! Bawa Black, aku tidak ingin dia terluka juga,” gumam Lien Hua.


“Apa yang Anda katakan Nona? Tidak mungkin saya--”


“Xia He! Dengar perintahku!”


“Baik, Nona.” Xia He mengalah, dia menunduk dan membuat Lien Hua menghela napas pelan.


“Jangan khawatir, Xia He. Aku bisa menjaga diriku, aku juga akan menjaga kalian. Jadi ikuti instruksi ku, setelah menyelesaikan ini. Aku akan mencari kalian.”


“Sepertinya Nona itu cukup kaya, kita bisa mengambil uang dan juga wanitanya.”


Lien Hua berdecih sinis mendengar ucapan dari mereka. “Nona kaya? Heng, kau mungkin boleh mendapatkan apapun, tapi dia terkecuali.” Lien Hua melirik Xia He yang berdiri di belakangnya.


“Ada apa Nona? Apa kau mau menyerahkan dirimu sendiri, kenapa? Apa pelayan itu sangat penting?”


“Pelayan? Ya, dia sangat penting. Bahkan lebih penting daripada barang berharga di sini!” ucap Lien Hua tanpa beban, tatapan datarnya mengarah pada pria berjubah yang terlihat tua.


“Eh, apa sebegitu nya? Baiklah, bos kami memberikanmu dua pilihan. Satu, berikan semua harta berharga kalian dan juga pelayan itu. Dua, kau ikut dengan kami.”


“Aku akan ikut kalian,” ucap Lien Hua tanpa pikir panjang, pria itu tampak sedikit linglung. Dia melirik pria berjubah yang seolah tengah mengode pria itu.


“Baiklah, ikuti kami!” pria itu langsung berjalan pergi, beberapa pria lainnya membawa Lien Hua. Sementara Xia He yang tengah menggendong Black terus memanggil nama Lien Hua.


“Nona Lien, tolong jangan ikuti mereka! Biar saya saja yang pergi.” Xia He terisak sambil terus menahan salah satu tangan pria berbadan kekar tersebut, Lien Hua melirik Xia He.


“Jangan khawatir, aku akan kembali. Tunggu kepulangan ku, Xia He.” Lien Hua kembali berjalan dan dibelakangnya berdiri dua pria berbadan besar.


“Nona Lien Hua!!” Xia He terduduk di tanah sambil terisak.


Lien Hua terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, hingga dia cukup jauh dari Xia He. Barulah Lien Hua berhenti dan membuat mereka bingung.


“Ada apa? Terus jalan!”


“Sepertinya, aku hanya bisa sampai di sini.” Rambut Lien Hua menutupi sebelah matanya, tatapannya sangat tajam dan menusuk siapapun.


...----------------...