Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 6. Rekrut



“Sepertinya, aku hanya bisa sampai di sini.” Rambut Lien Hua menutupi sebelah matanya, tatapannya sangat tajam dan menusuk siapapun.


“Apa maksud--”


Belum selesai pria di belakang Lien Hua berbicara, dia sudah lebih dulu terjatuh dengan luka bakar parah di punggungnya. Bukan hanya dia, satu pria yang berdiri di sampingnya juga mengalami hal yang sama. Seolah baru saja diserang oleh api yang tidak terlihat.


“A-apa yang kau lakukan??”


“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Lien Hua dengan tatapan tajam.


“Ap--”


Belum selesai ucapan pria itu, sebuah pedang sudah lebih dulu menembus jantungnya.


Lien Hua dengan tak berperasaan menarik pedang yang entah sejak kapan ada di tangannya dan membuat pria itu langsung terkapar dengan berlumur darah.


Dengan langkah pelan, Lien Hua berjalan menuju pria berjubah tersebut. Namun beberapa pria menghalangi langkahnya dan membuat Lien Hua jengkel.


“Dua pilihan, hidup atau mati?”


“Gadis sialan!” seorang pria langsung berlari ke arahnya dengan pedang yang diangkat ke langit, namun belum mencapai Lien Hua. Dia langsung terjatuh.


“Cih, darahmu membuatku jijik!” ucap Lien Hua dengan nada kesal, dia mundur beberapa langkah hingga sepatu yang digunakannya keluar dari lumuran darah.


“G-gadis sialan! Serang dia!!” perintah salah satu dari mereka, semua pria berbadan kekar langsung berlari ke arah Lien Hua dengan pedang yang diangkat. Ada juga yang menggunakan tangan kosong karena bisa menggunakan sihir. Hanya pria berjubah yang masih diam dan mengamati dalam diam.


Lien Hua masih diam di tempat, hingga tinggal beberapa langkah mereka darinya. Lien Hua mengangkat tangannya ke arah langit.


“Fire ball.”


Sebuah bola api muncul di sekeliling Lien Hua, bola api itu kemudian terbang dan membakar semua orang yang mendekatinya.


Lien Hua memiringkan kepalanya ketika melihat pria berjubah yang baik-baik saja, bahkan tidak terluka sedikitpun meski terkena fire ball miliknya.


“Sepertinya kau memiliki sihir khusus, Tuan,” ucap Lien Hua dengan seringai tipis yang menghiasi wajahnya.


“Ya, sihirmu cukup mengesankan.” setelah sekian lama, akhirnya pria berjubah itu mengeluarkan suara. Dari suaranya, Lien Hua semakin yakin kalau pria berjubah itu adalah seorang kakek tua.


“Aku masih ingin bermain, tapi sepertinya sudah tidak cukup waktu.” Lien Hua memegang dadanya, tepat di arah jantungnya yang terasa sakit.


Dia berbalik dan melangkah pergi, namun baru saja selangkah. Lien Hua langsung berhenti ketika mendengar ucapan pria berjubah itu. “Kau sepertinya handal dalam hal membunuh, bagaimana jika bekerjasama denganku?”


“Maaf, Tuan. Tapi saya tidak tertarik dengan pekerjaan Anda,” ucap Lien Hua dengan nada Sopan.


“Kau akan mendapatkan 50 koin emas jika misimu berhasil!” ucapan dari pria berjubah itu membuat Lien Hua yang hendak melangkah kembali terhenti, senyum smirk terlihat jelas di wajahnya. Dia berbalik.


“Deal.”


...----------------...


“Nona Lien Hua, Anda kemana saja? Saya sangat takut di sini!”


Lien Hua menepuk punggung Xia He yang memeluknya. “Aku tidak kemana-mana, sekarang aku menepati janjiku kan. Aku telah kembali.”


Xia He melepas pelukannya dan menghapus air mata yang terus mengalir di wajahnya. “T-tapi, bagaimana Anda bisa kabur Nona? Mereka terlihat sangat kuat,” kata Xia He terisak.


'Kuat? Perasaan, hanya luka bakar kecil. Mereka langsung seperti kelinci panggang, tapi syukurlah mereka tidak mati. Hanya sedikit aneh, ternyata mereka semua itu organisasi pembunuh. Aku pikir mereka bandit yang ingin merampas barang berharga kami.' batin Lien Hua sambil mengetuk-ngetuk dagunya.


'Xixixi, padahal 100 koin emas ini. Adalah hadiah negosiasi agar aku bergabung, apa mereka sekaya itu sampai bisa memberiku 100 koin emas. Padahal mereka hanyalah pembunuh bayaran yang telah mengabdikan diri pada misi.'


“Wah, orang itu sangat baik. Semoga kita bisa bertemu lagi dan membalas kebaikannya, ya. Nona.” Xia He berujar dengan senang, Lien Hua geleng kepala melihat sikapnya.


“Eh, ngomong-ngomong. Di mana Black? Aku tidak melihatnya sedari tadi.” Lien Hua melihat ke sekeliling namun tak menemukan Black di manapun.


“Ah, Black? Dia ada di sini Nona. mungkin karena tadi ada suara ledakan, Black jadi takut dan terus bersembunyi di belakang saya,” ucap Xia He sambil menunduk dan melihat Black yang tengah berdiri di belakangnya dengan badan gemetar ketakutan.


“Ulululu, kasihan sekali.” Lien Hua mengangkat Black dan mengusapnya lembut. “Apa kau setakut itu pada suara ledakan? Black.”


Black mengeong dan membuat Lien Hua semakin gemas dengan kucing hitam gemuk di tangannya, dia langsung memalingkan wajahnya.


'Bodoh! Tahan dirimu, Apa kau ingin Black mati karena menarik pipinya!' Lien Hua menggeleng cepat, dia menghela napas dan menatap Xia He.


“Ayo kita berangkat, sudah hampir malam juga.”


“Baik, Nona!”


...----------------...


“Tuan, apa Anda yakin ingin merekrut gadis itu?” tanya seorang pria sambil menuangkan teh ke cangkir pria berjubah.


“Ada apa? Apa kau ragu dengan penilaian ku?” tanya pria berjubah ngegas, pria itu segera menggeleng.


“Bukan begitu, Tuan L. Hanya saja, tidak ada seorang gadis yang menjadi pembunuh bayaran lagi. Bukankah akan aneh jika merekrutnya.”


“Hem, soal itu. Biar aku yang mengurusnya, kau cukup beritahu yang lain. Jangan sampai menganggu, apalagi mengusiknya!”


...----------------...


“Silahkan tehnya, Nona.”


Xia He menuangkan teh ke cangkir milik Lien Hua, gadis itu mengangguk pelan dan memijat pelipisnya pusing.


“Ada apa, Nona? Apa Anda sedang sakit?”


“Aku tidak apa-apa, Xia He. Dimana Black?” tanya Lien Hua balik.


“Black sudah tidur dari tadi, Nona. Anda juga sebaiknya istirahat yang cukup. Sudah sangat malam.”


Lien Hua yang mengangguk kecil, dia mengibaskan tangannya dan membuat Xia He membungkuk dan berjalan pergi.


Lien Hua kembali menghela napas. 'Kehidupanku kembali, dimana aku bekerja sebagai pembunuh bayaran demi menghidupi diriku sendiri. Tinggal di rumah yang kuinginkan, tidak dikekang siapapun, tidak perlu mendengar ocehan siapapun. Tapi sepertinya kali ini berbeda, Xia He dan Black pasti akan merepotkan ku.' Lien Hua terkekeh kecil, dia meminum tehnya dengan anggun dan kembali meletakkan cangkir teh ke meja.


Bayangan hitam tiba-tiba melintas di jendela kediaman Lien Hua, gadis itu menghela napas. “Sudahlah Kakek tua, tidak perlu bermain letak umpet lagi.”


Pria berjubah langsung muncul di depan Lien Hua seperti kilat. “Dimana?” tanya Lien Hua sambil memainkan jemarinya.


Pria berjubah memberikan secarik kertas pada Lien Hua, gadis itu langsung mengambil kertas itu dan melihat gambar seorang pria.


“Detail misi ada di belakang gambar itu.”


...----------------...