Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
16. Kembali



Dengan langkah yang amat pelan dan waspada, seseorang dengan jubah menutupi wajah dan juga badannya. Dia menoleh ke sekitaran sambil melangkah sedikit demi sedikit.


'Aku harus bisa keluar dari Akademi! Lagipula, ini hanyalah penyamaran agar misiku bisa dilaksanakan dengan lebih lancar, dan ternyata. Hanya satu misi saja dan itu juga sangat mudah, meskipun pernah terkena kendala.' Lien Hua menghela napas, dia menatap tembok tinggi di depannya sambil menenteng buku suci yang akan dia buang di suatu tempat.


Dia menghela napas pelan dan menutup matanya. “Anti gravitasi” gumam Lien Hua, tanpa dia sadari. Buku suci di tangannya bercahaya dan membentuk kata Teleportasi.


Badan Lien Hua diselimuti cahaya keemasan, saat Lien Hua membuka matanya lagi. Dia telah ada di luar tembok, Lien Hua masih diam dan mencerna apa yang baru saja terjadi. Dia menunduk dan menatap buku suci di tangannya.


'Mustahil kan, jika memang ulah buku ini! Aku bukan pemiliknya, tidak mungkin dia akan membantuku.'


 


Lien Hua membuka pintu Kediamannya dengan hati-hati, dia memperhatikan sekitaran rumah yang sepi.


'Sepertinya semuanya sudah tidur.' Lien Hua melangkah masuk, namun. Hampir saja dia terkena pot bunga jika tidak cepat-cepat menghindar.


“Xia, kau ingin membunuhku??” tanya Lien Hua terkejut sekaligus kesal, Xiu segera menyalakan lilin dan menatap terkejut ke arah Lien Hua.


“Kak Lina? Kakak sudah pulang,” tanya Juan yang tengah memegang sapu, Lien Hua mengusap wajahnya kasar.


“Apa yang sebenarnya kalian lakukan di tengah malam seperti ini?”


“N-Nona Lina, maafkan saya. Saya berpikir jika ada pencuri yang masuk.” Xia He langsung meletakkan satu pot lagi yang masih dia pegang, Lien Hua menghela napas.


“Letakkan semuanya, kalian tunggu ei kamarku! Akan kubereskan kekacauan ini dulu,” ucap Lien Hua sambil berbalik.


“Baik, Nona Lina.”


“Iya, Kak Lina.”


Ketiganya berjalan menuju ke kamar Lien Hua dengan wajah lesu, sementara sang pemilik rumah tengah membersihkan serpihan pot yang berserakan di lantai.


Hampir sepuluh menit berlalu, Lien Hua akhirnya selesai membereskan semuanya. Dia menepuk-nepuk kedua tangannya seolah membersihkan debu, setelah itu. Lien Hua berjalan menuju kamarnya sambil melepaskan jubah yang menutupinya.


Lien Hua menggantung jubahnya dan membuka pintu kamarnya, dia menatap kesal ketiganya yang kini tengah tertidur.


Juan dan Xiu tidur di sofa panjang, sementara Xia He tidur di sofa tunggal. Lien Hua memijat pelipisnya pusing, niatan ingin memarahi ketiganya langsung sirna ketika melihat mereka tertidur dengan nyenyak meskipun cara tidur ketiganya sangat salah.


'Huh.. padahal ingin kuberitahu sekarang, jika besok. Aku tidak akan ada waktu karena harus kembali ke akademi lagi, dan--' Lien Hua menoleh ke arah kasurnya, dia tersenyum tipis melihat Black yang tidur nyenyak seperti biasa.


Dengan langkah tanpa suara, Lien Hua membuka pintu lemarinya. Dia mengeluarkan selimut dan kembali menutup pintu, Lien Hua menyelimuti Xia He, Juan dan juga Xiu.


'Tidur yang nyenyak ya, anak-anak.' Lien Hua mengambil selembar kertas dan juga pena, dia kemudian menulis sesuatu dan meletakkannya kembali di meja.


Setelahnya, Lien Hua berjalan keluar dan memakai jubahnya. Dia menunduk dan menatap tangannya yang terkepal, Lien Hua membuka kepalan tangannya dan terlihat sebuah bulatan kecil berwarna biru di tangannya. Dia menghancurkan bulatan itu dan tersenyum tipis.


'Selesai, dengan begini. Aku tidak perlu lagi bersusah payah untuk berjalan kaki dari akademi ke kediaman, sekarang. Setiap malam pun, aku bisa kembali dan menemui mereka.' Lien Hua menutup matanya dengan buku Suci di pelukannya.


 


Lien Hua menguap, dia bangun sambil mengucek matanya. Lien Hua menoleh ke balkon asramanya, senyum tipis muncul di wajahnya ketika melihat langit cerah.


Lien Hua bangun dan meregangkan badannya, dia kemudian berjalan ke kamar mandi sambil bersenandung kecil.


Setengah jam kemudian, dia keluar dari kamar mandi dengan seragam akademi yang menempel di badannya. Lien Hua menatap pantulan bayangannya di cermin, dia membiarkan rambutnya terurai dan memakai bando pita berwarna biru yang selaras dengan bola matanya yang berwarna merah.


“Li Lien Hua, kau itu memang selalu cantik dengan aksesoris atau gaun apapun!” monolognya, Lien Hua mengambil jepit rambut berbentuk bintang.


Dia memasukkan jepit rambut itu ke dalam saku seragamnya dan berjalan menuju ke kelasnya, sudah beberapa hari dia bolos. Dapat dipastikan dia akan memiliki tugas yang paling banyak hari ini.


Dan benar saja, mata pelajaran menumpuk di mejanya. Namun Lien Hua tidak mempermasalahkannya, dia mengambil satu buku dan mulai membacanya dalam diam hingga bel istirahat berbunyi.


Suara ketukan pintu membuat fokus Lien Hua teralihkan.


“Hua, apa kau tidak ingin ke kafetaria?” tanya Lian, Lien Hua menggeleng dan kembali membaca.


“Aku sedang sibuk, jadi tidak bisa ke sana sekarang. Kau duluan saja.”


“Baiklah, aku akan menunggumu di kafetaria.” Lien Hua hanya berdehem sebagai jawaban.


 


“Egh.. akhirnya semuanya selesai, sekarang aku bisa mengerjakan hal lain.” Lien Hua meregangkan tubuhnya, dia menoleh ke jendela.


'Astaga, ternyata sudah sore. Aku tidak sadar karena terlalu sibuk mengurus banyak materi, lebih baik aku kembali sekarang.' Lien Hua berdiri, dia kemudian merapikan buku-bukunya dan berjalan keluar kelas.


Lien Hua menoleh sambil berjalan menuju asramanya. 'Tumben sekali lorong sekolah sepi, biasanya sekarang siswa-siswi masih berkeliaran di sekitaran. Tapi sekarang benar-benar sepi tidak ada penghuni, benar-benar membuatku takut saja.' Lien Hua mempercepat langkahnya, dia membuka pintu asramannya dan masuk.


Lien Hua menghela napas lega dan duduk di sofa asramanya. Lien Hua menatap ke sekeliling asramanya yang sepi, dia kembali menghela napas.


'Hah, menyedihkan sekali orang sepertiku yang tidak memiliki teman kamar. Andaikan saja Lian-- eh??' Lien Hua seketika teringat akan sesuatu ketika menyebut nama Lian, dia membulatkan matanya ketika mengingat Lian yang mungkin masih menunggunya di kafetaria.


“Akh, sial sekali! Kenapa aku bisa lupa? Semoga saja Lian tidak menungguku di sana,” gumam Lien Hua sambil membuka pintu asramannya, dia berlari menuju kafetaria sambil terus mengucapkan hal yang sama seolah membaca mantra.


 


“Li--an.” Lien Hua diam di depan pintu kafetaria, dia bersembunyi ketika melihat Lian yang tengah duduk dan menunggunya sambil berbicara dengan seorang berjubah.


'Siapa itu? Dia bukan si kakek tua kan?  Ah tidak mungkin! Tingginya berbeda dari kakek tua sialan itu, jadi orang yang berbicara dengan Lian siapa?' Lien Hua melirik sekeliling dengan waspada, setelah merasa aman. Dia mendekat ke arah keduanya dengan diam-diam dan menguping.


“Yang Mulia, Yang Mulia permaisuri sangat murka ketika tau Anda kabur dari istana. Dan sekarang, Yang Mulia permaisuri memerintahkan sebagian prajurit untuk mencari Anda.”