Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 22. Buku suci(2)



“Kami juga tidak ingin berurusan denganmu, Lien Hua. Jadi anggap saja ini adalah pertemuan terakhir kita,” ucap Profesor Agra mengambil buku itu.


“Ah, kuharap begitu.” Lien Hua menutup pintu asramanya dengan sedikit kasar, Lien Hua menghela napas lega dan kembali ke tempatnya semula. Dia mengambil catatan kecil itu dan memasukkannya ke kotak kayu, di sana. Ada beberapa catatan kecil lainnya yang bertumpuk.


Setelah memasukkan catatan itu, Lien Hua menutup kotak kayu itu dan meletakkannya di atas lemari.


'Tempat yang terlihat sering kali menjadi tempat yang paling aman.' Lien Hua menepuk-nepuk kedua tangannya seolah membersihkan debu, dia kemudian duduk di tepi kasurnya dan membaringkan tubuhnya di kasur akademi.


'Aku benar-benar ingin pulang sekarang, misi membuatku jadi seperti seorang budak yang hanya bisa paruh pada orang yang membeliku. Benar-benar mengesalkan! Aku itu tipe gadis yang suka kebebasan tau!' Lien Hua memukul kasurnya sebagai pelampiasan, dia menghela napas dan menatap langit-langit asramanya dengan tatapan biasa.


'Aku, tiba-tiba ingin makan kue tar.' Lien Hua bangun, dia dengan tergesa-gesa berjalan ke arah dapur dan mengecek bahan-bahan yang diperlukan. Dia tersenyum tipis dan merenggangkan jari-jarinya.


“Semuanya ada, jadi aku bisa membuatnya sekarang.” Lien Hua mulai mencampur bahan dan menjadi adonan.


----------------


“Sudah kukatakan bukan? Buku suci ini berbeda dari yang pernah kita lihat!”


Profesor Alice memperhatikan buku suci di meja dengan tatapan teliti. “Memang benar, buku suci milik penyihir lain berwarna sesuai elemen mereka. Tapi yang ini justru berwarna hitam di pinggiran buku dan berwarna keunguan di tengah, yang paling aneh itu. Simbol ini.” Profesor Alice menunjuk simbol yang ada di buku suci.


“Ya, kau benar. Profesor, buku suci penyihir yang lainnya memiliki simbol yang sama dengan elemen mereka. Namun buku sihir penyihir ke sepuluh ini tampaknya cukup unik.”


“Lupakan soal itu! Ayo kita lakukan upacaranya sekarang!”


“Baik, Profesor,” jawab semua Profesor lain serempak. “Persiapkan semuanya sekarang!”


----------------


Lien Hua menguap pelan, dia dengan bosan melihat dokumen-dokumen di depannya sambil memakan kue tar yang baru saja dia buat.


“Kapan tekanan ini akan selesai?” gumam Lien Hua sambil membalik halaman dengan bosan, dia mengerutkan keningnya sambil menatap halaman dokumen dengan tatapan serius.


'Apa-apaan ini? Bukankah--' Lien Hua mengetuk-ngetuk dagunya berpikir. 'Aku memang curiga padanya, tapi aku tidak menyangka kalau dia benar-benar seorang pangeran dari kekaisaran dan saudara Zhang Lian. Sangat tidak diduga, tapi yang aneh. Kenapa dia mau dijodohkan denganku? Apa dia memiliki rencana jahat seperti saudaranya itu?' Lien Hua menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia berdiri dan berlari ke arah kamar mandi.


'Sial, racunnya kembali bekerja!' Lien Hua mengusap ujung bibirnya, dia berdecih dan menatap datar pantulannya di cermin.


Lien Hua mengepalkan tangannya, dia langsung memukul cermin di depannya dengan sekuat tenaga hingga cermin itu retak. Meskipun begitu, tangannya juga terluka karena retakan dari cermin.


Lien Hua mengibaskan tangannya yang terasa perih, dia menatap pantulan bayangannya dari cermin yang telah pecah.


'Zhang Lian! Kau akan menerima ganjaran yang setimpal!' batin Lien Hua dan kembali memukul kaca hingga tak berbentuk.


----------------


'Untuk apa berpura-pura baik jika pada akhirnya akan menjatuhkanku lagi?' Lien Hua kembali teringat ketika Zhang Xue melihat tangannya yang terluka dan mengobatinya secata paksa.


Dia menghela napas pelan, Lien Hua berjalan keluar dari kamar mandi dan menuju ke balkon kamarnya.


Dia menghirup udara segar dan tersenyum tipis. “Andaikan aku hanya seorang gadis biasa, mungkin aku akan menjalani hidup yang berat. Namun damai dan tenang, tapi. Mungkin juga aku tidak akan bertemu dengan kalian jika itu memang terjadi.”


“Xiu dengan kekuatan langkanya, Juan yang mendapatkan penglihatan roh. Balck si kucing hitam yang manis, dan Xia. Meskipun banyak hal yang telah terjadi, namun aku bahagia bisa hidup di antara kalian. Meskipun mungkin aku tidak akan tau apa-apa jika aku tidak mencari tau identitas asli kedua kakak beradik itu,” gumam Lien Hua, dia duduk di pembatas balkon dan bersenandung kecil.


----------------


Sebuah ruangan terlihat sangat berantakan. pot bunga pecah, gorden robek, meja rusak, sofa hancur, dan para Profesor yang tak sadarkan diri.


Sebuah lingkaran sihir dengan buku suci yang terbang di tengahnya masih terus mengeluarkan cahaya terang yang menyilaukan mata.


Seorang Profesor terbangun, dia menatap sekelilingnya yang tampak sangat berantakan. Tatapannya terlihat ketakutan dan khawatir yang bercampur, dia menoleh ke arah buku suci yang menutup dengan sendirinya dan membuat cahaya yang terus keluar langsung menghilang.


Profesor itu dengan sekuat tenaga bangun, dia memegangi bahunya dan berjalan sempoyongan menuju ke buku suci itu. Namun baru saja hendak melangkah masuk melewati lingkaran, dia sudah lebih dulu terpental dan menabrak dinding ruangan.


Pintu tiba-tiba terbuka dan membuat profesor itu menoleh, seorang Profesor wanita dengan papan nama bernama Hanna itu tampak terkejut melihat keadaan di depannya.


Dia dengan segera menghampiri profesor tadi dan menggunakan heal untuk menyembuhkannya. “Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kalian sedang mencari tau pemilik buku sihir kesepuluh, dan kenapa ruangan ini sangat berantakan?”


“Profesor, semuanya.. ulah buku itu.” Profesor itu menunjuk buku sihir yang masih terbang di udara, Profesor Hanna menoleh ke arah buku suci itu. Rasa penasarannya seketika bangkit saat melihat buku suci yang berbeda dari milik penyihir lainnya.


Namun, dia menggeleng cepat dan kembali fokus mengobati Profesor itu meski sesekali melirik buku suci yang masih dalam keadaan sama.


“Bantu aku membangun profesor lainnya! Aku akan memerintahkan beberapa ahli medis untuk kemari, sebelum itu. Sembunyikan buku suci itu di tempat yang aman.”


“Saya memang hendak melakukannya, Profesor. Tapi kami bahkan tidak bisa melewati lingkaran sihir yang kami buat, mungkin buku itu secara otomatis membuat perisai dan membatasi gerakan kami.”


Profesor Hanna terdiam, dia tampak berpikir dengan keras. Senyum manis muncul di wajahnya ketika mendapatkan ide cemerlang, dia kembali menatap profesor tadi.


“Panggil Ahli medis lainnya! Biar aku yang mengurus buku sihir itu!” ucap Profesor Hanna dan berdiri, Profesor tadi mematuhinya dalam diam. Dia berdiri dan berjalan keluar untuk memanggil tim medis.


Profesor Hanna menatap buku suci itu dengan senyum manis. Seorang siswa masuk ke ruangan itu dan menunduk sopan di depan profesor Hanna.


“Panggilkan Nona Li Lien Hua kemari.”


----------------