
Pagi-pagi hari, Lien Hua telah siap dengan semua barang-barang yang akan dibawa pergi.
Lien Hua menepuk kedua tangannya seolah membersihkan debu. 'Sempurna, aku tidak memanggil Xia He dan acara kabur nanti malam bisa dilaksanakan!'
Suara ketukan pintu membuat Lien Hua menoleh. “Siapa?”
“N-nona Lien.. Nona Li Mei dan Nona Li Yao mencari Anda,” ucap Xia He dari balik pintu dengan suara bergetar, pintu dibuka.
“Xia He! ada apa dengan pipimu??”
Xia He menyentuh pipinya yang meninggalkan bekas merah. “S-saya baik-baik saja Nona, tadi tidak sengaja menabrak dinding.”
Lien Hua mengetuk dagunya berpikir, dia menatap curiga bekas merah di wajah Xia He. “Xia He, siapa yang berani menamparmu?” tanya Lien Hua dengan nada dingin dan ekspresi yang sama.
“S-saya..”
“Jawab!!” Lien Hua menggenggam kedua pundak Xia He dengan erat dan membuatnya meringis.
“N-Nona Li Mei dan juga, Nona Li Yao.”
Lien Hua mengepalkan tangannya, dia berjalan cepat menuju ke ruang tamu. tempat kedua adiknya menunggu. 'Orangku, tidak seharusnya kau ganggu!'
Lien Hua berjalan ke arah Li Mei dan juga Li Yao yang tengah menunggunya dengan wajah kesal. “Kenapa kau--”
ucapan Li Mei terhenti ketika Lien Hua langsung saja menampar wajahnya hingga menoleh ke samping dan meninggalkan bekas luka, tidak sampai di situ. Li Yao juga terkena hal yang sama.
“Kau! beraninya kau menamparku!” Li Mei menunjuk Lien Hua sambil memegangi pipinya, Lien Hua langsung menepis tangan Li Mei dengan kasar.
“Kau apa?? Kau seharusnya tidak menganggu kehidupanku dan orang-orangku! Li Mei, jika kau masih menganggu orangku--” Lien Hua berjalan sedikit mendekat ke arah Li Mei dan berbisik. “Maka kau akan menerima imbasnya, jangan anggap peringatanku sebagai angin lalu atau kau akan menyesal nantinya!”
Li Mei seketika ketakutan mendengar suara dingin dan agak serak kakaknya itu, Lien Hua mundur beberapa langkah dan menatap tajam keduanya.
“Kau! Akan kulaporkan pada Ayahanda!”
“Silahkan saja, Jika aku diusir--” Lien Hua tersenyum smirk dan membuat Li Yao dan Li Mei merinding. “Jika aku diusir, maka aku akan menghabisi kalian! bukan, tapi akan kuhancurkan kalian!”
Lien Hua lantas berbalik dan berjalan naik menuju kamarnya, Li Yao mengepalkan tangannya. Dia menatap Li Mei yang masih diam.
“Ayo, Kak! aku tidak percaya dia berani melawan Ayahanda! kita akan buat dia diusir dan menjadi gelandangan di jalanan!” Li Yao berjalan pergi sementara Li Mei masih diam dengan tangan terkepal erat.
'Lien Hua sialan!'
...----------------...
Setelah kepergian kedua adik tirinya, Lien Hua yang sudah kembali ke kamar tiba-tiba melihat siluet kucing yang amat dia kenali.
'Black?' Dengan cepat, Lien Hua berlari ke arah jendela dan melihat sekitaran. Dia akhirnya menemukan seseorang yang sedang berusaha menangkap Black, karena refleks.
Lien Hua langsung melompat dari jendela dan mendarat sempurna di gundukan tanah, dia kemudian berdiri dan langsung berlari ke arah Black.
“Apa yang ingin kau lakukan??” tanya Lien Hua sambil memeluk Black yang melompat ke arahnya.
“Eh, kenapa kucingku malah lebih dekat dengan orang lain?” gumam orang itu.
“Jawab!”
“Dia adalah kucingku, memang sering terjadi kesalahpahaman. Le Naem memang sering kabur jika sedang marah.”
'Le Naem? Apa dia pemilik kucing ini, tapi aku tidak boleh percaya begitu saja! Bisa bisa dia orang jahat yang mau menculik dan menjual Black!'
“Bagaimana caranya?”
“Emm.. Makanan apa yang paling disukai Black?”
“Tentu saja ikan.” Orang di depannya menatap dengan penuh percaya diri.
“Tenang, itu baru pertanyaan pertama. Pertanyaannya kedua, apa Black.. memiliki saudara?”
“Tidak, Le Naem tidak memiliki saudara sama sekali! Dia seharian hanya berada di kediaman terus!” Orang itu berkacang pinggang, Lien Hua mengelus bulu Black lembut.
Lien Hua meletakkan Black di tanah dan berjongkok. “Pertanyaan ketiga, Siapa sahabat terdekat Black?” tanya Lien Hua dengan tatapan yang terus mengarah ke Black.
“Pertanyaan bodoh, tentu saja aku.” Orang itu tersenyum bangga ketika melihat keterdiaman Lien Hua, hanya beberapa detik sebelum seringai menggantikan wajah tenang gadis itu.
“Satu--” Lien Hua yang tadi mengepalkan tangannya dan diangkat keatas, lalu mengangkat jari telunjuknya ketika berucap.
“Makanan yang disukai Black, benar. Ikan, kedua. Black memiliki saudara dengan bulu yang berwarna kecoklatan, kau berbohong karena Black sebenarnya dipungut di jalan. Dan terakhir, Black yang menentukannya.” Lien Hua berdiri dan berjalan mundur beberapa langkah dari black.
Dia kembali berjongkok. “Black, tentukan siapa sahabatmu sebenarnya.” Lien Hua berdiri diam dan mengawasi Black yang menoleh ke mereka bergantian.
“Ayo Le, kemari. Aku memiliki mainan untukmu.”
Black mengeong dan memperhatikan keduanya, orang itu berusaha membujuk Black dengan segala cara. Sementara Lien Hua, dia hanya diam berdiri tanpa melakukan apapun.
Dengan segala ajakan dan juga tipu daya dari orang itu, Black berjalan selangkah ke arah orang itu. Lien Hua melipat tangannya dan memperhatikan Black.
Black terus berjalan ke arah orang itu dengan mata berbinar, namun Lien Hua berdehem dan membuat Black langsung berlari ke arah Lien Hua dan bersembunyi di belakangnya.
Dengan senyum remeh, Lien Hua menatap orang di depannya. 'Ingin melawanku? Kau tidak bisa boy.'
Lien Hua mengangkat Black. “Sudah dibuktikan, bukan? Black bukan kucingmu, jadi pergi dari kediamanku. Sekarang!”
“Nona, bagaimana Anda bisa tau Black memiliki saudara?” tanya Xia He yang tidak sengaja mendengar percakapan keduanya tadi.
“Bagaimana? Tentu saja.. rahasia.” Lien Hua terkekeh kecil sambil mengelus bulu Black.
“Oh iya, apa kau sudah selesai bersiap-siap?” Lien Hua menatap Xia He dengan wajah datar.
“Iya Nona, saya sudah siapkan semuanya.”
“Bagus, pastikan tidak ada yang tau kemana kita pergi!” tekan Lien Hua di setiap katanya, Xia He mengangguk dan izin pergi.
Lien Hua kembali mengelus bulu Black sambil memikirkan kelangsungan hidupnya selanjutnya.
'Koin yang disimpan Lien Hua itu seharusnya cukup untuk digunakan sampai aku menemukan pekerjaan yang cocok.'
“Black, kita akan pergi dari kediaman ini. Sungguh membuatku muak mengingat mereka!” Lien Hua mengepalkan tangannya, dia menghela napas pelan.
Dia menunduk dan menatap Black yang ada di pangkuannya. 'Black, kuharap kau tidak meninggalkanku lagi.' Lien Hua tersenyum masam.
'Sial sekali! Pantas saja organisasi selalu melarang ku melibatkan perasaan ketika melakukan apapun, kau benar-benar bodoh! Lilia, kau sangat bodoh. Kenapa kau baru menyadarinya hari ini?'
“Kau sungguh munafik ya, Lilia”
...----------------...