Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 25. Kemarahan



Lien Hua menatap sekeliling dengan wajah linglung, dia tidak tau di mana kakak beradik itu berada.


Namun, dengan nalurinya yang tajam. Lien Hua berjalan menuju ke bawah lemari lain yang telah hancur, dia membuka pintu lemari dan melihat Xiu yang tengah meringkuk ketakutan di dalam pelukan sang Kakak.


Lien Hua menutup mulutnya, dia segera mengeluarkan Xiu dan menggendongnya. Tatapannya terus mengarah ke Juan yang sedari tadi hanya menutup matanya, darah segar masih terus mengalir di pelipis anak laki-laki itu. Wajahnya sangat pucat dan ada bekas merah di kaki dan pergelangan tangannya.


“Kak Lina, Kak Juan--”


“Sstt, mereka akan baik-baik saja,” gumam Lien Hua dengan nada lembut, dia tau kalau Juan telah mati karena kekurangan darah atau mungkin karena nadinya yang hancur.


Lien Hua menutup mata Xiu yang terisak, dia kemudian membawa Xiu ke arah Xia He yang mungkin telah menyusul Juan. Rasa sakit di hatinya seolah mengiris hatinya, dia berusaha untuk membendung air matanya agar tidak terlihat lemah di depan Xiu.


“Xiu sayang, tidurlah. Kakak akan mempertemukan Xiu dengan Xia dan Juan, Kakak berjanji!” bisik Lien Hua pada Xiu yang telah terlelap dengan air mata yang masih mengalir.


Napasnya seolah sesak, Lien Hua menurunkan Xiu dan menidurkannya di samping Xia He. Dia menatap sayu keduanya.


'Maaf, ini semua salahku. Salahku yang tidak bisa menjaga kalian dengan baik, Xiu. Kakak berjanji, kau akan bisa melihat mereka lagi.' Lien Hua mengusap pipinya yang dialiri air mata, kakinya terasa sangat lemas sehingga dia tidak bisa berdiri atau bergerak sedikitpun.


Seseorang tiba-tiba muncul di belakangnya. “Nona Lily.”


“Kak Rio, cari tau penyebab dari semua ini.”


“Tapi, Nona Li--”


“Apa kau ingin mati?” Lien Hua melirik tajam pria di belakangnya, pria yang dipanggil Rio itu menghela napas dan menghilang.


Lien Hua memegangi dadanya, hatinya terasa sangat sakit. Dia seolah tidak ingin hidup lagi, namun mengingat dia untuk membalas dendam membuat amarah Lien Hua memuncak, dia mengepalkan tangannya erat hingga kuku-kukunya menancap.


----------------


“Profesor! Buku suci di ruangan Anda bercahaya aneh!” lapor salah satu penjaga, Profesor Agra yang tengah mengajar langsung saja keruangan para Profesor.


Dia membuka pintu dan melihat para Profesor lain sudah berdiri di satu tempat sambil menatap ke arah buku suci yang mengeluarkan cahaya aneh.


“Ada apa ini?” Profesor Anie menoleh ke arahnya dan menggeleng tidak tau. “Saya kurang tau, Profesor. Saat saya sampai, buku itu tidak henti-hentinya mengeluarkan cahaya. Cahaya pertama berwarna putih, dan tiba-tiba berubah merah seperti sekarang.”


“Apa--” Belum selesai ucapan Profesor Agra, dia sudah lebih dulu menghindar ketika banyak pisau keluar dari cahaya buku itu dan menyerang para profesor. Hanya lima detik sebelum semuanya kembali seperti semula, Profesor Anie dan Profesor Alice yang tidak waspada terkena goresan kecil di lengan dan tangan mereka.


Tiba-tiba, Buku suci itu mengeluarkan suara aneh. Profesor Agra yang mengenal suara itu langsung menoleh ke arah profesor lain dengan wajah panik. “Berlindung!!”


Sebuah ledakan kuat muncul dari buku itu dan meluluhlantakkan ruangan itu, bahkan beberapa Profesor cedera berat akibat dari ledakan. Profesor Anie yang terkena sedikit ledakan melihat ke arah buku, namun buku suci itu telah menghilang dari lingkaran sihir. Tanpa meninggalkan sedikitpun jejak.


----------------


Lien Hua menangis tanpa bisa dihentikan, dadanya terasa sangat sesak. Dia menatap sedih dua mayat beda gender yang terbujur kaku di depannya.


“Xia, Juan. Aku pasti akan menghidupkan kalian, aku.. aku berjanji!”


Rio yang berdiri di belakangnya dengan berkas di tangannya sampai tidak yakin untuk menganggu waktu berduka gadis di depannya, dia menghela napas dan menunggu Lien Hua sejak sepuluh menit yang lalu.


“Rio!”


Dia menutup berkas itu kembali, Lien Hua menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam. Dia kembali membuka matanya dan menatap datar berkas di tangannya.


“Rio, habisi keluarganya dengan sadis. Tapi biarkan adiknya hidup, buat dia kehilangan pekerjaannya dan terakhir--” Lien Hua melirik ke arah Rio. “Jangan biarkan dia hidup tenang!”


“Baik, Nona Lily. Tapi bagaimana saya harus menghabisi keluarga mereka?” tanya Rio, Lien Hua menyinggung senyum misterius.


“pertama, habisi ayahnya. Dengan cara.. penggal kepalanya.” Rio seketika menganga mendengarnya, dia tidak menduga betapa sadis gadis cantik yang terlihat polos itu.


“Semuanya?”


“Ya, untuk ibunya.. robek perutnya, biarkan dia mati kehabisan darah.” Rio sampai kesusahan meneguk salivanya sendiri, dia merasa ngeri dan takut di saat yang bersamaan.


“Ketiga, jika mereka memiliki kakak. Habisi kakaknya--”


“Baik.” Rio hendak pergi, namun Lien Hua mengangkat sebelah tangannya dan membuatnya berhenti.


“Aku belum selesai, Rio. Habisi Kakaknya dengan cara.. menusuk jantungnya berkali-kali! Dan untuk adiknya. Culik dia dan tetap biarkan hidup, begitu pula dengan target. Jangan biarkan dia mati atau kau akan menyusulnya!”


“B-baik, tapi apa yang akan kau lakukan pada orang itu dan adiknya?” Lien Hua menatap kedua mayat di depannya.


“Aku akan mengurusnya, laksanakan sekarang. Ingat, habisi ayahnya terlebih dahulu, dan hari berikutnya ibunya. Dan hari berikutnya lagi, kakaknya.”


“S-sesuai perintah Anda, Nona Lily.” Rio segera pergi dari sana, dia semakin merasa ngeri mengingat ucapan Lien Hua yang tidak pernah dia bayangannya.


“Nyawa dibayar nyawa, tak akan kubiarkan satu pun dari kalian yang lolos,” desis Lien Hua.


Lien Hua menutup matanya untuk menetralkan emosi yang tiba-tiba memenuhi lubuk hatinya, dia berkali-kali menghela napas dan kembali membuka matanya.


“Xiu, aku pastikan kau akan melihat mereka berdua lagi. Tidak akan kubiarkan kalian mati untuk kedua kalinya, satu nyawa berharga bagiku. Sama dengan satu nyawa keluarga untuk mereka.” Lien Hua menutup sebelah matanya dengan tangan, dia terkekeh geli mengingat ucapannya sendiri.


“Sepertinya hukuman yang kuberikan tidak terlalu berat untuk kriminal seperti mereka,” gumam Lien Hua, dia mendongak ke langit-langit yang mulai berwarna orange.


“Nikmatilah hadiah yang kuberikan, semuanya tidak akan berakhir bahagia jika kau menganggu ketenanganku. Ketenangan seorang.. Lina.”


----------------


“Terima kasih, Profesor Hanna.” Profesor Anie melihat luka gores dan luka ledakan. “Tidak masalah, Profesor.”


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa buku suci itu tiba-tiba menyerang?”


“Buku suci itu bereaksi sesuai suasana hati pemiliknya,” gumam Profesor Agra yang ikut membantu profesor Hanna.


“Jadi maksudnya, pemilik buku suci itu sedang marah?” tanya Profesor Alice, Profesor Agra mengangguk.


“Ini akan sangat berbahaya, jika buku suci itu bergabung dengan buku suci penyihir lain dalam keadaan dikuasai amarah atau emosi. Maka naga legendaris yang terpanggil akan diluar kendali dan menghancurkan semua yang dia lihat, kecuali satu. Pemilik buku suci kesepuluh, yang memiliki kekuatan penghancur yang sangat hebat dan kuat.”


----------------