
Lien Hua memeluk dirinya ketika merasa cuaca sangat dingin, dia mendongak dan melihat salju yang turun.
“Zhang--” Lien Hua menoleh ke arah Zhang Xue yang masuk ke dalam sebuah goa.
Lien Hua berhenti melangkah, dia menatap takut goa gelap di depannya. 'Apa aku juga harus ikut masuk? Sangat menakutkan, bahkan lebih menakutkan daripada melihat orang disiksa dengan racun.'
Zhang Xue yang tidak mendengar suara langkah Lien Hua menoleh ke belakang dan melihat gadis itu yang masih berdiri. “Ayo, Nona Li. Dia menunggumu di dalam.”
Lien Hua menelan salivanya, dia melangkah masuk sambil memainkan jemarinya dan berusaha menghilangkan ketakutan yang memenuhi hati dan pikirannya.
Dia terus melangkah hingga secercah cahaya dari obor membuat mata Lien Hua berbinar. Dia berlari menuju ke arah obor, namun baru beberapa langkah. Lien Hua langsung berhenti dengan mata membulat sempurna.
“Z-zhang, kenapa kita kemari?” tanya Lien Hua dengan mata gemetar, Zhang Xue berbalik ke arahnya dengan senyum manis.
“Bukankah kau merindukannya, Nona Li?”
“Ap--” Lien Hua langsung membekap mulutnya ketika melihat hewan besar di depannya membuka matanya, mata merah menyala dari hewan itu menatap tajam Lien Hua yang langsung mundur beberapa langkah.
“Aku yakin kau sangat mengenalinya kan, Nona Li. Dia, bukan. Maksudku Juan pernah menceritakannya padamu.”
'Cerita apa? Juan, apa Zhang Xue benar-benar kenal dengan Juan? Tapi. Cerita apa yang dimaksud? Kalau Xiu, aku tau cerita yang dimaksud. Tapi Juan?' Lien Hua meneguk salivanya, dia mundur beberapa langkah saat hewan itu mendekatinya.
'Astaga, kenapa aku malah terjerat hal-hal seperti ini sih?? Aku ingin hidup normal tau! Aku ingin-- ah lupakan saja, hidupku sudah hancur sejak aku kembali menjadi pembunuh.' Lien Hua menghela napas, dia berhenti berjalan mundur dan berdiri diam meski pikirannya sudah muncul adegan yang semakin membuatnya takut.
'Hah, jika takdirku memang mati di tangan naga ini. Ya sudah, aku juga sudah pasrah dengan keadaan. Hidup di dunia kuno, fantasi, dan diluar nalar ini sudah membuatku frustasi dan hampir gila. Belum lagi selalu diganggu manusia setengah setan itu!' Lien Hua melirik Zhang Xue yang hanya diam di samping sarang naga.
Naga itu mengarah ke Lien Hua, dapat gadis itu rasakan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Dia menutup mata dan berharap tidak akan merasa sakit apapun.
Namun, lima menit berlalu. Tapi Lien Hua tidak merasakan apapun, Lien Hua membuka matanya. Dia menatap linglung naga di depannya, dia merasa Dejavu dengan keadaannya sekarang.
Lien Hua menoleh ke arah Zhang Xue yang tersenyum. 'Sial, kenapa dia memang senyum seperti itu sih?? Dia terlihat sangat-- Akh bodoh!!'
“Bentuknya seperti naga kristal, apa. Kakak tidak bisa melihatnya?”
“Sebenarnya, Kak Juan bisa melihat hal seperti itu sejak kecil. Kata Kak Juan, hewan-hewan seperti itu adalah pelindung manusia, tapi bisa juga menjadi musuh. Semuanya tergantung dari pembuatan dan juga sikap manusia itu kepada sang pelindungnya, dan dari buku yang Xiu baca. Sepertinya naga yang melindungi Kak Lina itu sangat langkah, bahkan di buku-buku yang Xiu baca. Xiu tidak pernah menemukan catatan tentang naga kristal yang disebutkan kak Juan.”
'Sial, racunnya berulah lagi. Aku harus--' Lien Hua langsung terjatuh dan tak sadarkan diri, Zhang Xue yang tersadar langsung menghampiri Lien Hua dan terus memanggil namanya.
“Nona Li!!”
----------------
Lien Hua membuka matanya, dia menatap nanar langit-langit asramanya. Dia bangun sambil memegangi kepalanya yang sakit.
'Aku, di asrama? Bukannya tadi aku berada di goa ya, kenapa tiba-tiba bisa disini?' Lien Hua menutup matanya sejenak, dia kemudian melihat sekeliling asramannya dan tersenyum tipis.
'Aku jadi merindukan sekolah dan Kakak, dia benar-benar baik padaku dan mengajarku dengan penuh sabar.' Lien Hua terkekeh kecil ketika mengingat betapa payahnya dia ketika pertama kali menembak saat masih menjadi Lilia.
'Aku merindukanmu, Kak. Bagiku, tidak ada hal yang lebih berharga darimu.' Lien Hua menutup matanya. 'Semoga kau bisa selamat dari kecelakaan itu, aku tidak ingin kau juga mati sepertiku dan mengalami reinkarnasi.' Lien Hua membuka matanya sambil tersenyum.
Dia menunduk dan menatap kedua tangannya yang dibaluti perban entah karena apa. “Aku tidak menyangka, kalau hal yang tidak pernah aku percaya malah terjadi padaku. Sungguh sesuatu yang konyol dan aneh, semuanya seolah seperti mimpi panjang yang akan berakhir sesuai dialognya. Entah aku akan berakhir tangis, atau justru bahagia,” gumam Lien Hua, dia terkekeh geli.
“Kau seharusnya tidak berharap, setelah semua yang kau lakukan. Kau pasti akan mendapatkan takdir tragis, entah itu dibunuh atau mati karena ketakutan, bunuh diri, dan yang lainnya.”
Lien Hua mendongak ke arah jendela, sinar matahari telah masuk dan menyilaukan matanya. Lien Hua menghalangi cahaya matahari dengan sebelah tangan, dia menghela napas pelan.
'Apa kuakhiri saja semuanya? Aku sudah muak menjadi pembunuh, kalau aku mendapatkan peran. Mungkin saja aku akan menjadi seorang antagonis yang pastinya selalu mati dalam keadaan tragis, tidak perduli meskipun sang protagonis wanita yang salah. Tapi itu hanyalah di film, aku tidak akan membiarkan siapapun menghinaku, termasuk Li Yao dan Li Mei. Ah iya, mengingat keduanya. Aku jadi ikut teringat untuk membalas dendam keduanya, tapi karena sangat sibuk. Aku malah lupa, huh.. pembalasan dendamku akan semakin susah karena aku masuk ke akademi.'
Lien Hua bersandar, dia menatap ke arah buku suci yang diletakkannya di atas lemari untuk keamanan.
'Dunia ini benar-benar merepotkan, jika disuruh memilih. Mungkin aku akan lebih baik kembali ke duniaku dulu, menjadi diriku yang sebenarnya. Tidak perlu membalas dendam, tidak perlu kasihan pada orang lain, dan tidak perlu menyukai siapapun. hahaha, aneh sekali. Hatiku terasa sangat lelah hingga ingin hancur dan meledak saja.' Lien Hua menyentuh dadanya, tepatnya di tempat jantungnya berada.
...Apa kau memilih untuk tinggal atau pergi?...
Lien Hua menutup kedua telinganya dengan tangan sambil menutup matanya, setelah beberapa saat. Lien Hua kembali membuka matanya yang terasa berat. 'Sial, kenapa suara itu kembali muncul setelah empat bulan?' Suara dan dialog yang sama seolah bergumam di dekat telinga Lien Hua, meskipun dia menutup telinganya dengan tangan ataupun bantal.
Suara itu masih terdengar dengan sangat jelas.
----------------