
“Kau sedang apa?”
Lien Hua menoleh ke asal suara. “Berjemur,” jawabnya ketus, Jian duduk di sampingnya tanpa permisi. Lien Hua meliriknya sinis.
“Pria bodoh, kenapa kau duduk di situ? Sana pergi!”
“Kau berani mengusirku?” Jian menatapnya tajam, namun gadis di sampingnya itu hanya mengangkat bahu acuh.
“Kenapa tidak, kau juga bukan pemilik istana ini.”
“Kenapa kau tau?” Jian memicing curiga. “Karena aku.. kenal dengan pemilik aslinya.”
“Eh, benarkah? Setahuku, anak pemilik istana ini tidak memiliki teman. Keluar dari istana saja sangat jarang kecuali dengan dua pengawalnya.”
'Pengawal? Apa maksudnya dia dan Kak Xue?'
“Ah benarkah? Padahal Carmelia memeritahuku. Kalau sejak kecil, ada seorang anak pria yang selalu mengatakan kalau ingin menikahi dia. Tapi sampai sekarang bahkan dia tidak menemukannya,” cibir Lien Hua terang-terangan.
'Heh, dia masih ingat janji itu ya?' batin Jian, dia rasanya ingin tertawa melihat wajah gadis di sampingnya.
“Benarkah? Aku lupa tentang janji itu, dan lagi. Siapa yang tau apa Meliaku masih hidup atau sudah mati, dan juga. Mungkin dia sudah menyukai seseorang.”
“Ya, kau benar,” gumam Lien Hua tanpa sadar. “Benar apa?”
“Eh, t-tidak ada!”
Jian berdehem, keduanya kembali dalam kesunyian. Hanya suara hewan-hewan malam yang saling bersahutan.
Lien Hua berdiri. “Kau ingin kemana?” gadis itu mengerutkan keningnya sambil menatap bingung Jian.
“Tentu saja kembali, aku tidak ingin sakit karena terlalu lama berada dengan kutub es,” ejek Lien Hua dan berjalan pergi, Jian menatapnya sekilas sebelum kembali pada bunga-bunga di depannya.
“Kenapa kau memanggilku kemari?”
Jian melirik ke belakang, dia menyeringai pelan. “Zhang Xue, ada yang ingin kukatakan padamu.”
----------------
Helaan napas kembali terdengar, sudah beberapa kali Lien Hua menghela napas. Namun hal itu tak membuat hatinya tenang.
“Pergilah, aku ingin sendiri,” kata Lien Hua sambil melirik pelayan di belakangnya, pelayan itu menunduk hormat dan berjalan keluar.
Lien Hua kembali menghela napas, dia berjalan ke arah jendela dan melihat ke bawah.
'Sangat tinggi, kalau aku menderita fobia ketinggian. Aku bisa-bisa pingsan melihatnya.' Lien Hua melirik sekitaran yang sepi, dia berjalan ke arah balkon dan naik ke atas pembatas.
'Hari debutante Lien Hua besok malam, jadi aku harus menemui mereka sebelum besok malam!' Lien Hua menghela napas dan menutup matanya, dia langsung melompat turun.
Dua menit berlalu namun Lien Hua tak merasakan apapun, dia membuka matanya dan menatap terkejut.
“Kau! Turunkan aku!!”
Jian menatapnya datar, dia langsung melepaskan Lien Hua dan membuat gadis itu langsung terjatuh ke tanah.
“Apa kau benar-benar bodoh? Bagaimana kalau kau patah tulang?” Lien Hua berdiri dan membersihkan gaunnya, dia kemudian menatap kesal Jian.
“Kenapa kau ada di sini?? Dan juga, terserah aku. Mau aku patah tulang atau mat--”
“Jika kau melanjutkan ucapannya, maka akan kupastikan kau dirantai di kamarku. Selamanya!” bisik Jian, Lien Hua meneguk salivanya susah.
Dia menatap wajah dingin yang sangat dekat dengannya, Lien Hua mengangguk pelan.
Jian tersenyum tipis, dia kemudian melangkah mundur dua langkah. “Bagus, kembali ke kamarmu. Aku masih ada urusan lain.”
Jian berjalan pergi, Lien Hua menghela napas dan berjongkok.
'Astaga, sangat menakutkan. Aku tadi rasanya seperti hampir dijemput maut.' Lien Hua mengusap dadanya, dia berdiri dan berjalan pergi dengan wajah masam. 'Pelarian Pertamanya gagal, namun pelarian selanjutnya pasti akan berhasil!' batin Lien Hua.
----------------
“Ada apa lagi ini?” tanya Adrey, sedari tadi. Zhang Xue selalu memasang wajah tertekan entah karena apa.
“Masih belum paham yang kukatakan kemarin?” Adrey memijat pelipisnya pusing, berjam-jam dia menjelaskan pada Zhang Xue kemarin. Namun tampaknya pria itu masih belum mengerti sama sekali.
“Bukan soal itu! Tadi aku ke istana tempatnya di tahan, tapi aku melihat dia-- ah sudahlah, kenapa aku malah membahas dia?” Zhang Xue berdiri dan berjalan pergi, Adrey menatap punggung Zhang Xue yang semakin menjauh.
“Ada apa lagi sebenarnya?” gumam Adrey pusing, Audrey duduk di sampingnya. “Ada apa?”
“Kakak tau, Yang Mulia Putra Mahkota sepertinya belum paham yang kukatakan kemarin. Atau mungkin ada hal lain, sedari tadi dia memasang wajah tertekan.”
Audrey terdiam, dia mencerna setiap kata yang diucapkan adik kembarnya itu. “Apa mungkin Yang Mulia tidak sengaja melihat Nona dengan pria lain? Itu sebabnya dia merasa cemburu.”
“Hem, entahlah. Aku sudah pusing dengan urusan akademi.” Audrey mengusap kepala Adrey. “Yang sabar, kau pasti akan mendapatkan hikmahnya.”
Adrey berdecih, dia menepis tangan Audrey dan pergi, sementara gadis itu tertawa puas melihat wajah kesal adiknya.
Setelah tawanya mereda, Audrey menghela napas. Dia meregangkan jarinya dan bersandar di sofa.
'Sekarang, bagaimana dengan masalah Yang Mulia? Sepertinya aku harus ikut campur sekarang.' Audrey tersenyum tipis.
“Pelayan, siapkan pakaian untukku!”
----------------
Suara ketukan pintu membuat Lien Hua tersadar dari lamunannya. “Siapa?”
“Maaf menganggu, Nona Carmelia. Yang Mulia memerintahkan saya untuk mengantar pelayan pribadi Anda kemari.”
Lien Hua memijat pelipisnya pusing, dia menghela napas dan membuka pintu kamarnya. “Siapa namamu?”
“Perkenalkan, Nona. Nama saya Reyna.”
“Reyna? Namamu tak asing.” Lien Hua mengetuk-ngetuk dagunya berpikir.
'Ah, semoga saja dia tak sadar kalau aku adalah Audrey!' batin Audrey dengan senyum di wajahnya.
“Em, baiklah. sampaikan ucapan terima kasihku pada Jian.”
Pelayan itu menunduk. “Baik Nona.”
“Kau, ikut aku.” Lien Hua berjalan masuk, Audrey dengan bingung mengikutinya.
“Apa, Nona perlu sesuatu?”
Lien Hua duduk di sofa dan menopang dagunya. “Aku tidak perlu apa-apa, cukup beritahu aku. Siapa kau sebenarnya?”
“A-apa maksud Anda? Saya tidak mengerti sama sekali,” elak Audrey, Lien Hua menatapnya datar.
“Benarkah? Kalau begitu, apa itu?” Audrey mengikuti arah yang ditunjuk Lien Hua, dia langsung mengumpat dalam hati dan merutuki kebodohannya yang tidak hati-hati sampai membuat lambang kekaisaran menyangkut di seragam pelayan yang digunakannya.
“A-ah ini milik adik saya, adik saya bekerja sebagai prajurit di kekaisaran.”
“Lalu kenapa kau bekerja di sini?” tanya Lien Hua, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran.
“K-karena--”
Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh. “Siapa?”
“Melia, ini aku.” Suara dingin dan familiar membuat Audrey meneguk salivanya, Lien Hua menghela napas dan membuka pintu kamarnya.
“Ada perlu apa? Dan jangan memanggilku Melia, namaku Lien Hua!”
“Terserah, ikut aku sekarang!” Jian berjalan lebih dulu, namun langkahnya terhenti. Dia menoleh ke belakang dan melihat Lien Hua yang masih diam berdiri di mulut pintu.
“Ayo!”
“Tidak terima kasih, aku sibuk!” Lien Hua langsung membanting pintu kamarnya keras, baik Jian atau Audrey. Keduanya sama-sama terkejut.
----------------