
Setelah pesta ulang tahun yang lebih mirip pernikahan itu selesai, Lien Hua langsung pergi tanpa memberi tahu siapapun. Dia benar-benar sedang dalam suasana buruk sekarang, apalagi ketika mengingat ucapan dari pangeran yang tengah berulang tahun.
'Sial! ini sebuah penghinaan, aku nggak bakalan biarin kamu hidup tenang. Fu sialan!' Lien Hua memukul meja yang ada di depannya, dia menghela napas pelan dan bersandar.
'Sial sekali! Jika aku terus berada di kediaman menteri, aku tidak akan bisa bebas! aku hanya akan selalu seperti seekor burung yang selalu dikurung didalam sangkarnya! dan aku benci itu! aku harus membuat-- ah benar juga, aku perlu membuat kesal kedua putri manja itu agar Menteri bisa mengusirku. Selain bisa bebas kemana-mana, aku juga bisa menjahili dua gadis mania sialan itu.'
Senyum iblis muncul di wajah Lien Hua. 'Xixixi, aku tidak sabar memulai permainannya.'
Lien Hua membuka kotak kayu kecil yang ada di meja, dia tersenyum tipis saat melihat isi dari kotak itu.
'Ibunda..'
...---------------...
“Nona Lien Hua, Anda harus makan!” Xia He berusaha memaksa Lien Hua untuk memakan bubur yang dia buat sendiri.
“Ayolah, Nona. Saya sudah membuatnya dengan susah payah.” Xia He mengusap wajahnya seolah menangis, namun ketika dia melihat Lien Hua. Dia menganga lebar, karena orang di depannya hanya menatapnya tenang seolah tidak terpengaruh dengan adegan dramatis yang dibuatnya tadi.
“Xia, apa aku boleh menanyakan beberapa hal?”
“Tiba-tiba? tapi boleh saya, Nona. Tapi saya ada syaratnya!”
“Apa?”
“Satu. Satu pertanyaan sama dengan satu sendok bubur! Dua, Nona tidak boleh banyak protes dengan bubur yang saya buat, dan terakhir. Nona harus menghabiskan semua buburnya!”
Lien Hua tanpa pikir panjang langsung mengangguk, Xia He tersenyum tipis dan menyuapi Lien Hua.
“Xia, apa dua adikku begitu membenciku?” tanya Lien Hua, Xia He menghela napas berat dan mengangguk.
“Benar Nona, Nona Li Mei dan juga Nona Li Yao sepertinya tidak menyukai Anda. saya sering melihat dia menganggu Nona Lien Hua dan juga pernah menyeburkan Anda ke sungai.”
Lien Hua langsung menatap Xia He dengan serius, dia kembali memakan bubur yang dibawakan Xia He.
“Kau melihat kejadian itu? Lalu kenapa tidak melaporkannya pada perdana menteri?”
Xia He kembali menghela napas. “Andaikan saja bisa semudah itu, Nona. Saya memang ingin melapor pada Tuan, tapi para pelayan Nona Li Yao dan Nona Li Mei menghalangi saya dan mengancam akan menghabisi keluarga saya. itu sebabnya saya tidak memberitahu yang sebenarnya, Maafkan saya. Nona Lien.”
Xia He menunduk dengan rasa bersalah yang memenuhi lubuk hatinya, Lien Hua diam. Pikirannya terasa rumit sejak datang ke dunia aneh ini.
'Apa memang benar, raga Lien Hua telah menyatu dengan jiwaku? jadi apa aku bisa merasakan hal yang dirasakan Lien Hua? Jika benar, seharusnya--'
Lien Hua menggeleng dengan tangan yang di kepalkan di depan dada. 'Tidak, Lilia! Kau seharusnya tidak memiliki perasaan ini! semuanya salah, kau adalah seorang pembunuh! Kau tidak memiliki perasaan apapun pada orang lain! Hidupmu hanya untuk organisasi! kau tidak boleh--'
Tanpa sadar, Lien Hua berdiri dan memeluk Xia He yang masih menunduk. “Tidak apa-apa, Xia He. aku mengerti, seharusnya kau menceritakan semuanya,” ucap Lien Hua dengan nada pelan dan lembut, namun dari tatapan matanya terlihat ragu dan juga bingung.
'Lien Hua, kau seharusnya tidak memberiku perasaan seperti ini.'
...----------------...
'Aneh, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. sebenarnya apa yang terjadi? apa ucapanku siang tadi benar-benar terjadi? jiwaku dan raga Lien Hua akan bersatu, jika memang benar, perasaan ini hanya akan jadi racun bagiku yang telah dilatih untuk tidak memiliki perasaan apapun sejak kecil.' Lien Hua menghela napas dan mendongak ke arah bulan yang sedikit tertutupi awan hitam.
Lien Hua melamun hingga suara kucing yang terasa sangat dengan membuatnya terkejut dan hampir saja jatuh, dia menoleh ke kanan kiri namun tidak menemukan kucing itu. suara kucing mengeong kembali terdengar dan membuat Lien Hua menunduk dan melihat seekor kucing hitam di pangkuannya.
“Kucing? sejak kapan ada di sini? aku tidak menyadari kehadirannya sama sekali,” gumam Lien Hua, dia mengangkat kucing itu dan melihatnya dengan mata memicing curiga.
menit demi menit berlalu dengan cepat, Lien Hua yang tidak menemukan hal aneh menurunkan kewaspadaannya. Dia menatap datar kucing yang masih mengeong.
'Lebih baik aku bunuh saja kucing ini!' Lien Hua hendak menjatuhkan kucing itu dari balkon kamarnya, namun rencananya dibatalkan karena seseorang sudah lebih dulu mendorongnya.
Lien Hua yang masih dalam keadaan linglung langsung memeluk kucing itu dan terjatuh ke tanah. 'Sial, siapa yang berani!' batin Lien Hua bangun dan menahan rasa sakit di tangannya, dia menunduk dan menatap kucing hitam yang tampak baik-baik saja. Lien Hua menghela napas lega.
'Menyebalkan! aku jadi tidak bisa membunuh kucing ini, tapi.. kenapa kucingnya terlihat lucu?' Lien Hua menatap kucing yang terus mengeong dengan lekat, tangannya terangkat dan mengusap bulu kucing itu.
“Lembutnya, siapa kau kucing manis? kenapa bisa sampai di sini?” tanya Lien Hua yang gemas melihat kucing di tangannya.
'Apa lebih baik kurawat saja ya? kasihan juga jika membunuh kucing tak bersalah.' Lien Hua tersenyum tipis dan terus mengelus bulu kucing yang terasa sangat lembut, dia sampai lupa tentang rasa sakit di tangannya.
“Baiklah, jika kau tidak memiliki Tuan. Aku akan merawatmu, kucing kecil. Emm.. bagaimana kalau aku memberimu nama Black?”
kucing itu mengeong dan membuat Lien Hua tersenyum senang, senyum yang tidak pernah dia perlihatkan saat berada di organisasi ataupun ketika membunuh.
“Ok, Black. Aku akan memperkenalkan orang-orang di rumahku ini.”
'Sekalian mencari orang yang berani mendorongku.'
Lien Hua berdiri sambil membawa Black di pelukannya dan terus mengusap bulunya, dia melirik ke kanan-kiri dengan tatapan waspada sebelum berjalan masuk ke kediamannya.
'Aneh, aku merasakan keberadaan seseorang di sekitar sini.'
...----------------...
“Astaga Nona, Anda kenapa??” tanya Xia He heboh, Lien Hua meletakkan kucing yang tengah tertidur dan sofa.
“Akan saya ambilkan obat!” Xia He langsung berlari kecil menuju ke dapur, Lien Hua bersandar dan menutup matanya sejenak, dia melirik kucing yang dia letakkan di sampingnya. Senyum tipis kembali terukir di wajahnya.
“Ini Nona, kenapa Anda bisa terluka?” Xia He menyerahkan kotak obat yang dia bawa, Lien Hua membuka kotak itu dan mengambil obat.
“Aku didorong oleh seseorang.”
...----------------...