
Juan yang merasa seseorang membuka pintu kamarnya mendongak, matanya tampak berbinar ketika melihat siapa yang tengah berdiri di luar kamar.
“Kak Lina!” Lien Hua tersenyum tipis, dia mengisyaratkan Juan untuk tetap diam dan memanggilnya dengan isyarat tangan.
Juan berdiri dan berlari kecil ke arah Lien Hua, dia langsung memeluk gadis itu dengan erat.
“Kak Lina, kapan--”
“Sstt, Xiu sedang tidur. Kita bicara di luar saja.” Juan menoleh ke arah sang adik, dia kemudian mengangguk kecil dan mengikuti Lien Hua menuju ke kamar gadis itu.
----------------
“Kak Lina, aku sangat merindukan Kakak! Kenapa Kakak baru datang kemari?”
“Maaf ya, kakak akhir-akhir ini sibuk. Jadi tidak sempat menjenguk Juan dan Xiu, sekarang bagaimana keadaanmu. Aku dengar dari Xia, kau sering demam dan mimpi buruk akhir-akhir ini. Apa kau tadi mimpi buruk lagi?” Juan mengangguk kecil dengan wajah tertunduk.
“Ada apa sebenarnya, Juan? Ceritakan saja pada kakak. Jangan memendamnya sendiri,” kata Lien Hua lembut, dia mengusap kepala Juan.
“Kak, aku sering bermimpi tentang keluarga ini.” Lien Hua mengerutkan keningnya, dia mengangguk pelan. “Lalu?”
“Saat itu, aku melihat Kak Lina. Kak Xia, Xiu dan aku ada di kediaman ini. Kita sedang memainkan permainan petak umpet, dan tiba-tiba. Ada asap dari dapur, saat Kak Xia sadar. Semua jalan keluar dikunci, dan tiba-tiba terdengar suara ledakan dari luar. Dan saat aku bangun kembali, kediaman ini sudah hancur. Kak Xia, Kak Lina, Xiu dan aku.. semuanya--” Juan terisak, dia tanpa sadar menangis saat menceritakan mimpinya.
Lien Hua memeluk dan mengusap punggung Juan pelan, pikirannya kini penuh dengan tanda tanya.
“Tidak usah dipikirkan, ya. Kalian pasti akan baik-baik saja, Kakak tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada kalian. Lagipula--” Lien Hua melepas pelukannya dan menatap tegas Juan yang terisak kecil.
“Mimpi itu hanya bunga tidur, semuanya hanya bohong. Mengerti?” Juan mengangguk kecil, kedua tangan kecilnya menggenggam tangan Lien Hua erat.
“Kakak, orang itu mencarimu. Setelah kita semua tiada, seseorang dengan jubah mendekati kediaman Kita yang hancur terbakar. Dia mencari dan kemudian mengambil sesuatu darimu,” jelas Juan dengan sedikit tergesa-gesa. “Sesuatu?”
Juan mengangguk. “Sebuah buku tebal aneh dan juga sebuah kalung!”
Lien Hua semakin bingung dibuatnya. 'Buku tebal aneh? Apa maksudnya buku suci itu, tapi itu sudah tidak ada di tanganku. Dan soal kalung, kalung apa yang dimaksud Juan?'
“Kak Lina, hati-hatilah. Dia sepertinya selalu mengawasimu.”
----------------
Lien Hua masih duduk di tepi kasurnya dengan perasaan bercampur aduk, setelah kepergian Juan. Dia jadi tidak bisa melupakan cerita mimpinya tadi, semuanya terasa sangat aneh.
'Siapa orang berjubah yang dimaksud? Apa dia si kakek tua itu? Tapi aku bahkan tidak memberitahu apapun soal buku suci, lalu kenapa dia tau dan ingin merebutnya? Dan lagi, bukankah aneh jika Juan selalu mengalami mimpi yang sama, jika hanya sekali itu wajar. Tapi yang dialami Juan, itu sudah berkali-kali. Dan mimpinya selalu sama, sepertinya aku harus mengusut kasus baru ini!' Lien Hua menoleh ke arah jendela, dia berdiri dan berjalan keluar kamar.
“Lebih baik aku di sini sementara waktu untuk menjaga mereka, sekarang aku harus ke akademi untuk mengambil barang-barang penting!”
----------------
“Nona Li, seharusnya kau tau peraturan di akademi ini! Kau tidak diperbolehkan keluar dari akademi ini sebelum waktu libur!” Profesor Agra berujar tegas, para profesor lain hanya diam sambil memperhatikan keduanya.
Bahkan, Profesor Anie memberikan satu kue pada semua Profesor yang ada di sana. Kecuali Profesor Agra dan Lien Hua yang masih berdebat.
“Profesor Anie, seharusnya Anda tidak melakukan ini.” bisik Profesor Hanna, Profesor Anie cengengesan. “Tidak apa-apa profesor, kapan lagi kita mendapat hiburan yang langka.” Profesor Hanna hanya geleng-geleng kepala melihat sikap profesor wanita di sampingnya.
“Profesor, aku akan tetap pergi meski kau melarangku!” tantang Lien Hua. “Kalau begitu, aku akan memerintahkan penjaga untuk mengurungmu di asrama!”
Lien Hua berdecih, dia melirik sekeliling dan tanpa sengaja melihat buku suci yang masih melayang di tempat yang sama.
Selintas ide licik tiba-tiba muncul di pikirannya, Lien Hua menunjuk ke arah buku suci itu dengan wajah sepanik mungkin. “Bukunya mau meledak!!” seketika semua pandangan Profesor teralih ke arah buku itu.
Lien Hua memanfaatkan situasi tersebut dan berlari keluar, dia berlari menuju asramanya dan mengunci pintu dari dalam. Lien Hua mengeluarkan sebuah pil berwarna biru.
Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Lien Hua, dia menoleh ke asal suara dengan pil di telapak tangannya.
'Sangat beresiko, tapi akan kucoba!' Lien Hua mengepalkan tangannya hingga pil tersebut hancur, tepat saat itu juga. Pintu berhasil didobrak, Lien Hua tersenyum tipis dan melambaikan tangannya.
Dia melangkah mundur, semakin dia melangkah. Semakin juga badannya masuk ke lantai hingga dia menghilang dari tempat itu.
“Apa dia menggunakan teleportasi terlarang?” gumam Profesor Anna yang mengikuti Profesor Agra, dia melirik profesor pria yang mengepalkan tangannya dan meninju dinding.
----------------
Lien Hua tercengang melihat pandangan di depannya, jantungnya berdebar-debar seolah ingin keluar. Dari matanya, terlihat kobaran api yang masih membakar sesuatu.
Matanya memerah menahan tangis, jantungnya terasa sangat sakit. Lien Hua tersadar, dia berlari ke arah sebuah rumah yang telah hancur dengan beberapa api yang masih membakar.
Air mata mengalir dari pipinya, Lien Hua berusaha mencari sesuatu dari balik kayu yang terbakar. Napasnya seolah terhenti sejenak ketika melihat satu hal yang dia cari telah ketemu, namun. Bukannya lega, Lien Hua justru merasa semakin sakit di dadanya, dia memangku kepala seorang gadis yang sebagian wajahnya telah terbakar. Kakinya tertimpa lemari yang masih terbakar.
“Xia?” Lien Hua mengusap wajah Xia He yang sebagian telah terbakar, dia tersenyum manis dengan air mata yang masih mengaliri pipinya.
“Bangun, aku di sini,” gumam Lien Hua, namun tidak ada respon dari Xia He. Senyum manis masih terlihat di wajahnya meski lebih terlihat seperti senyum kesedihan.
“No-na, Lina.”
Lien Hua terisak, dia menghapus air matanya dan tersenyum ke arah Xia He yang membuka matanya.
“Selamat siang, apa kau merasa lebih baik?” Xia He menggeleng pelan. “Xiu, dan Juan.. to-long mereka.”
Lien Hua mengangguk. “Xia, tunggu aku di sini dan jangan pernah menutup matamu! Aku akan memastikan kalian semua aman.”
----------------