
“Baik, Profesor.” Siswa itu langsung berjalan keluar, tidak lama setelahnya. Dia kembali datang sambil membawa Lien Hua yang tampak kebingungan.
“Em, ada apa ini?" tanya Lien Hua, Profesor Hanna melirik siswa tadi. Dia langsung berjalan pergi dan menutup pintu dengan rapat.
“Nona Li, kau kan yang menemukan buku suci itu?” Profesor Hanna menunjuk buku suci tersebut, Lien Hua mengikuti arah jari profesor dan menatap buku suci itu tanpa berkedip.
“Iya, lalu kenapa?”
“Aku ingin, kau mengambil buku itu. Sebenarnya, hanya pemilik asli dari buku itu yang bisa menggunakannya sesuka hati. Tapi karena kau pernah menemukan dan bahkan menyentuhnya tanpa luka apapun, mungkin pemilik buku itu adalah kenalan atau teman dekatmu. Jadi kau boleh menyentuh atau mengambil buku itu.”
“Em, aku tidak terlalu mengerti. Lagipula, kenapa aku yang harus memanggilnya? Profesor Agra juga menyentuh buku itu dan tidak terjadi apa-apa,” elak Lien Hua.
“Kau lihat kan, para profesor tidak sadarkan diri. Jadi tidak ada cara lain selain kau yang mengambilnya.”
Lien Hua mengangkat kedua tangannya menyerah. “Maaf Profesor, tapi buku itu bisa saja merenggut nyawa saya. Dan saya sekarang belum mau mati, jadi permisi.” Lien Hua langsung berlari pergi dan membanting pintu hingga mengangetkan Profesor Hanna yang menghela napas.
----------------
'Kenapa aku yang disuruh coba? Lagipula, apa hubungannya buku itu denganku?' Lien Hua mengomel dalam hati sambil terus berjalan ke arah asramanya, saat dia hendak membuka pintu asrama.
Sebuah bayangan hitam tiba-tiba melintas di belakang Lien Hua dengan cepat dan membuatnya tidak jadi memutar gagang pintu, dia melirik sekitaran yang sepi dan berjalan menuju ke jendela yang ada di lorong asrama.
“Ada apa, Kakek tua?” Seorang pria muncul di belakang Lien Hua, gadis itu meliriknya sekilas sebelum kembali menatap ke taman bunga.
“Siapa kau?” tanya Lien Hua. “Nona Lien, saya diutus Tuan untuk melindungi Anda selama misi.”
Lien Hua berbalik ke arah pria itu, dia bersandar sambil melipat tangan di depan dada. “Tuan siapa?”
“Tu-tuan--” Belum selesai ucapan pria itu, Lien Hua tiba-tiba muncul di depannya dengan secepat kilat dengan pisau lipat yang diarahkan tepat di leher pria itu.
“Jangan mencoba membohongiku, atau kau akan habis!” bisik Lien Hua dengan tatapan dingin. “Nona Lien--”
Pria itu langsung terjatuh ke lantai, Lien Hua mengusap darah di pisau lipat miliknya. Dia kemudian melirik pria itu dan menghela napas.
“Kio, ada makanan untukmu.” Lien Hua berjalan masuk ke asramanya, setelah pintu tertutup. Kawanan burung kecil masuk melewati jendela dan memakan tubuh pria itu.
----------------
Pria yang duduk di kursi kebesarannya itu mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan tidak sabar, dia menatap seorang prajurit yang berdiri menjaga pintu sambil menunduk.
“Bagaimana??”
“Maaf Yang Mulia, tapi belum ada kabar darinya.”
Pria itu berdecak kesal, dia memijat pelipisnya pusing. “Cari tau kembali! Mungkin saja dia tidak ke tempat gadis itu!”
“Baik, Yang Mulia.” Prajurit itu membungkuk hormat dan berjalan pergi, Pria itu menghela napas panjang.
----------------
Setelah merasa aman, Lien Hua berjalan menuju gerbang akademi yang tidak dijaga sama sekali. Dia berkacang pinggang sambil menelisik gerbang tersebut.
“Nona Li, kebetulan sekali. Kau juga di sini?” Lien Hua mengumpat pelan, dia berbalik dan menatap kesal Zhang Xue yang justru menatapnya dengan senyuman.
“Kenapa kau kemari?” bukannya menjawab, Lien Hua malah balik bertanya. Dia menatap penuh selidik Pria di depannya.
“Ahaha, kebetulan lewat dan bertemu Nona di sini. Kita memang ditakdirkan ya.” Lien Hua berdecih, dia berbalik dan kembali menatap penuh fokus gerbang di depannya. Zhang Xue berjalan ke arahnya dan berdiri di sampingnya, pria itu ikut menatap gerbang tanpa tau apa yang ingin dilakukan gadis di sampingnya.
Keduanya diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanya suara kepakan sayap burung hantu dan hewan malam lainnya yang terdengar.
“Nona Li, kenapa kita berdiri di sini?” gumam Zhang Xue yang masih dapat didengar Lien Hua, namun gadis itu hanya diam sambil memegangi dagunya.
'Bagaimana ya, cara keluar dari akademi? Di luar tembok pasti banyak penjaga yang mengawasi!' Lien Hua berpikir keras, dia sampai tidak menyadari Zhang Xue yang menatapnya dengan tatapan bingung.
“Nona Li!” bisik Zhang Xue yang berusaha tidak membuat kebisingan sedikitpun, namun Lien Hua tak menanggapinya. Pria itu mengambil inisiatif dan menyentuh tangan Lien Hua.
Lien Hua yang terkejut secara refleks memutar tangan Zhang Xue dan membuat pria itu langsung meringis kesakitan. “Kenapa kau belum pergi?” Lien Hua melepaskan tangannya.
Zhang Xue memegangi bahunya yang sakit. “Nona Li, jika Anda ingin keluar dari Akademi diam-diam. Pergi saja, penjagaan di luar akademi sedang longgar sekarang.” Lien Hua mengerutkan keningnya.
“Kenapa kau bisa tau, kalau aku ingin keluar dari akademi secara diam-diam?” tanya Lien Hua penuh selidik, bisa saja kan pria di depannya ini memata-matainya.
Zhang Xue tersenyum tipis namun sarat arti. “Pikiran kita terhubung, jadi aku bisa tau apa yang Nona pikirkan.”
Lien Hua melipat tangannya di depan dada. “Oh ya, lalu apa yang kupikirkan sekarang?”
“Em, beri aku waktu untuk berkonsentrasi.” Zhang Xue menutup matanya dan berkomat-kamit seolah membaca mantra.
'Apa yang sebenarnya pria sinting ini lakukan?' batin Lien Hua bingung, Zhang Xue membuka matanya.
“Aku, tau. Kau sedang memikirkanku kan?” tanya Zhang Xue dengan alis yang naik turun, Lien Hua menatapnya datar. Dia menggeser pria itu dan membuka pintu gerbang.
'Apanya coba? Aku memang memikirkannya, tapi bukan memikirkannya karena suka. Melainkan karena muak dan kesal! Lagipula, aku tidak boleh suka dengannya! Dia salah satu target balas dendamku sejak dulu!' Lien Hua menghela napas sambil terus berjalan pergi, angin menerpa dan membuat salju dari pepohonan beterbangan. Saat keadaan kembali senyap, Lien Hua telah menghilang seperti ditelan bumi.
Zhang Xue masih terus menatap tempat Lien Hua menghilang, dia mengibaskan tangannya dan membuat seseorang muncul di belakangnya.
“Awasi gadis itu, selalu berikan informasi tentang dia. Dan jangan sampai dia menyadari kehadiranmu!”
“Baik, Tuan.”
----------------
Lien Hua membuka pintu kediamannya, dia tersenyum tipis melihat Xia He yang mungkin kelelahan hingga tertidur di sofa. Dia dengan langkah pelan berjalan menuju kamar Juan dan juga Xiu.
Lien Hua membuka kamar keduanya dan melihat Xiu yang sudah tertidur nyenyak, keningnya tampak berkerut ketika melihat Juan yang terbangun di samping Xiu.
----------------