Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 19. Racun



“Y-ya, aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong, siapa kau? Kenapa kau mau menolongku?” tanya Lien Hua dengan mata sayu.


“Saya lupa memperkenalkan diri, nama saya Luxio. Saya adalah sahabat dari Anak bernama Juan, dan kebetulan kita satu Akademi. Jadi Juan meminta saya untuk menjaga Anda.”


“Juan? Dia tidak pernah memberitahu soal itu, apa kau juga mengenal Xiu?” tanya Lien Hua, pria di depannya mengangguk.


“Tentu saja, Nona. Dia adik dari Juan jadi saya mengenalnya, kami sering bertemu di pasar.”


“Begitu ya, terima kasih sudah menolongku. Lebih baik kau pergi, sisanya biarkan aku yang mengurusnya. Dan, siapa namamu?”


“Namaku, Ziyi, Nona.”


“Benarkah? Kupikir kau Pangeran Zhang Xue,” gumam Lien Hua, dia kemudian menunduk sopan.


“Terima masih sekali lagi.” Lien Hua kemudian melangkah ke arah Lian yang tak sadarkan diri, dia mengambil belati yang di sembunyikannya di belakang punggungnya dan tertutupi rambut.


'Jika aku membunuhnya sekarang, seharusnya efek pil itu juga akan menghilangkan. Kan? Tapi apa benar? Aku mungkin masih memerlukannya untuk misiku sekarang, jadi--' Lien Hua menghela napas, dia berjongkok dan mengambil pil yang dibawanya.


Lien Hua memasukkan pil itu ke mulut Lian dan tersenyum tipis. “Maaf, Lian. Tapi kau seharusnya tidak membangunkan singa yang tertidur.”


 


“Egh, semalaman penuh aku mencari buku di perpustakaan. Tapi tetap tidak ketemu! Tapi, untung saja aku kemari. Aku jadi bisa memperlambat penyebaran racunnya selama beberapa saat.” Lien Hua merenggangkan badannya, dia menatap buku-buku yang bertumpuk di depan dan samping kanan kirinya.


Lien Hua menguap pelan, dia kemudian menatap buku yang sudah mencapai halaman terakhir.


'Pil iblis, pil berwarna hitam yang akan menciptakan racun ketika hancur dan membuatnya menyebar ke pembuluh darah dan membunuh korbannya. Pil iblis biasanya terbuat dari darah iblis hitam yang langkah dan juga susah untuk didapatkan, selain itu. Iblis hitam hanya akan muncul ketika ditawari hal yang membuatnya tertarik sebagai imbalan.' Lien Hua mengucek matanya sambil terus membaca isi dari halaman terakhir itu.


'Racun pil iblis bisa dihentikan penyebarannya dengan menggunakan daun-- eh?? Sial! Halamannya malah sobek di tempat yang penting! Tapi sepertinya, ini disengaja!' Lien Hua mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, dia berusaha menebak daun yang akan dibuat obat agar bisa menghentikan penyebaran racun.


Tanpa sadar, darah keluar dari hidungnya. Lien Hua menyadarinya ketika darah tersebut terjatuh ke buku yang tengah dia baca, dia mengusap hidungnya dan melihat darah ditangannya.


Dengan cepat, Lien Hua mengambil sapu tangan di sakunya dan menghapus darah di hidungnya. Dia kemudian menutup hidungnya dan berlari ke toilet tanpa merapikan buku-buku yang dia baca.


'Ah sial! Kenapa harus sekarang sih?? Aku belum menemukan cara menghentikan mu tau!' kesal Lien Hua sambil terus berlari.


 


“Huh, untung saja sudah berhenti,” gumam Lien Hua, dia menatap dirinya di pantulan cermin.


'Apa aku bisa kembali ke duniaku yang sebenarnya? Jujur, aku cukup muak di dunia fantasi ini. Aku ingin pulang dan bertemu Rey.' Lien Hua menghela napas, dia berjalan pergi dan menatap lorong asrama dengan tatapan datar.


Lien Hua berjalan menuju asramanya dengan langkah terhuyung-huyung, dia membuka pintu asramanya dan melangkah masuk.


'Ah, racun itu memang menyebalkan ya!' batin Lien Hua sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing, dia menjatuhkan dirinya di sofa dan bersandar sambil berusaha meredakan rasa sakit di dadanya.


'Ya, kalau aku mati. Mungkin saja aku bisa kembali ke duniaku, kan?' Lien Hua menghela napas, dia menutup matanya sambil menahan pusing di kepalanya.


Suara ketukan pintu membuat Lien Hua membuka matanya, dia melirik ke arah suara dengan wajah malas.


“Siapa?”


“Nona Li, ini aku. Xue.”


“Bisa kau buka pintunya?”


Lien Hua dengan malas berdiri, dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Keningnya sedikit berkerut ketika melihat Zhang Xue.


“Ah, sudah kuduga kau bisa melihat. Tapi kenapa.. matamu mirip Juan?” gumam Lien Hua di akhir kalimatnya.


“Nona Li, apa kau ingin jalan-jalan denganku?”


“Tidak! Dan jangan memanggilku Nona Li. Namaku Lien Hua!” kesal Lien Hua, Zhang Xue tersenyum tipis.


“Kenapa? Bukannya, seseorang harus dipanggil dengan nama marganya ya. Nona Li Lien Hua,” tekan Zhang Xue di akhir kalimatnya.


“Akh, sudahlah! Kau membuatku semakin pusing! Pergi sekarang dan jangan menggangguku!!” Lien Hua menutup pintunya dengan sedikit kasar, dia bersandar di pintu dan menghela napas. Lien Hua memijat pelipisnya pusing.


“Nona Li, maafkan aku. Aku hanya bercanda.” Zhang Xue kembali mengetuk pintu asrama Lien Hua.


“Kenapa kau mengangguku, Zhang Xue?!” tanya Lien Hua geram, dia membuka pintu asramanya.


“Sudah kukatakan bukan, aku ingin mengajakmu jalan-jalan.” Zhang Xue tersenyum tak berdosa, Lien Hua menatapnya dengan kesal.


“Dan sudah kukatakan bukan, aku tidak ingin pergi!”


“Ah, benarkah? Sayang sekali, padahal aku pikir kau menginginkan sebuah penawar racun karena semalaman berada di perpustakaan.” Zhang Xue memasang wajah sedih, Lien Hua mengerutkan keningnya.


“Kau tidak memata-mataiku, kan?”


“Tentu saja iya, sebagai tunangan yang baik. Aku ingin menjagamu agar selalu aman dan tenang.” Lien Hua seketika tercengang, dia menatap datar Zhang Xue yang dibalas dengan senyum penuh arti.


'Apa dia juga tahu tentang pil itu? Jika benar, mungkin saja dia bisa membantuku menghilangkan racunnya, tapi masalahnya. Apa dia bisa dipercaya, dia juga seorang pangeran dan mungkin saja bersaudara dengan Lian. Tidak ada yang menjamin sikapnya tidak akan seperti Lian, mungkin saja dia juga ingin menjadi Putra Mahkota dan menghabisi gadis yang mendapatkan bunga kristal itu.' Lien Hua tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Zhang Xue yang menunggunya sedari tadi menghela napas. “Nona Li,” panggil Zhang Xue, namun Lien Hua tidak merespon. Zhang Xue kembali memanggil nama marga Lien Hua namun tetap sama.


“Nona Li!!” Lien Hua langsung tersadar, dia menatap kesal Zhang Xue.


“Aku membencimu, tapi untuk sekarang. Aku akan ikut denganmu.” Zhang Xue tersenyum tipis. “Mari, Nona Li.” Zhang Xue mengulurkan tangannya, Lien Hua menatapnya dengan tatapan aneh.


Dia langsung pergi tanpa membalas uluran tangan Zhang Xue.


 


“Sebenarnya kita akan kemana?” tanya Lien Hua yang merasa aneh dengan keadaan hutan.


Lien Hua menatap tanda terlarang yang tertancap di tanah. “Zhang, bukannya kita tidak boleh kemari.”


“Tenang saja, Nona Li. Kau tidak akan terluka, aku akan melindungimu sebagai tunangan. Jangan khawatir, hanya saja. Ada yang ingin menemuimu di sini,” ucap Zhang Xue tanpa berbalik.


“Eh?? Di hutan lebat ini?”