
“Ah tidak, aku hanya.. em, terpukau dengan ketampanan Yang Mulia.”
Jian berdecih, dia melipat tangan di depan dada dan memperhatikan Lien Hua dari ujung kaki hingga rambut.
“Pelayan.”
“Iya, Yang Mulia.” beberapa pelayan berjalan masuk, mereka kemudian menarik Lien Hua keluar tanpa sebab. Gadis itu bingung, dia sama sekali tidak mengerti apapun sekarang.
“Eh, aku ingin dibawa kemana?” tanya Lien Hua bingung. “Tolong diam dan ikut dengan kami, Nona.”
Mereka berjalan tak jauh dari kamar Wang Xueming. Satu pelayan membuka pintu kamar, Lien Hua mengikuti para pelayan masuk ke dalam kamar.
Dua pelayan muncul dengan beberapa gaun di tangan mereka masing-masing. “Silahkan dicoba semuanya, Nona.”
Lien Hua meneguk salivanya kasar, dia mengambil semua gaun itu dan berjalan ke ruang ganti.
Setelah hampir sepuluh menit, Lien Hua berjalan keluar dengan gaun pertama. Gaun brokat berwarna orange, para pelayan saling menilai dan menggeleng.
Lien Hua dengan wajah masam berjalan masuk ke ruang ganti dan kembali mengganti gaunnya, itu terjadi terus-menerus hingga gadis itu menemukan gaun yang pas.
Gaun berwarna brokat emas, para pelayan langsung mengacungkan jempol mereka. Beberapa pelayan mendorong Lien Hua pelan dan mendudukkannya di kursi.
Mereka mulai sibuk mendadani gadis itu, ada yang merias wajahnya, mengatur tatanan rambut, memakaikan aksesoris, dan lain-lainnya.
Hampir setengah jam berlalu, semuanya akhirnya selesai. Lien Hua menatap takjub pantulan bayangannya di cermin.
“Sangat cantik, Yang Mulia pasti akan terpesona melihat kecantikan Nona.”
'Woah, apa dia benar-benar aku? Sangat cantik, tapi untuk apa aku didandani begini? Tidak ada apapun kan, bahkan aku sekarang sedang menyangga status sebagai tawanan.'
“Mari.” beberapa pelayan membantu Lien Hua berdiri, bagaimana tidak. Gaun saja sudah membuatnya hampir terjatuh karena terlalu berat. Sekarang ditambah aksesoris, dan ysng lainnya. Lien Hua bahkan tidak bisa berdiri.
----------------
Lien Hua berjalan ke arah taman bunga di belakang istana, dia merasa senang karena taman bunga kesukaannya masih dirawat dengan baik meski sempat hancur karena peperangan.
Lien Hua diikuti dua pelayan yang menuntunnya ke suatu tempat, matanya menatap bingung Jian yang duduk di kursi.
“Silahkan, Nona,” kata salah satu pelayan sambil menarik kursi, Lien Hua duduk dan menatap sekeliling.
“Apa yang terjadi?”
Jian tak mengeluarkan sepatah katapun, dia hanya menatap datar Lien Hua. Dan hal itu membuatnya sangat risih, dia menoleh ke kanan kiri untuk mencari hal lain yang bisa mengalihkan perhatiannya.
“Woah..” Lien Hua berdiri, dia berlari kecil ke arah sebuah kupu-kupu yang berterbangan. Gadis itu berjongkok dan menatap takjub kupu-kupu yang hinggap di bunga.
Bahkan gaun yang digunakannya sampai kotor karena terkena lumpur.
“Wah, kupu-kupu biru!” Lien Hua dengan senyum senang mengangkat sebelah tangannya, salah satu kupu-kupu terbang dan hinggap di jarinya.
Namun yang aneh, Lien Hua merasa sedikit rasa perih di tempat kupu-kupu itu hinggap. Dia segera mengusir kupu-kupu itu dan melihat jarinya yang mengeluarkan sedikit darah.
Namun, satu menit berlalu. Dia tak merasakan apapun, saat Lien Hua membuka matanya. Dia terkejut bukan main, entah sejak kapan. Jian yang sedari tadi duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya sekarang tiba-tiba muncul di sampingnya dan menarik tangannya hingga tak terjatuh.
'Huh, hampir saja,' batin Lien Hua, dia hendak berterima kasih. Namun semuanya langsung pupus saat Jian melepaskan tangannya dan membuat Lien Hua langsung terjatuh ke lumpur, cipratan lumpur sampai mengenai pakaian pria berwajah datar itu.
“Err, menjijikkan. Jika ketahuan, aku bisa dihukum oleh Ibun-da?” Lien Hua terdiam, dia tadi hanya berucap tanpa sadar. Entah karena refleks atau mungkin karena hal lain.
Dia teringat dengan Jian, Lien Hua menatap kesal pria itu.
“Pria aneh! Beraninya kau melepaskan tanganku!!” kesal Lien Hua, Jian hanya meliriknya sekilas sebelum kembali membersihkan pakaiannya dengan tissue yang diberikan pelayan.
“Dasar bodoh,” gumam Jian dan berjalan pergi, Lien Hua menatapnya kesal. Dia menatap Jian seolah ingin menelan pria itu hidup-hidup.
“Ish, dasar Pria aneh!” Lien Hua berdiri dari lumpur, dia membersihkan gaunnya namun percuma.
“Pelayan! Bawakan gaun baru untukku!”
----------------
'Menyebalkan! Tapi juga aneh, kenapa kami tiba-tiba diberi sebuah kamar di istana? Bukankah itu termasuk hal berbahaya, bisa saja tawanannya menyusup dan mengambil sesuatu. Kan? Tapi bagaimana mungkin, penjagaan ketat ada di kamar tawanan. Bahkan mau kemanapun di dalam istana perlu dikawal satu orang.'
Lien Hua memijat pelipisnya pusing, dia yang tengah bersandar pembatas balkon menatap hamparan bunga di depannya.
Dia kembali teringat dengan mimpi masa lalu yang dialaminya, mimpi yang telah lama dilupakan Lien Hua asli. Atau lebih tepatnya, Carmelia.
Lien Hua naik ke atas pembatas balkon dan duduk, dia kini berusaha menguak semua kejadian masa lalu yang telah dilupakan Lien Hua asli.
'Jadi sebenarnya, nama asli Lien Hua itu adalah Izumi Carmelia. Nama marga dari ibunya, entah karena alasan apa sehingga tidak menggunakan marga ayahnya. Tapi yang pasti, ada sesuatu yang disembunyikan di dalam hati Lien Hua. Apa kekuatannya sebesar itu sehingga banyak yang mengincarnya? Jika benar, maka aku harus berhati-hati mulai sekarang. Meskipun aku tau kekuatan itu tidak ada padaku, tapi tetap saja. Orang-orang mengenalku sebagai Lien Hua atau Carmelia. Gadis dengan kekuatan dahsyat yang bisa menyamai kekuatan dewa langit, apa itu sebabnya aku bisa menggunakan pemanggilan naga sendirian? Dan juga, di mana Ayah dan Kak Xue. Apa mereka masih hidup sampai sekarang? Aku khawatir, tapi aku tidak bisa melakukan apapun di sini. Pergerakanku sangat terbatas, jadi aku harus memiliki orang terpercaya agar bisa membantuku mencari informasi.'
Tanpa gadis itu sadari, dua orang berjubah memperhatikannya dari jauh.
“Dia benar-benar, Melia. Kan, Kak?”
“Ya, dia benar-benar Melia. Tapi kenapa kau membawaku kemari?”
“Aku ingin kau bertemu dengannya, setidaknya. Biarkan dia mengetahui dirimu yang sekarang, dan juga tentang paman.”
“Jangan membicarakan Ayahanda lagi! Aku masih belum sanggup bertemu dengannya, jadi kau jangan menggangguku lagi. Aku benar-benar sangat sibuk dan kau mengangguku!”
Orang berjubah itu hendak pergi namun terhenti ketika mendengar ucapan dari orang berjubah yang berdiri di sampingnya. “Apa kau tidak ingin melepas rindu? Sudah bertahun-tahun kalian tidak bertemu, kan?”
“Aku cukup melihat dia dari jauh, dan sepertinya. Ingatannya cukup bermasalah dan mungkin dia tidak mengingat siapa kita, awasi adikku. Jian, jangan sampai orang lain menyentuh. Apalagi melukainya!”
“Baik, Kakak ipar.”
“Menjijikkan sekali kau ini.”
----------------