Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 37. Luka



Lien Hua menatap gelang di tangannya, tatapannya sangat sulit diartikan. Hingga gadis itu menarik paksa gelang di tangannya hingga rusak.


Manik-manik dari gelang itu berjatuhan ke lantai, Lien Hua menatap datar. “Semuanya telah berakhir, ibu. Gelang yang selalu Lien Hua jaga telah hancur, begitu pula dengan hati dan jiwanya. Tak ada yang tersisa sama sekali, semuanya menghilang bagai debu yang beterbangan.”


“Tidak, tidak sayang!! Ibu, ibu akan memperbaikinya lagi!” Nyonya Menteri segera memungut manik-manik itu dengan cepat.


“Pernah kukatakan sebelum aku pergi dari kediaman Menteri Li. Kaca yang pecah, tak akan bisa lagi diperbaiki. Meskipun bisa, masih tetap akan meninggalkan bekas retakan di sana.” Lien Hua menunjuk ke arah menteri Li.


“Hatiku seperti kaca yang retak itu, meskipun aku memaafkan kalian. Aku tetap tidak akan kembali dan menjadi putri kalian lagi, semuanya telah berlalu. Dan jika mengulangi hal yang sama, itu akan membuat lukaku semakin membesar.” Lien Hua tersenyum masam.


“Jadi, lebih baik kalian pergi dari sini. Atau kalian yang akan tau akibatnya!”


“Tapi--”


“Gadisku sudah bilang kan, jadi kalian pergi sekarang juga!!” kata Jian, dia kemudian berbalik pergi dan membawa Lien Hua pergi.


Beberapa prajurit berjalan ke arah mereka dan mengusir keluarga Li dan juga Zhang Xue yang tatapannya terpokus pada Lien Hua, dia tau gadis itu menangis. Menangis dalam diam.


----------------


“Duduklah di sini, Melia.”


Lien Hua mendongak. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan wajah dungu, sudah lama dia tidak menjahili Jian. Jadi seharusnya tak apa-apa jika dia menjahilinya lagi sesekali.


Jian membuang muka. “Tidak ada, aku akan memanggilkan tabib.” Lien Hua mengangguk kecil, dia menatap pergelangan tangannya yang memerah karena tali dari gelang tadi.


'Ya, aku seperti ular dalam film yang pernah kutonton. Ular yang bisa berubah wujud, yang tak pernah melupakan dendamnya seumur hidup. Jadi, apa aku harus menghabisi Zhang Xue?' Lien Hua bersandar dan menutup matanya dengan lengan.


Dia menghela napas, pikirannya semakin rumit ketika bereinkarnasi di dunia antah-berantah ini.


“Permisi, Nona Carmelia.” Lien Hua membuka matanya, dia menatap seorang tabib paruh baya yang menunduk hormat.


Lien Hua hanya berdehem, tabib itu meminta izin dan duduk di samping Lien Hua. Dia kemudian mengecek memar di tangannya.


“Nona, seharusnya Anda tidak mengenakan gelang itu. Gelang itu sangat ketat bagi Anda sehingga menimbulkan bekas seperti ini.”


“Tanda itu akan kembali ketika waktu debutante, kekuatannya saat itu akan muncul dan melonjak tajam. Jian Yang, jangan sampai hal itu terjadi. Jaga Melia dan selalu lindungi adikku, jangan biarkan dia terluka.”


Lien Hua berusaha mencari asal suara, namun suara itu bergema di seisi istana dan membuatnya tak tau dari mana asalnya.


“Suara, apa itu??”


Jian yang tengah bersandar di dinding sambil memperhatikan Lien Hua dari jauh juga mendengar suara yang sama, suara yang amat familiar.


'Sial! Apa dia menggunakan sihir gema sehingga semuanya terdengar di seluruh istana??' Jian berlari pergi ke suatu tempat.


Lien Hua memegangi kepalanya yang terasa sakit, tiba-tiba. Muncul luka sayatan di sekujur tubuh gadis itu, seolah dia baru saja digores senjata tajam.


Darah perlahan mengalir namun tak diperhatikan oleh Lien Hua. “N-nona Carme--”


Lien Hua berteriak, matanya membulat sempurna. Seolah ada sesuatu yang ingin mengeluarkan jantungnya secara paksa.


Darah mengalir keluar dari hidung dan mulutnya, tak lama setelah itu. Lien Hua terjatuh tak sadarkan diri, tabib yang tengah mengobatinya seketika panik.


“Ada apa? Apa yang terjadi??” tanya Jian yang langsung berlari kembali, tabib yang tengah berdiri itu bergetar ketakutan.


“Apa yang terjadi??” Jian menatap tajam tabib yang langsung bersujud di lantai dan memohon. “Saya tidak tau apa-apa, Yang Mulia. N-nona Carmelia tiba-tiba memiliki luka sayatan tanpa sebab. Setelahnya, dia berteriak dan darah mengalir di hidung dan mulutnya,” kata Tabib itu gemetar.


Jian duduk di samping Lien Hua dan menyentuh dahi gadis itu. “Panggilkan paman Kak Xuemin, aku akan membawa Melia kembali ke kamarnya.”


Tabib itu membungkuk hormat dan segera pergi sebelum Rajanya itu berubah pikiran, Jian berdiri dan menggendong Lien Hua ala bridal style.


Dia kemudian menuju ke kamar gadis itu sambil mengoceh pelan, hal yang tak pernah lagi dilakukannya setelah perang di istana itu.


----------------


“Bagaimana hal ini bisa terjadi?” tanya seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan, di sampingnya ada pria yang wajahnya hampir mirip dengan pria paruh baya ketika masih muda.


“Saya kurang tau, paman. Suara Xue tiba-tiba menggema di istana, dan setelah kuselidiki. Seorang prajurit bayaran yang melakukannya, saat aku kembali. Melia sudah tak sadarkan seperti ini, ada luka sayatan di sekujur tubuhnya.”


Wang Xuemin memegang dagunya berpikir. “Apa ini ada hubungannya dengan debutantenya? Berapa umur Melia sekarang?”


“Umurnya seharusnya sudah 16 tahun, jika itu memang benar dia.”


“Jika dia memang Melia, maka seharusnya dia akan berulang tahun sebentar lagi.” Pria paruh baya itu berbalik badan dan membelakangi mereka semua.


“Iya benar, sebentar lagi bulan merah.  Hari debuntante Melia sebentar lagi, mungkin itu sebabnya dia merasa sakit karena energi sihir yang semakin meningkat,” kata Wang Xuemin.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”


“Sekarang, cukup awasi dan lindungin dia. Jangan sampai seseorang mengincar nyawanya lagi.” keduanya menoleh ke arah Pria paruh baya yang membelakangi ketiganya.


“Baik, Paman/Ayahanda,” ucap keduanya bersamaan.


----------------


Lien Hua membuka matanya, dia bangun dan melihat perban yang membaluti kedua tangannya. Dia sekarang hampir seperti mumi.


Lien Hua hendak bangun, namun bergerak sedikit saja dia kesusahan. Lien Hua membuka semua perban yang menutupi badannya.


Dia menghela napas pelan dan melihat ke arah jendela, langit telah berubah gelap.


Lien Hua berdiri dan berjalan ke arah lemari, dia mengambil jubah dan mengenakannya. Lien Hua berjalan keluar dari melihat sekitaran yang sepi.


'Sepi, tumben sekali. Biasanya di lorong ini dipenuhi prajurit yang berlalu-lalang.' Lien Hua mengangkat bahu acuh, dia kemudian berjalan ke arah taman di belakang istana.


Lien Hua melihat sekeliling yang gelap gulita, hanya ada satu lentera penerangan di tengah-tengah taman.


Lien Hua duduk di salah satu kursi taman dan bersandar, dia mempererat jubahnya saat merasa angin malam menusuk lukanya.


Lien Hua tersenyum tipis. “Dasar bodoh, aku terjatuh dua kali di lumpur yang sama karena orang yang sama,” gumam Lien Hua sambil terkekeh kecil.


“Kau sedang apa?”


----------------