
Lien Hua menatap sekelilingnya dengan tercengang, dia tak menyangka akan melihat hal yang tak pernah dia bayangkan sama sekali.
Jalanan yang biasanya ramai dilewati warga kini penuh dengan darah dan mayat, bekas sihir masih terlihat jelas. Bahkan ada mayat yang telah hancur hingga tak bisa dikenali.
Lien Hua menutup hidungnya saat mencium bau amis yang menyengat, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Dia dengan cepat berlari ke arah Kediamannya. Hal yang dipikirkannya sekarang adalah keselamatan semua keluarganya.
Sesampainya di sana, Lien Hua seolah tak bisa berkata-kata. Mulutnya terkunci rapat, matanya bergetar dan berkaca-kaca.
Lien Hua mengigit bibir dalamnya berusaha menahan isak tangis dan air mata yang berusaha untuk keluar, dia berlari kecil ke arah reruntuhan dan berusaha mencari seseorang.
Namun, dia tak menemukan siapapun. Lien Hua berusaha menyakinkan dirinya sendiri kalau mereka masih hidup dan mungkin kembali ditolong oleh Zhang Xue seperti pada awalnya.
Dengan cepat, Lien Hua berlari ke arah kekaisaran yang jauh dari kediamannya. Dia tanpa sengaja menemukan seekor kuda di jalanan, Lien Hua langsung menaiki kuda itu dan menuju ke kekaisaran dengan lebih cepat.
Dia menghentakkan kekang kuda sambil melihat sekeliling, rumah-rumah roboh. Mayat-mayat warga berserakan di mana-mana, bahkan ada yang tercabik-cabik oleh sesuatu. Bekas cakaran besar tertinggal di tanah.
Saat melihat kekaisaran yang semakin dekat, Lien Hua tiba-tiba menarik kekang kuda hingga kuda itu berhenti tiba-tiba. Dia membulatkan matanya sambil menatap segerombolan monster yang kini berusaha masuk ke kekaisaran.
'A-apa yang sebenarnya terjadi?' Lien Hua melihat sekeliling, dia tanpa sengaja menemukan sesuatu yang familiar. Jantungnya seolah berhenti berdetak sedetik, dia turun dari kuda dan berjalan ke arah benda itu dengan terhuyung-huyung.
Lien Hua mengambil sobekan kain yang amat dia kenali. 'Jangan khawatir! Mereka, mereka pasti baik-baik saja!!'
Lien Hua mengikat sobekan kain itu pada tangan kirinya, dia kemudian menutup matanya dengan kedua tangan yang diangkat.
“Blue Fire, Ice water, thunder earth, light peril.” Lien Hua membuka matanya, namun tak melihat buku itu. Dia kembali menutup matanya dan berusaha fokus, Lien Hua kembali mengucap mantra. Namun tetap tak berhasil.
Dia berdecih. 'Kalau begitu, satu-satunya cara adalah menggunakan kekuatanku sendiri!' Lien Hua melihat sekeliling, dia mengambil pedang yang tertancang di tubuh seseorang dan berjalan ke arah monster itu. Dia tau dia begitu nekat dan pasti akan mati, apalagi senjatanya sekarang hanyalah pedang besi yang bisa dihancurkan dengan sekali serangan.
Lien Hua menghela napas, dia telah mendapatkan rencana yang cukup bagus. Lien Hua mengangkat pedangnya ke depan.
“Fire blades.” Sebuah api muncul dari pedang Lien Hua, api itu merambat seperti air dan memenuhi pedang itu hingga berubah menjadi pedang api. Dia meringis pelan ketika merasa tangannya terbakar.
Lien Hua melangkah maju, langkah yang terlihat santai namun arogan. Dia sambil terus berjalan sambil menghabisi beberapa monster yang menyerang dan menghalangi jalannya.
Lien Hua terhenti di tengah-tengah para monster, dia melirik sekitaran dengan tatapan waspada namun juga terkesan tenang.
Para monster itu kini mengepungnya, tidak ada celah untuk kabur. Lien Hua masih terus mengayunkan pedangnya ke sembarang arah, tidak perduli apapun karena sekelilingnya sekarang adalah monster jahat yang akan menghabiskan kapanpun.
Karena terlalu lama menggunakan sihir, Lien Hua kehabisan mana. Pedang apinya juga berubah menjadi pedang biasa, dia berjongkok dengan pedang sebagai tumpuan. Napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari jauh.
Para monster semakin mendekatinya sedikit demi sedikit hingga salah satu dari mereka mengarahkan cakar tajamnya ke Lien Hua, saat gadis itu berpikir dia akan mati.
Sebuah pedang dari atas langit turun dan langsung memotong tangan monster itu, Lien Hua mendongak dan melihat seseorang yang tengah berdiri di tembok melompat turun dan berdiri membelakanginya.
'Astaga, kenapa dia di sini?' Lien Hua menutupi wajahnya dan terus berdoa agar pria di depannya tidak mengenalinya sama sekali, namun naasnya. Doanya tidak terkabul.
“A-aku--”
“Jangan pikirkan itu sekarang! Kau jadi dalam masalah lagi karena kecerobohanmu, lain kali. Dengar perintahku atau kau akan benar-benar aku rantai!” ancam pria yang tak lain adalah Jian.
“Jian, apa.. keluargaku baik-baik saja?”
“Keluarga yang mana?” tanya Jian sambil mengayunkan pedangnya ke arah para monster. “Yang kumaksud itu, Xia, Juan dan Xiu.”
“Oh mereka, mereka sudah mat--” Jian tak lagi melanjutkan ucapannya karena tatapan tajam dari Lien Hua, gadis itu berdecih dan berusaha berdiri sambil terus menjadikan pedangnya sebagai penopang.
Lien Hua dengan sekuat tenaga mengangkat pedangnya dan mulai mengayunkannya. “Jika kau lelah, pergilah ke ruang bawah tanah kekaisaran dan berlindung di sana!”
“Tidak! Aku akan membantumu!” kekeh Lien Hua. “Jangan keras kepala! Lihat, prajurit kekaisaran juga menyerang para monster dan membantu kita!”
“Tidak Jian! Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini!”
Kedua punggung mereka saling bertabrakan, mereka kini dikelilingi oleh para monster yang jumlahnya masih banyak. Padahal hampir setengah dari jumlah para monster memasuki istana, namun mereka seolah terus bertambah atau mungkin beregenerasi.
Jian mengumamkan mantra dan langsung menancapkan pedangnya ke tanah, sebuah api muncul dari pedangnya dan menjalar ke arah monster. Setelah, api itu seolah mengelilingi kedua orang beda gender itu.
Jian berbalik dan menatap Lien Hua yang tampak takjub, dia kemudian menyentil dahi gadis di depannya.
“Pergi bodoh! Ini bukan tempat untuk bermain-main!” Lien Hua menatapnya kesal sambil memegangi dahinya.
“Kau menyentilku lagi!”
“Sudah kukatakan, ini bukan tempat untuk bermain-main!”
“Tap--”
“Kau menyukai Pangeran Zhang Xue, kan?” tebak Jian, dia tersenyum tipis sarat arti. Lien Hua menunduk. “A-aku, maaf Jian.. aku tidak tau sejak kapan, tapi mungkin aku memang menyukainya.”
Air mata mengaliri pipi gadis itu, Jian mengusap wajah Lien Hua lembut. “Aku mengerti, perasaan bisa berubah seiring berjalannya waktu. Terima kasih karena tidak melupakanku dan janji kita, temuilah Pangeran Zhang. Dia sedang dalam keadaan yang tidak baik.”
“Apa, maksudnya?” tanya Lien Hua, Jian menunduk. “Yang Mulia meminum racun itu.”
“Racun it-- tunggu! Apa maksudnya dengan racun yang pernah dibuat ibunda??” tanya Lien Hua shock, Jian mengangguk. “Tapi kenapa racunnya bisa ada disini? Itu sudah hilang bertahun-tahun yang lalu kan?”
“Melia, saat penyerangan di istana. Seseorang mencuri racun buatan bibi dari laboratorium rahasia dan menyimpannya sebagai senjata, mungkin saja pemberontak kekaisaran.”
----------------