
'Sial, apa hidupku cuman sampai sini?' batin Lien Hua, namun dia tiba-tiba terdiam saat melihat sebuah naga muncul di depannya dan melawan bayangan putri itu.
Pandangannya yang semakin mengabur membuat Lien Hua memaksakan diri untuk terus memperhatikan naga yang kini saling bertarung dengan sang putri.
'Apa, dia yang dimaksud.. oleh Juan?' Lien Hua langsung terjatuh dan tak sadarkan diri.
...---------------...
Lien Hua membuka matanya, dia mengerjap beberapa kali dan menyadari dirinya tidak berada di tempat dirinya pingsan tadi.
Dia bangun dan melihat sekeliling dengan wajah bingung, Lien Hua menyentuh kepalanya yang berdenyut nyeri. Seketika, selintas ingatan muncul di pikirannya. Pandangannya langsung kosong selama beberapa menit sebelum dia kembali tersandar.
'Naga itu, sepertinya naga itu yang dimaksud Juan. Naga kristal yang, melindungiku? Aku pikir, dia hanya bercanda. Tapi setelah mendengar ucapan Xiu dan juga yang kulihat tadi, aku semakin yakin kalau keduanya bukanlah anak biasa. Pasti mereka menyembunyikan sesuatu!'
Lien Hua berdiri, dia menatap sekelilingnya namun tak dapat melihat naga itu. Dengan instingnya yang tajam, Lien Hua menutup matanya dan mulai meraba-raba.
Dia dapat merasakan keberadaan naga kristal tersebut, namun dia tidak bisa menyentuhnya sama sekali.
“Apa kau takut padaku? Tunjukkanlah dirimu, aku tidak.. Ya, aku memang jahat.” Lien Hua membuka matanya, dia menghela napas dan kembali duduk.
“Tidak mungkin kau ingin muncul di depanku, aku sangat jahat. Pasti kau juga membenciku, atau jangan-jangan--” Lien Hua berdiri. “Setiap aku membunuh orang, kau akan membantuku untuk menghabisi pelindung mereka?” monolognya.
“Jika itu memang benar, kenapa kau mau menolong orang jahat sepertiku? Seharusnya, aku sudah lama mati karena para pelindung orang-orang yang kubunuh, tapi kau. Kau malah mengorbankan dirimu untuk menolongku, kenapa kau.. begitu baik?”
Tanpa sadar, air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia menutup matanya dan membuat air mata yang berusaha dia tahan menetes.
'Kenapa, kenapa kau sangat baik padaku yang sebenarnya orang jahat?'
...-----------------...
Lien Hua membuka matanya, dia mengerjap beberapa kali dan bangun sambil mengucek matanya.
Lien Hua sedikit mendongak ke arah jam dinding, matanya seketika membulat ketika melihat sudah jam 08 : 23 WIB.
Dengan langkah terburu-buru, dia berlari ke kamar mandi. Hanya butuh 5 menit baginya untuk mandi dan keluar dengan seragam akademi yang telah melekat.
'Sial, bisa-bisanya aku terlambat di hari pertama!' Lien Hua mengikat rambutnya dan langsung keluar asrama, dia merutuki kebodohannya yang bisa terlambat di hari pertamanya sekolah.
Namun, sampainya di kelas. Dia tidak menemukan siapapun, bahkan di kelas C1 yang berada di dekat kelasnya juga kosong.
'Kenapa semuanya sangat sepi? Apa semua orang belajar di luar? Ah mustahil!' Lien Hua menghela napas, dia berjalan ke arah lapangan. Dan benar saja, semua siswa-siswi tengah berkumpul dan berkerumun di sana.
“Ada apa?” tanya Lien Hua pada salah satu murid.
“Pangeran Yu, dia..” murid itu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Dia telah mati.” Keduanya menoleh ke asal suara, Lien Hua langsung mengumpat dalam hati ketika melihat siapa yang datang.
'Sial, dia memang Zhang Xue!'
“S-salam pangeran Xue.” Murid tersebut menunduk hormat, Lien Hua juga melakukan hal yang sama meski dia hanya diam saja.
“Hm, bagaimana dengan mayat Pangeran Yu?”
“Sedang diperiksa, Pangeran. Hanya ada satu bekas tusukan di bagian perutnya, dan sepertinya. Pangeran Yu mati karena kehabisan darah,” jawab murid itu, Lien Hua menoleh ke arah kerumunan orang.
'Siapa yang membunuhnya? Aku tidak membunuhnya kemarin!' Dengan rasa penasaran yang tinggi, Lien Hua menggeser beberapa murid dan Berhasil melihat para Profesor yang masih memeriksa mayat sang pangeran.
'Luka tusukan yang kubuat tidak terlalu parah, meskipun dia kehilangan darah. Itu juga tidak akan sampai membunuhnya, tapi ini. Dia mati tanpa sebab, atau.. bisa saja salah satu senior atau kakek tua itu yang membunuhnya!' Lien Hua tenggelam dalam pemikirannya sendiri, hingga dirinya tidak sadar dipanggil oleh profesor.
“Nona Li!”
...----------------...
“Emm, ada apa ya. Profesor?” Lien Hua memberanikan diri untuk bertanya, profesor dengan papan nama Aliya itu menatap Lien Hua dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Nona Li, di mana kau kemarin malam?”
“Aku? Tentu saja di asrama.” Lien Hua menatap tak bersalah Profesor Aliya yang menatapnya penuh selidik.
“Benarkah? Kemarin ada siswi bernama Jia yang ke asramamu, tapi tidak ada orang.”
“S-soal itu, sebenarnya aku sempat keluar kemarin malam. Untuk membeli bahan makanan,” bohong Lien Hua, Profesor Aliya mengerutkan keningnya.
“Bahan makanan? Untuk apa, bukannya ada kafetaria di Akademi.”
“B-benar, tapi aku lebih menyukai masakan yang kubuat. Itu sebabnya aku tidak ke Kafetaria.”
“Begitukah?” Lien Hua mengangguk kaku, Profesor Aliya masih saja menatapnya penuh selidik.
“Baiklah, kau boleh keluar.”
Lien Hua mengangguk kecil, dia berjalan keluar dan membuka pintu. Setelah pintu kembali dia tutup, dia menghela napas lega.
'Syukurlah aku tidak ketahuan, tapi sebenarnya. Siapa yang membunuhnya?' Lien Hua berjalan pergi dengan pikiran yang berkecamuk.
...---------------...
“Bagaimana?”
“Yang Mulia, sepertinya memang dia orang itu. Tapi saya belum bisa memastikan secara pasti, karena dia sendiri tidak mengenal dirinya,” kata prajurit yang menunduk di depan sang pria yang selalu duduk di kursi kebesarannya.
“Cari tau secara rinci, dan beritahu profesor Aliya untuk selalu mengawasinya. Awasi juga adik-adik bodohku, jangan sampai mereka tau keberadaan gadis itu.”
“Sesuai perintah Anda, Yang Mulia.”
“Pergilah!”
“Yang Mulia, sebelum itu. Ada yang ingin saya bicarakan,” kata prajurit dengan terbata-bata, pria di depannya mengerutkan keningnya sambil mengetuk-ngetuk sandaran kursi.
“Bicaralah.”
Prajurit itu memberikan satu amplop, pria itu mengambil amplop tersebut dan membukanya. Terdapat beberapa gambar orang-orang di dalamnya dan juga bercak darah.
“Apa ini?”
“Yang Mulia, itu adalah foto semua orang yang dibunuh secara tragis. Dan sepertinya, orang yang melakukannya sama seperti orang yang membunuh Baron.” Prajurit itu masih Sentiasa menunduk, dia tidak berani menatap wajah sang pria yang dipanggil "Yang Mulia" itu.
“Hmm.. baiklah, selidiki orang itu. Jangan sampai dia menargetkan dia.”
“Baik, Yang Mulia.”
...----------------...
'Huaa, aku merindukan bulu halus Black! Bagaimana ya keadaan Juan dan Xiu? Apa Xia akan sangat lama? Aku bosan! Tidak ada misi, kakek tua juga sudah tidak memberi misi apapun dalam beberapa jam ini.'
Lien Hua membalik halaman buku yang dibacanya dengan bosan, dia melirik sekeliling dan hanya menemukan dua sampai tiga murid yang ada di perpustakaan.
Lien Hua menghela napas, dia kembali membalik halaman buku hingga mencapai akhir.
...----------------...