Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 14. Lian



Lima bulan telah berlalu dengan cepat, selama itu juga. L tidak pernah lagi memberikan misi pada Lien Hua dan membuat kesal sekaligus bosan.


“Ada apa, Hua? Kenapa wajahmu sangat masam.” Lien Hua yang sedang dalam mode kesal menoleh ke arah suara, dia memaksakan senyum.


“Tidak apa-apa, Lian. Aku hanya merasa tidak enak badan.”


“Begitu ya? Apa mau ke perpustakaan? Katanya ada beberapa buku yang baru saja diantar masuk.” Lien Hua mengangguk kecil, dia kemudian menggandeng tangan Lian dan berjalan ke perpustakaan.


...----------------...


“Lian, apa aku boleh bertanya?” tanya Lien Hua tiba-tiba dan membuat fokus Lian pecah, dia menoleh ke arah Lien Hua dan mengangguk.


“Apa kau, benar-benar hanya seorang bangsawan dari desa?”


Lian seketika terbatuk-batuk, dia mengangguk dengan wajah tegang. “T-tentu saja, apa kau curiga dengan sahabat tiga bulanmu ini?”


“Bukan curiga, tapi sangat yakin! Karena, dari gerak-gerik mu. Kau mirip seperti bangsawan yang, terlatih?” Lien Hua mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, dia tengah mencerna ucapannya barusan.


“A-ah soal itu, aku memang dilatih sejak kecil agar menjadi bangsawan sejati.”


“Begitu ya,” gumam Lien Hua, dia kembali membaca bukunya dan membuat Lian menghela napas lega. Dia kembali membaca bukunya meski sesekali melirik Lien Hua.


“Oh iya, Hua. Apa kau ingin ke pesta permaisuri besok malam?”


Lien Hua menoleh ke arah Lian yang masih menatap bukunya. “Entahlah, mungkin aku tidak pergi. Lagipula, aku tidak memiliki undangan dan juga tidak ingin pergi.” Lien Hua kembali menatap bukunya, dia membalik halaman buku. Matanya tampak sedikit bercahaya ketika melihat isi halaman yang baru saja dibaliknya.


Hanya beberapa detik sebelum semuanya kembali normal, Lien Hua berkedip beberapa kali dengan wajah bingung. Dia mengucek matanya pelan dan menoleh ke arah jendela.


“Ada apa, Lien? Apa kau tidak enak badan?” tanya Lian yang merasa aneh dengan perubahan sikap Lien Hua.


“Ah tidak, aku hanya pusing saja. Mungkin nanti akan lebih baik.”


“Yasudah, kau kembalilah ke asrama. Hari sudah mulai gelap, jangan berkeliaran kemana-mana. Pembunuh yang menghabisi pangeran Yu masih belum ditemukan dan mungkin masih berkeliaran di sekitar sini, hati-hatilah!” Lien Hua mengangguk kecil, Lian berdiri dan meletakkan bukunya di rak buku.


Dia kemudian berjalan keluar dan meninggalkan Lien Hua yang masih bergulat dengan pikirannya sendiri.


Waktu berlalu dengan cepat, hingga penerangan di perpustakaan padam dan membuat Lien Hua tersadar. Dia menoleh dan melihat sekelilingnya yang gelap gulita.


Lien Hua berdiri dan berjalan keluar sambil menenteng buku yang belum selesai dia bawa.


Lien Hua membuka pintu perpustakaan dengan sangat pelan, dia menoleh ke sekitaran yang benar-benar gelap tanpa penerangan sedikitpun.


Dengan langkah ragu, Lien Hua menutup pintu dan berjalan menuju asramanya dan menjadikan dinding sebagai petunjuk arah.


Lien Hua berdecih ketika tidak ada lagi tembok yang bisa dia jadikan petunjuk arah. 'Menyebalkan! Kalau saja aku tau akan seperti ini, aku tidak akan berada di perpustakaan selama itu!'


Dengan pelan dan ragu, Lien Hua melangkah sedikit demi sedikit sambil memegang erat bukunya. 'Argh, aku benci kegelapan! Kalau disuruh memilih, mungkin aku lebih memilih melihat orang dikuliti hidup-hidup daripada berada di tengah kegelapan!'


Tiba-tiba, bayangan seseorang lewat dengan cepat di belakang Lien Hua dan membuatnya mematung. Tangannya bergetar ketakutan. 'Sial, sial, sial!! Bodoh kau Lilia!' Lien Hua mempercepat langkahnya hingga akhirnya sampai di depan gedung putri, dia membuka pintu dan berjalan masuk.


Dia kembali menempelkan tangannya di dinding, dengan mata tertutup. Lien Hua berjalan dengan pasti menuju ke asramanya.


Dia dengan lancar berjalan tanpa terjatuh sedikitpun, hingga hembusan angin terasa di telinganya dan membuatnya geli. Namun bukan itu yang membuat Lien Hua terkejut sekaligus takut.


'Tunggu, tunggu, tunggu! Nggak mungkin kan angin biasa yang pas banget masuk ke telinga aku, apa jangan-jangan.'


“Wah, ternyata pembunuh berdarah dingin sepertimu bisa takut juga ya.” Suara serak namun juga familiar langsung mengalun di telinga Lien Hua, dia membuka matanya dan menoleh.


“K-kau, apa yang kau lakukan di sini? Dan apa maksudmu pembunuh berdarah dingin?” tanya Lien Hua pura-pura tak mengerti, Zhang Xue menghela napas pelan.


“Nona Li, aku tau. Yang membunuh pangeran Yu lima bulan yang lalu adalah kau, tidak perlu berbohong padaku. Karena itu hanya percuma.”


“A-apa maksudmu?? Kau menuduhku?”


“Bukan menuduh, aku punya buktinya. Nona Li.” Zhang Xue merogoh saku celananya, dia mengeluarkan sebuah benda yang dibungkus kain putih, saat kain tersebut dilepas. Lien Hua membulatkan matanya, dia dapat melihat dengan jelas karena bantuan cahaya bulan dan juga benda itu yang agak bersinar.


'Belati itu, itu belati yang tidak sengaja kutinggalkan lima bulan lalu! Aku pikir belatinya sudah hilang, ternyata diambil oleh Zhang Xue. Jika dia memberikannya pada Profesor, sudah pasti penyamaran ku akan terbongkar!' Lien Hua mengigit kukunya frustasi, dia menatap lurus Zhang Xue yang selalu memakai penutup matanya.


“Kau berpura-pura buta kan? Jangan berbohong lagi dan tunjukkan dirimu yang sebenarnya, pangeran Xue,” ucap Lien Hua dengan nada datar, tatapannya yang khawatir berubah menjadi tatapan penuh waspada.


“Apa maksudmu, Nona Li? Aku tidak berpura-pura, aku memang buta dan tidak bisa melihat apa-apa kecuali kegelapan.”


“Begitukah?” Lien Hua mengambil belati itu dan langsung mengarahkannya pada leher Zhang Xue.


'Jika aku membunuhnya sekarang, aku tidak akan ketahuan.. kan?'


“Ada apa, Nona Li? Apa kau mencoba membunuhku?”


Lien Hua menatapnya dengan tatapan datar. “Diam, atau kau.. akan mati,” gumam Lien Hua yang didengar oleh Zhang Xue.


“Ap--”


Lien Hua langsung melempar belatinya ke arah dinding di belakang Zhang Xue, setelah itu. Muncul darah di dinding, belati yang menancap di dinding jatuh ke tanah.


Lien Hua memperhatikan pria transparan yang sedari tadi memperhatikannya dan kini tengah terkapar dengan seluruh badan yang kembali terlihat.


'Sial, apa organisasi berniat membunuhku?' Secara refleks, Lien Hua menggenggam tangan Zhang Xue dan berlari keluar dari asrama putri.


Dia berlari secepat mungkin hingga langkahnya dihadang oleh beberapa orang bertopeng, Lien Hua menarik Zhang Xue agar bersembunyi di belakangnya. Dia mengangkat tangannya, sebuah belati langsung terbang dan ditangkap dengan mudah olehnya.


Lien Hua menatap orang-orang yang kini mengelilinginya dengan pedang dan juga tongkat sihir.


'Aku terkepung!'


...----------------...