
Lien Hua menatap profesor di depan podium dengan tatapan bosan.
“Baik semuanya, pelajaran hari ini telah selesai.” Profesor merapikan buku-bukunya dan berjalan keluar, disusul murid-murid yang lain. Kecuali Lien Hua yang masih diam di dalam kelas sambil memikirkan hal penting.
'Bagaimana ya, caranya menghilangkan efek dari pil itu?' Lien Hua mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan kuas bulu.
Suara ketukan pintu membuat Lien Hua tersadar dari lamunannya, dia menoleh ke asal suara dengan kening berkerut.
“Ada apa?” tanya Lien Hua bingung.
“Apa kau masih sibuk?” Lien Hua memiringkan kepalanya ke samping, tampak bingung dengan pertanyaan pria yang tengah berdiri di mulut pintu.
“Masih, ada apa memang?”
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan.”
“Haha, tidak terima kasih. Aku sudah kapok jalan-jalan bersama kau.” Lien Hua tertawa hambar.
“Ahaha, begitu kah? Baiklah Nona Li, jika ada waktu. Mari berjalan-jalan bersama.” Pria itu melangkah pergi dan membuat Lien Hua menghela napas, dia kembali pada kegiatan awalnya. Yaitu melamun.
“Nona Li Lien Hua?”
“Nona Li!!”
“Ya?” jawab Lien Hua refleks, dia menatap bingung profesor wanita yang sedari tadi memanggil namanya.
“Apa kau melamun?”
“Maaf Profesor, saya tidak menyadari kehadiran anda.” Profesor wanita itu menghela napas. “Tidak apa-apa, bisa ikut saya ke ruang para profesor sebentar?”
“Em, baiklah.” Lien Hua berdiri dan mengikuti Profesor yang sudah lebih dulu berjalan pergi.
--------------
Lien Hua menatap semua Profesor yang juga menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda. “Nona, langsung saja. Apa kau pernah melihat buku suci ini?” tanya Profesor Alice sambil memperlihatkan foto buku yang amat dikenalinya.
“Ada apa ya?”
“Jawab saja, apa kau pernah melihat buku suci!?” tanya Profesor Agra tegas, namun hal itu tak membuat Lien Hua gentar sama sekali.
“Apa urusannya dengan para profesor?” Lien Hua mengubah nada bicaranya menjadi datar, tidak ada wajah takut ataupun khawatir yang terlihat di wajahnya sama sekali.
“Nona Li, kami para profesor harus memastikan tidak ada yang memiliki buku itu. Buku suci hanya dimiliki oleh para penyihir tingkat tinggi, sementara penyihir tingkat tinggi yang masih hidup sekarang ada sepuluh orang. Sembilan lainnya sudah diketahui siapa, tapi penyihir kesepuluh tidak diketahui meski telah mencari di seluruh negara.”
Lien Hua berkedip beberapa kali dengan wajah polos, dia menunjuk dirinya sendiri. “Lalu apa hubungannya denganku? Aku tidak tau siapa pemilik buku suci itu!”
“Oleh sebab itu, kami ingin kau menyerahkan buku itu agar para profesor bisa mengetahui pemilik buku suci yang kesepuluh dan menyempurnakan pemanggilan--”
“Pemanggilan naga legendaris, kan?” lanjut Lien Hua diakhiri Seringai kecil, profesor menghela napas dan mengangguk.
Lien Hua memiringkan badan dan kepalanya ke kanan-kiri dengan senyum manis. “Bagaimana ya? Aku sendiri tidak ingin kehilangan buku itu.”
“Ya, Profesor. Aku memiliki buku itu.” Lien Hua berjalan ke arah meja Profesor Agra dan mengambil sebuah Dokumen.
“Bukankah sembilan penyihir sudah cukup untuk memanggil pohon ajaib? Sementara pohon ajaib sendiri bisa mengabulkan satu permohonan setiap setahun, jadi apa bedanya dengan naga legendaris? Lupakan saja soal penyihir ke sepuluh itu, kalian tidak mungkin bisa menemukannya.” Lien Hua membuka dokumen itu dan membaca daftar hewan spirit yang sudah pernah dijumpai.
Dia menutup dokumen dan meletakkannya kembali ke meja, Lien Hua menatap para Profesor bergantian.
“Profesor, aku harap kalian tidak bertindak gegabah. Dari buku tua yang aku baca, penyihir ke sepuluh itu sangat mudah tersinggung dan juga kejam. Jadi jangan sampai salah bicara di depannya atau kalian--” Lien Hua mengarahkan telunjuknya ke Profesor Agra dan menggerakkannya ke profesor Alice yang berada di samping profesor Anie.
“Akan mati,” lanjut Lien Hua dengan jari telunjuk yang seolah menggores tenggorokannya sendiri, dia kemudian tersenyum tipis dan berjalan pergi.
“Oh iya, satu lagi. Buku itu ada di asramaku, silahkan kesana jika kalian ingin mengambilnya,” kata Lien Hua sebelum berjalan keluar sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
----------------
“Yang Mulia--”
“Cukup!” Pria yang dipanggil Yang Mulia itu mengangkat sebelah tangannya dengan wajah dingin.
“Sudah aku katakan, bukan? Lindungi gadis itu dan jangan biarkan adik bodohku mengetahui dia, lalu kenapa Lian bisa dekat dengannya!?”
Prajurit yang tengah menunduk itu bergetar ketakutan. “Maafkan kelalaian kami, Yang Mulia. Kami tidak menyangka Pangeran akan mengambil inisiatif untuk mendekati Nona.”
Pria yang duduk di kursi kebesarannya itu memijat pelipisnya pusing, dia mengibaskan tangannya dan membuat prajurit berjalan pergi.
Pria itu menoleh ke arah foto seorang wanita paruh baya yang tengah tersenyum sambil menggendong seorang bayi.
'Bagaimana agar aku bisa berdekatan denganmu? Kau sungguh tidak membuka hatimu untukku sama sekali, huh.. sikapku denganku sangat dingin, Nona Carmelia.'
----------------
Lien Hua menatap senang catatan yang ada di tangannya, setiap seminggu sekali. Xia He akan mengirimkan catatan untuk memberitahukan kegiatan Black, Juan, dan Xiu ketika dia tidak datang berkunjung.
Lien Hua menopang dagunya dan tersenyum sambil membaca setiap baris kata demi kata yang tertulis. 'Aku merindukan kalian, tapi aku juga tidak bisa mengunjungi kalian dalam beberapa bulan ke depan. Misi yang diberikan kakek tua itu benar-benar tidak masuk akal! Bagaimana mungkin aku yang seorang pembunuh berdarah dingin malah disuruh mengumpulkan informasi--'
'Sekarang aku bukan lagi pembunuh berdarah dingin, hm. Dia telah mati saat identitas Lilia menghilang.' Lien Hua bersandar dan meletakkan catatan itu di meja.
“Bagaimana ya, agar aku bisa kembali ke ragaku di dunia nyata?” gumam Lien Hua sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya.
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Lien Hua terkejut dan hampir saja terjatuh dari kursi yang didudukinya, dia menghela napas lega sambil mengusap dadanya pelan.
Suara ketukan pintu kembali terdengar dan membuat Lien Hua geram, dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Lien Hua hendak memaki orang yang mengetuk pintu asramanya, namun niatnya langsung pupus ketika melihat siapa yang datang.
“Ah, Profesor Agra. Ingin mengambil buku suci itu ya? Tunggu sebentar, akan kuambilkan.” Lien Hua berjalan menuju laci lemarinya, dia membuka laci itu dan mengeluarkan buku suci yang ditemukannya.
'Agak berdebu, pasti karena aku tidak pernah menyentuhnya lagi,' batin Lien Hua sambil menepuk-nepuk buku itu, dia kemudian berjalan ke arah profesor dan menyerahkan.
“Nah, sudah selesai kan? Sekarang aku tidak ada urusan lagi dengan kalian, jadi--” Tatapan Lien Hua berubah datar. “Jangan mengangguku atau kalian akan tau akibatnya!”
----------------