Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 32. Ingatan masa lalu(2)



Melia menangis dalam diam, pria itu mendorongnya hingga terjatuh ke bawah. Melia terisak sambil memegangi dahinya yang berdarah, gadis kecil itu berusaha meraih sang ibunda yang telah meregang nyawa.


Seseorang tiba-tiba menariknya dari belakang, Lien Hua meneguk salivanya.


'Menteri Li? Apa dia--'


“Lepaskan ibuku,” ucap Melia memelas, Menteri Li menatap pria yang mengenakan baju besi.


“Yang Mulia, kita apakan gadis ini?”


“Habisi dia, jika dia bertahan dan tumbuh besar. Maka dia akan menjadi ancaman besar untuk kita!” titah pria yang dipanggil Yang Mulia.


“Tuan Li! Kau ingin naik pangkat menjadi Menteri kan? Jadi dengarkan ucapanku dan jangan memberontak!” Menteri Li hanya diam, dia menatap lekat Melia yang Sesegukan.


“Baik, Yang Mulia.” Menteri Li mengeluarkan pedang dari sarung pedangnya, dia kemudian mendorong Melia menjauh dan mengarahkan pedangnya tepat di jantung Melia.


Setelahnya, dia langsung menusuk jantung Melia. Pria itu tersenyum bahagia, dia memasukkan pedangnya kembali ke sarung pedang dan berjalan pergi.


Menteri Li yang melihat itu hanya menatap dalam diam, dia menoleh ke arah Melia dan berjongkok di depannya.


Menteri Li mengambil sesuatu di tangan Melia, sebuah jimat pelindung khusus yang hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan.


Jimat itu berangsur-angsur menghilang, Melia membuka matanya. “Aku, di mana?”


“Lien Hua, kamu tertidur di sini. Aku kita pulang,” ucap Menteri dengan suara dan tatapan yang lembut, Lien Hua sampai menatap takjub.


'Wow, pada anaknya sendiri dia kasar. Tapi pada gadis lain dia lembut, eh tapi. Kenapa dia memanggilnya Lien Hua? Apa dia-- tunggu, apa maksudnya anak kecil itu adalah aku, maksudku Lien Hua asli di saat masih kecil??'


“Paman siapa?” tanya Melia sambil mengucek matanya. “Aku ayahmu, kau tadi mengikuti Ayahanda kemari dan tertidur.”


Melia mengangguk kecil, Menteri Li menggendong Melia dan berjalan pergi. Gadis kecil itu bersandar di dada bidang Menteri Li tanpa menyadari kehadiran mayat di belakangnya.


Mata wanita itu menatap lurus ke arah Melia, mata penuh harap dan benci.


Tiba-tiba, tempat yang ditempati Lien Hua kembali berubah. Kali ini semuanya berwarna putih tanpa batas.


Gaunnya yang berwarna merah darah berubah menjadi putih, namun tanda api berwarna merah di dahinya masih ada. rambutnya yang tadinya terkepang tiba-tiba terurai indah dengan mahkota bunga di kepalanya.


Seorang wanita dengan gaun putih tiba-tiba muncul di depannya, wajahnya sangat familiar bagi Lien Hua. Gadis itu mengangkat tangannya yang gemetar dan pelan-pelan menyentuh wajah wanita itu.


“I-ibunda?” tanya Lien Hua dengan nada bergetar.


“Carmelia, maafkan Ibunda karena tidak bisa melindungimu dari penjahat. Ibunda sebenarnya adalah keturunan dari pemilik buku suci pertama, Ibunda tidak pernah membiarkanmu keluar karena diluar sana sangat banyak bahaya yang mengincar nyawamu. Kelak, ketika kamu besar. Kami akan memiliki kekuatan yang besar, sebesar kekuatan dewa langit.” Air mata wanita itu tiba-tiba mengaliri pipinya.


“Tuan berhasil melindungi Xue dan membawanya pergi jauh dari kerajaan, tapi Ibunda gagal membawamu pergi dan menyelamatkanmu. Kerajaan kita telah hancur karena penyerangan dari kekaisaran yang tiba-tiba, mereka menginginkanmu. Carmelia, mereka menginginkan jantungmu. Jika seseorang membunuh dan mengeluarkan jantungmu, maka kekuatan besar yang tersembunyi dalam dirimu akan pindah pada orang itu dan kemungkinan akhir dunia akan berakhir. Ibunda tidak tau bagaimana dan berapa umurmu sekarang, tapi Ibunda yakin. Kau akan menjadi gadis yang baik hati dan selalu menolong siapapun, Sayang. Jangan mati dan jangan mendekati keluarga kekaisaran, mereka semua sangat berbahaya bagimu. Jika kau ingin tau apapun lagi, temuilah Jian. Dia selalu menunggumu setiap hari di hutan Dewi.”


Wanita itu berangsur-angsur menghilang seperti debu, Lien Hua masih diam dan mencerna semuanya. Sebelumnya, dia hanya menebak gadis kecil yang dibawa Menteri Li itu adalah dia. Dan setelah mendengar ucapan wanita yang tak lain adalah ibunya itu, dia semakin percaya kalau dia adalah gadis kecil itu.


Senyum manis yang terlihat menyedihkan muncul di wajah Lien Hua. “I-ibunda, Ayahanda, Kak Xue, dan Jian. K-kalian semua.” Mata Lien Hua berkaca-kaca.


“Bagaimana kabar pria aneh itu? Selalu saja mengucapkan kata ‘Aku akan menikahimu ketika kita besar nanti’ dasar.”


Sebuah kegelapan tiba-tiba muncul di depan Lien Hua, kegelapan itu semakin membesar dan melahapnya. Lien Hua tak bisa bergerak kemanapun, badannya seolah dirantai oleh sesuatu.


----------------


Lien Hua membuka matanya, matanya sedikit membulat ketika melihat dimana dia berada.


Lien Hua berusaha membuka ikatan tali di tangannya, dan sialnya lagi. Sebuah kalung dengan liontin serigala tergantung di lehernya.


'Sial, gara-gara liontin ini. Aku jadi tidak bisa menggunakan sihir!' batin Lien Hua, Profesor Agra dan para Profesor lain berjalan ke arahnya sambil berbincang-bincang.


“Oh, Nona Li. Kau sudah sadar.” Lien Hua menatap kesal Profesor Alice. “Apa yang kalian lakukan!?”


“Maafkan kami, Nona Li. Tapi kami akan mengorbankanmu agar bisa menunda para monster untuk menyerang manusia.”


“Apa maksudnya kau akan mengorbankanku demi kepentingan kalian??” tanya Lien Hua ngegas.


“Nona Li! Kau seharusnya bersyukur karena bisa berjaga untuk manusia! Dan juga, bukan hanya kau yang akan dikorbankan.” Profesor Agra bergeser ke samping, rahang Lien Hua mengeras melihat siapa yang terikat di pohon dengan keadaan terikat dan mulut yang disumpal.


“Apa kalian gila?? Profesor, bukankah dia adikmu!? Dan Profesor Hanna itu adalah tunanganmu kan??”


Tatapan para Profesor tertuju ke Lien Hua, tatapan terkejut yang tidak bisa mereka sembunyikan. “Diam!”


Profesor Agra melirik Profesor Alice. “Bagaimana dengan utusan dari raja iblis?”


“Mereka sedang kemari, Profesor. Mungkin sebentar lagi mereka datang.”


“Itu mereka!” salah satu Profesor menunjuk ke arah yang dimaksud, para Profesor lain menoleh ke arah yang ditunjuk dan melihat seorang pria dengan beberapa hewan setengah manusia yang berjalan ke arah mereka.


Mata Lien Hua tampak memicing, dia seolah familiar dengan pria yang memimpin mereka.


Para Profesor segera memberi jalan, pria yang memimpin itu berjalan ke arah Lien Hua dan menatapnya dingin.


“T-tuan Yelu.”


“Hm, apa ini gadis yang kalian maksud?”


'Tatapan dingin itu, suara yang serak dan familiar, nama Yelu. Yelu, Yelu. Ah benar!! Dia adalah orang kepercayaan Jian! Berarti pria aneh itu masih hidup? Tapi di mana dia??' Lien Hua menoleh ke kanan kiri seolah mencari sesuatu.


Pria yang dipanggil Yelu menatapnya datar, ada kilatan kesal di matanya. Dia langsung mencengkram rahang Lien Hua dengan keras.


“Beraninya kau tidak sopan padaku!”


----------------