
Lima tahun berlalu sejak kejadian menggemparkan itu, kekaisaran mulai kembali pulih dan tenang. Tidak ada hal spesial.
Seorang gadis dengan tanda berbentuk api di dahinya itu kini tengah duduk di bangku taman dengan senyum mengembang.
“Carmelia.”
Carmelia menoleh, senyuman di wajahnya semakin mengembang. Dia berdiri dan menghampiri pria yang memanggilnya tadi.
“Aku pikir kau sangat lemah sehingga mati diserang racun, ternyata kau lumayan juga ya.” Carmelia melipat tangannya sambil memperhatikan pria di depannya.
Pria yang tak lain adalah Zhang Xue itu mengusap kepala gadis di depannya lembut. “Ini semua juga karena kamu, kalau aja waktu itu kak Xue tidak menolongmu. Mungkin kamu akan benar-benar mati karena ulahmu sendiri.” Zhang Xue mencubit hidung Carmelia hingga memerah.
Carmelia membelakangi Zhang Xue dan berjalan ke arah salah satu bunga, dia memetik bunga Peony itu dan melemparnya ke langit.
“Aku juga berpikir aku telah mati.” Carmelia menoleh ke arah Zhang Xue dengan senyum manisnya. “Namun karena mengingat aku harus memberimu pelajaran, aku tidak jadi mati deh.”
“Alasan.”
Carmelia terkekeh, dia kemudian menatap berbinar ke belakang Zhang Xue.
Carmelia berlari ke arah Zhang Xue dan melewati pria itu, dia memeluk Wang Xuemin yang mengenakan tongkat.
“Kakak, selamat pagi.”
“Selamat pagi, bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Wang Xuemin sambil mengusap rambut Carmelia lembut, Zhang Xue berdecih.
“Aku sudah lebih baik, seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kakak begitu nekat menolongku lima tahun yang lalu? Kalau kakak ikut mati, bagaimana??”
Carmelia membantu Wang Xuemin untuk duduk di bangku taman.
“Kalau kau mati waktu itu, kakak pasti tidak akan memaafkan diri kakak sendiri. Bersyukur karena Adrey memberi tahu kakak sebelumnya, jadi kakak sempat melindungimu.”
Carmelia duduk di samping Wang Xuemin, dia kemudian bersandar di bahu kakaknya itu.
“Apa-apaan ini, padahal aku kekasihnya. Tapi dia malah bermanja-manja dan bermesraan dengan orang lain,” gumam Zhang Xue.
“Itu sebabnya, teman. Jangan hanya bergantung pada satu wanita.” Jian merangkul pundak Zhang Xue, pria itu menatap sinis sahabat sekaligus cinta pertama dari kekasihnya.
Dia langsung menepis tangan Jian kasar.
“Hahaha, apa kau cemburu. Teman?” tanya Jian dengan alis yang dinaik turunkan, Zhang Xue berdecak. Dia berjalan pergi dan membuat Jian semakin tertawa terbahak-bahak.
Namun sedetik kemudian, dia langsung meringis kesakitan. Jian menoleh dan melihat Audrey yang menatapnya kesal sekaligus marah.
“Kau! Sudah kubilang kau dihukum untuk tidak keluar ruangan selama sehari! Ternyata kau masih berani ya.” Audrey menggulung lengan bajunya, dia hendak menjewer telinga Jian lagi.
“Kalian berdua, kalau mau manja-manjaan jangan di sini! Mengganggu pemandangan aja,” sinis Carmelia, Audrey tersenyum lebar.
“Maaf, aku akan membawanya masuk dan menghukumnya!” Audrey menjewer telinga Jian dan menarik pria itu masuk, dia sama sekali tak perduli pada Jian yang terus memohon untuk dilepaskan.
Carmelia terkekeh kecil melihat sikap keduanya, dia kemudian menoleh ke arah Wang Xuemin yang termenung.
“Kak, di mana calon kakak iparku? Bukankah dia akan kemari siang nanti, lebih baik kakak siap-siap untuk bertemu kakak ipar.”
Wang Xuemin tersenyum, dia mengacak rambut Carmelia dan berdiri. “Kakak kembali dulu, kau juga jangan terlalu lama di sini. Aku akan meminta Yenni untuk menemuimu nanti.”
Carmelia mengangguk, Wang Xuemin kembali mengacak rambut Carmelia sebelum pergi. Gadis itu bersandar dengan senyuman tipis yang selalu menghiasi wajahnya.
'Lima tahun berlalu dengan cepat, semuanya sekarang baik-baik saja. Xia, terima kasih. Terima kasih karena kau mau mengorbankan hidupmu demi diriku, kau selalu ada di saat aku benar-benar membutuhkannya.' Carmelia mendongak, menatap bulan yang masih terlihat meski langit telah berwarna biru.
“Melia! Ayo cepat, kereta kuda Juan dan Xiu sudah datang!” panggil Zhang Xue, Carmelia bangun dan berjalan ke arahnya. Dia kemudian menggandeng tangan Zhang Xue memasuki istana.
“Kau tidak keberatan kan, Zue.” Carmelia menatap wajah Zhang Xue yang memerah, senyum jail terbit di wajah gadis itu.
“Ada apa, Zue? Wajahmu tampak memerah.” Carmelia menusuk-nusuk pipi Zhang Xue dengan jemarinya, pria itu membuang muka ke arah lain.
Carmelia terkekeh kecil, dia melepaskan tangan Zhang Xue dan berlari kecil masuk ke dalam istana. Zhang Xue berdesis, dia memijat pelipisnya sambil berjalan masuk.
'Dasar, Melia. Selalu saja berani menggodaku, lihat saja nanti. Akan kubalas kau!'
----------------
“Kak Lina, Kak Xue.”
Carmelia memeluk kedua orang remaja beda gender, dia melepas pelukannya dan menatap keduanya dengan senyuman manis.
“Juan, bagaimana keadaan bibi?”
“Bibi baik, dia merawat Black dengan lembut,” jawab Juan, Xiu menatap sekeliling istana dengan tatapan takjub. Sudah hampir tiga bulan semenjak dia terakhir kali menginjakkan kakinya ke istana milik sang kakak tiri.
“Ah iya, aku lupa soal black. Sudah lama tidak bertemu dia, bagaimana sosoknya sekarang?”
“Black sangat imut dan gendut, dia juga semakin nakal dan menjengkelkan. Tapi kediaman terasa ramai karena keberadaan Black.”
Carmelia menoleh ke arah Xiu, dia mengusap rambut gadis remaja itu.
“Xiuku yang manis sudah besar ya, apa kau sudah memiliki pacar?” tanya Carmelia berbisik.
“Tentu punya, dia sangat tampan dan baik hati.” Xiu ikut berbisik.
“Ah benarkah? Aku juga ingin melihatnya.”
Keduanya menoleh ke belakang, Audrey tersenyum sambil membentuk chase tangannya. “Apa aku boleh ikut?”
Xiu dan Carmelia saling menatap, ide licik muncul di pikiran kedua gadis itu. “Boleh, kenapa tidak.”
Xiu menatap Carmelia dengan sebelah mata yang dikedipkan, sementara gadis itu sendiri mengangguk dengan senyum manis yang ditahan.
“Kak, aku dengar. Katanya jika kita ke puncak gunung tertinggi dan meminta sesuatu di malam berbintang, maka permintaanmu itu akan terkabul.”
“Benarkah?” tanya Audrey percaya, Xiu dan Carmelia mengangguk bersamaan.
“Benar, Drey. Aku juga pernah mendengar rumor tentang itu, jika kau ke sana. Apa yang ingin kau minta?”
Audrey menyentuh dagunya berpikir.
“Tentu saja dia ingin aku semakin mencintainya, iya kan?” tanya Jian percaya diri, Audrey, Xiu dan Carmelia saling bertatapan.
Mereka kembali pada aktivitas mereka tanpa mempedulikan Jian yang memasang wajah cemberut.
“Hahaha, kasihan sekali,” ejek Zhang Xue, Jian mendengus. Dia duduk di samping Wang Xuemin dan memakan cemilan untuk meredakan rasa kesalnya.
'Semuanya, aku berharap aku bisa jujur pada kalian tentang diriku yang sebenarnya. Tapi aku takut, aku takut kalian tidak akan menerimaku setelah ini. Maaf jika aku terus membohongi kalian, tapi jika boleh. Aku ingin sesekali menjadi orang yang egois, mungkin caraku ini salah. Tapi aku tidak ingin kalian semua meninggalkanku, meninggalkan Lilia yang hanya seorang gadis pembunuh bayaran.' batin Carmelia dengan senyuman tipis.
----------------