Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 33. Istana lama



“T-tuan Yelu, tolong maafkan Lien Hua. D-dia tidak tau apa-apa.”


Yelu menatap Lien Hua tajam. “Jika kau berani tidak sopan, maka kau akan habis!” Yelu menghempaskan Lien Hua hingga hampir terjatuh, gadis itu menatapnya sinis.


Namun segala umpatan di hatinya dia tahan, dia harus mengikuti Yelu agar bisa menemui Jian lagi.


Yelu berbalik badan dan berjalan pergi, Lien Hua berdecih. Dia dibantu beberapa orang berdiri dan mengikutinya dari belakang, begitupula dengan Profesor Anie dan Profesor Hanna.


Lien Hua hanya diam sambil terus mengikuti mereka, setengah jam berlalu. Lien Hua berhenti di depan istana yang dipenuhi lumut namun tetap terlihat megah dan besar.


Matanya tampak membulat ketika mengenali istana di depannya, senyum tipis terbit di wajah gadis itu. Lien Hua melirik ke sekeliling. Tidak ada yang memperhatikan ketiganya, dengan cepat. Lien Hua berlari masuk ke istana.


Yelu yang menyadari dirinya akan lari langsung mengejar dengan beberapa prajurit iblis.


Lien Hua berbelok ke kiri dan masuk ke salah satu kamar, sedangkan Yelu dan para prajurit iblis lainnya berpencar. Yelu dan tiga prajurit iblis berbelok ke kanan, sementara sisanya berbelok ke kiri.


Lien Hua menguping dari dalam ruangan, dia menghela napas lega ketika mendengar suara langkah kaki yang semakin menjauh. Lien Hua berbalik badan, dia memperhatikan sekeliling dengan senyuman tipis.


'Tak ada yang berubah, ternyata Jian merawat istana ini setelah Ibunda dan aku pergi. Tapi apa ayahanda dan Kak Xue juga di sini?'


Lien Hua berjalan ke salah satu laci meja, dia membuka laci itu dengan susah payah.


Lien Hua berusaha mengambil pisau di dalam laci, namun karena tak hati-hati. Pisau itu justru melukai jarinya, Lien Hua memegang gagang pisau dan berusaha mengiris tali yang mengikat tangannya.


Setelah bersusah payah dengan beberapa luka di tangannya, tali yang mengikat tangan Lien Hua akhirnya terlepas. Gadis itu segera melepaskan semua tali di tangannya dan melemparnya ke sembarang arah.


Lien Hua membuka kalung di lehernya, dia langsung menghancurkan liontin kalung itu dan membuangnya.


'Sekarang, aku harus menemukan kamar Jian! Tapi di mana kamarnya? Kamar di istana ini sangat banyak, dengan penjagaan seketat ini. Akan susah untuk mengecek kamar satu persatu.'


Pintu tiba-tiba terbuka dengan kasar, Lien Hua berkedip dengan mata membulat.


Pria di depannya menatapnya terkejut, hanya beberapa detik sebelum tatapannya berubah tajam. Dia melangkah ke arah Lien Hua dan langsung mencekik gadis itu hingga menabrak tembok.


“Siapa kau? Apa yang kau lakukan di kamar ini?”


“Ak-u--” Lien Hua kesulitan berbicara, Pria di depannya berdecih. Dia langsung melempar ke samping hingga menabrak tembok dan muntah darah.


'Apa pria aneh ini gila?? Jangan-jangan, otaknya koslet karena sudah lama tidak keluar istana.' batin Lien Hua sambil memegangi lehernya yang meninggalkan bekas merah, dia menghapus darah di bibirnya.


Beberapa prajurit berjalan masuk dan mengarahkan pistol sihir ke arah Lien Hua yang terduduk di lantai, seorang prajurit berjalan ke arahnya dan langsung memborgolnya. Gadis itu hanya diam menurut, tatapannya terpokus pada pria yang menatapnya dingin.


“Maafkan kami Yang Mulia, kami tidak bisa mengawasi tawanan dengan baik.”


“Hm.”


Lien Hua mengumpat dalam hati, pria di depannya itu benar-benar sangat dingin. Sedingin musim salju.


“Ikut dengan kami!” Prajurit itu memegang borgol di tangan Lien Hua, gadis itu mengikuti mereka keluar.


Dia sempat melirik pria itu sekilas, pria itu menatap foto seseorang yang mungkin ada di dalam laci.


“Jian! Aku akan menunggumu hingga kau tau!!” teriak Lien Hua yang terus ditarik oleh para prajurit, Pria itu meliriknya sekilas.


Tatapan aneh yang hanya dimengerti oleh keduanya, mata keduanya saling bertemu hingga prajurit menutup pintu kamar dan membawa Lien Hua pergi.


Pria itu menghela napas dan meletakkan foto seseorang kembali ke laci, dia menatap pantulannya di cermin.


----------------


“Nona Li, apa kau baik-baik saja? Tanganmu terluka,” panik Profesor Anie, Lien Hua menatap luka akibat goresan pisau di tangannya.


“Ah, ini hanya luka kecil. Pasti akan sembuh sebentar lagi.” Lien Hua bersandar di dinding penjara, dia menatap datar prajurit yang berpatroli.


“Nona Li, biar aku sembuhkan tanganmu.”


“Tidak perlu, aku baik-baik saja. Profesor, kalian tidak seharusnya melawan Profesor Agra dan ikut terjerumus dalam masalahku.”


“Apa yang katakan Nona Li! Seharusnya kau tidak perlu mengalami hal mengerikan ini, tapi demi membantu orang lain. Kakak jadi mengorbankan kau, aku, dan tunangannya sendiri.” Profesor Anie menoleh ke arah Profesor Hanna yang diam sambil memeluk kedua lututnya.


“Aku baik-baik saja Profesor, justru aku ingin berterima kasih pada mereka.” Ucapan Lien Hua membuat Profesor Hanna menoleh.


“Berterima kasih untuk apa?”


“Ya, karena mereka mengorbankanku. Aku jadi bisa menemukan hal yang hilang selama puluhan tahun.” Lien Hua menoleh ke arah kedua Profesor.


“Ayo kita kabur!”


Profesor Anie dan Profesor Hanna terdiam, keduanya masih dalam mode terkejut dan mencerna ucapan Lien Hua barusan.


“Melarikan diri? Kita bahkan tidak bisa keluar dari sini selama sedetik, penjagaan di istana ini benar-benar sangat ketat. Entah siapa yang membangun kerajaan ini.”


“Istana ini dibangun oleh raja terdahulu, Yang Mulia Wang Xiao. Sekiranya, istana ini telah berdiri selama beratus-ratus tahun dan tetap seperti biasanya, indah dan menawan. Namun menyimpan banyak misteri dan rahasia.”


“Rahasia?”


Lien Hua mengangguk. “Ada ruang rahasia yang hanya bisa dimasuki keluarga kerajaan, salah satunya adalah ruang penyiksaan, ruang harta, dan ruang rahasia.”


“Ra--”


“Lien Hua, Yang Mulia raja memanggilmu!” Lien Hua berdiri, dia berjalan ke arah pintu yang dibuka, Lien Hua melirik ke arah para Profesor sekilas.


Dia kemudian mengikuti Prajurit itu dengan tangan yang sudah diborgol.


'Apa altar persembahannya telah selesai dibuat?' batin Lien Hua dengan wajah datar, dia berkedip beberapa kali ketika melihat ruangan yang akan dia masuki bukanlah altar persembahan.


Tapi hanya ruangan biasa, kamar Pangeran Wang Xueming. Lien Hua melangkah masuk dan melihat orang yang familiar.


“Pergilah.”


“Aku baru saja datang, kenapa langsung disuruh pergi?” bingung Lien Hua. “Bukan kau, bodoh!” Prajurit yang mengerti ucapan dari tuannya itu menunduk hormat.


Dia menutup pintu kamar dan berjalan pergi. “Ada apa, Yang Mulia Raja. Jian.”


Jian menoleh ke arah Lien Hua, wajahnya Sentiasa datar tanpa ekspresi.


'Kalau diperhatikan lebih teliti, wajah datarnya bahkan bisa mengalahkan datarnya aspal dan tembok. Sangat-sangat menakutkan, memang pria aneh.'


“Kenapa kau menatapku begitu?”


----------------