
“Apa? Anda siapa ingin memerintah saya? Ingat ya, kita tidak memiliki hubungan apapun itu, bukankah Anda juga membenci saya?”
“Lien Hua, ibu tau ibu salah karena tidak memberitahumu kebenarannya. Tapi ibu benar-benar sangat menyayangimu, sayang. Ibu tidak ingin kehilangan kamu,” ucap wanita paruh baya itu dengan nada penuh sesal.
Lien Hua terdiam, dia bingung dengan perasaannya yang seolah bercampur aduk dan sulit dijelaskan. Setelah lama terdiam, Lien Hua berdehem.
“Baiklah, anggap saja balas budi karena sudah merawat saya. Jadi, apa permintaan Anda?”
“Lien Hua, ibu ingin kau ikut bersama kami ke istana. Dan juga--” Dia menunduk seolah memikirkan hal rumit. “Ibu ingin, kau menerima pertunangan dari Yang Mulia Raja.”
“Apa?? Apa maksud Anda, Nyonya? Kalau yang pertama saya masih bisa menerimanya, tapi permintaan kedua. Maafkan saya, saya tidak bisa mengabulkan permintaan kedua Anda!” ucap Lien Hua dengan nada sesopan mungkin.
“Lien Hua, ibu tau kau tidak ingin menerimanya. Tapi tolong, ibu mohon Lien Hua. Kabulkan permintaan kecil ibu ini.”
Lien Hua memijat pelipisnya pusing. “Baiklah, tapi ingat! Saya akan membatalkan pertunangan itu kapanpun saya mau, karena ini bukan kehendak saya!”
Wanita paruh baya menghela napas. “Baiklah, Lien Hua. Tapi tolong, jangan membatalkan pertunangan saat berhadapan dengan Raja. Jika bisa, tolong menahan diri hingga tujuh bulan. Setelah itu, terserah kau ingin membatalkan pertunangannya atau tidak.”
“Baik, tapi aku ingin bertanya satu hal. Kenapa Nyonya tidak menjodohkannya dengan salah satu putri Anda? Bukankah itu akan lebih baik, selain mempererat hubungan menteri dan Raja. Anda dan sekeluarga juga bisa mendapatkan image baik,” kata Lien Hua dengan wajah datar, dia mengambil cangkir teh dan meminumnya.
“Sebenarnya, Tuan memang ingin menjodohkan pangeran dengan Li Mei atau Li Yao. Tapi karena pangeran buta--”
“Mereka tidak ingin menerimanya?” lanjut Lien Hua, dia kemudian terkekeh geli dan meletakkan cangkir teh ke meja.
“Putri Anda benar-benar memandang fisik ya, Nyonya Menteri.”
“Nona Lina, lebih baik Anda bersikap sedikit baik pada Nyonya. Mau bagaimana pun, dia telah menjaga Anda sejak kecil,” bisik Xia He.
“Em.. benar juga, baiklah. Karena saya telah berhutang budi dan tidak ingin mengusahakan keluarga Anda lagi, jadi saya akan menerimanya dengan senang hati. Kapan Anda akan ke istana?”
“Besok lusa, terima kasih sudah mau menyelamatkan image keluarga kita. Lien Hua.”
“Kita? Hahaha, sepertinya Anda sudah salah paham Nyonya. Saya tidak melakukannya karena keluarga Anda, tapi karena harga diri saya.”
“Jadi, apa Anda ingin pergi sendiri atau saya yang mengusir Anda?”
“Baiklah, Lien Hua. Jika kau tidak ingin ibu di sini lebih lama lagi, ibu akan pergi.” dia berdiri dan menatap penuh kasih sayang pada Lien Hua yang menatapnya datar.
“Mari saya antar, Nyonya,” tawar Xia He.
...-----------------...
“Nona Lina, Anda seharusnya tidak sejahat itu pada Nyonya.”
Lien Hua yang tengah membaca buku memutar bola matanya malas ketika mendengar celoteh dari Xia He.
“Iya iya, maafkan aku. Bisa jangan ganggu aku membaca sekarang?” tanya Lien Hua sambil melirik Xia He yang diam.
“Baik Nona, saya akan membuatkan Anda makan siang.”
“Tidak perlu, aku akan makan diluar. Buatkan saja makanan ringan untukku.”
“Baik, Nona.”
...----------------...
Suara isak tangis dan teriakan menyedihkan menggema di telinga Lien Hua, namun dia hanya menatap datar seorang pria gemuk yang kini tertimpa kayu.
“Memohon, ya?” Lien Hua terkekeh kecil mendengar suara pria gemuk itu, setelah tawanya mereda. Dia menatap datar pria gemuk yang kini berusaha menyingkirkan balok kayu di atasnya.
“D-dengar! Aku ini putra dari Baron! Kalau kau tidak melepaskanku, akan kuberitahu ayahku agar membunuhmu!” ancam pria itu, Lien Hua yang merasa jengah langsung saja menginjak tangan pria itu dan membuatnya berteriak kesakitan.
“Dengar ya, Putra dari Baron. Sayang sekali kau tidak sama seperti ayahmu yang seorang terhormat.” Lien Hua melempar beberapa lembar kertas yang berisi gambar beberapa gadis dan juga tulisan.
“Bacalah, apa kau tidak berpikir kalau kau itu sangat hina! Semua penyiksaan ini adalah permintaan khusus dari para korban yang sudah kau lecehkan!”
“Selamat tinggal, Tuan Muda. Kau pasti akan masuk ke neraka!” Lien Hua mengangkat belati yang ada di tangannya dan tanpa perasaan langsung menusuk tepat di kepala pria gemuk itu, saat belati itu ditarik secara paksa.
Darah langsung bercucuran dan mengenai wajah Lien Hua, gadis itu meringis pelan sambil mengusap darah di wajahnya.
“Hah, sayang sekali. Semuanya telah hancur, sekarang, Apa yang harus ku jadikan bukti?” gumam Lien Hua tanpa rasa bersalah.
“Oh, atau kepalanya saja yang ku jadikan bukti?”
“Kau mengerjakan tugasmu dengan baik.”
Lien Hua yang mendengar suara yang familiar menoleh dan melihat pria berjubah yang kini berdiri di belakangnya, bukan hanya dia. Beberapa pria berjubah yang sama juga berdiri di belakang pria itu.
“Kakek tua, kenapa kau kemari?” tanya Lien Hua sambil berkacang pinggang.
“Lily, para seniormu ingin melihat caramu berkerja,” tunjuk pria berjubah para para pria berjubah di belakangnya.
“Halo, senior. Salam kenal.” Lien Hua menunduk dengan sopan. “Aku Lily, harap bisa mengajariku cara yang lebih baik kedepannya.”
“I-iya, baiklah. Salam kenal, tapi sepertinya kau tidak perlu diajari membunuh lagi.” pria yang berbicara melirik teman-temannya yang mengangguk membenarkan.
“Loh? Kenapa?” tanya Lien Hua dengan tatapan yang dibuat sesedih mungkin.
“Karena, tidak ada yang sesadis kau si sini,” Lien Hua menoleh ke arah L yang berbicara.
“Sadis? Padahal tadi itu baru permulaan, loh. Kalau yang kedua ini mungkin bisa dianggap sadis.” Lien Hua mengangkat tangannya, sebuah belati yang entah darimana terbang.
Semuanya menoleh ke arah datangnya pisau itu, mata mereka membulat sempurna ketika melihat seseorang yang digantung di pohon. Bukan hanya itu, badannya juga penuh luka gores dan beberapa bagian tubuhnya telah kehilangan kulit. Darah segar masih terus berjatuhan ke tanah.
“Ah, sudahlah. Aku harus kembali, jika tidak. Akan ada yang curiga, benar kan? Kakek tua.”
“Ya, ini bayaranmu.”
Pria berjubah melemparkan sekantong koin emas, Lien Hua dengan sigap menangkapnya dan tersenyum senang. “Terima kasih, aku kembali dulu.”
...----------------...
Dengan langkah pelan, Lien Hua masuk ke kamarnya lewat jendela. Namun tanpa sadar, dia meninggalkan jejak darah di jendela tanpa dia sadari.
'fyuhh, untuk saja Xia He belum bangun. Ehh? Kenapa Black bisa di sini?' Lien Hua diam sambil menatap bola bulu hitam yang tengah tertidur di kasurnya, dengan langkah yang amat pelan.
Lien Hua berjalan menuju ke kamar mandi, namun bau amis yang pekat membuat Black tersadar dan mengeong.
...----------------...