
Lien Hua menatap penuh waspada semua orang bertopeng yang kini mengelilinginya, tidak ada celah sama sekali. Mereka memegang pedang dan tongkat sihir di tangan mereka, bahkan ada satu orang yang memiliki buku suci.
'Sial, aku terkepung!' Lien Hua menoleh ke sekelilingnya, benar-benar tidak ada celah untuk kabur. Jika melawan, dia tetap akan kalah karena ada pemilik buku suci di antara mereka. Jika dia memaksakan melawan, dia akan kehabisan sihir sebelum menumbangkan semuanya.
Lien Hua melirik ke belakang, tepatnya ke arah Zhang Xue yang hanya diam berdiri di belakangnya. 'Sial, seharusnya aku tidak membawanya! Dia hanya akan menjadi beban dan juga, aku tidak seharusnya menyangkut pautkan dia dengan masalahku sekarang!'
Lien Hua tersadar akan sesuatu, setelah dia perhatian dengan seksama. Terdapat lambang kekaisaran di pakaian mereka, Lien Hua mengepalkan tangannya kesal.
Dia mengambil kuda-kuda dan siap menyerang dengan belatinya. 'Berusahalah, Lilia! Kau harus bisa. Setidaknya, habisi beberapa orang hingga ada celah dan kau bisa membawa Zhang Xue kabur!'
“Lepaskan senjatamu, dan ikut dengan kami! Jika tidak, kau akan tau akibatnya!!” ancam salah satu dari mereka, Lien Hua menghela napas pelan. Dia berdiri diam dan melempar belatinya ke tanah.
Salah satu dari mereka memungut belati itu, Lien Hua yang menyadari kelengahan orang itu lantas menggunakan sihir api yang yang dia pernah gunakan.
“Sialan, serang dia!!”
Lien Hua menyatukan tangannya di depan dada memohon dengan mata tertutup. 'Jika aku menggunakannya sekarang, aku bisa kehabisan energi sihir dalam 10 detik. Tapi aku harus nekat! Jika tidak, aku tidak mungkin bisa mendapatkan celah lagi!'
“Fire spear, dark fire” gumam Lien Hua, dia kembali membuka matanya dan menatap datar orang-orang yang mengelilinginya.
Cahaya muncul di tangannya, sinarnya membuat semua orang bertopeng menutup mata mereka karena silau yang sangat menusuk, Lien Hua memanfaatkan kesempatan itu dan langsung menarik Zhang Xue untuk lari bersama.
Belum sampai 5 detik dia berlari, napasnya mulai tak beraturan. Lien Hua berusaha agar dia tetap sadar, dia terus berlari dengan sekuat tenaga.
'Jangan sekarang! Ayolah, sihir api itu hanya bisa bertahan 7 detik!' Lien Hua menutup matanya dan terus berlari dan bersembunyi di balik tembok, beberapa orang bertopeng mengejar mereka. Dan syukurnya, tidak ada yang tau keberadaan Keduanya dan orang bertopeng itu pergi.
Lien Hua menghela napas, dia terduduk di tanah sambil mengatur napasnya yang memburu. “Nona Li, ada apa? Apa kau baik-baik saja? Siapa orang-orang tadi?”
Lien Hua mendongak ke arah Zhang Xue, ada perasaan kesal yang terbesit dalam pikiran. “Ya, aku baik-baik saja. Dan tidak usah perdulikan mereka, kau cukup pergi dari sini dan kembali ke asramamu. Sekarang!” tekan Lien Hua di akhir kalimatnya.
“Tapi Nona--”
“Pergi, Pangeran Xue!” Lien Hua masih memperhatikan sekitaran dengan waspada, Zhang Xue langsung berlari pergi ketika Lien Hua sengaja atau tidak sengaja membentaknya.
'Ah sudahlah, wanita memang emosian dan pemarah.' batin Zhang Xue.
...----------------...
'Aku yakin, itu suruhan dari pangeran kekaisaran! Tapi untuk apa dia mengejar ku, aku tidak mengenal siapa mereka dan sepertinya tidak pernah mencari masalah dengan mereka!' Lien Hua mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, semalaman dia terus dikejar oleh para prajurit kekaisaran dan akhirnya berhasil menghabisi mereka satu persatu.
Lien Hua menghela napas dan bersandar, dia mendongak dan menatap langit-langit asramanya.
Tanpa sengaja, dia menemukan satu buku lagi yang tersembunyi di antara tumpukan buku lainnya. Dengan rasa penasarannya yang melambung tinggi, Lien Hua mengeluarkan buku itu dan menatapnya dengan mata membulat sempurna.
'B-bukannya ini buku suci? Kenapa bisa ada di sini? Jika itu milik pemilik asrama ini, tidak mungkin dia tidak membawa buku yang sangat penting, kan?' Lien Hua meletakkan buku itu kembali dan langsung menutup laci, dia mengambil bukunya tadi dan berdiri.
Lien Hua berjalan ke arah sofa dan duduk. 'Siapa pemilik buku suci itu? Aneh jika seseorang sengaja meletakkannya di sana, lagipula. Buku itu dimiliki oleh penyihir tingkat tinggi.' Lien Hua menghela napas lega, dia bersandar dan membuka bukunya.
'Jika saja aku membuka buku suci itu, sudah dipastikan aku sekarang tinggal nama! Buku suci akan langsung mengeluarkan energi sihirnya dan menyebabkan orang yang memegang buku langsung mati, kecuali pemilik buku tentunya. Dan hampir saja aku mati konyol.' Lien Hua memijat pelipisnya pusing, dia kembali menghela napas.
“Apa buku itu kubuang saja ya?” gumam Lien Hua, entah kenapa. Hanya pikiran itu yang terlintas di benaknya.
Suara ketukan pintu membuat Lien Hua menoleh. “Siapa?”
“Hua, ini aku. Lian.”
Lien Hua meletakkan bukunya di meja, dia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Lien Hua membuka pintu hingga mendapatkan sedikit celah.
“Kenapa kau kemari bodoh! Bagaimana jika dilihat orang lain, kau tidak seharusnya ke asrama putri!” oceh Lien Hua, Lian menutup telinganya.
“Stthh.. makanya diam, aku ke sini diam-diam karena ingin mengajakmu ke suatu tempat nanti malam.”
“Hah? Tidak bisa! Aku ada pekerjaan lain malam nanti, kau ajak orang lain saja!” Lien Hua kembali menutup pintu asramanya, namun baru saja dia berbalik. Pintu kembali diketuk dan membuatnya kesal.
“Apalagi?” tanya Lien Hua sambil membuka pintu.
“Hua, yang ingin kuajak hanya kau.”
“Sudah kubilang tidak bisa! Aku ada urusan lain malam nanti, sudah. Jangan mengangguku, dan pergi sebelum kau dilihat profesor!” Lien Hua kembali menutup pintu asramanya, dia bersandar di pintu dan menghela napas.
'Menyebalkan sekali, emosiku jadi sulit dikontrol sejak kakek tua itu tidak memberikan misi lagi!' Lien Hua terduduk di lantai, dia memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya di antara lututnya.
'Menyebalkan!! Aku benar-benar ingin menghilangkan dari dunia fantasi ini!! Huh.. lupakan, lebih baik aku mencari cara agar bisa melihat Black, Juan, Xiu dan juga Xia. Sudah lima bulan aku tidak bertemu, aku benar-benar merindukan keempatnya.' Lien Hua tersenyum tipis saat mengingat keempatnya, hanya mereka yang selalu membuatnya kembali tenang.
Seolah ada sihir yang diberikan keempatnya hingga selalu berhasil meredakan emosinya yang tidak stabil dalam lima bulan, Lien Hua kembali menghela napas.
Dia bersandar dan menatap lurus ke dapur asramanya. 'Apa aku memasak saja ya? Mungkin itu bisa membantuku menghilangkan rasa bosan.'
...----------------...