Killer Reincarnation

Killer Reincarnation
Bab 36. Keluarga Li



Hari-hari berlalu seperti biasa, tidak ada yang spesial. Hanya dilalui dengan bosan tanpa satu pun teman, meskipun begitu. Lien Hua beberapa kali menangkap basah ketika Jian secara diam-diam melirik ke arahnya.


Lien Hua mengetuk-ngetuk jendela, dia benar-benar sedang sangat malas hari ini. Terhitung sudah hampir seminggu dia ditahan disini, selama itu juga dia harus memendam rasa rindu pada keluarganya di kediaman.


Lien Hua memukul jendela hingga pecah, hanya itu yang dilakukannya setiap hari. Membuat dirinya sendiri terluka.


Beberapa pelayan berjalan masuk dan membereskan serpihan kaca di lantai, Lien Hua masih tak bergerak di posisi yang sama. Setelah kepergian pelayan-pelayan itu.


Dia kembali pada aktivitas awalnya, yaitu melukai dirinya sendiri. Hal itu telah menjadi hobinya saat di istana itu.


Suara ketukan pintu membuat Lien Hua yang hendak memukul cermin gagal, dia membuka sedikit pintu kamarnya dan menatap bingung Jian.


“Ada apa, Yang Mulia,” tekan Lien Hua di akhir kalimatnya, Jian menggeleng dan berjalan pergi. Lien Hua menatapnya sinis, dia menutup pintu kamarnya dan duduk di kursi.


“Dasar pria aneh yang menyebalkan! Sudah mengetuk pintu kamarku, eh malah tidak mengatakan apa-apa!” gerutu Lien Hua, dia kembali mengambil ancang-ancang untuk memukul cermin. Namun kembali gagal karena suara ketukan pintu.


“Ada apa lagi??”


“Nona Lien Hua, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda.”


Lien Hua mengerutkan keningnya, dia membuka pintu kamarnya dan menatap datar seorang pelayan. “Siapa?”


“Saya kurang tau, tapi ada dua orang gadis yang seumuran Anda, dua paruh baya dan juga seorang pria.”


'Gadis seumuran, dua paruh baya dan seorang pria? Siapa yang ingin menemuiku?' Lien Hua berdehem. “Baik, aku akan ke sana sebentar lagi.”


Pelayan itu membungkuk hormat dan berjalan pergi, Lien Hua menutup pintu kamarnya dan membuka laci meja. Dia mengeluarkan perban di dalam laci dan mulai memperban tangannya. Hal itu cukup merepotkan dan susah karena dia harus bisa memperban tangannya sendiri.


Setelah memakan waktu hampir sepuluh menit, dia akhirnya selesai memperban tangannya meskipun terlihat sangat acak-acakan. Lien Hua menatap pantulan bayangannya di cermin.


'Apa aku harus membalas dendam karena Menteri memisahkanku dengan keluargaku, atau aku harus berterima kasih karena Menteri tidak membunuhku? Huh, hal itu membuatku sedari tadi pusing!' Lien Hua berjalan keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu, dia hendak menuruni tangga.


Namun tak jadi karena melihat siapa yang datang, matanya memicing curiga. Apalagi melihat pria yang familiar berdiri di antara mereka.


Seorang wanita paruh baya yang sudah menunggunya sedari tadi itu mengeluarkan air mata, wanita itu berlari kecil ke arah Lien Hua yang menuruni tangga dan memeluknya dengan erat.


“Sayang, Ibunda rindu denganmu,” kata wanita itu, namun Lien Hua hanya menatapnya datar. Tatapan yang tak bisa dijelaskan.


“Kenapa Anda datang?” Nada datar yang keluar dari mulut Lien Hua berhasil membuat tangisan wanita itu berhenti, dia melepas pelukannya dan menatap tak percaya pada putri angkatnya itu.


“L-lien Hua, k-kamu tidak menyukai kedatangan Ibunda?”


“Tolong berhenti memanggil Anda sebagai ibu saya, karena sejak dulu. Ibu saya sudah tiada, benar kan. Tuan Menteri Li.” Lien Hua mengalihkan tatapannya ke menteri Li yang langsung kaku.


“Lien Hua! Berani sekali kau tak sopan pada Ibunda!” teriak Li Yao sambil menunjuk Lien Hua, sementara gadis yang ditunjuk hanya menatap datar.


Dia menggeser Nyonya Menteri dan berjalan ke arah ketiga mantan keluarganya yang lain.


“Dengar ya, adik. Kau juga tidak boleh tidak sopan padaku, aku ini. Kakakmu,” tekan Lien Hua di akhir kalimatnya, dia menatap datar kedua adik tirinya itu.


Lien Hua menyeringai. “Lalu? Aku ini siapa? Hantu, oh aku tau. Kalian pasti berpikir kalau aku sudah mati karena dikorbankan kan. Jadi kalian kemari untuk memastikan dan merayakannya saat pulang nanti.”


“Lebih baik kalian pergi dari sini, atau aku menyuruh pengawal untuk menyeret kalian semua!” lanjut Lien Hua.


Lien Hua kemudian menatap ke arah Zhang Xue yang berdiri di antara Li Yao dan Li Mei, ada tatapan tak suka yang terpancar di matanya.


“Kau pikir! Kau itu pemilik istana ini sehingga bisa mengusir kami??” tanya Li Yao dengan nada sinis, Lien Hua melipat tangannya di depan dada.


“Kalau aku bilang, aku putri dari pemilik istana ini. Apa kalian percaya?” Lien Hua melirik menteri Li yang sudah berkeringat dingin, Li Yao dan Li Mei tertawa mengejek.


“Kau pikir kau siapa, ini istana para iblis. Kau masih hidup di sini itu hanya karena beruntung, entah kapan kau akan mati di habisi oleh mereka. Dan juga--” Li Mei menunjuk wajah Lien Hua.


“Karena kau! Kedua Profesor jadi ikut dalam masalah! Kau itu memang gadis ter--” ucapan Li Mei tergantung ketika sebuah anak panah melewati dan menggores pipinya, dia terkejut bukan main.


Li Mei memegang pipinya yang perih dan menatap takut darah di tangannya, matanya membulat dan sedikit bergetar.


Mereka semua menoleh ke asal anak panah, Jian memberikan panah itu pada salah satu prajurit. Dia dengan langkah arogan menuruni tangga dan berhenti di samping Lien Hua.


“Kenapa kalian kemari?”


“Y-yang Mulia Raja Ying.” Mereka menunduk hormat, kecuali Lien Hua yang menatap Jian tak berkedip.


“Kenapa kalian kemari?” tanya Jian lagi. “K-kami ingin menemui putri kami, Lien Hua.”


“Mereka bukan keluargaku,” kata Lien Hua cepat, Nyonya Menteri menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


“Sayang--”


“Jangan sentuh!” Lien Hua berjalan mundur karena Nyonya Menteri yang hendak memegangnya, dia menatap datar mereka semua. Kecuali Zhang Xue yang ditatap kesal dan marah.


'Cih, apa aku cemburu melihat mereka?? Yang benar saja! Aku tidak, tidak terlalu menyukainya!! Tidak mungkin kan hanya hal sepele aku jadi cemburu!!'


Jian merangkul pundak Lien Hua dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


'Ish, terlalu dekat tau!!' kesal Lien Hua, namun dia tak berkata apa-apa kecuali menghela napas dan kembali menatap ke keluarga Menteri Li.


“S-sayang, kau itu putri ibu kan.  Putri kesayangan ibu, kau masih menganggap kami keluargamu kan?”


Lien Hua menatap sinis. “Eh? Kesayangan? Keluarga? Ibu, ayah. Dan adik-adik. Sejak kapan?? Kalian hanya selalu memanjakan kedua putri kandung kalian itu!”


“Tapi Lien, kau masih memakai gelang yang keluarga Li. Jadi kau masihlah kelurga kami, kembalilah sayang. Ibunda akan menyayangi dan menjagamu lagi.”


Lien Hua menatap gelang di tangannya, tatapannya sangat sulit diartikan. Hingga gadis itu menarik paksa gelang di tangannya hingga rusak.


----------------