
Apa yang lebih hebat dari mendapatkan pengakuan kata “kekasih” dari pria yang menjadi cinta pertamamu? Tidak ada! Semua mimpi Tallulah terkabulkan dengan tindakan dadakan Jace, dunianya berubah jungkir balik dalam
sedetik.
Walau Jace melewatkan proses pendekatan personal dengan bumbu asmara seperti ilmu yang Tallulah dapatkan dari majalah Cosmopolitan, tetap saja ia tidak peduli. Hatinya terlanjur terbang ke awan. Bibir bahkan setiap sentuhan Jace di tubuh Tallulah adalah bara yang bisa menghangatkan hingga 2 musim dingin.
Bahkan tadi setelah mengantar Tallulah, kembali Jace mengecupnya ringan di depan bangunan apartemen. Jace tidak turun dari mobil karena memiliki janji bertemu dengan koleganya, Tallulah sadar diri jika ia sebagai kekasih baru belum mempunyai wewenang untuk mendampingi pemilik The Alstrom tersebut.
Apa ? The Alstrom !
“Haaaaaaah!” Tallulah berteriak kencang di dalam kamar tidur apartemennya.
Tubuh tinggi yang bergelung kemudian kembali memanjang dengan kaki dihentakkan kuat.
“Tidak, sepertinya ini mimpi.” Seru Tallulah mencubit pipinya. Tak lama kemudian ia mengadu kesakitan.
“Oh, aku tidak bermimpi.” Gumam gadis belia memiliki lesung pipi yang indah ketika tersenyum bahkan tertawa. Sama seperti hal yang dilakukannya sekarang.
Tallulah tertawa, mencengkeram bagian depan baju yang enggan ia ganti. Ada jejak tangan, tubuh dan wangi Jace di sana. Tallulah tidak mau berpisah, mungkin sepasang baju yang dipakainya tak akan pernah masuk ke dalam
mesin cuci.
Tallulah menenggelamkan wajahnya di bantal, kembali berteriak dengan manik biru yang menguraikan air mata bahagia.
“Aku berkencan dengan Jace Von Alstrom. Demi Tuhan dan malaikatnya!” wajah Tallulah memerah maksimal, garis senyuman sepertinya telah mencapai telinga sementara jantung terus memompa dengan kencangnya.
Ting !
Bunyi pesan masuk menginterupsi perayaan kebahagiaan Tallulah.
Sweety Pie, apa yang kau lakukan ? Apakah kau sudah makan malam ?
Bibir merah delima itu tergigit hingga memutih, kepalanya menggeleng dan hati mengharu biru. Selama 22 tahun hidupnya, ia tidak mendapatkan perhatian seperti ini. Mungkin juga pernah tapi Tallulah tidak memiliki perasaan yang sama.
Jace Von Alstrom adalah kekasih pertamanya, bukan berarti Tallulah tidak memiliki pemuja. Beberapa ada yang rutin mengirimkan pesan, dan banyak lainnya meninggalkan kata rayuan di unggahan sosial medianya. Apakah Tallulah tersanjung dengan para pemuja? Tentu saja jawabannya tidak. Walau ia tahu jika dari banyaknya pria itu, beberapa Tallulah kenal dengan baik.
Tidak pernah terniatkan bahkan bermimpipun Tallulah tidak berani untuk menggapai seorang designer sehebat Jace. Tallulah sebelum ini menetapkan pilihan untuk tidak menjalin hubungan percintaan, sebab ia menfokuskan diri pada karier modelnya yang sedang menanjak.
Dering telepon membuat Tallulah tersentak, hampir saja benda persegi berwarna hitam itu terlempar dari tangannya.
Matanya menari melihat nama pemanggil di layar datar ponselnya, dengan tergesa Tallulah menerima panggilan “Mr. Alstrom”.
“Halo, Mr. Alstrom.” Jawab Tallulah dengan suara serak dan bergetar.
Tallulah, apakah kau baik-baik saja? Sweety pie, kau terdengar tidak baik. Aku meminta ijin ke toilet hanya untuk meneleponmu, omong-omong pesanku tidak kau balas.
Suara Jace benar terdengar sangat khawatir, Tallulah sampai menelengkan kepala tidak percaya dengan sikap pria yang mengambil ciuman pertamanya.
“Aku baik-baik saja, Mr. Alstrom.”
Jace berdeham, jantung Tallulah meloncat.
Jace, namaku. Jace Von Alstrom, jangan pernah memanggilku lagi dengan nama belakang. By the way, apakah kau sudah makan malam ?
Tangan kiri Tallulah menutup bibirnya “Aku masih di tempat tidur, Mister…”
Sweety pie, apakah kau tidak mendengarku ?
“Eng.. Jace.” sahut Tallulah tergagap. Sungguh, ia belum terbiasa memanggil kekasihnya dengan nama depan.
Suara desahan lega dari Jace mengantarkan getaran dari daun telinga Tallulah hingga dasar hatinya.
Ya, panggil dengan itu. Dan kau belum menjawab pertanyaanku barusan.
Tallulah tersenyum mendengarkan rentetan protes Jace, kekasihnya.
“Aku belum makan malam, mungkin aku akan memesan makanan saja. Atau turun ke restoran Perancis di samping apartemen.”
Jawabanmu terdengar tidak menyakinkan, Sweety Pie. Tolong berikan aku jawaban yang pasti. Meetingku masih akan berlanjut hingga berapa jam ke depan, jadi aku tidak bisa membawakanmu makan malam.
Ponsel di genggaman Tallulah meloloskan diri begitu saja dari tangannya. Ia tidak terbiasa dengan perhatian sehebat ini.
Sadar dengan kegugupannya, Tallulah dengan cepat memungut ponselnya.
“Aku akan turun ke bawah, Jace.” jawab gadis bersurai coklat itu beranjak dari tempat tidurnya yang penuh godaan untuk terus berbaring dan mengulang kejadian Jace menciumnya.
Nah, kirimkan aku foto makanan dan piring kosongnya, Tallulah Bluebells.
…
Berita Jace dan Tallulah berkencan mengisi berita infotainment, walau sepasang kekasih itu tidak memberikan keterangan resmi tentang berita tersebut. Namun foto mereka yang sedang berciuman mesra sudah cukup menyakinkan para pencari berita beserta dunia yang mengenal Jace dan Tallulah, jika keduanya menjalin sebuah hubungan istimewa.
Telepon kantor dan ponsel Jace tak beristirahat sejak foto-foto ciumannya beredar. Keluarganya menelepon, teman-temannya mengirimkan pesan, pun Sky wanita yang pernah Jace cintai melakukan hal yang sama. supermodel itu
berteriak dengan riang memberikan ucapan selamat atas hubungan Jace dengan Tallulah.
Sky bahkan telah menodong Jace untuk segera mengikat Tallulah dalam sebuah ikatan yang lebih kuat. Ketika mendengar perkataan Sky, Jace termangu.
Sebuah kata-kata spontan dari Sky menyadarkan Jace tentang arah hubungannya dengan Tallulah. Walau terbilang masih dini namun ini merupakan jalinan cinta Jace setelah sekian lama vakum dari kehidupan asmara.
Langkah Jace mencium Tallulah di tengah kilatan blitz para paparazzi tergolong tergesa-gesa. Tapi Jace melakukan itu atas instingnya, godaan wajah cantik dan sikap gugup Tallulah membuatnya ingin kembali merasakan bibir manis si gadis belia bermanik biru.
Kemana arah hubungan ini ?
Pertanyaan itu kembali mengusik pikiran Jace.
Di depannya terdapat majalah mode yang menampilkan kekasihnya yang cantik menjadi peraga salah satu brand ternama tas wanita. Tallulah begitu bersinar, wajahnya yang sensual di gambar itu berbanding terbalik dengan
keseharian sang model yang sangat gugup ketika berada di dekat Jace.
Sebuah senyuman tersungging di bibir Jace memandang gambar Tallulah dengan lekat, sesaat itu juga rasa rindu hadir menyusupi hatinya.
Aku merindukanmu, Sweety Pie. Bagaimana castingnya? Tangan Jace sangat lincah dan tanpa berpikir panjang mengirimkan pesan kepada Tallulah.
Jantung Jace berdebar menunggu balasan pesan kekasihnya. Sembari menunggu ia mengerjakan pekerjaannya. Tadi pagi Tallulah telah mengatakan jika akan menjalani casting untuk fashion show brand gaun cauture.
Jace mengenal baik pemilik brand tersebut, ia tidak perlu melakukan sebuah tindakan nepotisme demi memuluskan karier kekasihnya, Jace sangat yakin jika Tallulah akan mendapatkan pekerjaan itu.
Aku diterima, Jace. Sekarang kami, aku dan Ellis akan makan siang di Pedro's.
Jace menarik napas panjang sembari berpikir, ia memiliki pekerjaan yang menumpuk sementara di saat yang sama ia juga tergoda untuk bergabung dengan kekasihnya.
Pria bersurai coklat itu kembali mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya.
Wow, selamat untuk keberhasilanmu hari ini, Nona bluebells. Nanti malam tunggu aku di apartemenmu.
…
Iris tercengang dan dada berdebar melihat buket indah berisi dengan ratusan mawar merah yang menyambutnya ketika ia keluar dari ruangan latihan balet. Senyuman Giulio yang merekah ketika mengulurkan buket mawar tersebut.
“Bunga indah untuk wanita yang aku cintai.” Ucap Giulio memberikan kecupan di pipi Iris.
Wanita bertubuh tinggi semampai dan juga berisi itu tersipu seraya mencium wangi bunga di pelukannya.
“Terima kasih, Giu. Ini sangat indah.” Iris tersenyum manis dengan manik menatap wajah tampan pria yang menjadi tunangannya.
Sedikit banyak perlakuan kecil Giulio menggoyahkan pertahanan Iris, ditambah kecilnya kemungkinan ia mendapatkan hati seorang pria bernama Jace Von Alstrom. Pria yang beberapa kali bertemu dengannya, sepertinya
sekarang sibuk berkencan dengan model cantik itu.
“Aku sudah berbelanja bahan makanan.” Giu melingkarkan tangan di pinggang Iris setelah menjinjing totebag berwarna hitam dari bahu wanita yang tak henti menghirup bunga pemberiannya.
Manik hitam milik Iris menatap Giulio.
“Di mobil. Jika boleh aku meminjam dapurmu dan memasakkan sesuatu. Mungkin pasta atau sesuatu yang lain.” Sambung Giulio.
Iris tanpa sadar mengangguk dan bergumam “Ya, kau boleh memasak.”
Pria tampan pemilik beberapa perusahaan di Italia itu kembali memberikan kecupan di pipi Iris dengan lembut.
“Kau pasti sangat lapar, Amore. Percayakan kepadaku menu makan malam kita pasti akan sangat istimewa.” ucapan Giulio terdengar bercanda tapi juga serius, Iris sangat yakin jika pria berbadan tinggi besar tersebut
sangat mahir memasak.
Bagi mereka, memasak adalah hal kecil karena umumnya orang Italia menyanjung tinggi cita rasa berbagai macam makanan yang secara turun temurun diwariskan oleh gerenasi sebelumnya. Pun Iris seperti itu, walau tidak sehebat seperti ibu dan nananya, setidaknya ia bisa memasak beberapa masakan tradisional yang sangat ia sukai.
“Terima kasih, Giu.” Iris sekali lagi memberikan hadiah sebuah senyuman indah kepada pria yang tidak pantang mundur untuk membawanya ke altar pernikahan.
Sejam kemudian usai membersihkan tubuh, Iris dimanjakan dengan pemandangan yang sangat langka terjadi di dapur apartemennya.
Badan tinggi besar dengan bahu lebar terlihat sangat serius dengan masakannya, suara Giulio merdu bersenandung lagu Italia ikut menghangatkan hati Iris.
Sekelebat pertanyaan muncul di hati Iris. Mungkin juga masa depan yang teraba.
Seandainya seumur hidup Iris menyaksikan pria penuh cinta dan talenta ini di dalam rumah mereka. Seperti apa anak-anak mereka kelak ? Apakah Giulio masih tetap bersikap penuh kelembutan seperti hari ini bahkan setelah pernikahan mereka berjalan selama lima, sepuluh tahun atau mungkin hingga rambut mereka sama-sama berwarna abu muda.
“Amore.” Seru Giulio menoleh dengan tangan kokoh memegang spatula. Sungguh sangat seksi melihat pria dan kuasanya di area dapur. Bahkan saat itu, Iris bisa mengatakan “mari kita menikah di tempat ini”
Langkah kaki Iris pelan namun pasti mengarah ke tempat Giulio. Kemeja putih yang tergulung, sedikit peluh di pelipis, namun senyum tetap mengembang lebar penuh kasih untuknya seorang.
“Wanginya sampai ke kamar tidur.” Manik hitam Iris melebar menu makan malam yang dibuat oleh Giulio.
Tangan kanan pria bersurai menarik tubuh Iris merapat ke tubuhnya yang terdiri oleh otot padat dan gairah.
Giulio berbohong jika tidak menginginkan Iris di tempat tidur, tapi ia tidak ingin bertindak gegabah. Perlahan Giulio melakukan pendekatan agar keduanya bisa mereguk kepuasan sekaligus cinta ketika itu terjadi.
“Berarti kita harus menyemprotkan pewangi.” Tuturnya diikuti sebuah geraman parau dan dalam, terdengar sangat seksi.
Seketika itu semua keraguan Iris menguap, terlebih ketika bibir sensual Giulio mengecap bibirnya dengan lembut dan panas.
Selamat tinggal, Jace.
…
Ribuan kilometer dari Paris, sebuah apartemen yang berada di pinggiran kota New York.
Jace mengusap lembut surai coklat dan lembut milik Tallulah yang sedang membaringkan kepala di pahanya. Keduanya sedang terpaku pada film romantis yang menjadi pilihan sang model. Kisah cinta yang bisa Jace tebak
berakhir dengan tragis.
Ketika ponsel Tallulah menyala menandakan ada pesan masuk, dengan sigap tangan kekasihnya meraih benda pipih itu.
Tanpa bermaksud mencampuri atau penasaran, Jace melihat setiap kata yang diketik oleh Tallulah. Rupanya jadwal kerja yang diberikan oleh agensinya.
“Kau akan ke London, Sweety Pie?” celetuk Jace setelah ikut membaca jadwal Tallulah.
Manik biru dengan kelopak indah itu memandangnya, Jace tidak tahan untuk menundukkan tubuh dan mengecupnya.
Wajah Tallulah memerah, bibir indahnya di gigit hingga memutih.
“Iya.”
Alis Jace berkerut “Seminggu? Itu sangat lama.”
Tallulah mengulum senyuman “Sepuluh hari.”
Kerutan Jace semakin timbul, bibirnya ikut berkerut namun tetap tampan di mata Tallulah. Kembali manik abu Jace melirik ponsel kekasihnya yang menampilkan deretan nama penelepon yang masuk.
“My Boo? Siapa dia?” tanya Jace cemburu merebut ponsel Tallulah. Gadis belia itu tersentak sedikit memberikan perlawanan yang hendak mengambil kembali barang pribadinya.
“Jace, tolong kembalikan.” Suara Tallulah memelas tak berdaya melihat tangan Jace dengan lincah menekan ponsel tersebut.
Seringaian indah dengan mata memandang syahdu ke arah Tallulah “Aku adalah My Boo?”
Tallulah yang terduduk dengan wajah memerah seperti tomat itu menganggukkan kepala.
“My sweety pie, kemarilah.” Jace meletakkan ponsel Tallulah di meja, kemudian keduanya saling mendekap satu sama lain.
Tallulah bisa merasakan debar jantung Jace yang begitu hebat bersahutan dengan miliknya. Sekujur tubuhnya memanas tak terkendali. Jace adalah racun yang tidak memiliki penawar, Tallulah tidak peduli. Ketika bibirnya di
kecup oleh Jace, saat itu pula ia menyerahkan seluruh jiwa.
“Nona Bluebells, milikku. Jujur jika sebenarnya aku masih bimbang dengan hubungan kita. Kau masih sangat muda, dan aku baru saja membuka hati untuk seorang wanita. Aku dan dirimu sedang berhati-hati menjalani hubungan ini. Ah tidak, mungkin hanya aku saja. Namun di tengah perasaan itu, aku merasakan beberapa hal yang tidak biasa. Sungguh, aku tidak rela berpisah jauh denganmu. Aku tidak bisa berkonsentrasi bekerja karena merasakan rindu. Aku selalu ingin melihatmu. Aku selalu memikirkan dirimu di luar sana. Ini sangat baru untukku, Sweety Pie. Pastinya ini hal baru juga untukmu.”
Tallulah mengangguk samar dengan tangan gemetar memegang pipi Jace.
“Kekasih pertama, ciuman pertama.” Tallulah menggumam nyaris berbisik.
Manik abu Jace mengerjap “Semuanya?”
Pemilik bibir penuh yang terkulum kembali menganggukkan kepala dengan pelan “Ya, semuanya.”
“Hei!” seru Jace melepaskan dekapan seraya menangkup pipi kekasihnya yang tenggelam dalam tangan kokohnya.
Jace menggeleng tidak percaya, namun wajah polos Tallulah menjawab segalanya.
“Setelah dari London, tinggallah bersama denganku, Sweety Pie.”
###
alo kesayangan💕,
it's long weekend..
apakah kalian berlibur?
atau mungkin ada yang bekerja?
bersyukur, kalian adalah orang-orang hebat yang masih bisa bekerja di tengah pandemi..
tetap sehat yah🤘🏻
dan yang liburan patuhi protokol kesehatan..
yang ngebo, kalian bisa di sini 😎
love,
D😘