JACE

JACE
Uncle Jace



“Uncle Jace.” panggil Sunday Rose, anak Aubrey ketika melihat Jace turun dari mobilnya.


Jace melambaikan tangan dan Sunday berlari menghampiri Jace. “Hati-hati.” Aubrey mengingatkan putrinya.


“Uncle Jace.” pekik riang Sunday Rose ketika Jace mengangkat tubuh kecilnya. Derai tawa keluar dari bibir keduanya, Aubrey tersenyum lebar melihat kedekatan sang anak dan teman pria yang juga incarannya.


“Apa kabarmu hari ini, Putri Cantik?” tanya Jace terkekeh ketika Sunday Rose menghadiahinya sebuah kecupan basah di pipi.


“Sunday bahagia karena Uncle Jace mau datang. Tadi Sunday mewarnai tugas dari sekolah.” Timpal putri cantik itu berseri-seri.


“Uncle boleh melihatnya?” Jace paling hebat mendapatkan hati anak seusia Sunday Rose. Ia berpengalaman dengan Serenade, putri Sky Navarro.


Sunday Rose mengangguk senang. “Tentu saja, Uncle. Sunday ingin menjadi seperti Uncle Jace, pintar menggambar baju.” Ujarnya polos.


Aubrey menepuk punggung anaknya yang betah di gendongan Jace. “Uncle Jace-nya di ajak masuk ke rumah, Sayang.”


Sunday mengulas senyuman manis. “Turunkan aku, Uncle.”


Jace mengikuti keinginan Sunday Rose yang hari itu mengenakan dress tutu berwarna merah. Aubrey tidak banyak berbicara, ia terlalu senang melihat anaknya kini menarik tangan Jace dengan posesif masuk ke dalam kediaman mereka.


Sekilas Jace melirik Aubrey yang berjalan di sisinya. Wanita seksi itu mengedikkan bahu dengan wajah yang berbinar bahagia. “Terima kasih menyempatkan waktu untuk singgah.” Ujar Aubrey dengan pelan.


Jace mengangguk. “Kapanpun itu, Aubrey.” Sahutnya kembali terfokus kepada tangan kecil yang menggenggamnya.


Ya, Jace dan Aubrey hanya berteman biasa. Tak ada hubungan istimewa yang terjalin di antara mereka walau salah satu pihak sangat menginginkan hal tersebut. Kedekatan keduanya menjadi intens karena menjadi member di gym dan mereka acapkali bertemu di pesta yang sama. Kemudian Aubrey mengenalkan Sunday Rose kepada Jace yang sangat menyukai anak kecil. Dari sanalah, Jace kemudian lebih rutin bertandang ke kediaman Aubrey, yakni untuk menemani Sunday Rose bermain.


Aubrey sendiri kini sedang membangun bisnisnya, sebuah toko bunga yang berada satu blok dari gym


langganannya. Tak jarang Aubrey meminta masukan dari Jace ketika hendak memulai usahanya, baru berjalan selama dua bulan telah mendapatkan respon bagus dari warga sekitar. Pun sebenarnya lebih mudah karena Aubrey telah memiliki banyak teman yang dikenalnya dari berbagai pesta kaum jetset The Hamptons.


“Coba lihat, Uncle Jace.” Sunday Rose menyodorkan buku gambarnya kepada Jace.


Jace melebarkan manik abunya ketika memeriksa gambar barbie Sunday Rose yang berani memainkan kombinasi warna pada gaunnya. “Ini bagus sekali, Putri Cantik.” Sanjungnya dengan tulus pada gambar barbie bergaun ungu dipadu dengan bawahan biru bling-bling.


Manik biru Sunday Rose membulat senang mendapatkan pujian dari Jace. “Sunday ingin jadi seperti Uncle Jace.” imbuh Sunday Rose mendekap buku gambarnya.


Jace mengangguk bijak. “Ya, suatu hari Sunday Rose akan jadi seperti Uncle Jace.”


Sunday memegang bagian roknya dan berputar-putar dengan riang. “Sunday sangat suka menonton model-model yang memakai baju cantik. Uncle Jace juga pasti sangat senang.”


“Iya, Uncle sangat senang.” Jawab pemilik The Alstrom termenung. Perkataan Sunday Rose seakan cambuk akan kemalasannya untuk bekerja. Sejak pindah di Hamptons sekalipun ia tidak membuat satu design walau kepalanya dipenuhi dengan ide-ide.


“Uncle berjanjilah untuk mengajakku ke New York Fashion Week.” Pinta Sunday Rose sambil menggoyangkan bahu Jace.


Pria tampan itu tertawa kecil dan menganggukkan kepala. “Ya, Putri Cantik. Kau dan mamamu akan mendapatkan undangan spesial dari The Alstrom, Uncle janji.”


Spontan Sunday Rose menaikkan kelingkingnya. “Janji?” ucapnya dengan sangat menggemaskan. Hati Jace luluh dengan keceriaan Sunday Rose. Sementara Aubrey terlihat sedang menerima telepon, sesekali melayangkan pandangan ke arah Jace dan putrinya yang bersantai ruang keluarga.


“Janji.” Jace menyanggupi keinginan putri bermanik biru dan rambutnya memerah dan ikal.


“Terima kasih, Uncle Jace.” pekik riang Sunday Rose memeluk leher Jace dan kemudian kembali putri Aubrey mengecup pipinya.


Sunday Rose melirik ke arah sang mama yang duduk di meja makan sambil menulis dan mendengarkan orang yang meneleponnya. “Sunday ingin mengatakan sesuatu kepada Uncle Jace.” bisiknya di telinga pria dewasa yag mengenakan kemeja berwarna putih.


Manik abu Jace melebar. “Katakan kepada Uncle.” Balasnya juga dengan berbisik.


Sunday Rose beranjak menuju ke tumpukan majalah mode yang berada di atas meja, dan kembali membawa majalah pilihannya. Bibir mungilnya saling mengulum, sebelum duduk di samping Jace, Sunday Rose menoleh memastikan Aubrey masih berada di tempatnya.


Jemari mungil Sunday membuka halaman majalah dengan tidak sabaran. “Ini.” kata gadis kecil itu memamerkan foto Tallulah bersama dengan model pria yang tak lain Anthony Pine.


Jace menelan saliva membasahi tenggorokan yang mendadak kering. Ia masih mengingat pertemuannya dengan Tallulah dan pria itu tiga bulan yang lalu. Tallulah berlalu dengan Anthony tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Ada apa dengan gambar ini, Putri Cantik?” Jace mencoba bersikap normal.


Sepasang manik biru milik Sunday Rose menatap lekat-lekat Jace. “Miss Tallulah sangat cantik, Uncle Jace. Pria ini tidak cocok dengan Miss Tallulah.” Katanya tanpa rasa bersalah.


Jace mendadak gugup di depan anak seusia Sunday Rose. Ia tidak tahu harus menimpali perkataan blak-blakan gadis kecil yang terus memandanginya.


“Sunday tahu jika Miss Tallulah pernah bertunangan dengan Uncle Jace. Sunday menontonnya di TV.”


Jace menggeleng. “Sunday Rose belum boleh menonton berita seperti itu, Sayang.”


“Sunday menontonnya dengan mama.” sahutnya membela diri dan menatap ke arah Aubrey yang masih sibuk dengan teleponnya. “Mama sangat senang melihat berita itu, Uncle. Mama tertawa-tawa.”


Jace mengangguk pelan, tanpa dijelaskan pun ia telah tahu isi hati mama dari Sunday Rose. Bukan sekali dua kali, Aubrey menggodanya. Walau sekadar tidur bersama atau hubungan yang lebih serius. Sayangnya, Jace tidak bisa membuka hati. Terlebih Aubrey bukan tipe Jace, bukan statusnya sebagai single parent. Jace menyukai wanita yang sederhana, tetap cantik tanpa makeup tebal dengan wangi parfum bercampur masakan.


“Sunday tahu jika mama menyukai Uncle Jace, tapi Uncle Jace cocoknya dengan Miss Tallulah. Dia sangat cantik, seperti putri kerajaan. Untuk mama, ada papa.” Sunday Rose terus bersuara dengan lirih.


“Uncle tahu, Putri Cantik. Uncle hanya teman mamamu.”


Sunday Rose memandang foto Tallulah dan mengusap pada bagian wajah wanita yang kerap muncul di dalam mimpi Jace. “Maukah Uncle Jace berjanji kepadaku.” Gadis kecil itu mendongak dengan wajahnya yang polos dengan sorot penuh harap.


“Janji apa, Putri Cantik?”


Sunday Rose mengacungkan kelingkingnya. “Janji Uncle Jace mendapatkan kembali Miss Tallulah.”


Perkataan lugas Sunday Rose meruntuhkan dada Jace dalam seketika. Alih-alih menautkan kelingking, Jace memeluk tubuh Sunday Rose sembari menahan perih di hati yang sebentar lagi akan membuat manik abunya berkabut.


“Uncle tidak bisa menjanjikan itu, Putri Cantik. Biarkan waktu menjawabnya.” Gumamnya dengan hati merindu yang bermuara pada satu wanita.



Iris menatap kesal kepada Jacob. Pria itu malah terkekeh seraya menenggak minumannya. “Ada apa, Babe?” goda Jacob sambil mengedipkan matanya sebelah.


Iris mengembuskan udara dari bibirnya yang dipulas dengan lip tint berwarna nude. “Mr. Alstrom di Paris dan kau tidak ingin mengaturkan sebuah janji temu denganku.” Ujarnya terlihat gusar. Jemari lentiknya mengetuk meja dengan tidak sabaran.


“Dia tidak ingin menemuimu, Babe. Sudahlah lepaskan pria yang menjadi incaranmu itu.” Jacob mengingatkan sambil tertawa meledek.


“Please.” Hiba Iris memasang wajahnya yang memelas.


Jacob tidak goyah akan sandiwara atau mungkin keinginan tulus wanita cantik itu. Ia sangat mengenal Jace yang keras kepala ketika mengatakan “Tidak”. Hal itu telah mereka bahas tak lama setelah insiden yang membuat Tallulah melepaskan cincin pertunangannya.


“Biarkan Jace bekerja, Iris. Dia telah menemukan semangatnya untuk mengerjakan design yang sempat tertunda selama setahun terakhir. Walau Jace tidak berjanji akan tetap berada di Paris, tepatnya kami hanya selama seminggu di sini. Dia berjanji akan lebih sering mengunjungi kantor kami di New York.”


Iris terdiam dan menatap lurus ke arah Jacob yang sangat serius dengan perkataannya. “Tidak kesempatan sedikitpun? Apakah ada pesta yang akan dihadirinya?” tanya mencari celah kesempatan untuk bertemu dengan Jace.


“Tidak. Jace tidak menerima undangan apapun, Iris. Tujuannya ke Paris hanya mengecek kantor, dan membahas rancangan The Alstrom untuk musim berikutnya dengan Emmanuelle.” Tegas Jacob menjadi benteng pertahanan terakhir sahabatnya dari wanita yang berambisi untuk mendapatkan kesempatan kedua.


“Aku tidak tahu seberapa besar perasaan tidak suka Jace kepadamu, Iris. Tapi temanku itu telah meminta agar tidak pernah mengungkit dirimu di depannya. Sudahilah dari keinginanmu itu, Jace tidak bisa dijangkau terlebih dari wanita yang merusak pertunangannya. Sekarang kau telah memiliki banyak teman elit di Kota Paris, Babe. Aku melihatnya dari unggahan sosial mediamu, mereka dari kalangan atas kota ini. Kau bisa mendapatkan teman kencan lebih tampan dari temanku.”


“Aku belum bercerai.” Sahut Iris jujur.


Jacob melotot dan menganga. Pria itu kemudian terbahak tawa, hingga orang yang berada di samping meja mereka di dalam restoran menoleh. “Wow.. oh wow!”


Iris menunduk sejenak sambil menghela napas dalam. “Giu enggan menandatangani permohonan cerai kami.” Tambahnya yang membuat Jacob makin tertawa, seakan pria itu bahagia di atas kegalauan hatinya.


“Maafkan aku, Iris. Bukan aku bermaksud…”


Iris melambaikan jemari tangannya menjeda perkataan Jacob. “Tidak. Kau tidak salah. Mungkin kami-lah yang salah. Aku dan Giu.”


Jacob tidak menjawab namun mengiyakan dalam hatinya. Wanita di depannya terlalu serakah akan kehidupan. Iris menginginkan sesuatu yang tidak bisa digapainya, alih-alih menyerah malah menghancurkan segala sesuatunya. Dan kini dan mungkin jauh sebelum ini, Iris seakan tidak tersadarkan jika ia melakukan sebuah kejahatan yang besar.


Berkat Iris, hati Jace hancur, hati Tallulah terburai. Sepasang kekasih yang menata masa depan bersama, telah pupus oleh satu kejadian yang tidak bisa dimaafkan oleh seorang Tallulah. Setidaknya itu dalam pemikiran Jacob sebagai teman dekat Jace yang mengetahui segala sesuatunya.


“Pikirkan kembali suamimu, pasti ada hal yang membuatnya menahan perpisahan kalian. Aku pernah menjalani proses tersebut, Iris. Jujur aku bukan pria yang pemaaf, dan tidak sabar seperti suamimu. Terlebih perasaan cinta itu telah hilang. Jadi, aku tidak bisa menahan diri lebih lama mempertahankan pernikahan kami. Berpikirlah lebih bijak lagi.” tutur Jacob menasehati wanita di depannya.


Jacob mengangguk seakan membenarkan perkataannya sendiri. “Suamimu masih mencintaimu, dan kalian memiliki seorang putri. Pikirkan masa depan buah hatimu, dia akan tumbuh besar membenci ibu kandungnya. Apakah kau bisa menerima masa depan seperti itu? Jika kau terus-terusan mengeraskan hati dan berpikir Jace bisa kau dapatkan. Please, sadarkan dirimu sekarang juga. Jace tidak gampang menjatuhkan hatinya. Butuh waktu bertahun-tahun temanku memilih Nona Bluebells, setelah hatinya hancur karena Sky Navarro. Kau tidak memiliki kesempatan itu. Baiknya, kau mengurai kusutnya hubunganmu dengan Tuan Celi. Sekali lagi, maafkan aku. Aku tidak ingin campur tangan terlalu jauh, hanya saja aku merasa kita cukup dekat untuk saling menasehati. Jangan berharap menggapai bintang yang berpendar indah di langit, Babe. Planet kalian berbeda.”



“Bagaimana?” tanya Anthony riang kepada Tallulah. Supermodel itu hanya mendengus geli melihat tingkah temannya.


“Bagus.” Sahutnya dengan datar.


Anthony menyikut tubuh Tallulah hingga gadis belia itu bergerak ke samping. “Hei, ini hunian terbaik di Murray Hills.”


“Aku tahu.” Ujar Tallulah berjalan ke arah dapur. Berbagai peralatan terbaru menjadi satu hal menggugah hatinya untuk memilih apartemen yang berada di lantai 19 tersebut.


“Ada apa?” tanya Anthony bersandar pada island table. Ia memerhatikan gerak-gerik Tallulah membuka lemari pendingin.


“Hm.. Aku tidak tahu.” Jawab Tallulah bimbang.


“Apakah uangmu tidak cukup untuk membeli tempat ini? Aku bisa menambahkan uangmu, berapa? 10.000 dollar?” gurau Anthony yang sangat tahu penghasilan supermodel cantik dan anggun itu.


Tallulah tergelak tawa. “Tolong tambahkan lima digit baru aku akan menerimanya. Kau membawa buku cekmu, bukan?”


“Sayangnya tidak, Sayang. Aku menyimpannya di rumah. Harusnya kau mengatakan tadi sebelum aku menjemputmu.” Timpal Anthony.


“Mungkin lain kali.” Tallulah kini berpindah ke arah kamar tidur yang menyajikan pemandangan kota dari ketinggian. Semua terlihat hebat dari jendela kaca tebal tersebut.


“Lihat, Babe. Pemandangan indah ini menjadi hal pertama yang kau lihat setiap harinya. Tapi akan lebih indah jika ada aku di sampingmu.” Anthony melancarkan serangan yang hingga sekarang belum membuahkan hasil. Tallulah belum bertekuk lutut akan segala usaha Anthony.


Tallulah bergeming di dalam kamar tidur utama dari apartemen mewah tersebut. Harga dari apartemen berkamar dua tersebut lima kali lipat dari hunian Tallulah sebelumnya. Ellis tidak mengusirnya, hanya saja Tallulah tersadarkan jika ia memerlukan tempat tersendiri, bukan nyaman dengan hidup menumpang. Terlebih Ellis telah menemukan seorang kekasih yang sering datang menginap di tempat mereka.


“Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Babe?” tuntut Anthony melihat raut Tallulah tidak seriang dirinya yang berhasil mendapatkan informasi apartemen kosong di bangunan tersebut. Hal yang sangat jarang terjadi di kawasan elit Murray Hill, dimana kebanyakan orang betah menetap di kawasan tersebut.


Tallulah menoleh dan mendapati tatapan Anthony yang seakan menelanjangi pikirannya. “Aku tidak terbiasa tinggal di bangunan setinggi ini. Tidak ada pepohonan di kawasan ini dan aku tidak memiliki balkon. Bukan diriku, Anthon.”


“Begitu?” sahut Anthony melemah dan kecewa. Ya, terus terang Anthony kecewa, di sela kesibukannya ia menyempatkan diri mengejar para marketing terbaik di kota New York untuk mendapatkan tempat tinggal untuk Tallulah. Dan gadis sempurna luar dan dalam tersebut seakan tidak menghargai jerih payahnya.


“Anthon. Terima kasih.” Tallulah memegang lengan Anthony hingga keduanya saling bertatapan dengan jelas. “Apartemen ini sangat bagus.. tapi ini bukan diriku. Aku adalah anak yang lahir di Alaska. Alam menjadi bagian dari hidupku. Sepertinya aku akan mengikuti saran Ellis untuk mencari rumah di kawasan perbukitan yang memiliki halaman luas dan kolam renang.”


Senyuman Anthony menghilang. “Itu berarti kau akan meninggalkan kota ini.” desahnya dengan hati yang lebih kecewa.


“Sepertinya begitu. Oh ya, maafkan aku Anthon. Kita harus mengakhiri tur apartemen ini lebih awal. Ada suatu tempat yang ingin kukunjungi.” Tallulah menyunggingkan senyuman manisnya. Mungkin bisa menjadi penawar rasa kecewa bagi pria tampan tersebut.


Anthony memejamkan sekilas matanya dan mengangguk. “Kau mau kemana, biarkan aku mengantarmu.”


“Tidak perlu, Anthon. Aku akan naik taksi ke sana.” Tolak Tallulah dan tergesa-gesa berjalan menuju pintu keluar yang diikuti oleh Anthony.


~~


Mungkin sudah lebih dari 20 menit lamanya Tallulah berdiri di depan pintu apartemen yang telah lama ia


tinggalkan. Tallulah menanti andai saja ada orang yang membuka pintu berwarna abu gelap tersebut dari dalam. Dirinya di tengah perasaan bimbang namun juga terselip kenekatan. Lelah dengan pikiran meragu, ia kemudian menekan kombinasi angka pada pintu apartemen. Tallulah harap-harap cemas, jika sandi itu telah berganti.


“Ting!” suara denting menyudahi  segala ketidakpastian dan gundah Tallulah.


Dengan jemari gemetar Tallulah membuka pintu apartemen.


Dia tidak mengganti sandinya. Erang Tallulah menyeret kakinya masuk ke dalam apartemen milik Jace.


“Maafkan aku, Mr. Alstrom. Aku masuk tanpa permisi, aku tahu kau sudah tidak tinggal di sini.” Monolog Tallulah dengan mata berurai air mata.


Kini segala kenangan menyergapnya. Menusuk dari semua penjuru, segala ingatan itu masih melekat dengan kuat. Kebersamaan mereka, cerita indah tertanam antara Tallulah dan seorang yang Maha Hebat. Tallulah mendapatkan cinta pertamanya, pria yang menjadi mimpi indahnya. Tak ada satupun bisa Tallulah lepaskan hal yang berkaitan dengan Jace Von Alstrom.


“Aku merindukanmu.” Aku Tallulah setelah sekian lama berusaha membohongi isi hatinya. Isakan tangis Tallulahsemakin keras mengisi ruangan yang dulunya merupakan tempat ia dan Jace bertukar tawa bahagia.


“Aku merindukanmu.” Tallulah memukul dadanya dengan keras-keras.


Maybe we’ll meet again, when we are slightly older and our minds less hectic, and I’ll be right for you and you’ll be right for me. But right now, I am chaos to your thoughts and you are poison to my heart.


###





Alo Kesayangan💕,


Rindu yang membawaku untuk menulis satu chapter di tengah rutinitas real life. Dan seorang pembaca yang sedang running di CLB, komen-komennya membuatku ingin menulis. Aku tersadar, ternyata ada orang yang menyukai tulisan remeh gaje ini. wkwkwkwk..


thats why i coming back, semoga besok juga masih konsisten.. Eh gak ding, besok aku sibuk 🙏


Apa kabar kalian? Maaf aku melangkahi Kai menuju Jace, pasti ada juga yang menunggu nasib Orion yang sedang dirawat 😟.


Tetap bersabar menanti, Ladies.. Aku pasti pulang.


love,


D😘