JACE

JACE
The Time



"Welcome home, Tallulah Bluebells." Jace membuka pintu apartemen dan menyilakan gadis bermata indah itu masuk terlebih dulu.


Tallulah tersipu malu sambil menganggukkan kepala.


"Wow, sangat luas. Ini tiga kali lebih luas dari apartemenku." serunya sambil berdiri di tengah ruang tamu milik Jace. Raut Tallulah berseri-seri memerhatikan chandelier panjang yang menjuntai dari atas lantai dua hingga ke ruang tamu. Sofa-sofa empuk berwarna krem, dengan dinding di cat putih. Mewah yang tidak berlebihan, kesan nyaman ketika berada di ruangan tersebut.


"Alasan aku tidak pindah memiliki rumah yang lebih besar karena di tempat ini semuanya telah kudapatkan, Sweety Pie." sahut Jace


Ia kemudian memegang pinggang ramping kekasihnya yang masih takjub dengan hunian barunya.


"Kamar tidur berada di lantai atas, dapur dan ruang tamu di bawah. Mari, aku tunjukkan kamar tidurmu." Jace mengeratkan sesaat tangannya di pinggang Tallulah, kemudian melepaskan agar gadis cantik itu bergerak mengikutinya.


Manik abu Jace melebar ketika melihat kecanggungan Tallulah ketika berada di lantai atas.


"Ada apa?" tanyanya seraya melepaskan koper kecil si gadis yang sedang menggigiti bibirnya.


Tallulah menggeleng berulang kemudian menarik napas panjang.


"Tidak ada apa-apa, Mr. Alstrom."


"Hei, kenapa kau sangat suka memanggil kekasihmu dengan nama Mr. Alstrom. Aku memberimu julukan Sweety Pie, mungkin seharusnya memanggilku dengan My Boo?" ujar Jace santai seraya membuka pintu kamar tidur. Dominasi warna putih tulang kembali mewarnai kamar tidur yang dilengkapi dengan perapian.


Tallulah terhenyak dan melangkah ragu. Jace menaruh koper di samping sofa.


"Bagus, bukan?" tanya Jace memamerkan kamar tidur beraksen safron keemasan pada beberapa bagian.


Tallulah mengangguk.


"Ini kamar tidur pribadimu, Nona Bluebells. Kamar tidurku berada di sebelahmu persis." terang pria tampan bertubuh atletis menarik Tallulah untuk duduk di sofa tak berlengan.


Tallulah mengerjap mencerna perkataan Jace, kekasihnya yang memiliki wangi lembut, bukan kebanyakan pria yang dikenalnya. Para pria cenderung menyukai wangi maskulin, berbeda dengan Jace yang memilih parfum wanita. Tallulah sangat tahu itu.


"Aku pikir kita akan tidur bersama." gumam Tallulah tidak percaya diri.


Jace mencubit pipi berlesung indah itu dengan gemas "Aku sebenarnya sangat ingin, Sweety Pie." ucapnya menatap manik biru Tallulah dengan seksama. Darah Jace berdesir hebat, melihat sorot mata polos si gadis perawan.


Tallulah, kekasih Jace ini seperti sebuah batu pertama yang langka dan belum terbentuk. Walau kariernya di dunia modelling telah berhasil membawanya hingga menjadi model The Alstrom, tetap saja gadis belia ini tidak terpengaruh akan gemerlapnya dunia.


"Tapi, belum sekarang. Kau harus beradaptasi dengan rumah kita." sambung Jace.


"Tunjukkan kamarmu." ucap Tallulah dengan sangat pelan.


Jace tertawa seraya berdiri dan menggenggam jemari kekasihnya.


"Hanya beberapa langkah." Suara husky serak membuat jantung Tallulah berdebar kencang.


Suara pintu kamar Jace sangat halus ketika terbuka, seperti hanya angin yang berat disertai wangi parfum kamar yang lembut menguar di udara. Bahkan wanginya lebih enak dibandingkan kamar tidur Tallulah.


"Aku pikir kamarnya sama, ternyata berbeda." Tallulah dengan riang menghempaskan bokongnya di atas tempat tidur Jace berwarna smokey grey.


Pria yang mengenakan suit coklat terdiam melihat gerak-gerik Tallulah yang mengelus selimut Jace. Sungguh menggoda, dan kini setan mulai meniupkan kata-kata manis di telinga untuk mendorong tubuh indah itu ke tempat tidur.


"Sangat maskulin dengan warna hitam dan smokey grey." gumam Tallulah membuyarkan setan yang merajai kepala Jace.


"Aku suka, Boo. Mulai malam ini aku akan tidur di sini." ujar si model belia dengan polosnya.


Jantung Jace berhenti sepersekian detik ketika setan bersorak riang dan berdansa di dalam otak liarnya.


...


Iris terpekur mengamati hand bouquet di pangkuannya. Bunga mawar putih di genggaman tangannya yang serasi dengan gaun putih membungkus tubuh. Tepat 45 hari usai Iris mengiyakan lamaran Giulio, mereka akhirnya akan menikah beberapa menit ke depan.


Pun perkataan Giulio terbukti jika Iris akan mengandung hasil cinta mereka. Seminggu yang lalu dokter dengan jelas menerangkan jika Iris sedang berbadan dua dengan usia janin memasuki bulan kedua.


Tidak ada jalan untuk berhenti, walau Iris beberapa kali memikirkan hal itu. Selang dua minggu di Paris, Giulio membeli sebuah apartemen mewah di pusat kota. Dari kamar tidur utama mereka bisa melihat puncak menara Eiffel yang indah.


Pun Iris telah pindah di apartemen tersebut, walau harus menempuh jarak enam kilometer menuju tempat mengajar balet, yang sekarang harus ditinggalkan demi kesehatan janin di perutnya


"Kami akan mengambil foto anda." ucap sopan sang fotografer membuat Iris tersenyum simpul sembari mengangguk.


"Silahkan." sahutnya pelan seakan tak berdaya. Hatinya diliputi kecemasan dengan langkah yang akan di tempuhnya.


"Tersenyumlah dengan manis, Nyonya Celi." ucap sang fotograper. Jantungnya berdenyut sakit, hingga hari pernikahan dengan Giulio, hati Iris belum sepenuhnya mengarah kepada pria sesempurna calon suaminya.


Mimpi-mimpi tentang seorang pemimpin sebuah brand ternama dunia terus menguat di hati Iris, hanya berbekal dengan beberapa kali pertemuan dan perbincangan hangat dan ia merasa jika sebenarnya Jace -lah tipe pendamping hidup idamannya.


Jika Giulio sempurna, Jace berada dua level di atasnya. Mungkin karena jauh sebelum mereka saling mengenal, Iris terlebih dulu telah berangan-angan, telah tergila-gila pada sosok Jace. Dan, ketika Jace memberikan sambutan baik pada pertemuan pertama di bandara, di tambah perbincangan akrab, hati Iris membumbung tinggi. Ya, mungkin hingga membaca berita Jace dan Tallulah.


Hal itu membuat Iris mencari kesenangan lain, yang mengantarkan kepada kebimbangan. Sebuah langkah yang hanya membawa Iris menjauh dari pria impiannya, kemudian mengharuskan ia menjadi istri Giulio, karena tak dari kurang 8 bulan ke depan sebuah bayi harus menjadi tanggung jawab mereka bersama.


Secercah senyuman tulus terbit di bibir Iris, manakala Paolo Coppole, ayahnya masuk ke dalam suite tempatnya di rias. Pria paruh baya mengenakan tuksedo hitam tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca.


"Papa jangan menangis." Iris terlebih dulu berdiri dan memberikan pelukan hangat kepada Paolo.


Paolo berdeham keras seraya mengecup kening Iris dengan lembut.


"Baiklah papa tidak akan menangis. Omong-omong pria -mu telah menunggu dan dia sangat tampan, amor." suara berat Paolo tapi lembut dengan kasih sayang besar.


Iris melebarkan manik hitamnya seraya tersenyum simpul.


"Dan dia ayah dari bayiku, papa. Aku ingin memberitahu kabar ini sejak kemarin."


Paolo tersentak lalu terpekik dan memeluk erat tubuh Iris.


"Amor, ini berita yang sangat luar biasa indah. Entah apa yang akan dikatakan mamamu. Tahn sampai selesai pemberkatan, papa tidak ingin melihatnya menangis tersedu karena bahagia."


Iris tersentuh dengan keceriaan dan kebahagiaan papanya. Walau cara Giulio sedikit licik untuk mendapatkan Iris, yaitu menyentuhnya dengan kelembutan dan perhatian kemudia berakhir dengan tidur bersama. Tapi setidaknya pria yang menjadi tunangan dan sekarang akan menikahi Iris adalah pria penuh dengan tanggung jawab dan kasih sayang.


"Papa, walau Iris mengandung bayi Giu tapi perasaanmu belum milik dia. Sampai sekarangpun Iris belum siap dengan pernikahan ini. Tapi ada bayi kami, dia tidak berdosa dan butuh kasih sayang kami."


Iris mengangguk sambil meneteskan sepasang air mata.


"Ya, papa. Ini saat yang tepat." gumamnya lirih dan kembali terbenam pada pelukan Paolo yang hangat.


...


Hari itu adalah pesta perayaan The Alstrom yang ke delapan, semua pegawai dari level paling bawah hingga sang pemilik hadir di dalam ruang ballroom yang sekaligus memiliki akses ke taman hotel berbintang di New York. Sekitar 700 tamu undangan dan pegawai hadir di tempat tersebut, berpesta dan berbincang dengan suasana santai.


Bintang pesta tak lain jika bukan Jace sendiri selaku pimpinan sekaligus designer The Alstrom. Pria tampan itu mengenakan suit abu dengan kemeja putih beserta dasinya bermotif persegi, sangat rapi dan sempurna.


"Aku pikir kau membawa istrimu." bisik Jace ketika melihat Aubrey melambaikan tangan kepada mereka. Ya, Jace berdiri sambil menyesap wine dengan Jacob, kepala keuangan The Altrom.


Jacob meringis kemudian mendengus "Hubungan tidak baik." singkatnya.


Pada perayaan tersebut para pengawai The Alstrom bebas membawa anggota keluarga. Terbatas, hanya boleh membawa satu tamu penting.


"Apa?" tanya Jace melebarkan maksimal manik abunya.


Jacob yang sore itu mengenakan suit hitam tampak mengibaskan tangan sambil memutar matanya dengan malas.


"Sudahlah boss, tidak ada yang penting tentang kehidupan rumah tanggaku. Yang pastinya, hanya berjalan datar setelah sifat posesif Lainey yang terus menerus menekan kebebasanku. Untungnya dia sedang berwisata dengan teman kantornya, hingga tidak bisa menghadiri pesta kita. Aku tidak bisa membayangkan jika dia mencemburui para pengawai muda The Alstrom. Terlebih di divisi keuangan ada tiga pengawai baru, dan sangat cantik." celoteh Jacob di respon tawa ringan daei Jace.


"Jadi kau mengajak Aubrey, sepupumu." Jace menepuk bahu Jacob, temannya dengan pandangan pada wanita bertubuh seksi dengan wajahnya yang sangat menggoda tengah berjalan menghampiri mereka.


"Ya. Aubrey sudah jauh hari sangat menginginkan ini, teman. Mungkin ingin melihat langsung seperti apa pesta dari The Alstrom dan bertemu dengan designer favoritnya." Jacob beralasan dan itu benar adanya.


Jace hanya mengangguk samar seiring wangi parfum menyeruak di dadanya.


"Hai, Mr. Alstrom. Terima kasih sudah memberikan undangan kepada Jacob, walau kehadiran saya tidak sepenuhnya diharapkan di sini." ujar Aubrey menggoda dan merendah.


Jace menepuk punggung tangan jemari Aubrey yang sedetik lalu mengulurkan sebuah jabat tangan hangat.


"Kau adalah adik temanku, tentu saja kau adalah tamu yang diharapkan. Apalagi Lainey tidak bisa hadir."


Aubrey mengerucutkan bibir seksinya "Tidak kita membahasnya, Mr. Alstrom." sahut wanita yang surai bergelombang indah.


Jace sempat melirik Jacob yang sudah meninggalkan tempatnya, sifat temannya seakan memberi kesempatan kepada mereka untuk berbincang secara pribadi.


"Terus kita membahas tentang apa, Miss Camomile?" tanya Jace sambil tersenyum memamerkan gigi kelincinya yang menggemaskan.


Aubrey terlihat menelan ludah dan menggeleng samar. Manik biru itu mengerjap dan terlihat sangat menggoda. Tapi segala gerak-gerik Aubrey tidak menggoyahkan hati Jace.


"Tentang dirimu dan gadis itu." Aubrey menunjuk kepada Tallulah yang sedang berbincang dengan pengawai The Alstrom.


Jace tersenyum lebih lebar kali ini. Hatinya semakin terfokus kepada kekasihnya terus memamerkan senyuman indahnya kepada lawan bicara.


"Tallulah." sahut Jace dengan hati berbunga.


Aubrey hanya bisa menggelengkan kepala seraya mengembuskan napas panjang.


"Selamat untukmu, Mr. Alstrom." Aubrey tidak menyukai Tallulah, tentu saja jika ada orang yang menanyakan hal itu kepadanya. Mungkin semua wanita yang dekat dengan designer ternama tersebut adalah musuh bagi Aubrey.


Tapi saat itu juga Aubrey mengaku kalah kepada Tallulah. Ia bisa melihat rona merah dan riang Jace ketika memandang sang model.


Pria takkan berlogika ketika cinta meruntuhkan hatinya.


"Terima kasih, Aubrey. Oh ya, bagaimana dengan suamimu?" tanya Jace terdengar tulus.


Aubrey mendengus kasar "Demi Tuhan, Mr. Alstrom. Berapa kali aku katakan jika Simon tak lebih dari ayah dari Sunday Rose, anak kami. Kami telah bercerai walau Simon masih rutin mengirimkan uang untukku dan Rose. Semua itu dilakukan karena sebelum menikah kami membuat perjanjian pranikah. Sepanjang usiaku, Simon mempunyai kewajiban untuk memberikan uang bulanan." terang wanita mengenakan gaun maxy berwarna dark navy itu.


Jace menganggukkan kepala dengan penjelasan cepat dari Aubrey "Aku mengerti sekarang dan maaf membuatmu sedikit emosi."


Raut Aubrey mendadak berubah, yang tadinya tegang dan mata berkilat kini melembut dan tetap menggoda.


"Aku tidak bisa emosi kepada pria yang aku cintai, Mr. Alstrom." ucap Aubrey dengan lancar.


Jace kaget walau tidak merespon berlebihan, tetap saja perhatiannya tercurah pada wanita sensual itu.


Aubrey mengedikkan bahu "Tapi sayang, kau memilihnya. Tallulah. Aku tadinya ingin mengejarmu, Mr. Alstrom. Tentu saja aku akan kalah dengan seorang gadis secantik dirinya. Tapi jika suatu saat kau tidak berjodoh lama dengan dia, aku akan selalu membuka pintu rumahku untukmu. Ya, kapanpun itu." tandasnya dengan sangat percaya diri.


Jace menggeleng tak percaya, tak jauh dari tempatnya berdiri, Tallulah nampak meremas bagian samping paha gaunnya. Hatinya sakit melihat Jace sedang berbincang dengan wanita itu. Wanita yang pernah berkata kasar terhadapnya.


Apakah benar cinta mereka hanya seumur jagung ? Apakah posisinya sebagai teman kencan Jace sebentar lagi akan berakhir ? Tuhan, ini sangat cepat !


###






alo kesayangan💕,


happy weekend ❤


Kemarin aku harus libur dan menunda UP Jace hingga Mersia ikut telat penulisannya.


jangan meminta kejar UP untuk beberapa minggu terakhir, ini disebabkan karena aku sangat sibuk pada akhir pekan..


tapi aku janji Mersia akan up 2kali dalam 2hari berturut-turut.


love,


D😘