
Aubrey kembali membaca undangan pesta pertunangan Jace dengan Tallulah. Ini untuk ketiga kalinya, bahkan sempat Sunday Rose, anaknya mengomentari kertas berwarna putih berwangi bunga lily itu. Aubrey bahkan meminta Sunday Rose untuk kembali bermain dibandingkan harus mendengarkan celotehan anaknya yang riang membahas kecantikan seorang Tallulah Bluebells.
Ya, Aubrey akui tunangan Jace sangat memukau dan cantik. Namun ketika Sunday Rose lebih memilih Tallulah dibandingkan mamanya sendiri ketika pertanyaan "siapa yang lebih cantik?". Itu yang membuat Aubrey kesal kepada Sunday.
Bunyi klik samar terdengar ketika Aubrey mengambil gambar undangan tersebut, tak lupa dirinya mengunggah foto tersebut di story sosial media.
Ada yang ingin menemaniku ke sini?
Tak butuh waktu lama, pria-pria yang menjadi pengikutnya mulai membalas story tersebut dengan berbagai rayuan. Aubrey yang berkuasa, ia menarik turun layar ponsel sembari memerhatikan avatar pria-pria tersebut. Aubrey menyeleksi, dan ketika melihat satu wajah yang terlihat lebih menarik dibandingkan lainnya, dengan pesan "Tentu denganku saja". Aubrey menekan profil pria itu, ratusan foto memamerkan segalanya membuat ia tak puas dengan beberapa gambar saja.
"Dia bisa menjadi teman kencanku, dan sepertinya juga masih sendiri. Tidak ada wanita yang berpose mesra di sampingnya, tampan itu yang penting." celetuk Aubrey berbicara sendiri. "Dan juga kaya."
Aubrey terkekeh sembari menuliskan nomer ponselnya, pula menambahkan beberapa kata.
Kita sepertinya telah lama saling mengikuti di sini, entah kenapa baru sekarang aku memperhatikan dirimu, Mr. Watkins.
Selang berapa menit kemudian, sebuah panggilan telepon masuk di ponsel Aubrey.
"Hai." Aubrey berinisiatif menyapa terlebih dahulu. Ia tahu jika nomer tidak terdaftar itu dari pria di direct message sosial medianya.
Halo, Cantik. Apakah ini berarti kau memilihku menjadi temanmu ke pesta?
Aubrey tersenyum, kepalanya terangguk. Ia kini menyukai suara kenalan barunya yang renyah dan merayu.
"Besok malam, kita akan bicarakan banyak hal hari ini. Apakah kau mengenal mereka?"
Lagi ia mendengar pria di ujung telepon tertawa lirih.
Aku sampai lupa mengenalkan diri. Aaron Watkins, senang berkenalan denganmu Aubrey Cammomile. Mungkin karena kesibukan hingga melewatkan wanita secantik dirimu. Aku sangat tertarik menghadiri pesta mereka, sayangnya aku tidak mendapatkan undangan.
"Kita akan pergi bersama, Aaron." sahut Aubrey secepat mungkin. Ia tidak ingin pria itu lepas dari genggamannya. Sungguh sayang jika pria seperti Aaron disia-siakan.
Apakah kau punya waktu sore ini? Sepertinya kita harus membeli pakaian untuk datang ke pesta itu.
Manik Aubrey melebar. Shopping! Ia sangat menyukai kegiatan berbelanja, terlebih bukan uangnya yang keluar. Terdengar matrealistis, walau sebenarnya Aubrey mampu untuk membeli dengan uangnya sendiri. Namun bagi Aubrey tingkat keseriusan seorang pria terlihat dari royalnya dalam membayar sesuatu termasuk mengajak dinner date yang romantis di sebuah restoran mewah.
"Kau ada di mana?" Aubrey berdiri menghampiri Sunday Rose. Aubrey tersenyum mendengar suara Aaron menyebutkan nama hotel tempatnya menginap beserta nomer kamarnya.
"Terlalu jauh, aku tinggal di Hamptons tidak jauh dari rumah Mr. Alstrom, tempat pesta itu. Sebenarnya aku memiliki sebuah butik di sini, tapi hanya menyiapkan pakaian wanita. Aku bisa menemanimu ke toko yang lebih lengkap. Jangan salah Hamptons memiliki semuanya."
Aku tahu, Aubrey. Apakah undangan pesta ini berlaku sekaligus tempat menginap di rumahmu?
Aubrey menggigit bibir, dengusan kecil dan licik keluar dari hidungnya. Sunday mendongak kemudian kembali dengan mainannya.
"Ya, kami memiliki banyak kamar kosong di sini."
Aaron tertawa, Aubrey sedikitpun tidak merasakan segan. Bagi dirinya ini bukan pertama kali mengajak seorang pria ke kediamannya.
"Aku akan mengirimkan denah rumahku." tambah Aubrey.
Aaron berbicara singkat mengiyakan ide menginap di tempat Aubrey, tak lama kemudian mereka mengakhiri percakapan lewat telepon.
"Sayang, apakah kau rindu dengan papamu?" bujuk Aubrey duduk di samping putrinya.
Sunday menoleh dan menggembungkan pipinya. "Rindu. Mama ada kencan?" tebaknya.
Aubrey menghela napasnya. Sesaat lalu ia terhanyut akan ide membawa Aaron ke rumahnya, kini sedikit menyesal dengan ide tersebut. Terkadang Aubrey tidak memikirkan Sunday, namun di sisi lain ia adalah seorang wanita yang kesepian. Aubrey membutuhkan sentuhan pria.
"Maafkan mama, Sayang." sesal Aubrey.
"Tidak apa-apa, Mama. Sunday juga rindu dengan papa." jawab putri cantik berambut coklat menghentikan kesibukan mainnya. Sunday menatap Aubrey dengan senyuman simpul di bibir.
"Putri mama sangat dewasa." puji Aubrey memeluk Sunday, mengecup pipinya. "Terima kasih, Sayang."
Sunday melipat bibir sambil menggeleng, Aubrey paham jika putrinya terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Mama akan membantu menyiapkan tasmu, Sayang. Sebelum itu mama mau menelepon papa." Aubrey beranjak begitupun Sunday yang terlanjur riang mendengar perkataan sang mama tentang menghabiskan waktu dengan papanya.
"Simon, putrimu akan menginap di sana selama 2 hingga 3 malam. Kamu punya waktu, bukan?" kata Aubrey setelah mendengar sapaan mantan suaminya di telepon.
Simon Canninghams terdiam sejenak kemudian terdengar menghela napas. Kali ini siapa lagi teman kencanmu, Aubrey? Setiap kali kau berkencan, kau jadi murah hati kepadaku. Jujur, sebenarnya lusa aku akan terbang ke London, tapi demi putriku semuanya bisa di tunda. Atau, apakah boleh aku membawa Sunday ke Inggris? Tenang, aku tidak membawa wanita ******, ini murni demi pekerjaan.
"Tidak! Kau tidak pernah sebentar jika keluar negeri. Aku belum siap ditinggalkan jauh dari Sunday." tolak Aubrey dengan tegas.
Baiklah, kami di sini. Sejam lagi sopirku akan menjemput Sunday Rose. Aku tidak ingin berdebat panjang denganmu, Aubrey. Nikmatilah kencanmu dan aku juga akan menghabiskan waktu 3 hari bersama Sunday.
"Ya, sejam lagi." singkat Aubrey menutup panggilan telepon terlebih dahulu. Ia sangat setuju dengan permintaan Simon dengan menghindari pembicaraan yang nantinya akan merusak mood-nya. Aubrey ingin terlihat cantik dan menarik, tidak ada kegusaran terekam di wajahnya ketika bertemu dengan Aaron Watkins berapa jam ke depan. Ia sangat menantinya.
...
Jace melihat Tallulah mengulas senyuman dingin ketika sepasang tamu yang baru saja tiba tersebut menghampiri mereka. Jace sempat menenangkan Tallulah, sedikit ketegangan mengendur di raut wanita cantik itu.
"Aku tidak tahu jika kalian saling mengenal." ujar Jace ketika menjabat jemari tangan Aubrey. Sepasang manik bundar itu mengerjap sekaligus menggoda menanggapi perkataannya. Khas Aubrey!
"Sebuah perkenalan singkat membuat kami bisa bersama, Jace." jawab Aubrey melirik pasangannya. Aaron membalas senyuman Aubrey kemudian kembali menatap Tallulah. Di saat itu Tallulah mengeraskan pegangan pada lengan Jace.
Jace kembali menatap dua tamu di depannya, bersamaan pramusaji berhenti menawarkan berbagai macam minuman. Baik Aubrey maupun Aaron memilih segelas coktail dengan rasa yang berbeda.
"Di mana Sunday?" Jace berbasa-basi. Tallulah sepertinya enggan untuk mengajak berbincang kedua orang tersebut.
"Bersama Simon." timpal Aubrey cepat.
Kaku, pembicaraan mereka. Jace sebenarnya tidak menyukai pasangan Aubrey malam itu. Hingga ia terkesan datar dan tidak memiliki bahan pembicaraan dengan wanita seksi tersebut. Jace juga menjaga hati tunangannya, sebelum ini Tallulah pernah berpikir jika ia dan Aubrey memiliki sebuah hubungan spesial.
"Baiklah, kalian nikmati pesta malam ini. Kami akan berkeliling." Jace menyudahi, tangannya menggenggam jemari Tallulah.
Aubrey mengangguk setuju, kemudian wanita sensual itu terpekik. "Tuhan, itu Nico Comer! Kau mengundangnya?" matanya membelalak.
Jace tersenyum miring. "Dia temanku." Manik abu gelapnya memandang Nico Comer, berusia 28 tahun dan berprofesi sebagai influencer dengan pengikut 5 juta di kanal Youxxbe.
"Aku kesana!" seru Aubrey menarik paksa Aaron mengikutinya.
Jace tertawa melihat kedua orang tersebut, Tallulah tersenyum masam. "Sudah, Nona Yang Paling Berbahagia Malam ini. Jangan biarkan mereka merusak suasana hatimu." tegur Jace sambil menghadiahi kecupan di pipi Tallulah.
"Melihat mereka bergandengan melewati halaman rumah, hatiku yang tadinya bahagia menjadi kelam." resah Tallulah.
Jace menangkup kedua sisi pinggang Tallulah, merapatkan jarak di antara mereka. "Kau membenci pria itu, bukan Aubrey?"
"Aku kesal, Boo. Aaron sepertinya menjadi seorang penguntit secara terang-terangan. Dia mencari cara agar selalu berada di dekat kita. Aku tidak menyukainya." keluh Tallulah merebahkan kepala di cerukan leher kekasihnya.
Jace mendekap tubuh Tallulah sambil bergerak mengikuti alunan musik romantis yang mengalun syahdu. "Aku berjanji tidak akan mengundang Aubrey ke pesta pernikahan kita. Benar-benar hanya untuk keluarga dan beberapa teman."
"Ya, aku setuju. Maafkan aku, Boo. Pesta ini harusnya ceria, aku malah membuatnya suram. Aku tidak bisa berpura-pura seperti dirimu. Aku tahu jika kau sama tidak sukanya kepada Aaron."
"Undangan pesta berlaku untuk dua orang. Yang mendapatkan undangan bebas memilih pasangannya, tapi ini sebuah kejutan, Sweety Pie. Kita tidak pernah menyangka jika mereka saling mengenal. Aku tidak menyukainya, tentang percakapan kita berapa hari lalu, baiknya kita mulai mencari lokasi tepat untuk lahan peternakan. Lalu membangun sebuah rumah di tengahnya."
Tallulah menyela dengan gelengan kepala, ia menatap wajah tampan Jace, manik abu menatapnya lembut. Satu-satunya ketenangan yang ia dapatkan di tengah keramaian pesta. "Tidak perlu terburu-buru, Boo. Hanya malam ini, aku pikir kita bisa mengatasinya."
"Baiklah." Jace menyanggupi permintaan kekasihnya. Sebuah kecupan singkat di bibir Tallulah membuat sang supermodel menemukan kembali kebahagiaannya.
Tak jauh dari pasangan yang berbahagia, Aaron menatap penuh kesinisan dan dada yang terluka sekaligus mendendam lebih dalam dari sebelumnya.
...
Tallulah mungkin saja lengah, lepas dari genggaman Jace yang tengah sibuk berbincang dengan teman-temannya. Wangi cologne yang ia hapal membuatnya menoleh. Sosok Aaron berdiri di sampingnya yang tadinya tengah sibuk mengambil menu dessert. Tak ada orang di meja itu selain Tallulah dan Aaron.
"Kau nampak sangat bahagia, Lula!" bisik Aaron yang menekankan kata-katanya.
Tallulah meletakkan kembali piringnya ke atas meja lalu membalikkan badan menghadap pria mengajaknya berbicara.
"Tentu aku bahagia, ini malam pesta pertunanganku dengan Mr. Alstrom." Akhirnya Tallulah mendapatkan kekuatan untuk melawan kata sinis pemilik Watkins tersebut.
Bola mata Aaron membeliak kemudian kembali ke tatapan semula. Ia tidak menyangka akan mendapatkan balasan seperti itu dari seorang Tallulah.
"Kalau pesta seperti ini.." Aaron mengedikkan bahu kemudian melayangkan pandangan ke sekeliling terkesan meremehkan dengan kualitas pesta yang di gelar oleh seorang Jace Von Alstrom. "Berkali lipat bisa aku adakan. Entah mengapa kau lebih memilih dia dibandingkan diriku."
"Wait, what!" lontar Tallulah sambil menatap tajam Aaron Watkins.
"Aku menyukaimu, Lula. Sejak awal melihatmu di tokoku, kau adalah bidadari pujaanku. Aku memujamu, memimpikanmu siang malam. Kau membuatku gila, bahkan semua keluargaku tahu jika aku mengejarmu. Mereka berharap aku mendapatkan Tallulah Bluebells menjadi pasanganku." Aaron mengungkapkan isi hatinya yang dipendam sekian lama.
Rahang Tallulah mengeras, mata birunya berkilat-kilat karena amarah. Belum sempat juga ia membalas perkataan Aaron, pria itu kembali bersuara.
"Belum terlambat untuk menyadarinya, kalian masih bertunangan. Bahkan sekarang pun aku menerimamu dengan lapang dada. Kita berdua itu sangat cocok, Lula. Sama-sama menyukai ketenangan Nebraska. Pria itu hanya berkompromi denganmu sementara lihat...dia memiliki rumah di tepi laut." Aaron tidak menahan diri lagi untuk melancarkan hasutannya.
"Aaron, cukup!" bentak Tallulah. "Aku sudah sangat lelah berhadapan denganmu. Kau seperti menguji kesabaranku dengan berbagai tindakanmu yang tidak masuk akal. Kau pikir aku tidak tahu jika kau memberikan cek senilai 100.000 Dollar kepada Valentino, bossku. Hanya untuk mengusir mereka dan membiarkan kita berduaan di restoran itu. Sekarang, kau berhasil datang ke pesta kami dengan menggandeng Aubrey. Licik! Kau pikir kau lebih hebat dari tunanganku?" suara dengusan kasar keluar dari hidung supermodel cantik itu.
"Sama sekali kalian berbeda." Lanjut Tallulah. "Kau terlihat kaget mendapatkan aku yang bisa mengatakan ini semua. Aku bisa membela diriku, termasuk melindungi Mr. Alstrom. Aku tidak sepolos yang diberitakan oleh majalah-majalah itu. Aku tidak ingin membandingkan kekayaan kalian. Bahkan jika kau lebih dibandingkan tunanganku, lebih hebat membuat sebuah pesta, itu tidak membuatku bodoh untuk memilihmu. Untuk bersama, dibutuhkan dua hati yang saling mencintai. Sementara sedikitpun aku tidak memiliki perasaan itu kepadamu! Jadi tolong, tinggalkan pesta kami dan bawa pasanganmu. Jika dilihat kalian cocok untuk bersama!"
Tallulah meraih piringnya dengan jemari yang gemetar, ia sekali pun tidak ingin menatap wajah Aaron. Ia berlalu dengan kaki yang berusaha dikuatkan, melangkah tergesa-gesa menuju tempat kekasihnya berada. Tallulah ingin membisikkan sebuah ide untuk melarikan diri dan menikah di kota yang jauh dari Amerika. Tanpa banyak orang, dan mengabarkan kepada dunia lewat kekuatan media. Ia kehilangan minat untuk tinggal di Nebraska, bahkan berpapasan kendaraan pun dengan Aaron Watkins akan mengobarkan amarahnya. Ia sungguh membenci pria itu.
###
alo kesayangan💕,
kalian tahu, aku sedang memikirkan akan mengembangkan novel Radit dan Rinjani.. lebih detail, sepertinya akan jauh lebih bagus daripada originalnya.
entah aku publish d aplikasi, atau... mencetaknya dalam bentuk buku..
ini baru ide, itupun masih memikirkan krn novel itu dalam kontrak MT.. tapi, cerita originalnya akan dikembangkan secara luas..
bagaimana menurut kalian?
love,
D😘