JACE

JACE
Welcome To The Jungle



Iris sedang berbangga hati, design terbaiknya akan diperagakan oleh model-model top dunia. Ia bahkan tidak bisa mengenali hasil karyanya sendiri. Iris terkesima, bahkan kehilangan kata-kata. Jangan tanyakan sapu tangan yang tak henti menghapus air matanya. Iris bahagia, terharu, dan bangga.


Impian besarnya tercapai, dan itu semua berkat ia bekerja di The Alstrom. Jace, ya pria itulah yang mewujudkan cita-citanya. Berkah dari kenekatan Iris untuk menyapa Jace di bandara, kemudian merencanakan jauh hari untuk bisa diterima bekerja di The Asltrom. Yang paling penting adalah kedekatan yang terjalin antara ia dan Jace.


Pemilik The Alstrom, yang tak lain adalah Jace menganggap Iris adalah teman baiknya. Well, walau Iris sangat menginginkan hubungan yang lebih dari itu. Keuntungan dekat dengan Jace, berujung pria itu mempercayai design Iris diambil alih oleh The Alstrom. Di samping Iris mendapatkan royalti kontrak utama dari The Alstrom, ia juga berhak mendapatkan keuntungan sebanyak 30 persen dari gaun designnya yang laku di pasaran. Sebuah jumlah yang cukup fantantis, Iris bisa menggunakan uang tersebut untuk dijadikan sebagai down payment sebuah tempat di Kota Paris, tentu saja sebuah bangunan yang tidak begitu besar.


Giulio sebenarnya telah merencanakan sebuah kantor sekaligus tempat Iris menyalurkan hobby design-designnya kelak. Sebenarnya bukan berupa ide, Giulio telah menghitung, menyiapkan dana sekaligus menunjukkan beberapa lokasi strategis yang tidak terlalu jauh dari apartemen mereka. Namun Iris masih mempertimbangkan ide Giulio. Bisa dikatakan hal tersebut adalah plan B bagi Iris.


Kembali ke New York Fashion Week, untuk brand The Alstrom. Umumnya satu brand memeragakan koleksinya selama 17 menit. Sangat singkat, bukan?Namun persiapan di belakang panggung memakan waktu berjam-jam termasuk merias para model. Kekasih Jace tentu saja masuk dalam daftar model peragaan hari itu, bahkan menjadi model pembuka acara. Iris bersyukur tidak ada satupun dari kelima designnya akan dikenakan oleh Tallulah. Ia tentu saja tidak ingin memajang foto gaun yang dikenakan oleh Tallulah sementara gaun tersebut mengikutsertakan peran Jace dalam pembuatannya. Tallulah akan merusak kenangan Jace.


Ya, wanita yang sedang berdiri di samping Jace merusak segalanya, Tallulah menyedot semua perhatian Jace. Beberapa hari terakhir Iris layaknya orang yang tak di anggap oleh Jace, mungkin juga karena pria tampan itu sangat sibuk. Raut Jace terlihat tegang, pun tadi Jace sempat berbincang ringan dengannya. Tidak ada yang spesial, hanya menanyakan kesiapan Iris dan gaun-gaunnya. Small talk sebelum team lain mengejar pria itu.


“Lima menit lagi.” pria mengenakan pakaian serba hitam menoleh kepada barisan model yang berdiri tegap dengan gaun-gaun indah dan memukau.


Jantung Iris ikut mencelos, gaunnya dikenakan oleh model di urutan kelima dan tujuh, setelah itu mereka nantinya akan berganti pakaian secepat kilat dan kembali pada barisan panjang.


“Setelah ini kau akan berubah menjadi orang lain, sayang.” bisik Emmanuelle yang merapat di punggung Iris.


Sepenuhnya Iris mengerti perkataan sang Manager Perencanaan The Alstrom yang secara terang-terangan menaruh hati kepadanya. Emmanuelle seorang penyuka wanita yang sangat agresif dan tidak mengenal kata lelah, andai saja Jace yang melakukan hal tersebut, Iris tidak perlu bersusah payah menolak semua ajakannya. Terakhir Emmanuelle meminta Iris untuk bertahan di The Alstrom, sebagai designer tetap dengan tawaran gaji yang membuat hati goyah. Namun Iris memiliki dua alasan ia menolak tawaran Emmanuelle, pertama ia harus menyelesaikan kuliahnya dan kedua bukan Jace yang memintanya bergabung dengan The Alstrom.


“Gaun-gaunmu indah juga berkelas, dan aku telah melihat sebagian besar designmu di kantor. Pintu The Alstrom terbuka lebar untukmu, sayang.” bujuk Emmanuelle.


Iris terdiam sambil mendengarkan musik pengiring panggung yang terdengar hingga di belakang tempatnya berdiri mematung dengan mini dress bermotif floral koleksi terbaru milik The Alstrom. Kembali terdengar teriakan pria berpakaian hitam menghitung mundur, sang stage manager. Iris menahan napasnya, dan dimulailah peragaan tersebut ketika Tallulah bergerak dengan anggun.


Iris mendengar suara tepukan meriah menyambut Tallulah, ia pun bisa melihat secara langsung dari layar besar di belakang panggung. Tallulah berwajah datar namun memancarkan aura  sebagai seorang supermodel yang tangguh. Wanita manapun akan takjub dengan pesonanya, tidak usah ditanyakan hal tersebut kepada para pria. Kembali kecuali Iris.


“Gadis yang sangat cantik.” Emmanuelle bergumam, Iris melirik wanita itu dengan ekor matanya.


“Kau menyukainya?” tanya Iris namun pandangannya kini mengarah kepada Jace. Pria itu terpaku pada layar, memandang Tallulah. Hati Iris tersengat oleh rasa cemburu, ia sangat tahu arti tatapan Jace ketika melihat kekasihnya.


“Semua orang menyukainya. Miss Bluebelles adalah brand ambassador The Alstrom. Lihat wajahnya yang kecil, dagunya yang terbelah, bibirnya yang sensual. Jace sangat mencintai gadis cantik itu, sayang.” di ujung kata Emmanuelle menoleh memandang Iris. Wanita berpakaian pria tersebut sangat tepat waktu dalam menambahkan garam di atas luka Iris.


Iris bergerak mundur ketika Tallulah kembali masuk, orang-orang yang menangani pakaian sang model ramai berlari ke arah tempat untuk berganti pakaian khusus untuk kekasih sang pemilik The Alstrom. Iris bisa melihat Jace ikut serta, mengekori dengan langkah pelan.


Tallulah mendapatkan pelayanan yang istimewa.


“Hei, mau kemana? sekarang giliran gaunmu.” Emmanuelle menarik Iris untuk kembali ke depan layar. “Ini dia momen indah dalam hidupmu, sayang.”


Seketika bayang-bayang Jace dan Tallulah lenyap dari kepala Iris. Ia menangis bahagia disertai tepukan lembut dari pengagumnya.


“Welcome to the jungle, sayang.” Emmanuelle terdengar sangat tulus.



Benar apa kata Emmanuelle, sesaat setelah peragaan The Alstrom, Iris diselamati oleh semua orang. Tadi ia juga sempat dikenalkan kepada media oleh Jace, pria itu mengatakan jika gaun berwarna emerald dan 4 lainnya adalah hasil design milik Iris. Ketika Iris mendapatkan kesempatan untuk berbicara tentang rancangan-rancangannya pada media, ia sempat gugup namun Jace membisikkan kalimat “Ini adalah dunia yang kau impikan, bukan? Jadi jalanilah dengan sepenuh hati”.


Wawancara pertama Iris berjalan lancar, para wartawan terus bertanya tanpa henti hingga Emmanuelle pula yang meminta agar sesi tanya jawab itu berakhir. Sang manager perencanaan sempat memberikan masukan agar Iris tidak terlalu banyak memberikan informasi kepada media. Iris sebenarnya menyadari jika para awak media telah melewati batas, orang-orang itu berani menanyakan hal pribadinya. Untung Emmanuelle menyelamatkannya pada waktu yang tepat. Iris belum sempat menjelaskan bahwa ia telah menikah dan memiliki seorang putri yang sedang menunggunya di hotel.


Stunning, Amore. Peragaannya dan gaun-gaunmu sungguh hebat! Istriku luar biasa. Verona ikut menonton peragaan tadi, sepertinya anak kita sangat menyukai pakaian-pakaian indah seperti mamanya. Aku mencintaimu, Nyonya Celi.


Seulas senyum merekah di bibir Iris usai membaca pesan dari Giulio. Dan puluhan pesan dari keluarganya di Turino. Tak lupa teman-teman kuliahnya, mereka menyanjung setinggi langit bahkan tak lupa memuja kemurahan hati seorang Jace Von Alstrom. Ya benar, Iris mencetak rekor di angkatannya dan mungkin saja di universitas tempatnya menimba ilmu. Rekor tersebut adalah seorang mahasiswi magang bisa memamerkan hasil rancangannya di panggung sebesar New York Fashion Week. Sungguh tidak masuk akal!


Iris kembali menaruh ponselnya di dalam handbag, ia memilih tak membalas pesan-pesan yang masuk.


“Apa kau melihat Mr. Alstrom?” tanya Iris kepada staff yang melintas di depannya.


Sejenak wanita muda itu memerhatikan Iris kemudian tersenyum lebih lebar. “Oh Mr. Alstrom, dia berada di ruangan kedua. Aku melihatnya masuk setelah berbicara dengan beberapa orang.” Jawabnya sambil menunjuk.


“Terima kasih.” Seru Iris kemudian bergegas menuju arah yang ditunjukkan wanita muda tadi. Iris menarik napas tepat di depan pintu, tangan kanannya naik dan mengetuk dengan pelan.


Tok Tok!


“Ini saya, Iris.” ucapnya memberitahu identitasnya terlebih dahulu.


“Hei. Masuklah.” Jace membalas dengan ramah ketika membuka pintu. Di tangannya yang satu memegang piring berisi makanan. “Aku baru makan, apakah kau ingin bergabung?” tanyanya dengan sangat ramah.


Iris terperangah memandang isi ruangan yang dimasukinya. Tidak begitu luas namun rupanya merupakan tempat Jace untuk beristirahat. Di dalam ruangan 40 meter persegi tersebut terdapat sepasang sofa berwarna abu, meja prasmanan yang berisi berbagai makanan dan minuman. Tampaknya hanya diperuntukkan untuk Jace seorang.


“Makanlah denganku.” Jace menawarkan sambil mengulurkan sebuah piring dengan pinggiran motif bunga berwarna biru.


Iris meragu, ia sebenarnya tidak terlalu lapar dan lagi ia mengingat janji makan malamnya dengan Giulio.


“Beberapa dari makanan ini adalah kesukaanmu, bukan?” Jace tersenyum manis. Garis cekungan sangat dalam yang berhasil menyelapkan bintik hitam di pipi kanan pria tampan itu.


“Baiklah.” Iris menyerah dengan bujukan Jace.


Pria mengenakan pakaian rancangannya bergerak menuju sofa dan duduk menikmati makanannya sementara Iris memilih santap sore yang jatuh kepada beberapa kue, dan segelas wine.


“Aku pikir kau sudah pulang, Jace.” ujar Iris lebih santai dan bergabung dengan Jace duduk di sofa.


Iris menyesap winenya sambil melihat Jace dengan lahap menikmati makanannya. “Kau baru makan?”


“Hmm.” Gumam Jace menjawab karena mulutnya sibuk mengunyah.


Pada titik itu pula, Iris paham jika Jace benar-benar berkonsetrasi terhadap isi piringnya. Ia pun memilih untuk diam, dan membiarkan ruangan tersebut dikunjungi suasana sunyi. Tidak juga sesunyi malam, suara decakan gigi beradu dan bibir mengunyah dari dua orang yang duduk bersebelahan tanpa sepatah kata.


Iris perlahan menikmati kebersamaannya dengan Jace, bisa dikatakan ia tidak lagi menjadi pegawai magang di The Alstrom selepas NYFW. Iris tidak akan kembali menginjakkan kaki sebagai seorang yang memiliki identitas pegawai sementara di bangunan tinggi di kota Paris. Selepas ini, Iris hanya akan berstatuskan seorang tamu, atau mungkin kolega The Alstrom andaikata mereka membutuhkannya.


Atau Jace membutuhkannya.


Namun sepertinya pria di samping yang sedang menenggak winenya dengan pelan, tidak membutuhkan Iris. Kebanyakan pria bertingkah seperti Jace, mereka tidak memiliki perasaan yang dalam. Sementara Iris sedang berduka. Ia akan kehilangan Jace, mereka tidak memiliki kesempatan untuk bekerja bersama lagi dalam satu ruangan. Masa-masa indah itu telah berakhir.


“Apakah kau akan kembali ke Paris?” selidik Iris ketika melihat Jace meletakkan gelasnya yang telah kosong. Pria itu tersenyum sangat indah sambil mengangguk.


“Ya. Aku berencana untuk menetap di sini, Gadis Pizza. Beberapa rencana aku telah susun dan harus dikerjakan dari kota ini.” Jace menjabarkan samar.


Iris mengerutkan alisnya sambil mencoba menelaah. “Aku akan kembali ke Paris tiga hari ke depan. Dan mungkin Senin akan ke kantor membereskan berkas pekerjaan. Dan yah, aku meminta surat rekomendasi darimu untuk universitas.”


Jace tergelak tawa ringan, ia kemudian berdiri membawa serta gelasnya dan kembali mengisi hampir penuh dengan wine. Iris ikut berdiri dan bersisian dengan Jace.


“Aku pikir kau tidak perlu lagi hal semacam itu, Iris. Peragaan tadi adalah bukti nyata untuk uniersitasmu. Semua orang tahu, kau sudah bicara dengan media. Tak lama lagi kau akan menjadi perbincangan di dunia mode.”


Iris tersenyum dan tersipu. “Kau membuatku berada di titik ini, Jace. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikan yang kau berikan.”


Iris semakin salah tingkah ketika tangan kokoh Jace meremas lembut bahunya. Sorot manik abu itu berpijar riang. “Santai. Apa yang kau dapatkan ini karena kau sangat memiliki bakat yang luar biasa. Aku hanyalah batu loncatan untuk dirimu mengembangkan diri setelah ini, Gadis Pizza. Dunia mode tidak akan pernah berakhir, terus menerus berkembang dan kembali untuk diperbaiki sesuai jaman. Jangan pernah menyerah, satu anak tangga berhasil kau pijaki. Dan berikutnya semua ada di tanganmu.”


Penuturan Jace membuat jantung Iris berdetak kencang, ia seperti dicintai bukan hanya sekadar diberikan semangat untuk lebih giat dalam berusaha. Pelupuk mata Iris tergenang cairan bening dan bergulir jatuh turun di pipinya.


“Kenapa kau menangis, Gadis Pizza?” tepukan di bahu Iris membuatnya semakin bersedu. Tangannya kemudian naik dan memegang erat lengan kokoh Jace.


Kurang dari sedetik kemudian, Iris menghambur dalam pelukan Jace. Wanita cantik itu terisak dan mungkin menangis meluapkan segala risau yang mengendap di dasar hatinya.


“Ada apa?” tanya Jace khawatir. Tak lupa ia menepuk punggung Iris dengan pelan.


“Aku bersyukur mengenalmu, Jace. Bahkan jauh sebelum kita saling berkenalan, aku memujamu. Aku ingin menjadi sehebat dirimu di dunia mode. Ternyata orang yang kukagumi adalah orang yang sama mengantarkan mimpi-mimpiku bukan hanya sekadar impian belaka. Oh Jace, terima kasih.” Iris meluapkan kebahagiaannya dengan teriakan sambil mengeratkan pelukan. Ia menengadah, dan saat itu pula wajah Jace memandangnya dengan senyuman khasnya yang memabukkan.


Iris lupa diri bahwa ia berpijak di atas bumi. Dimulai dengan gaun-gaun indahnya yang mendapatkan pujian dari semua orang, kini ia berada di dalam pelukan Jace.


Jace Von Alstrom, pria yang sangat ia kagumi dan cintai. Bahkan kadar perasaaannya semakin bertambah usai peragaan NYFW. Tubuh Iris melayang dan hanya ada sebuah pelukan erat yang menahannya untuk tidak terbang lebih tinggi. Ya, tangan itu tak ingin ia tepis bahkan ketika sebuah bencana menggoyang kota New York saat itu juga. Iris akan bertahan.


“Aku mencintaimu, Jace.” kata Iris ketika ia semakin tenggelam dalam dada pria pujaannya. Tanpa menunggu balasan, Iris –lah yang berisiatif merapatkan jarak antara dua bibir. Tidak ada penolakan dari Jace, semacam lampu hijau untuk terus melanjutkan aksinya. Hingga sebuah gerakan samar dari Jace semakin memantapkan hati Iris untuk berusaha membuka hati pria itu.


“Boo.. apakah kau di dalam?” suara lembut bersamaan dengan pintu terbuka. Jace tersentak kaget, dengan refleks ia mundur dan melepaskan semua jeratan Iris.


Tallulah mematung dengan matanya membulat sempurna. “Maafkan aku.” Pekiknya kemudian berbalik dan mengambil langkah seribu.


“Tallulah!” teriak Jace mengejar kekasihnya.


Sapasang tangan Iris menangkup wajahnya dengan bahu naik turun dan napas yang tersengal pendek-pendek. “Apa yang baru saja aku lakukan?”


_____





alo kesayangan💕 ,


ini aku, berusaha mengingat drama Jace. hahahaha.. selamat datang drama.


Team Iris kembali berkibar, jika dia masih punya teman. dunno, isi hati kalian bukan?


jika ada yang menanyakan kenapa aku sedikit tahu tentang dunia fashion,


hmmm.. ya karena RL jobnya berkutat sekitar itu juga.


aku sedikit selow beberapa hari ke depan, semoga bisa menulis tiap hari [kalau tidak datang badai]


wkwkkwk.


[btw, aku tuh pengen bikin cerpen, entah di MT ato aplikasi lain.. cuma aku gak mau tar ada ngomong "sempatnya bikin cerpen, tapi lanjutin Mersia ma Kai malas.. ato tar ada bilang " Thor, dibikin novel saja] 🥴


love,


D😘