
Jace meletakkan pensil yang dipakainya untuk menggambar. Design yang terancang sempurna di kepala belum terealisasi pada kertas di atas meja,
bahkan jauh dari keinginannya. Satu hal yang mengganggu konsetrasi Jace hari itu,
yaitu berita kedekatannya dengan Tallulah menghiasi berita infotainment. Entah siapa
yang mengirimkan foto mereka ke media, dan kini kabar itu tersebar seantero jagat raya.
Manik abunya terpaku pada ponsel di meja, antara "ya dan tidak" berperang di dalam dada. Ingatannya melayang pada raut polos menatap canggung ketika hendak berpisah di depan bangunan apartemen Tallulah, membuat Jace mantap meraih benda pipih itu.
Tanpa ragu ia mencari nomer gadis belia yang menemaninya kembali ke New York setelah pesta di Hamptons.
Mr. Alstrom
Suara Tallulah terdengar lemah, ketika menjawab panggilan pada usai nada sambungan pertama.
“Tallulah, kau ada di mana?” Suara Jace terdengar khawatir membayangkan gadis belia itu.
Di apartemen, Mr. Alstrom. Saya tidak memiliki jadwal hari ini, seharusnya masih di Hamptons.
Jace mengangguk dan paham, karena ia –lah yang mengakibatkan Tallulah harus mengakhiri liburannya lebih awal.
“Bolehkah aku berkunjung ? Kau tahu jika ada yang terjadi di luar sana.”
Terdengar pekik tertahan di ujung telepon.
Sekarang ? Tallulah bertanya dengan suara bergetar.
Jace mengedarkan pandangan pada jendela kaca kantornya, semburat kemerahan menghiasi langit. Tampaknya waktu berjalan dengan cepat, Jace malah berpikir hari masih siang. Jam mewah di pergelangan tangan diliriknya sekilas, pukul 6 lebih 15 menit.
“Aku akan tiba 1 jam, Tallulah.”
Sejenak hening dari Tallulah, sementara Jace dengan setia menanti.
3041, Mr. Alstrom. Nomer apartemenku.
Jace tersenyum simpul “Ya, tunggu aku.” Ucapnya memutuskan panggilan.
20 menit kemudian Jace berjalan keluar dari ruangannya, khusus di Alstrom para pegawai lebih banyak memilih bekerja lembur, bukan karena bayaran per jamnya yang tinggi melainkan mereka lebih tenang ketika bekerja malam. Pun Jace
memberikan kelonggaran kepada para pegawai yang lembur untuk masuk lebih siang
keesokan harinya.
Tepat sejam kemudian Jace sudah berada di depan pintu berwarna dark brown dengan dinding luar berwarna red brown. Apartemen Tallulah
terletak di kawasan Greenwich Village, Jace menyimpulkan jika gadis itu menyukai ketenangan ketimbang semaraknya pusat kota New York. Sama seperti dirinya yang memiliki hunian di daerah itu juga, hanya 5 blok dari bangunan
apartemen sang model.
Hanya sekali Jace memencet bel dan seraut wajah berseri muncul dari balik pintu.
“Apa yang kau bawa, Mr. Alstrom?” manik indah itu melebar melihat bawaan Jace. Dua kantong berbahan kanvas bertuliskan Alstrom mengisi
tangan Jace.
Jace tersenyum dan mengangkat kantong belanjaan berwarna hijau itu “Aku sempat berbelanja, di samping bangunan Alstrom terdapat restoran langganan, aku pikir kau pasti belum makan. Aku tidak tahu seleramu, jadi ada beberapa macam makanan di situ. Dan ini isinya wine dan buah.”
Senyuman mengembang lebar tersungging di bibir Tallulah, dengan cepat model belia itu meraih kantongan dari tangan Jace.
“Aku sama sekali lupa untuk menjamumu, Mr. Asltrom.” Tallulah merona sambil memberikan jalan agar Jace masuk ke dalam apartemennya.
Jace mengedarkan pandangan pada isi hunian Tallulah, ruang tamu telah menarik perhatiannya. Sangat unik dan penuh warna, mengingatkan pada
hunian Jace sebelum pindah di tempatnya sekarang.
“Kau melukis?” Jace terpaku pada barisan lukisan yang memenuhi dinding di belakang single sofa berwarna cream. Tallulah tampak sibuk
menyingkirkan isi meja kayu dan perlahan mengeluarkan isi kantong belanjaan.
“Bakat otodidak, Mr. Alstrom. Sangat jauh dari Monet.” Gurau Tallulah menjawab pertanyaan Jace. pria tampan itu tergelak tawa dan duduk di
sofa.
“Kau pasti sering ke The Metropolitan.” Tebak Jace menyebut galeri terkenal di New york. Beberapa lukisan dari pelukis terkenal terpajang di galeri itu.
Sambil tertunduk dengan bibir tersenyum, Tallulah mengangguk “The National Gallery, Musee d’Orsay, Alte Nationalgalerie dan banyak lagi.”
Jace terpukau akan penuturan Tallulah “Aku pikir seorang model muda seperti dirimu tidak tertarik mengunjungi galeri.”
Gadis belia itu berdiri dan merapikan kemeja putih yang dibiarkan terbuka, di dalamnya ia mengenakan tanktop abu dipadu hotpants denim berwarna biru.
“Justru aku senang ke galeri, Mr. Asltrom. Walau bakat melukisku sangat pas-pasan tapi menghabiskan waktu di galeri membuatku kembali ke masa lalu dan melatih pikiran untuk menelaah hati para pelukis itu. Karena tidak semua makna lukisan dijabarkan dengan lugas. Bisa jadi pikiran kita berbeda dalam memaknai
1 hasil karya.” Tallulah menjabarkan diakhiri dengan senyuman di kulum.
Jace termangu dan dadanya berdesir, pria bergigi kelinci itu hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Aku akan mengambil minuman, Mr. Asltrom.”
Jace sontak berdiri “Biar aku temani.”
Gadis belia itu terkekeh “Silahkan, sambil aku memberikan tour pada apartemen kecil ini.” sahut Tallulah berjalan terlebih dulu.
Tallulah memiliki tinggi badan 178 cm, jika mengenakan heels setinggi 9 cm maka mereka akan memiliki tinggi badan yang sama.
“Ini kamar tidurku, Mr. Alstrom. Dan yang satu tadi di depan untuk tamu, biasanya digunakan olah papa dan mama jika berkunjung. Walau untuk
tinggal di kawasan ini menguras tabungan tapi aku sangat puas.” Tallulah menoleh kembali dengan senyuman di bibirnya.
Sebenarnya Tallulah sedang berusaha mati-matian menahan perasaan bahagianya. Hey, siapa yang tidak bahagia dihubungi oleh pria yang kau cintai, dan pria itu mengatakan akan berkunjung. Hampir 45 menit lamanya Tallulah berendam sabun wangi, mencuci rambutnya dan masih punya waktu mengeringkannya. Jadi jangan bertanya kenapa ia melupakan jika kulkasnya sedang kosong.
“Kau berada di kota besar, tapi tetap saja adalah gadis desa. Itu melekat pada dirimu, Tallulah.” Jace tersenyum pada gadis yang mengisi nampan dengan gelas kosong. Tak lupa ia mengambil botol berisi air mineral dingin dan jus kemasan.
Kembali Tallulah berjalan ke ruangan tamu, melewati ruangan tengah yang berdesign minimalis.
“Aku tidak memungkiri itu, Mr. Asltrom.” Alih-alih duduk di atas sofa, Tallulah memilih duduk di bawah pada karpet bulu sintetis yan sangat empuk. Jace mengambil tempat di sebelah Tallulah, ia mengambil Fried Chicken Sandwich sementara Tallulah memilih Lobster Roll.
Keduanya menyantap makanan dalam keheningan, sesekali Tallulah menoleh menatap pujaannya, pria yang digosipkan dengannya sedang menjalin sebuah hubungan.
Dalam sehari itu, agensi menelepon lebih dari 10 kali hanya mendesak Tallulah untuk memberikan klarifikasi ke media, jika mereka berkencan atau tidak. Agensi sangat senang dengan berita tersebut, nama Tallulah naik bak roket dalam semalam. Berbagai tawaran pekerjaan membanjiri agensinya, tentu saja Tallulah sebagai bintangnya.
“Berkaca pada pengalamanku sebagai asisten merangkap manager Sky, kalian para model tidak begitu memikirkan untuk makan. Sky pun seperti itu, harus dibawakan makanan dan dia baru mau makan. Saat Sky terjatuh pada tragedi
kehilangan Micah, dia sama sekali tidak bisa mengisi perutnya dengan makanan.” Jace
menatap Tallulah yang sedang menyantap Clam Chowder, menu lain yang dibelinya di Chicks and Seafood Restaurant.
Tangan Jace terangkat menyeka sisa cream di sudut bibir Tallulah.
Gadis belia itu mematung dan syok.
“Maaf.” Jace melanjutkan menyantap makanannya tanpa merasa berdosa.
Tallulah meraih gelasnya yang berisi orange jus, menenggaknya dengan buru-buru. Tangannya menyeka keringat di leher, pastinya bukan karena
makanan yang di santap melainkan disebabkan oleh pria di sebelah. Kehadiran dan segala perhatian Jace membuat jantungnya bergemuruh kencang.
“Jujur jika aku baru makan sandwich tuna pagi tadi, Mr. Alstrom.” Tallulah mencoba mengalihkan pikiran dan hatinya yang seutuhnya mengarah
kepada Jace Von Alstrom. Gelenyar gembira mengisi seluruh benaknya, jantungnya
memompa lebih cepat, tak ada yang bisa ia lakukan kecuali mengenggam kuat sendok di tangan.
“Itu tidak baik, Tallulah. Kau masih belia, tubuhmu tidak akan cepat membesar hanya dengan makan tepat waktu. Sangat gampang mengontrol berat badan sesuai brand yang mengontrakmu sebagai model.” Jace mencoba menasehati, sebuah kalimat yang terasah karena waktu. Ia sering mengucapkan itu kepada Sky. Bertahun-tahun lamanya dan setiap hari ia gaungkan di telinga
supermodel yang merupakan sahabatnya itu.
“Aku tahu itu, Mr. Alstrom.”
Jace mengangguk dan mengakhiri makan malamnya dengan menghabiskan isi gelasnya yang berisi dengan air putih.
“Wah, aku makan banyak.” Tallulah mengelus perutnya dengan wajah berseri sekaligus tersipu.
“Syukurlah kau menyukainya.”
Keduanya kembali sibuk merapikan bekas makan dan mengosongkan meja kayu tersebut.
Beberapa menit kemudian keduanya duduk bersantai di ruang tengah, menikmati segelas wine sambil memutar sebuah film action lama, yang lebih dari 5 kali Jace tonton.
Gadis bermanik biru dengan mata indah mengembuskan napas dengan gemetar.
“Silahkan.” Cicit Tallulah mengikuti Jace menaruh gelasnya.
Tatapan mata Jace melembut diiringi sebuah senyuman manis.
Tampan ! rutuk Tallulah bergerak gelisah, kali ini telapak tangannya basah akan keringat dingin.
“Tallulah, kau tahu jika kita menjadi bahan perbincangan media di luar sana. Bagaimana menurutmu, karena kedatanganku kesini bertujuan menanyakan ini dan melihat dengan mata kepalaku sendiri keadaanmu. Aku tahu jika kau lemah, aku takut jika hal seperti ini mempengaruhi psikologismu.”
Tallullah tersenyum dan menggeleng lemah “Tidak, kau salah Mr. Asltrom. Walau berita itu mempengaruhi mood -ku seharian ini, tapi aku bisa bertahan. Aku sangat paham dunia yang kita jalani, yaitu dunia yang tidak lepas dari berita yang tidak benar. Beberapa media hanya membesarkan masalah sebuah foto.”
Manik abu Jace menatap lekat wajah cantik Tallulah. Gadis itu mengulas senyuman indah dan polos.
Di saat yang sama jantung Jace berdebar keras dan hati mendadak resah, harapnya tadi ia lega mendengar perkataan Tallulah. Ia salah,
Tallulah menarik diri membuatnya tidak puas.
Tallulah sendiri semakin gelalapan melihat Jace memandang dengan sorot mata tajam.
“Apakah aku mengatakan hal yang salah, Mr. Alstrom?”
Jace linglung dan terdiam.
Dadanya berdenyut sakit, hingga tangan kanannya naik meremas suitnya.
“Mr. Alstrom.” Tallullah memberanikan diri menyentuh lengan Jace. Menggoyangkan dengan sangat perlahan.
Jace menoleh sembari menangkap jemari tangan Tallulah.
“Pria itu.” gumam lirih Jace memandang wajah cantik gadis belia yang terlihat kebingungan dengan pipinya memanas dan memerah.
“Pria mana?” Tallulah mengerutkan samar alisnya.
Jace menggelengkan kuat kepalanya, sosok Tallulah menghipnotis kesadarannya. Manik biru indah mengundang untuk menyelami
kedalamannya. Bibir penuh dan melengkung gemetar.
Tidak ! Jace tidak berani berpikir lebih jauh lagi.
“Demi Tuhan, apa yang terjadi padamu, Mr. Alstrom?” kedua tangan Tallulah memegang tangan Jace dan menggoyangkannya.
Tangan kiri Jace tanpa permisi menangkup rahang Tallulah “Di mana dia berada? Pria yang kau cintai sebelah pihak itu.”
Rongga dada Tallulah menegang, jantungnya membara seperti matahari di musim panas, suaranya tercekat di tenggorokan. Perutnya mengisyaratkan mual yang aneh, tapi ia tidak ingin muntah. Kembali pusing dengan pandangan
mata yang gelap menghantarkan pada ketidaksadaran raga.
“Tallulah.” Pekik Jace memeluk tubuh lunglai Tallulah yang tidak sadarkan diri.
…
Iris memberikan tepukan tangan yang semarak sebagai tanda sesi kelas balet untuk muridnya telah berakhir. Perlahan satu-persatu gadis
kecil berusia 5 hingga 12 tahun itu pamit pulang meninggalkan Iris sendiri di ruangan latihan.
Tidak menyiakan waktu, gadis tinggi semampai tersebut melatih kelenturan tubuhnya. Terlebih dulu ia memasang lagu pada sound system
di ruangan itu.
Lompatan, putaran fouette yang sangat luwes menenggalam Iris yang larut dalam setiap gerakan terkoordinasi sesuai dengan hentakan
lagu pengiring.
Bersamaan dengan lagu berakhir, ia pun menghentikan gerakannya dalam posisi en pointe.
“Kau semakin berkembang, amore.” Sapa suara dari sudut ruangan. Seketika itu Iris berbalik pada sosok yang berjalan mendekat.
Giulio Celi, pria berasal dari kota yang sama dengan Iris, sedang tersenyum dengan indahnya.
“Giu.” Iris mengucapkan nama pria bersuit hitam dengan kemeja putih. Tubuhnya tinggi besar dan padat akan otot membuat penampilannya terlalu sempurna. Bak dewa yang sangat manis.
Tangan Giu terulur ke depan, Iris justru menghindar dan melangkah mundur.
“Aku berkeringat, Giu.” Tolak Iris dengan halus. Pengusaha muda, kaya raya dan sangat sukses tersebut malah melangkah lebih panjang dan
menangkap pinggangnya.
“Aku sudah terbiasa dengan segala hal tentangmu, amore. Ini bukan pertama kali melihatmu berkeringat. Aku malah menyukai dirimu yang sangat alami seperti ini.” usai berkata Giu menarik agar tubuh Iris merapat pada dadanya.
Kini tidak ada jarak di antara mereka, sepenuhnya bersatu dalam wangi maskulin bercampur keringat berwangi rempah dan musk.
“Kau tidak mengabarkan jika akan ke Paris.” Iris menengadah menatap wajah Giu yang ditumbuhi bulu khas kaumnya. Jantan dan menggoda untuk
di susuri dengan tangan.
“Kejutan, amore. Aku ada urusan bisnis di kota ini dan orang tua kita membujuk walau hal itu tidak perlu mereka lakukan untuk menemui
tunanganku yang sangat cantik ini.” Giu menjatuhkan bibir indahnya pada kening Iris.
“Giu.” Bibir Iris mengerang dan hatinya berdebar hebat.
“Ya, Amore. Panggil namaku, seperti aku memanggil namamu dalam kerinduan ketika kita berpisah. Tuhan, kapan kuliahmu berakhir dan kita menikah. Aku tidak bisa hidup jauh darimu, amore.” Giu menyanjung Iris setinggi langit, setinggi harapan bahwa gadis itu adalah pendampingnya kelak.
“Giu.” Iris merebahkan kepala pada dada bidang Giulio Celi, tunangannya. Pria yang ia sukai, tapi di saat yang sama hatinya sedang menggembara dan penuh harap kepada pria lain. Siapa lagi jika bukan sosok idolanya, Jace Von Alstrom. Pria
yang membuatnya betah berbincang lama tanpa melulu beradegan romantis memekakkan jantung seperti Giulio lakukan kepadanya.
“Aku di sini, Amore.” Giulio mendekap erat tubuh Iris. Wanita yang pernah ia abaikan karena sebuah perjanjian lama kakeknya agar dua keluarga
bersatu. Celi dan Coppole harus menikahkan dua generasinya, dan kembali kepada kemurnian darah ningrat yang mereka miliki.
Awalnya Giulio menolak, namun semakin mengenal Iris semakin besar pula perasaannya. Iris, wanita yang berada di dalam pelukan, tidak melayangkan protes agar penjanjian sakral itu dibatalkan. Hanya saja Giulio tidak mengetahui isi hati Iris, dan kedatangannya kali ini untuk mencari sebuah jawaban.
…
Tallulah membuka mata dengan kaget, tubuhnya menyentak seakan roh kembali menguasai raga kakunya yang terdiam lama.
“Mr. Alstrom.” Panggil Tallulah yang bergerak turun dari tempat tidur. Ingatannya kembali pada kejadian terakhir sebelum ia jatuh pingsan. Dengan tergesa ia melewati ambang pintu yang terbuka lebar.
Jace yang duduk di sofa berdiri dan bergegas sekelebat cahaya menangkap tubuh Tallulah yang sedikit sempoyongan. Kedua tangan Tallulah memeluk tubuh pria yang menopangnya.
Kesadaran Tallulah sepenuhnya kembali usai menghirup wangi parfum Jace yang wanginya sangat berbeda dengan pria lainnya. Cenderung seperti wangi parfum wanita. Bunga, rempah, dan alam yang sangat menggoda indera.
“Tallulah.” Jace menggeram rendah sembari menundukkan kepala menatap wajah gadis yang menengadah menatapnya.
“Maafkan aku membuatmu khawatir, maafkan aku merepotkanmu, Mr. Asltrom.” Ucap lemah Tallulah dengan manik biru yang berkabut. Matanya berani dan lancang membalas tatapan Jace yang menikam dadanya.
“Mr. Alstrom, maafkan aku karena melakukan ini.” kedua tangan Tallulah berpindah mengalung pada leher Jace. Tallulah menaikkan kepala dengan kaki berjinjit dan memberikan ciuman pertamanya kepada Jace. Ya, ciuman pertama kepada cinta pertamanya.
###
Tallulah
Iris
Giu
Jace
alo kesayangan💕,
kapal sudah goyah, ombak makin kencang..
harap pakai pelampung biar gak tenggelam..
aku tahu beberapa di antara kalian tidak bisa berenang.
wkwkwkkwk..
love,
D😘