JACE

JACE
We Need To Talk



“Dari mana?” tanya Giulio melihat istrinya yang baru pulang ketika jam menunjukkan pukul 10 malam.


Iris tersenyum tipis sembari menaruh sepatunya di lemari penyimpanan.


“Lembur kemudian makan bersama, bukankah aku sudah mengabarkan lewat pesan.”


Balasnya.


Iris berjalan menuju kamar tidur Verona, sementara Giulio tidak menimpali istrinya. ia memilih mengikuti wanita mengenakan blazer


sepasang berwarna emerald.


“Verona sudah tidur sejak jam 8 tadi.” kata Giulio melihat Iris mengelus kepala anak mereka.


Iris mendesah pelan, sepertinya ibu muda itu terlihat menyesal tidak mendapatkan putrinya yang masih terjaga. Giulio berdiri tepat di


sebelah Iris, namun tak berani melontarkan sebuah kalimat. Ia membiarkan Iris


melepaskan rindu setelah seharian bekerja.


“Aku akan tidur di sini.” Gumam Iris sekilas menoleh ke arah Giulio.


Kembali Iris menghela napas panjang kemudian berjalan pelan keluar dari kamar tidur Verona. Giulio tetap berada di tempatnya, ia hanya


mengiringi kepergian Iris dengan tatapan mata lembut.


Beberapa hari terakhir Iris tampak sibuk dengan


pekerjaannya, bisa dikatakan hampir setiap malam pulang di atas jam 8 malam. Ini


dikarenakan 4 design pakaiannya terpilih untuk dikembangkan oleh The Alstrom, Giulio bisa melihat kebahagiaan istrinya ketika mendapatkan kesempatan emas tersebut.


Resikonya adalah Iris semakin jarang berada di apartemen, mereka hanya bertemu saat pagi di meja makan. Kemudian ketika malam saat Iris pulang, Verona sudah tidur dan Giulio sama lelahnya walau ia bekerja dari rumah. Tentu saja


Verona di jaga oleh pengasuh, hingga Giulio bisa bekerja dengan tenang. Giulio tidak mungkin menjalankan perusahaannya sembari mengurus Verona, terlebih Iris masih fokus dengan magang kerjanya.


Sembari menunggu Iris yang sedang membersihkan tubuh, Giulio menyiapkan tempat tidur untuk mereka. Mau tidak mau ia harus mengabulkan keinginan sang istri yang ingin tidur di kamar Verona, walau mereka harus tidur dengan melantai. Ya, di atas karpet bulu nan empuk kemudian dilapisi dengan bed cover.


“Terima kasih, Darling.” Kata Iris ketika kembali dengan wangi semerbak yang segar. Wajahnya pun kini lebih ceria dibandingkan sejam


yang lalu.


“Kemarilah.” Giulio tersenyum sambil melirik bantal di sebelahnya.


Giulio mengatur agar mereka bersandar di dinding tepat di depan tempat tidur anaknya. Sengaja kamar Verona tidak diberikan tempat tidur karena area kosong lainnya dipakai untuk bermain bersama dengan pengasuhnya.


“Sudah makan?” tanya Giulio lembut, pastinya sekadar berbasa-basi. Iris bisa dipastikan telah bersantap malam sebelum pulang ke apartemen. Giulio tidak ingin berburuk sangka dengan kedekatan Iris dengan pimpinan The Alstrom. Pria tampan yang kerap kali muncul di story sosial media Iris, foto baik video tentang kedekatan mereka di dalam bekerja. Giulio pikir sebuah hal normal, terlebih Iris pernah mengatakan jika mereka berada dalam satu team.


“Sudah. Kau sendiri?” tanya Iris ikut bersandar dan


merasakan bahunya dirangkul oleh Giulio kemudian direngkuh.


 “Tadi aku membuat pasta setelah Verona tidur. Aku mengirimkanmu pesan kepadamu, andai saja kau ingin makan bersama, Amore.” Balas Giulio seraya menghela napas.


Iris tersenyum “Kami memesan pizza dan pasta ketika jam 6 sore, berpesta kecil-kecilan dengan team. Darling, design gaunku akan diperagakan di fashion week mendatang, tidak adalagi penghalang. Maksudku kemarin Jace masih menanyakan satu design, tapi tadi aku berhasil membuatnya yakin setelah argumentasi panjang tentang pemilihan bahan gaun tersebut.” katanya


disertai desahan yang melega.


“What’s next, Amore? Apakah masih sibuk seperti sekarang?”


Iris berdeham pendek dengan pandangan tak lepas dari tempat tidur Verona.


"Hmm, aku tidak bisa menjanjikan sesuatu, Darling. Takutnya aku mengatakan bisa pulang kantor dengan on time, tapi malah terlambat seperti tadi. Maafkan aku, Darling.” Ucapnya dengan lemah seraya menguap dengan lebar.


Giulio menoleh sambil tersenyum dengan tatapannya melembut.


“Lebih baik kau tidur, Amore. Kau terlihat sangat mengantuk.” Tegur Giulio seraya menarik tubuh istrinya untuk terbaring sempurna di atas


bantal.


Iris mengerang sembari memperbaiki posisinya, ia menarik selimut hingga menutupi perutnya.


"Selamat tidur, Amore. Hari ini kau telah banyak bekerja, semoga besok tubuhmu lebih kuat dan kita bisa mengajak Verona berjalan-jalan. Entah berapa lama akhir pekan kita lewati tanpa keluar sekadar makan di restoran atau berbelanja bersama. Verona merindukanmu, Amore. Anak kita membutuh mamanya." Giulio bergumam walau tahu jika perkataannya hanya ia sendiri yang mendengarkan.


Dua puluh menit kemudian Giulio habiskan hanya duduk termangu di dalam keremangan kamar tidur Verona. Hanya suara kendaraan yang masih bisa terdengar dari bawah sana walau sayup-sayup menemani kesepiannya.


Di saat seperti ini berbagai macam meracuni pikiran Giulio, malaikat dan setan saling berlomba untuk memenangkan isi kepalanya. Di satu sisi ia merasa tersisihkan oleh perilaku dan kesibukan Iris, yang seakan menomerduakannya dan Verona. Di sisi lain, Giulio harus tetap mendukung cita-cita istrinya.


Normal sebagai seorang suami memiliki rasa cemburu kepada pria yang dekat dengan istrinya. Jace Von Alstrom, sang pimpinan yang mana kerap muncul di story sosial media Iris. Walau hanya sekadar menunjukkan kekompakan mereka dalam bekerja.


Satu hal yang menghibur Giulio adalah Jace telah memiliki seorang kekasihnya yang sangat cantik, jadi kecil kemungkinan bagi sang designer untuk melirik Iris. Bukan menyepelekan kecantikan istrinya, keduanya memiliki wajah yang menarik. Tapi membandingkan seorang supermodel yang memiliki penggemar seantero dunia, dan Iris hanya ibu rumah tangga muda namun penuh talenta di dunia yang sama dengan Jace. Sepertinya sebuah hal yang berhasil timpang.


Kembali kepada Giulio, ia tentu saja tetap memilih Iris. Wanita yang memberikannya Verona yang lucu dan sangat cantik, walau sebelum ini mereka mengawali kehidupan rumah tangga tanpa rasa cinta yang menggebu-gebu. Tetapi Giulio telah bertekad untuk mempertahankan rumah tangganya, walau sebuah badai hebat menerjang mereka.


Ya, semoga saja itu tidak terjadi.


Pria bertemankan kesepian itu kemudian menggeram sambil menelengkan kepalanya. Giulio melirik wanita cantik yang tidak tahu menahu isi hati dan kepalanya. Sedetik kemudian Giu mengecup pipi Iris, dan ikut berbaring walau sepenuhnya rasa kantuk belum menyerang kesadarannya.


...


Jace duduk terdiam di tepian tempat tidur sambil menatap lekat ponsel di tangannya. Pesan yang dikirimkan kepada Tallulah sedari tadi siang belum dibalas sepatah katapun. Ia sudah berusaha menelepon namun dialihkan ke kotak suara. Bukan hanya sekali, namun beberapa kali Jace mencoba namun tidak diangkat oleh Tallulah.


Pesan Tallulah yang biasanya panjang lebar mengingatkan Jace untuk makan, beristirahat dan lain sebagainya, kini digantikan dengan kata-kata "maaf Boo, saya sedang pemotretan. Atau saya lelah, butuh beristirahat".


Tallulah seakan menjauh dari Jace, entah sejak kapan, dan bisa dikatakan sekarang hubungan mereka sedang memburuk. Di saat yang sama, Jace harus menyiapkan design The Alstrom untuk fashion show berikutnya.


Jace mengerang sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba diserang nyeri. Ia pun bergegas menuju kotak P3K yang berada di kamar mandi, mengambil dua butir aspirin sebagai jalan keluar cepat dari masalahnya.


Kembali Jace mencoba menghubungi Tallulah, masih dengan respon yang sama. Panggilan suara Jace dialihkan ke kotak suara.


Jace mendesah sambil berpikir cepat.


Sweety Pie, Aku merindukanmu. Kau tahu berapa kali aku mencoba untuk menghubungimu seharian ini. Ya, aku tahu kalau kau sibuk. Tapi setidaknya balaslah pesanku yang lebih panjang, bukan hanya sekadar ikon. Aku tidak tahu kabarmu, kecuali melihat story sosial mediamu. Please Tallulah Bluebells, jangan membuatku khawatir. Ini bukan dirimu yang tiba-tiba acuh dengan diriku.


...


London beberapa saat kemudian...


Tallulah bersenda gurau dengan teman-teman modelnya, mereka sengaja berkumpul setelah berbagai macam rutinitas padat yang dijalani masing-masing.


"Ponselmu terus menyala, babe. Apakah kau tidak ingin mengangkatnya. Sepertinya sang designer sedang membutuhkanmu." bisik Kinsley, model berkewarganegaraan Kanada yang terlibat proyek yang sama dengan Tallulah.


Tallulah tersenyum dan mengedikkan bahunya.


"Babe, ada apa? Kau tidak mengabaikan kekasihmu. Dia adalah Jace Von Alstrom, bukan seorang pria biasa. Apakah ada sesuatu terjadi di antara kalian?" tanya Kinsley tak bisa berdiam diri. Walau Tallulah hanya sekadar teman se profesi, namun wanita cantik sebelahnya terkenal karena kisah percintaannya dengan designer terkemuka dunia.


"Aku sedang tidak ingin membahasnya, Kins." sahut Tallulah berusaha menutupi wajah murungnya dengan senyuman yang dibuat-buat.


"Ini tidak bisa dibiarkan, babe. Kita harus bicara." ujar Kinsley seraya menarik tangan Tallulah menjauh dari sofa bundar di dalam Midnight Bar n Resto.


"Demi Tuhan, Kins. Tidak ada apa-apa." balas Tallulah yang tetap ikut oleh tarikan tangan temannya masuk ke dalam toilet wanita.


Kinsley tersenyum simpul ketika melihat toilet bar tersebut sedang sepi. Ia pun kemudian berdiri di depan cermin sambil menatap wajah masing-masing.


"Sekarang ceritakan kepadaku, atau lebih baik kau membalas pesan kekasihmu." Kinsley mengetuk layar ponsel Tallulah yang sedang digenggamnya.


Tallulah menatap ponselnya, beberapa notifikasi pesan dan panggilan suara dari Jace yang sejak tadi ia abaikan.


"Aku tidak tahu, Kins. Sepertinya aku sedang down dengan hubungan kami. Well, Jace yang kita kenal adalah seseorang yang memiliki banyak wanita. Minggu lalu aku meneleponnya dan dia sedang makan siang bersama dengan teman kantornya. Jace mengatakan hanya seorang pegawai magang dan dia sangat cantik, Kins." tutur Tallulah kemudian mendesah panjang. Ia mengamati wajahnya yang sendu, benar-benar menampakkan semuanya setelah bersandiwara riang di tengah teman-temannya di luar sana.


Kinsley tertawa ringan sambil menggelengkan kepala.


"Babe, lihat dirimu di depan cermin. Kurang apa dirimu hingga kau tidak percaya diri seperti itu. Bukan Mr. Alstrom yang melirik wanita lain, tapi dirimu -lah yang memberikan peluang dia melakukan itu, atau para penggemarnya mendekat karena kau tidak melakukan apapun untuk mempertahankan hubungan kalian."


Tallulah mendesah sambil meletakkan ponselnya dia pinggiran wastafel.


"Ya, inilah kekuranganku. Aku sangat tidak percaya diri dengan hubungan kami. Aku pikir jika Jace ingin bertahan, dia bisa berusaha. Namun jika dia ingin meninggalkanku, dia bisa pergi kapanpun itu."


Kinsley langsung memeluk temannya sambil menepuk punggung dengan lembut.


"Nona cantik, pemikiranmu itu salah. Kau mencintainya, bukan? Jika kau cinta, pertahankan kekasihmu. Wanita-wanita yang dekat dengan kekasihmu itu tahu diri dengan posisinya. Mereka tahu dengan siapa mereka bersaing. Seorang Tallulah Bluebells, angels Victoria. Secantik apapun mereka, tapi dirimulah yang dipilih oleh Mr. Alstrom. Jadi, percaya dirilah. Jika kau tidak mau, di luar sana ada Oslo Bloom yang sejak tadi mencuri pandang ke arahmu. Dia tampan, single, sedang naik daun di dunia model, dengar-dengar dia ditawari main film. Jika kau berpikir melepaskan kekasihmu, setidaknya kau sudah mempunyai rencana cadangan." tuturnya panjang diikuti tawa yang terbahak-bahak.


Tallulah meringis dan mencubit pinggang temannya.


"Lepaskan aku dari pelukanmu, Kins. Jika ada orang melihat, kita akan digosipkan memiliki hubungan sejenis."


"Babe, sepertinya perkataanku tidak masuk di kepalamu. Jika begitu, lebih baik kita menenggak minuman di luar sampai melupakan semua masalah berat di kepala, bagaimana?" tanya Kinsley mengedipkan matanya.


Tallulah menbulatkan manik birunya seraya menganggukkan kepala dengan kuat.


"Yeah, hanya minuman yang aku butuhkan sekarang."


...


Sayup-sayup terdengar bel kamar hotel berdenting berkali-kali. Tallulah menggeram kuat ketika kesadarannya kembali walau godaan untuk tetap tidur lebih banyak dibandingkan beranjak ke arah pintu.


"Tuhan! Aku akan mengutuk siapapun yang berani menekan bel si**lan itu." gerutu Tallulah yang terseok-seok menuju daun pintu kamarnya. Migrain parah dan mual hebat akibat minuman semalam membuatnya berjalan sambil mencengkeram perutnya.


Tallulah melupakan penampilannya yang hanya mengenakan kaos kebesaran dengan rambut berantakan seakan habis diamuk oleh badai tornado berskala kecil.


"Maafkan saya, tuan. Tapi saya tidak memesan sarapan pagi." racau Tallulah ketika membukakan pintu. Matanya terpaku ke bawah pada sepatu casual dipadu dengan denim hitam. Seketika kesadaran semakin bertambah dalam kilatan cahaya.


"Penampilanmu hampir sama denganku, Sweety Pie." suara lembut diikuti tangan kokoh yang langsung memegang jemari Tallulah.


Bibir penuh wanita cantik itu spontan menukik ke bawah.


"Boo." erangnya lalu terisak.


Jace berdecak dan menangkap tubuh kekasihnya yang goyah.


"Kau sangat susah di tebak beberapa hari belakangan, Nona Bluebells. Kau tahu tidak, jika aku sangat merindukanmu. Hingga tadi dini hari ketika aku terbangun, hal pertama yang kulakukan adalah mencari tiket penerbangan pertama dari Paris menuju ke London. Jadi, di sinilah aku datang untuk menemui gadis Alaska yang mengabaikan semua pesan dan teleponku." kata Jace menangkup wajah sendu dan mata Tallulah yang sedang menitikkan air mata.


Jace tersenyum lembut "Kita perlu bicara banyak, Sweety Pie. Kita harus bicara."


###






alo kesayangan💕,


curhat besar "sepertinya aku kehilangan gairah menulis, darlin'. entah mengapa, untuk 1 chapter saja susah banget mengumpulkan pikiran dan menciptakan adegan demi adegan. maafkan aku, tapi semoga ini tidak berlangsung lama. ya, aku pikir mungkin jalan cerita Jace yang drama, Kai yang mau perang, dan Mersia lebih agak mudah membuatku saklek.


Aku tidak mungkin meninggalkan Jace dan Kai demi Mersia, bukan?


✌🏻


love,


D😘