JACE

JACE
Stay With Me



Pria-pria klimis berpakaian formal, suit-suit keluaran terbaru yang baru saja diperagakan di catwalk melekat pada tubuh yang mengedapankan penampilan sempurna, begitupun gaun berwarna pastel dan natural dikenakan oleh para wanita muda dan berumur akhir 40an di pesta hari itu.


Hamptons, kawasan dimana kaum jet set Amerika bertempat tinggal. Deretan mansion dikelilingi


rerumputan hijau yang luas dilengkapi lapangan tennis, kolam pribadi dan akses ke pantai


di belakang rumah. Jangan ditanya harga sebuah rumah di kawasan ini, semua berkisar di atas 7 digit US Dollar.


Seorang pria tampan sangat mencolok di pesta itu, siapa lagi jika bukan Jace Von Alstrom. Sang designer sekaligus pemilik dari brand ternama


Alstrom, tampak berbincang dengan 3 temannya. Mereka bercengkerama sejak 20 menit yang lalu.


Kembali ke soal penampilan Jace, hari itu ia mengenakan suit berwarna merah tomato dipadu dengan kemeja berwarna hitam dan celana bahan bernada sama.


Jace sangat menyukai berpakaian terang, ia suka menjadi pusat perhatian terlebih mengenakan sesuatu berwarna membawa moodnya menjadi


lebih hidup. Yang sebenarnya ia sangat malas untuk menghadiri pesta di kediaman Stephen Villard. Bukan karena ia tidak menyukai pria yang menemaninya berbincang, namun semalam ia bekerja hingga larut malam mengerjakan design


untuk season berikutnya.


Andai kata Stephen tidak mengirimkan pesan pagi buta, kembali mengingatkan Jace jika helicopter yang menjemputnya akan berangkat jam 10 pagi.


Sudah pasti Jace memilih untuk tidur sepanjang hari.


“Saatnya kau bergabung dengan kami di sini, teman.” Stephen menepuk lengan diikuti tawa ringan oleh Ray dan Simon.


Stephen adalah pemilik usaha retail yang menjamur setengah dari negara bagian di Amerika. Jace dan Stephen adalah kawan lama, mereka teman asrama saat berkuliah di NYU. Sementara Ray dan Simon adalah kolega


Stephen. Berkat pertemuan di beberapa pesta, keempatnya menjadi teman menghabiskan wine sambil bercerita tentang pekerjaan mereka yang membosankan.


“Aku masih memikirkan memiliki rumah sebesar ini dan tinggal sendirian.” Sahut Jace sambil mengendarkan pandangan pada tamu-tamu di pesta Stephen.


Ketiga pria mengenakan suit berwarna netral itu tertawa ringan “Tidak ada di antara kami yang telah menikah, oh tidak. Simon telah menikah, kemudian bercerai. Hebatnya lagi pria ini mengundang mantan istrinya ke pesta Stephen.” Ucap Ray, Raymond Burke. Pria berusia 38 tahun, lajang dan playboy sama halnya dengan Stephen.


Simon mencibirkan bibirnya “Stephen yang mengundangnya. Dia tidak mau tersaingi mendapatkan wanita-wanita seksi hari ini dengan mengundang ****** itu.”


Stephen tergelak tawa “Jangan dengarkan mereka, teman.” Ucapnya menatap ke arah Jace yang mengangkat bahunya lalu kembali pada gelas berisi red wine berusia puluhan tahun.


“Aku hanya berpikir, kenapa kalian bisa memanggil mantan kekasih atau istrin dengan sebutan ******. Bukankah mereka semua pernah menjadi yang terindah.” Ucap Jace serius. Perkataannya membuat ketiga pria tampan itu terbahak tawa.


Simon bergerak mendekat di tubuh Jace “Mereka pantas mendapatkan julukan itu, teman. Makanya cinta itu tidak perlu mendalam, itu akan menyakiti hingga susah untuk menerima wanita lain. Jadi wajarlah kami ini lebih memilih untuk berpesta dengan wanita-wanita bertubuh seksi. Dibandingkan harus terjalin sebuah komitmen yang nantinya akan menyakiti dua orang, mungkin juga orang ketiga. Hidup seperti ini jauh lebih baik.” Ucap pelan Simon diplomatis.


“Kalian cocok bersama.” Celetuk Stephen melihat kedekatan Jace dengan Simon.


Pria mengenakan suit berwarna itu hanya menyeringai “Sayangnya Simon buka tipeku.” Balas Jace bercanda. Simon justru merangkul Jace dalam tawa yang keras.


“Aku cukup kaya, Jace. 2 rumah di Hamptons, bisa aku belikan hari ini juga. Jadi maukah kau menerimaku?” jenaka Simon memicu keriuhan yang kelompok itu.


Jace menyudahi tawa lalu menatap lekat Simon, pria yang sangat tampan dan sangat doyan bergonta ganti pasangan.


“Aku bisa membeli 5 rumah di Hamptons hari ini juga.” Sahut Jace tidak mau kalah.


Stephen, Ray dan Stephen sontak bertepuk tangan yang keras.


“Akhirnya teman kita mengakui kekayaannya. 5 rumah hanya kecil bagimu, teman. Tapi mengapa kau masih enggan meninggalkan apartemenmu di


downtown? Justru aku tidak bisa lebih lama dari 3 malam di kota. Sangat bising dan membuatku cepat lelah. Bayangkan hidup di sini, kau memiliki segalanya. Pantai dan wanita.” Tutur Stephen sambil memamerkan aset dan banyaknya wanita berparas cantik di halaman rumah mewahnya.


“Jangan lupa, wine dan anggur mahal.” Tambah Ray sembari mengedutkan alisnya.


“Kalian melupakan bercinta di atas pasir putih.” Simon ikut menambahkan membuat mata pria-pria lajang itu bersinar terang.


“Well, pertama aku masih memiliki kantor di pusat kota. Aku mencintai kebisingan yang kalian tidak sukai. Di kota, aku bisa melihat orang-orang


berpakaian rapi berlalu lalang dan menjadi inspirasi Alstrom. Di sini, hanya ketika pesta aku bisa melihat kalian berpakaian seperti ini, selebihnya topless memamerkan dengan percaya diri tinggi bulu lebat kalian di dada.” Balas Jace sepenuhnya bercanda.


Sebenarnya ia sangat ingin pindah di kawasan itu, hanya saja ia memikirkan dengan siapa akan


tinggal di rumah berkamar banyak. Sementara Jace masih hidup sendiri. Untuk ketiga temannya mungkin sangat gampang menetapkan pilihan untuk tinggal di Hamptons, banyak wanita bertubuh seksi mengincar kemapanan Stephen, Raymond dan Simon. Terbukti wanita-wanita berparas cantik dan tubuh berlekuk sempurna mengarahkan pandangan kepada mereka.


Toh, bagi ketiga temannya, tidak perlu berotak pintar untuk memanaskan ranjang mereka.


Tapi jangan salah menilai, Stephen tidak hanya mengundang 3 teman karibnya. Sejumlah 100 tamu undangan di pesta itu. Mereka tersebar membentuk kelompok kecil dan besar sambil memamerkan kesuksesan masing-masing.


Ya, itu hal biasa di kalangan The Hamptons. Kau harus berada di puncak kesuksesan untuk bisa bergaul dengan mereka. Hal membosankan terus


menjadi permbincangan, apalagi jika bukan sebuah perjalanan wisata ke negara eksotik dengan pasangan bertubuh indah yang menghalalkan cara instan untuk mereguk kemewahan.


“Kami mengajakmu pindah ke sini, agar para modelmu juga bisa menjadi tamu di pesta-pesta Hamptons, teman. Bukankah pesta akan semakin


semarak jika gadis-gadis bertubuh tinggi semampai mengisi halaman rumah kita yang luas ini.” hasut Stephen dengan senyuman miring, seperti seorang harimau yang hendak menerkam intaiannya.


“Otakmu memang kotor memikirkan hal itu, tuan playboy. Jika kalian menginginkan aku pindah di sini, berikan aku daftar rumah yang lebih bagus dari rumah Stephen. Maksudku, tidak terlalu banyak kamar dan pantai di depan rumah. Tentu saja itu syarat utamanya.” Jace akhirnya mengalah, mau tidak mau ia harus memiliki tempat yang lebih layak ketimbang sebuah apartemen berkamar 4 di pusat kota.


Tuntutan gengsi yang membuat Jace mengarah ke sana, alih-alih membeli rumah mewah di pinggiran kota New York, Jace cenderung menginginkan sebuah hunian di kawasan para jet set berada. Hamptons, rumah mewah yang tidak


mengenal kata sunyi, selalu saja ada pesta tidak bermutu di gelar oleh para kalangan pemilik dollar yang tidak berseri itu.


“Dia datang, jalangmu.” Ucap Raymond pelan ketika melihat wanita bertubuh seksi berjalan menghampiri mereka. Tak lupa seorang anak kecil


dalam genggaman tangannya.


“Aubrey?” manik abu Jace membulat, seraya bergantian menatap Simon dan sepupu dari kepala divisi keuangan Alstrom.


“Kau mengenalnya?” tanya Stephen sambil berbisik.


Dengan alis berkerut Jace menganggukkan kepala kepada teman akrabnya. Stephen mengulum senyuman dan pandangan mata menyiratkan sesuatu yang tersembunyi.


“Jangan katakan ia mengincarmu.” Stephen menyudahi perkataannya dengan sebuah tepukan di punggung. Bersamaan saat itu pula Aubrey semakin mendekat.


Jace mencoba mencerna perkataan Stephen, namun ia tidak bisa melanjutkan perkataan karena seruan gadis kecil yang berhambur ke pelukan


Simon.


“Daddy.” Gadis berambut coklat pirang itu memeluk erat ayah kandungnya. Mereka seperti baru saja bertemu setelah berpisah lama, atau mungkin Stephen –lah yang mengatur pertemuan dua orang yang pernah mencinta sebelum akhirnya saling memberikan julukan rendahan kepada satu sama lain.


“Mr. Alstrom.” Aubrey terlihat tidak mempedulikan mantan suaminya yang sibuk menghujani ciuman di pipi Sunday Rose, anaknya.


Terlebih dulu Ray dan Stephen telah menyingkir dari tempat itu, entah apa yang ada di pikiran keduanya hingga hanya menaikkan tangan dan menyapa Aubrey kemudian berlalu pergi.


“Hai Aubrey.” Jace menyambut jabatan tangan wanita yang terlebih dulu terulur ke depan.


Entah apa di pikiran Simon ketika menceraikan wanita yang sangat sempurna di depan Jace. Bukankah semua pria menginginkan wanita berparas cantik, tubuh sensual, terlebih manik mata yang sangat menggoda. Setiap kerjapan


“Aku tidak tahu jika kau datang ke pesta Stephen. Dan kalian berteman akrab.” Ucap Aubrey penuh sandiwara, ia tidak ingin ketahuan jika memeriksa akun sosial media milik Jace. Di beberapa unggahan, tampak Jace dan Stephen sering memamerkan kebersamaan mereka. Ya, tentu saja karena mereka berteman akrab. Ketika Stephen mengatakan jika Jace juga masuk dalam list undangan pesta, ia pun serta merta


membongkar isi lemari dan mencari gaun yang cocok untuk pertemuan kedua dengan sang incaran.


Beberapa orang tampak bahagia dengan perdamaian Aubrey dengan Simon, sebelumnya hubungan mereka bagaikan sesama anjing yang ingin menjadi dominan satu sama lain, menggigit dan menyalak.


Termasuk Stephen, teman mantan suaminya pun langsung mengirimkan undangan beserta fasilitas limousine menjemput dari kediamannya di


New York.


“Kami teman dari kuliah. Hanya karena kesibukan saja yang membuatku sangat jarang memenuhi undangan pesta gila temanku yang sangat kaya itu. Dan oh yah, aku baru tahu jika kau adalah istri dari Simon Canninghams.” Tutur Jace mantap


ke arah Simon yang tertawa bahagia memeluk anak gadisnya.


“Mantan istri.” Ralat Aubrey tidak menerima ucapan Jace. Bagi Aubrey gencatan senjata dengan Simon adalah demi Rose, anaknya. Ia tidak bisa menahan lagi permintaan Rose yang menginginkan sebuah pertemuan dengan papanya, sekaligus mantan suami Aubrey yang brengsek. Walau sampai sekarang Aubrey belum memberikan kesempatan kepada Simon untuk menghabiskan akhir pekan bersama Rose.


Aubrey harus memastikan jika Simon tidak memamerkan koleksi wanita mudanya di depan Rose, ia masih mempelajari keseriusan mantan suaminya dalam hal kesepakatan bersama untuk mendidik anak mereka.


Jace tersenyum simpul “Ya, mantan suami. Aku tidak tahu apa yang membuat kalian bercerai. Tapi Simon memiliki segalanya, dan anak kalian


sangat cantik.” Ujar Jace sopan namun sukses membuat bibir seksi itu merenggut.


“Tidak semua yang kau lihat itu sempurna, Mr. Alstrom. Simon memiliki banyak kekurangan dan itu juga membuat kami berpisah.” Balas Aubrey


lalu tersenyum manis.


Sore hari itu Jace terlihat sangat tampan dengan pakaian yang sangat stylist. Pria tampan itu selalu hidup di berbagai kesempatan, dominan dan menarik perhatian. Hanya saja Jace terlihat belum tertarik kepadanya.


Jace menaikkan bahunya lalu melambaikan tangan kepada gadis kecil yang sedang berada di gendongan. Mungkin gadis kecil itu memikirkan mamanya sedang berbincang dengan pria lain yang bukan Simon, papanya


“Sunday Rose, kami memanggilnya Rose.” Aubrey mengikuti pandangan mata Jace yang terpaku pada anaknya.


“Cantik. Keduanya, nama dan gadis kecil itu. Mengingatkanku kepada Serenade.” Jace bergumam. Tidak bisa dipungkiri jika ia sangat menyukai anak kecil. Di keluarga Alstrom, ia adalah anak tunggal. Satu-satunya harapan


orang tuanya memiliki cucu, bertumpu pada Jace.


Syukurnya kedua orang tua Jace yang hidup nyaman dan damai di pedesaan Swedia, mereka tidak ambil pusing tentang hubungan percintaan anaknya. Terlebih Jace berada di puncak kejayaan dan usia emasnya, mungkin saja pernikahan masih jauh dari daftar impian dari sang anak.


Aubrey mengingat saran Jacob, sepupunya. Jika Jace sangat menyukai anak kecil, sayangnya Rose sedang asyik dengan Simon. Ia tidak mungkin


menarik anaknya dan berkenalan dengan calon papa sambung.


Jace sekilas melihat rombongan wanita yang kompak mengenakan dress berwarna hitam. Seakan pesta di rumah Stephen berubah sebuah hari duka yang indah. Stephen pasti sangat senang jika di hari kematiannya di hadiri oleh gadis-gadis bertubuh tinggi semampai.


Tunggu!


Salah satu gadis mengenakan dress bermodel V-neck mengambil fokus Jace.


Tallulah. Ya, tidak salah lagi. Walau Jace tidak begitu mengenal teman-teman Tallulah, tapi penglihatannya masih sangat bagus. Di venue


pesta bukan hanya Jace yang termangu dengan kehadiran Tallulah dengan teman-temannya. Hampir semua pria menatap seolah sedang mengincar mangsa yang sebentar lagi akan tenggelam di dalam tempat tidur mereka.


“Maafkan aku, Aubrey. Sepertinya pertemuan kita harus berakhir di sini. Ada yang harus aku kerjakan terlebih dahulu.” Pamit Jace dengan sopan kepada wanita seksi yang seakan tidak ikhlas percakapan mereka berakhir, pun masih jauh dari intinya. Tentu saja, Aubrey ingin memikat Jace, sayangnya pria tampan bergigi lucu itu hanya mengukir sebuah senyuman perpisahan dan berlalu ke arah rombongan wanita berusia awal 20an berada.


Tallulah melihat kedatangan Jace, dengan cepat ia pun memisahkan diri dari rombongannya.


Wanita-wanita muda di pesta Hamptons, hal yang terus mengulang di pikiran Jace ketika melihat wajah kikuk Tallulah menyambutnya.


“Hai, Mr. Alstrom.” sambut Tallulah dengan ramah.


Berbeda dengan Jace, sang designer itu malah meraih jemari tangan Tallulah untuk meninggalkan halaman belakang kediaman mewah, Stephen. Gadis berambut coklat dengan manik biru hanya menatap bingung akan spontanitas Jace yang menggiringnya pergi.


Ketika berada di bagian depan, di mana puluhan mobil mewah terparkir rapi, Jace mengurai genggaman tangannya. Ia pun lalu menatap tajam ke arah gadis belia tersebut.


“Siapa yang mengundangmu ke pesta ini, Tallulah?” tanya Jace dengan dingin.


Tadi Tallulah sempat kebingungan sekarang ia mendapati dirinya tersentak kaget dan sedih menyergap dada mendapatkan perlakuan dingin Jace.


Sekilas Tallulah menggigit bibir bawahnya dan menatap takut ke arah Jace. Pria memasang mimik marah, atau entah itu apa. Sungguh sangat tidak mengenakkan.


“Aku dipanggil oleh Maellie, temanku di agen. Dia anak baru, katanya ada undangan pesta di Hamptons. Kami iseng-iseng kesini sekalian


berliburan.” Jawab Tallulah dengan polos. Suaranya bergetar ragu dan terbersit pilu.


Mengingat pertemuan mereka 2 bulan yang lalu, berakhir dengan sebuah sesi makan malam yang akrab, walau setelah itu tidak ada komunikasi yang berlanjut. Maksudnya Tallulah sangat ingin mengirimkan pesan kepada Jace, namun ia mengurungkan niatnya.


“Kau tidak boleh berada di tempat ini.”


Manik biru Tallullah membesar maksimal. Sangat datar dan semakin dingin ucapan yang keluar dari bibir pria yang menjadi cinta pertamanya.


“Aku tidak di undang?” tangan Tallulah naik mencengkeram dadanya. Di dalam sana ada nyeri hadir yang pertama kali ia rasakan, di usia Tallulah yang masih terbilang muda.


Jace menggeleng dan kembali meraih jemari tangan Tallulah “Jika kau ingin tetap berada di pesta ini, tetaplah berada di sampingku.” Ucapnya terdengar bukan sebuah permintaan namun pemaksaan akan waktu Tallulah habiskan berapa jam ke depan, yakni milik seorang Jace Von Alstrom.


Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sepasang mata indah mengerjap dengan hati yang kembali merasakan sakit. Kali ini, ia tidak bisa menerima pria incarannya sedang mendekati gadis belia.


Ah, hanya hubungan seorang designer dan model. Lumrah terjadi, sebulan.. mungkin dua bulan, kemudian keduanya akan saling memaki. Seperti ia dan Simon.


Tidak akan abadi, jika hanya ada gairah. Suatu hari akan meredup dan yang tersisa hanya abu hitamnya.


###





alo kesayangan💕,


happy satnite.. pada kencan yah??


kalau kelabu, mungkin TV kalian perlu ganti yang berwarna..


ngantuk aku, wkwkwkwk


pdhl masih byk yang perlu aku kerjakan..


love,


D 😘