JACE

JACE
GF



Giulio Celi selalu tampil dengan kondisi yang mempesona, bahkan ia tahu jika dirinya menjadi pusat perhatian para wanita, pria bersuria hitam itu justru enggan melepaskan genggaman tangannya pada jemari Iris.


Setelah menyelesaikan jam perkuliahan, ketika Iris keluar dari ruangan kelas dan ia mendapati pria tampan mengenakan sweatshirt hitam dengan jeans denim dan loafer senada sedang tersenyum lebar.


Berikutnya tanpa permisi Giulio menarik tangan Iris dan berjalan meninggalkan area kelas tempatnya menghabiskan waktu dari pagi hingga siang hari.


“Jadi ini maksudnya kau menanyakan lengkap jadwal kuliahku.” Sungut Iris tetapi masih bisa menyunggingkan senyuman simpul. Bagaimana tidak, jika yang menggenggam jemarinya adalah pria setampan Giulio.


Pria pemilik senyuman indah itu menoleh “Aku tidak ingin membuang waktuku selama di Paris. Karena pekerjaan adalah hal kedua, dan kau


yang pertama. Selalu dirimu yang pertama, Amore.” Sanjung Giulion setinggi


langit kota Paris.


Langkah kaki selaras keduanya, menuju lobby fakultas fashion design tempat Iris mencapai impiannya sebagai designer, walau tidak berangan


tinggi jika akan berada di level yang sama dengan pujaannya.


“Bukankan kau masih lama di kota ini, Giu?” tanya Iris ketika tunangannya itu membukakan pintu mobil.


Sekilas Iris bisa melihat Giulio mengangkat bahu lalu mengangguk “Seminggu, tapi aku bisa memperpanjangnya jika kau melarangku kembali.”


Sahutnya seraya tertawa manis.


Iris mendengus geli sambil menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat duduk kepada Giulio. Ia memilih untuk tidak bertanya lanjut tentang kendaraan mewah yang digunakan pria itu, mungkin saja sebuah fasilitas dari hotel mewah tempatnya menginap selama di kota ini.


“Kau punya pekerjaan.” Sahut lemah Iris.


“Tidak masalah jika aku mengambil cuti, toh itu juga perusahaanku, Amore.” Giulio beralasan, manik biru terang dan bercahaya itu menyipit riang.


“Sepertinya kau keberatan dengan keberadaanku di Paris, Amore.” Sambungnya merangkul tubuh Iris.


Wanita bersurai bergelombang itu memilih diam dengan aliran darah yang berdesir hebat. Sentuhan tanpa permisi yang dibuat Giulio


mengakibatkan gelombang aneh di dalam perutnya. Iris bukan gadis yang tidak memiliki


pengalaman berpacaran, sebelum ini ia pernah menjalin hubungan dengan 2 pria. Mateo


menjadi kekasih pertama Iris ketika menginjak usia 15 tahun, hubungan mereka hanya bertahan sampai 2 tahun. Iris kembali berkencan dengan Luchino saat ia berusia 20 tahun, hubungan mereka sangat mesra hingga akhirnya pria itu


memutuskan dengan penuh amarah saat tahu jika Iris telah memiliki tunangan.


Ya, Giulio Celi -lah adalah penyebab kandasnya hubungan percintaan Iris dengan Luchino. Walau tidak setampan dan sesukses Giulio, Luchino adalah pria yang penuh tanggung jawab dan memiliki kafe yang berada tidak jauh dari butik Iris.


“Tidak, kau bebas berada di Paris.”


Giulio tersenyum penuh arti seraya menghela napas lega.


Tak lama kemudian Iris telah berada di sebuah restoran mewah yang memberikan pemandangan Eiffel Tower dari kursi tempatnya duduk bersantai. Ia tidak pernah berkencan selama menetap di kota Paris, kebanyakan Iris memilih restoran terjangkau jika hendak makan bersama dengan teman-temannya. Bukan tidak memiliki uang, Iris mengutamakan uang jajannya dipakai untuk membeli kain untuk hasil design dan lucunyabeberapa teman kuliah Iris melakukan hal yang sama.


“Kau ingin menu yang mana, Amore?” tanya lembut suara bariton dalam di depan Iris, kembali bibir seksi itu menyunggingkan senyuman


manis.


Iris masih tepaku dengan buku menu, sebenarnya ia lapar tetapi bingung memutuskan karena menu makanan yang beraneka ragam dan mengguggah seleranya.


“Amore.” Giulio berdiri dan menggeser kursinya ke samping Iris. Pria pemilik senyuman indah itu tidak mempedulikan tata krama untuk tetap berhadapan dengan teman makan siangnya.


Wangi rempah dan musk menguar lembut di indera Iris, menggelitik keinginan untuk merebahkan diri. Candu. Giulio Celi adalah pria yang bisa menjatuhkan hati wanita dengan hal kecil dalam waktu sekejap.


“Aku ingin memesan makanan pembuka Saumon Fume, kemudian Poulet a la Provencale, makanan penutup Mousse au Chocolat dan wine.” Giulio menerangkan hingga detail menu kepada Iris.


“Pilihkan untukku, Giu.” Iris menyerah dan tertarik dengan pilihan menu milik pria yang merapatkan tubuh kepadanya.


“Baiklah, Amore.” Sahut Giulio seraya mengecup pipi Iris ringan lalu berdiri menarik kursinya kembali ke tempat semula. Tangan kekar itu


terulur ke udara, dengan sigap waiter mengenakan kemeja dan blazer abu dilengkapi dengan dasi-dasi kupu-kupu menghampiri meja mereka.


Iris memerhatikan Giulio menyebutkan menu pilihannya dengan fasih dalam bahasa Perancis.


“Kau takjub dengan bahasa Perancisku, Amore. Ketika masih muda aku suka berwisata ke kota-kota besar dunia. Dan Perancis adalah negara favoritku setelah Italia.” terang Giulio tanpa diminta.


“Mungkin kau pernah berkencan dengan wanita dari negara ini, Giu.” Tebak Iris seraya menyesap winenya.


Gigi putih berbaris rapi ketika Giulio tersenyum lebar, lalu mengangguk “Aku tidak mau berbohong kepada tunanganku, tapi perkataanmu benar


adanya, Amore. Yang kualami adalah gejolak cinta remaja. Ini terjadi ketika aku berusia 16 tahun mengenal gadis Paris lewat sosial media, itupula yang membuatku aku nekat terbang ke kota ini untuk bertemu dengannya. Roxane, namanya. Sekarang dia telah menikah dan memiliki 2 anak. Bagaimana denganmu, Amore? Apakah kau memiliki orang lain selain diriku?”


Manik hitam Iris melebar dan menatap lurus ke arah Giulio “Apa maksud pertanyaanmu, Giu?”


Giulio melipat bibirnya “Well, kita harus terbuka, Amore. Karena aku sangat serius dengan pertunangan ini. Aku mencintaimu, Iris Coppole. Aku takut jika hanya diriku yang menginginkan sebuah pernikahan. Maksudku, apakah kau juga


menginginkan kelanjutan dari penyatuan hubungan dua keluarga kita.”


Aku bisa apa, Giu. Erang Iris dalam hati.


Iris menangkup wajahnya dengan kedua tangan sambil menarik napas panjang lalu menatap Giulio dengan lekat.


“Aku tidak memiliki kekasih, Giu. Tapi aku memiliki


seseorang yang aku sukai, hanya saja pria itu tidak tahu karena dia bukan orang biasa. Seseorang yang sangat terkenal.”


“Selebriti? Kita semua memiliki sosok orang terkenal dan di puja, Amore. Seperti aku menyukai Anna Hathaway, dia sosok sempurna di mataku. Tapi sekadar memuja, bukan bermaksud memiliki. Duniaku dan dirinya berbeda. Dan sangat susah pastinya membuat seorang selebriti seperti Anna untuk jatuh cinta kepada pria sepertiku, Amore. Kami juga tidak saling kenal.” Tuturnya seraya tergelak tawa renyah.


 “Kami saling mengenal, namun sebatas teman berbincang.” Sergah Iris dengan cepat.


“Oh ya? Siapakah dia, mungkin aku mengenalnya.” Tanpa tersulut cemburu malah menyunggingkan senyuman ketika Giulio bertanya.


Iris terdiam meragu.


“Ayo Amore, katakanlah. Aku tidak akan mempermasalahkannya.” Bujuk Giulio dengan lembut.


Iris menarik napas dan mengembuskannya dengan kuat “Alstrom. Pemilik The Alstrom.”


Bibir Giulio terbuka membentuk huruf O kecil, manik biru melebar.


“Jace Von Alstrom. Tentu saja aku mengenalnya, bukan secara pribadi tapi aku menyukai rancangan suit dan pakaian casual buatannya. Aku suka memesan ke penata modeku untuk memilihkan design terbaru The Alstrom. Amore, kau sangat hebat bisa kenal dengan designer sekelas Jace.” puji Giulio dengan tulus.


Manik Iris melebar begitupun senyumannya “Menurutmu seperti itu, Giu?” tanya mencoba lebih bersahabat dengan pria yang dijodohkan dengannya.


Giulio mengangguk tegas “Tentu saja, Amore. Apakah dia pribadi yang baik?” tanyanya


Wajah Iris mendadak berseri “Mr. Alstrom sangat baik, Giu. Ketika berbicara dengannya dia seperti kita. Maksudku, tidak menunjukkan kelasnya. Dia


juga seorang pendengar yang baik, aku bercita-cita magang di The Alstrom Paris.”


“Kau bisa melakukan itu, Amore. Tapi sebelum itu kau harus menikah denganku. Aku tidak bisa menunggu lama hingga kau selesai kuliah. Demi dirimu, aku akan pindah ke Paris.” Tuntut Giulio tak terbantahkan oleh Iris.



Kembali Jace uring-uringan di kantornya, jika kemarin ia masih bisa mengerjakan beberapa design. Hari ini ia hanya bisa melamun, melongo


tanpa melakukan apapun. Kejadian semalam membuatnya tidak bisa tidur lelap, tidak memiliki gairah untuk bekerja.


Ya, Tallulah Bluebells yang belia menciumnya. Walau itu sebuah ciuman yang jauh dari standar Jace tapi begitu bermakna menyentuh hatinya.


Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya, di cium oleh seorang yang tidak berpengalaman. Jace tahu, jika ciuman Tallulah sangat jauh dikatakan mahir. Bahkan ia bisa melihat tubuh gadis belia itu bergetar usai menciumnya, dan meminta berkali-kali penuh permohonan agar Jace segera pulang.


Bahkan Jace tidak sempat mendengarkan penjelasan dari ciuman Tallulah, dan akhirnya ia terusir dan mendapati dirinya mematung selama 10 menit di luar pintu apartemen sang model.


Sedang di mana ? akhirnya Jace berinisiatif mengirimkan pesan kepada Tallulah. Ia tidak bisa berdiam diri lebih lama dengan kondisi hati dan pikiran yang serba salah.


Di coffee shop, Mr. Alstrom.


Napas Jace memanjang setelah membaca balasan gadis yang menciumnya tanpa perlawanan berarti, dengan kata lain ia tidak merespon ciuman Tallulah.


Coffee shop yang mana? New York?


Jace menarik atasan suitnya yang berada di gantungan besi di dekat pintu. Ia tidak suka menunggu, termasuk jawaban Tallulah. Ketika membuka pintu Jace sudah membatin andaikata Tallulah berada di Afrika Selatan pun ia akan berangkat menuju bandara saat itu juga.


Hanya butuh 20 menit kemudian, Jace dari luar coffee shop bisa melihat Tallulah sedang asyik menikmati segelas cairan berkafein itu dengan nikmat.


Jace mengetuk jendela kaca bening yang membingkai satu sosok gadis belia nan cantik. Tallulah tersentak melihat kedatangan Jace. Gagap, spontan berdiri menanti pria itu masuk ke kafe, sang designer yang penuh harap bisa dihindarinya.


“Tallulah.” Sapa Jace tersenyum simpul dengan dada bergemuruh.


“Silahkan duduk, Mr. Asltrom.” Tallulah mempersilahkan pria yang mengisi hatinya, bahkan lebih banyak sejak kejadian semalam.


“Kau sudah makan, bukan?” Tanya Jace melirik gelas kopi Tallulah yang tinggal setengah.


Tallulah mengangguk “Sudah, Mr. Alstrom. Dan lihat piring kosong ini tadinya berisi dua bagel. Oh ya, mereka pembuat bagel terenak di kota New York.” Jawabnya mencoba meredakan gelombang panas yang mendera dada.


“Aku belum makan siang, mungkin beberapa bagel akan membuat nafsu makanku kembali.” Jace memberi kode kepada pelayan untuk memesan


cappucino panas dan 3 buah bagel.


“Harusnya kau makan siang, Mr. Asltrom.’ Ujar Tallulah cepat.


Betapa kagetnya Tallulah ketika melihat Jace membuka kacamata hitamnya, nampak hitam samar di bawah mata pria itu.


“Aku tidak bisa tidur, Tallulah.” Aku Jace menaruh


kacamatanya di atas meja.


Tallulah menggigit bibir bawahnya dan berusaha untuk tetap tenang.


“Maafkan aku, Mr. Alstrom. Jika tentang ciuman semalam, tolong dilupakan saja. Aku sebenarnya sangat malu membahas ini, tapi melihatmu


dengan mata bengkak membuatku penuh rasa bersalah.” Balas Tallulah dengan suara parau.


Jace menggeleng lemah dan menghela napas panjang “Aku butuh penjelasan, Tallulah. Atas dasar apa kau menciumku?”


Sepertinya posisi kedua orang tersebut sedang terbalik, harusnya  pihak Tallulah yang menanyakan hal itu. Karena pada umumnya wanita yang selalu menjadi korban. Di kasus Jace, ia adalah orang yang menderita karena memikirkan manis bak madu bibir Tallulah selama


semalaman.


“Maafkan aku, Mr. Asltrom.” Tallulah melirih dan tertunduk. Bahkan dalam hati ia meminta kepada Tuhan agar Bumi berakhir saat itu juga, atau


mungkin Tuhan berbaik hati menariknya masuk ke dalam lubang terkecil di dunia.


Jace yang mengaduk kopinya sesaat pelayan meninggalkan mereka “Apakah kau larut dengan kebaikanku?” tanyanya mencoba menebak.


“Tidak, Mr. Alstrom.” Tallulah menyahut singkat. Tangannya gemetar, pun kakinya yang tidak bisa dilihat oleh Jace bergetar di luar kendali otaknya.


“Terus?” Jace sangat suka melihat sikap gagap Tallulah. Gadis belia itu memerah di pipi dan tidak berani menatap ke depan.


“Aku..” Tallulah menatap manik abuk dan wajah manis dan tenang Jace. Berbanding terbalik dengan Tallulah, ia bahkan tidak tahu kemana


jantungnya berpindah tempat.


Jace terkekeh samar, kepalanya mengangguk sekali ke depan menberikan kode bahwa ia sedang menunggu jawaban Tallulah.


Tallulah sejenak terdiam “Aku melakukannya dengan spontan, Mr. Asltrom.”


“Serius?” berondong pertanyaan Jace mencari kebenaran dari tindakan Tallulah.


Kedapatan ! benak Tallulah sudah skak mati karena pertanyaan terakhir Jace.


“Benar kau bilang barusan, jika bagelnya sangat enak.” Seru Jace dengan manik abu yang melebar takjub.


Tallulah memegang dadanya karena lega bisa menggunakan paru-parunya lagi, semoga saja pria tampan di depannya lupa untuk terus bertanya.


“Kue yang lain juga sangat enak, Mr. Asltrom.” Sahutnya melirik ke arah etalase di dekat kasir dan lemari pendingin.


Tanpa sadar Jace menghabiskan tiga bagel tidak lebih dari 10 menit lamanya.


“Ayo kita berjalan di luar.” Ajak Jace ketika kedua gelas mereka masing-masing menyisakan sedikit cairan berwarna coklat pudar.


Jace meletakkan 2 lembar seratus dollar di atas meja dan berdiri seraya meraih jemari Tallulah.


Suasana sore itu cerah namun sedikit ada rasa dingin masuk ke dalam suit Jace. ia pun membuka atasannya, setelah sadar jika bagian atas tubuh Tallulah hanya mengenakan t-shirt putih yang sedikit tipis bahannya.


“Kau tidak perlu melakukan ini, Mr. Alstrom.” Tallulah melayangkan protes ketika Jace memasangkan suit berwarna abu itu di bahunya.


“Cuaca hari ini dingin, Tallulah. Harusnya kau mengenakan pakaian lebih tebal saat peralihan musim seperti ini.” kembali Jace menjadi


sosok yang paling perhatian, terlebih sifat itu hanya ditunjukkan kepada Tallulah seorang.


“Kita akan ke mana, Mr. Asltrom?” Tallulah merasakan tangan Jace menghantarkan panas hingga ke rongga dada.


Manik biru itu mengerling, gigi kelincinya nampak dengan senyuman setengah lebar.


“Berjalan, Tallulah. Aku ingin menikmati sore ini dengan berjalan.”


Tiba-tiba saja Tallulah melepaskan tangan dengan paksa.


“Ada apa?” tanya Jace dengan kaget dan kembali menarik tangan Tallulah untuk digenggamnya.


Model belia itu menggeleng dengan kuat, manik mata birunya membulat lebar, cantik pula ketakutan “Ada paparazzi, Mr. Alstrom. Kita diikuti.”


Sontak Jace mencari para fotografer pencari berita penuh sensasi. Berkat mereka pula, ia dan Tallulah berada di dalam hubungan yang sangat


canggung.


Jace tertawa ketika melihat tiga fotografer yang berjarak 7 meter dari tempatnya berdiri.


“Mendekatlah, Tallulah.” Gadis belia itu tersihir oleh perkataan Jace. Iapun mendekat dengan bantuan tangan Jace yang menangkup kedua


pipinya.


“Mr. Alstrom.” Ucap Tallulah sangat lemah menaikkan kepala dan beradu pandang dengan manik abu Jace.


Pemilik sekaligus designer utama The Asltrom tertawa manis menatap wajah cantik si gadis media “Aku ajarkan cara berciuman, sweety pie. Dan mulai sekarang panggil namaku bukan Mr. Alstrom. Aku tidak mau kekasihku memanggil


seperti seorang bawahan kepada atasan.”


“Kekasih?” jantung Tallulah rontok saat itu juga. Tangannya tanpa sadar naik memegang dengan kuat bagian depan kemeja Jace.


Senyuman manis, wajah yang rupawan, bibir indah yang melengkung memamerkan gigi indahnya dengan perlahan mengikis jarak wajah di


antara keduanya.


“Ya kekasih, Tallulah. Kau adalah kekasihku.”


###






alo kesayangan💕,


kemarin aku sibuk menyenangkan kepala..


otakku buntu untuk menulis.


so maaf jika absen meng -Up chapter novel..


apa kabar kalian hari ini?


love,


D😘