JACE

JACE
I Miss You



"Bagaimana?" tanya Tallulah berpose di kotak telepon berwarna merah.


Jace mengacungkan jempol dan mengambil foto kekasihnya sekaligus tunangannya. Cincin Grandma melingkar di jari manis Tallulah, dan itu pula dipamerkan kekasihnya di foto.


"Coba lihat." Jace tersenyum sambil menunjukkan ponselnya. "Semuanya cantik, kau selalu cantik apalagi ketika tidur."


"Aku sudah sangat bahagia hari ini, Boo. Jangan menambahkannya, hatiku bisa meledak." sahut Tallulah pelan sambil memerhatikan hasil jepretan foto Jace.


"Semuanya bagus." Tallulah tersenyum puas.


"Pilihlah satu, dan aku akan mengirimkannya." kata Jace melirik Tallulah yang sontak membelalakkan manik biru indahnya.


"Kenapa cuma satu, aku mau semuanya." Tallulah berseru sambil berusaha merebut ponsel Jace.


Jace tertawa-tawa dan memeluk Tallulah di tengah keramaian malam Kota London.


"Kau hanya butuh satu untuk dipamerkan kepada semua pengikut sosial mediamu, Sweety Pie. Sisanya untukku, pengobat rasa rindu saat bekerja."


"Kau sungguh merindukanku?" Tallulah menaikkan kepala menatap wajah Jace. Pria rupawan dan sangat sukses, yang sesaat lalu memasangkan cincin peninggalan mendiang grandmanya di jemari Tallulah.


"Apakah kau tidak?" tanya Jace memandang wajah Tallulah cantik dan yang malam itu tampak lebih dewasa dibandingkan usianya. Makeup -lah yang membuat Tallulah terlihat berusia akhir 20 tahun. Itu mengapa Jace lebih menyukai kekasihnya saat tidur dan ketika beraktifitas di dalam rumah. Hanya dalam momen-momen tersebut Tallulah menjadi dirinya sendiri, seorang gadis yang beranjak dewasa.


"Tentu aku merindukanmu, Mr. Alstrom. Hanya ada dirimu di kepalaku." sanjung Tallulah sengaja dibuat dramatis, Jace mengulum bibirnya yang sedang tersenyum.


"Oh ya? Tapi kenapa kau bisa menahannya. Mengabaikan semua panggilan telepon dan membalas pesanku setelah berjam. Jahat." Jace melepaskan pelukan dan mulai berjalan menikmati malam.


Tallulah terus memandang wajah Jace tanpa mengatakan sesuatu. Ia masih belum mempercayai jika Jace melamarnya secara resmi. Segala kegalauan yang dipendam sendiri selama 7 hari belakangan, sirna hanya dengan satu makan malam yang romantis bersama Jace Von Alstrom.


"Apakah wajahku berubah?" Jace mengerling dan mendapati Tallulah tersipu merona.


"Tidak. Aku melihatmu lebih dewasa, Boo. Bukan berarti menua, tidak. Kau sangat tampan." Tallulah malam itu sedang mengeluarkan semua rayuannya, hingga kini giliran Jace yang memerah dan tersenyum bodoh.


"Kau sangat cantik dan juga masih muda. Bersinar seperti bulan." Kata Jace mendongak ke atas, purnama sedang bersinar dengan sempurna dan cantiknya. Tallulah semakin merona.


"Aku memiliki tunangan yang hebat dalam merayu." Tallulah mengencangkan pelukan tangannya pada lengan Jace. "Sepertinya aku bisa mati dengan damai."


"Tidak, kau harus menikah denganku terlebih dahulu, hidup lama dan kita menghabiskan masa tua bersama. Apakah kau akan mengunggah foto tadi dan memamerkan kabar bahagia kepada semua orang, Sweety Pie?"


Tallulah sejenak berpikir. Walau hatinya dilanda oleh rasa bahagia setinggi awan namun ia masih berpikir untuk mengabarkan berita baik itu kepada keluarga besar sekaligus managemen model tempatnya bernaung.


"Aku tidak ingin gegabah." sahut Tallulah meragu.


Jace mengulas senyuman simpul. "Ya, memang sudah menjadi kepribadianmu, Nona Bluebells. Terlalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Keputusan ada di tanganmu, tapi aku tidak membutuhkan persetujuanmu untuk memamerkan foto tunanganku."


"Apa kau tidak takut kehilangan wanita-wanita yang menjadi penggemar beratmu, Mr. Alstrom?" selidik Tallulah.


Jace menoleh menatap heran kekasihnya, kedua alisnya saling bertautan. "Wanita yang mana, Sweety Pie? Sudah aku jelaskan, jika mereka tak lebih dari sekadar teman kerja."


Jace mengecup pipi Tallulah, sayangnya tidak ada Paparazzi mengambil foto mereka malam itu. Sepertinya para Paparazzi sedang mengejar selebriti yang lebih terkenal di kota London dan mengabaikan Jace yang berhasil melamar supermodel sekelas Tallulah Bluebells.


"Kau memiliki koleksi wanita yang banyak, Boo. Terkadang aku berpikir bisa saja mereka nekat mengejarmu." Tallulah lebih berani mengungkapkan isi kepalanya, mungkin pengaruh cincin grandma Jace melingkar indah di jemarinya.


Jace berdecak tak habis pikir. "Tidak ada yang lain, Sweety Pie. Itu kenapa aku ingin mengunggah foto bahagia kita malam ini, agar semua orang tahu. Ah, kau hanya ingin menguji kesabaranku. Tidak, aku ingin merusak hari bahagiaku malam ini. Sesampai di hotel aku ingin mendengarkan konsep pernikahan impianmu, Nona Bluebells." tandas Jace menghentikan pikiran dan bibir kekasihnya untuk kembali mengungkit wanita yang tidak pernah ia pedulikan.


...


Hari Senin akhirnya datang juga, Iris sangat riang menyambut awal pekan yang disambut dengan hujan ringan ketika ia berangkat ke kantor. Bukan masalah besar, ia masih bisa menggunakan payung dan taksi tanpa harus membasahi pakaian mahalnya. Sebenarnya Giulio menginginkan Iris menggunakan mobil pribadi ke kantor, namun tentu saja ia tidak ingin terlihat mencolok di The Alstrom. Yakni memamerkan mobil mewah sementara Iris hanyalah seorang pegawai magang.


Iris tidak ingin terkenal seperti itu di tengah otak-otak kreatif yang bekerja di The Alstrom. Iris ingin orang mengenal kemampuannya dalam merancang satu busana yang bagus, setidaknya sekarang namanya mulai terkenal di kalangan para perancang di bawah satu label yang sama. Design Iris sedang diproduksi walau dalam jumlah yang terbatas, setidaknya sudah cukup membuat seluruh keluarga Coppole jumawa di Turino, Italia.


Bicara tentang keluarga besar Coppole yang mengatakan akan menggelar pesta dan nonton bersama New York Fashion Week ketika peragaan hasil rancangan Iris dipamerkan pada event tersebut. Pun Giulio telah merestui kepergian Iris ke New York, dengan catatan Giulio dan Verona tetap ikut walau hanya berada di hotel.


Iris telah menjelaskan kepada suaminya, bahwa ia akan sibuk selama di New York dan tidak akan memiliki waktu untuk mengurus kedua orang penting dalam hidupnya. Namun Giulio bersikeras, Iris pun hanya bisa mengiyakan keinginan suaminya.


Hujan masih setia turun di kota Paris, Iris berkali-kali menengok ke arah jam mewah di pergelangan tangan dan arah pintu masuk. Ia penuh harap Jace tetap masuk ke kantor, walau dari pemantauan story sosial media pimpinan The Alstrom tadi malam menjelaskan posisi Jace masih berada di kota London.


Iris gelisah, namun ia tetap mengerjakan designnya, dan mengabaikan keinginan untuk mendengarkan musik di telinga. Tangan Iris terlatih menggoreskan pensil berwarna-warni yang membentuk motif gaun dengan indah, sambil tersenyum tipis ia telah memikirkan rencana untuk memamerkan hasil designnya kepada Jace.


Waktu terus berlalu, Iris tidak mengingat berapa lama waktu ia habiskan di dalam ruangan kerja dengan sendirian hingga remasan di bahu mengagetkan Iris.


"Kau bekerja sangat keras, sayang." tegur Emmanuelle Dale, Direktur Perencanaan. Iris tersentak kaget, namun berusaha tetap tersenyum ala kadarnya.


"Miss Dale." erangnya kemudian mendesah sedih mendapati seseorang yang diharapkan tidak juga tiba.


"Aku kesini karena jam istirahat sudah lewat 30 menit dan kau belum juga keluar dari ruangan. Apakah kau sedang diet? Ah tidak, tubuhmu sudah sangat indah, bahkan kau bisa menjadi model. Kau tidak perlu berdiet keras, sayang." Emmanuelle memuji sambil mengedipkan mata.


Mendapatkan dirinya sedang di rayu oleh Emmanuelle, Iris spontan berdiri dan merapikan kertas dan alat menggambarnya.


"Saya tidak berdiet, Miss Dale. Hanya lupa jika telah masuk jam makan siang." tutur Iris agak segan menatap wajah orang kepercayaan Jace tersebut.


"Yeah biasanya ada Jace di sini. Hmm.. Jace tidak membalas pesanku, sepertinya dia sedang menikmati liburan bersama Nona Bluebells di London."


Ringan terucap namun perkataan Emmanuelle menusuk dada Iris. Ia bahkan telah kehilangan nafsu makan, tapi mau tidak mau Iris harus keluar dari ruangan kerjanya sebelum Emmanuelle bertindak lebih jauh. Iris masih sangat normal, ia menyukai pria apalagi dengan Jace. Iris memujanya dengan sepenuh hati.


"Saya akan makan bersama dengan Loana, bagian resepsionis kantor." ucapnya mengarang bebas. "Kami telah mengatur janji akan makan siang di Le' Taste. Oh Tuhan, aku melupakan janjiku. Terima kasih Miss Dale telah mengingatkan jam makan siang. Mari kita berjalan bersama." Iris bersikap sopan dan profesional, setidaknya sebuah penegasan bahwa ia sama sekali tidak tertarik menjalin affair dengan seorang wanita.


Iris membiarkan Direktur Perencanaan The Alstrom itu membukakan pintu untuk dirinya.


"Merci, Miss Dale. Oh ya, tentang Mr. Alstrom. Apakah benar dia tidak masuk kantor hari ini?" tanyanya dengan hati-hati. Iris tidak mau ketahuan jika ia memiliki perasaan spesial terhadap Jace, terlebih oleh Emmanuelle yang sesaat lalu berusaha menggodanya.


"Sejak bersama dengan Tallulah, Jace tidak bisa diharapkan seperti dahulu lagi. Jace bisa saja terbang dari New York ke Paris jika ada urusan bahkan itu hal yang sepele. Sekarang?" Emmanuelle mencibir sambil mengedikkan bahu.


"Kau tidak menyukai Mr. Alstrom berpacaran dengan Nona Bluebells?" Iris seakan mendapatkan angin segar mendapati respon wanita berdandan ala pria tersebut sejalan dengan pikirannya. Iris tidak menyukai Tallulah Bluebells.


Emmanuelle mengerutkan alisnya sambil bergumam tidak jelas. "Hmm.. Sebenarnya dulu iya, aku tidak menyukai Jace memiliki seorang kekasih. Oh aku menyukai Nona Bluebells, dia sangat cantik dan sangat "darling". Kesukaan semua orang. Aku hanya berharap Jace menikmati masa kejayaannya hingga usia 40 tahun. Well, kebanyakan para designer top tetap melajang hingga akhir 40 tahun. Dan gay." tuturnya lalu terkekeh.


Iris membenarkan dalam hati, apa yang dikatakan Emmanuelle ada sebuah realita di dunia mode. Sebut saja brand besar dunia, Umumnya memiliki jalan hidup yang tak lazim. Dan itu pula membuat industri mode sangat unik. Pria-pria lebih dominan sama halnya dengan dunia masak memasak kelas atas.


"Aku melupakan sesuatu di ruanganku." Emmanuelle menghentikan langkah dan menatap Iris dengan menyesal.


"Saya akan turun ke bawah dan menemui Loana. Terima kasih telah menemaniku sampai di sini, Miss Dale." ujar Iris ramah dan sopan. Selain Jace, Emmanuelle termasuk orang yang perlu dijaga perasaannya. Iris tidak ingin bermasalah dengan Direktur Perencanaan The Alstrom, yang bisa mengakibatkan kerugian besar andai saja rancangannya diboikot oleh Emmanuelle.


"Nikmati makan siangmu dengan tenang, Miss Coppole." Emmanuelle masih sempat mengusap lengan Iris sebelum akhirnya wanita itu membalikkan badan.


Iris mengabaikan rasa jijik yang menerpa akal sehatnya. Satu hal perlu ia syukuri, bahwa tidak ada orang yang melihat perbuatan Emmanuelle yang secara terang-terangan menggoda dirinya. Ia pun melesak masuk ke dalam lift sambil bersenandung lagu kesukaan Verona, anaknya.


...


Suasana Le' Taste sangat ramai oleh para pegawai yang berkantor di kawasan yang sama dengan bangunan The Alstrom, mungkin saja beberapa dari luar area karena restoran Eropa Mideteranian itu cukup terkenal bagi para Parisian.


Iris menyantap makan siangnya tanpa Loana, ia hanya mengatasnamakan teman baiknya di The Alstrom untuk menghindari Emmanuelle. Tentu saja Loana sudah menyantap makan siangnya di pantry kantor. Iris mengenal Le' Taste berkat Jace yang kerap mengajaknya makan siang bersama di tempat tersebut.


Ah, pria itu. Iris merasakan rindu berkecamuk di dalam dada. Baru dua hari mereka tidak bertemu dan Iris telah merasakan gelisah. Ia tidak pernah mengalami hal yang sama pada mantan-mantan kekasihnya, pun terhadap Giulio. Umumnya, para pria itu menampakkan diri sebelum Iris merasakan rindu. Para pria mengejarnya, berbeda dengan Jace. Justru Iris -lah yang berharap banyak, bermimpi setinggi angan-angan liarnya.


Iris sangat menyukai bekerja bersama dengan Jace, duduk terdiam dengan goresan pensil warna di tangan, saling melirik lalu melemparkan senyuman manis.


Ah, aku sungguh merindukanmu. Iris menatap nanar keluar di jalanan, hatinya menghampa di tengah keriuhan kota mode.


Ting !


Denting notifikasi pesan masuk di ponsel membuyarkan lamunan Iris Coppole, si wanita cantik yang berpakaian rapi hasil rancangan designer kesayangannya.


Mr. Alstrom baru saja lewat di depan kami. Ya, orang tertampan di kantor akhirnya telah datang.


Manik hitam Iris melebar maksimal ketika membaca pesan dari Loana. Saat itu juga jantung Iris bergemuruh dengan lonjakan detak dua kali lipat mendera dadanya.


Iris menenggak buru-buru winenya hingga habis. Meletakkan dua lembar pecahan 100 Euro di meja, mengingat total makan siangnya, 134 Euro. Hati Iris sedang senang, tip 66 Euro tidak masalah bagi isi dompetnya.


Surai ikal Iris melambai tertiup angin ketika menyusuri pedestrian yang berjarak 200 meter dari bangunan The Alstrom. Senyumnya melebar ketika menyapa bagian keamanan yang berjaga di depan kantor.


"Dia datang?" Iris terpekik riang ketika mencapai meja Loana dan Millie.


Kedua wanita berseragam rapi itu mengangguk dengan wajah yang sama dengan Iris. Wajah-wajah para penggemar berat seorang Jace Von Alstrom.


"Ya, Mr. Alstrom terlihat sangat bahagia. Dia bahkan membagikan kami, kopi dan muffin." Millie dengan riang menunjukkan pemberian Jace kepada Iris.


"Kau pasti mendapatkan bagian. Mr. Alstrom membeli banyak." hibur Loana berdiri dari kursinya dan mengitari meja kemudian merangkul bahu Iris untuk menemaninya hingga ke pintu lift.


"Bagaimana makan siangmu, babe?" bisik Loana memencet angka lantai yang hendak dituju Iris.


"Lancar dan makanannya enak." sahut Iris dengan tulus. Ia menyukai pertemanannya dengan Loana, gadis berusia 24 tahun dan memiliki banyak pengalaman berkencan dengan model-model papan atas.


"Sampai bertemu nanti sore." Sambung Iris melambaikan tangan sebelum pintu lift tertutup.


Sambil menunggu, Iris mengambil kesempatan itu untuk membuka akun sosial medianya. Ia penasaran dengan jumlah orang yang melihat story foto makanan unggahannya saat di Le' Taste.


Bunyi pintu berdenting, pun Iris melangkah keluar dan perih tercekat di tenggorokannya ketika melihat unggahan story sosial media pimpinan The Alstrom.



Jacevonalstrom Kota Paris. Baru sejam menginjakkan kaki di sini, namun telah merindukan tunanganku @Tallulahbluebells❤.


###




alo kesayangan💕,


Alasanku melambat menulis, coz Macbook -ku sedang bermasalah. Saat menulis Kai tiba-tiba nge-hang, dan kemudian monitornya putih dan bunyi beep berulang kali. Aku bukan anak Elektro, tapi anak Ekonomi 😂. So, gak paham. Senin baru bisa membawanya ke bengkel ✌🏻.


Happy weekend Y'all ❤.


love,


D😘