
"Cheers." Ethan mendentingkan gelasnya dengan milik Tallulah.
Senyuman simpul tersungging di bibir si gadis yang sangat memukau sore itu.
"Kau suka dengan pestanya, Lula?" Ethan yang tengah bahagia terus mengajak sang supermodel untuk berbicara. Semacam sebuah keharusan baginya agar si cantik tidak merasa bosan dengan pesta perdananya di Nebraska. Dan sebuah kehormatan besar bagi Ethan ketika Tallulah mengiyakan undangannya. Dan lihat, semua orang menatap penuh kekaguman kepada Tallulah, sekaligus iri kepadanya.
"Iya." singkatnya kemudian melirik ponsel di samping tas pesta miliknya. Tallulah memandang sambil lalu tamu-tamu pesta yang sedang berbincang dengan para kenalannya.
"Terima kasih sudah menerima undanganku." cetus Ethan kembali menghangatkan percakapan mereka.
Tallulah kembali tersenyum simpul dan mengangguk. "Aku pikir tadinya akan menemani ke pesta salah satu temanmu, malah kau sendiri yang menjadi tuan rumahnya. Dan ya, aku lupa mengatakan jika tempat tinggalmu sangat hebat."
Ethan Watkins tertawa dengan suaranya yang manis, tampak beberapa tamu menoleh dan mencari tahu penyebab sang tuan rumah terdengar sangat bahagia.
"Sangat pria, bukan? Rumah ini maksudku."
"Mansion, lebih tepatnya. Defenisi rumah itu seperti tempat tinggal kedua orang tuaku. Tidak sebesar ini, dan sangat tenang."
"Aku menebak jika kau adalah pecinta ketenangan. Kau suka mengulang kata itu terlebih ketika membahas sebuah tempat tinggal. Bagaimana dengan kediamanmu sendiri, tenang?" tanya Ethan.
"Walau konsep sebuah hunian kita berbeda, ya... tempatku kurang lebih seperti ini." Tallulah menjawab sambil tersenyum tipis.
"Aku memiliki sebuah rumah pantai di Hawai."
Tallulah membulatkan matanya, ia terlihat sangat terkejut akan pengakuan pria tampan dan mapan tersebut. "Benarkah?"
"Ya. Sebuah tempat pelarian saat berusia 20-an awal. Sekarang setidaknya setahun sekali aku menghabiskan waktu di sana selama 30 hari." tambah Ethan berusaha membuat sang supermodel semakin terkesima. "Apakah kau pernah ke Hawai?"
"Belum. Aku pernah mendapatkan tawaran pemotretan dan lokasinya di Hawai. Namun kami terpaksa menolaknya, karena ada pekerjaan lain. Ya, waktunya yang belum tepat."
"Ingin menambah isi gelasmu?" tawar Ethan yang menjadi sangat peduli pada satu tamunya itu.
Tallulah menggeleng setelah melihat isi gelasnya hanya tersisa sekali tegukan yang tipis. "Tidak, terima kasih. Aku harus menjaga sikapku kepada tuan rumah dengan tidak membuat kekacauan."
"Tidak mungkin." Ethan mengibaskan tangannya sembari tertawa. "Maafkan aku salah menilai dirimu dan mungkin teman-temanmu. Aku dulu berpikir para model seperti kalian tidak lepas dari alkohol yang berlebih."
"Mungkin Tuan Watkins memiliki banyak kenalan model hingga bisa menyimpulkan seperti itu." sindir Tallulah disahuti gelakan tawa oleh Ethan.
"Hanya beberapa dan seperti aku katakan tadi, mereka sangat suka dengan minuman keras dan pesta. Tapi kau sungguh berbeda."
"Apakah itu pujian?" tanya Tallulah sedikit berseri, Ethan semakin bersemangat untuk mencari celah agar perhatian wanita cantik itu tertuju kepadanya. Bukan kepada ponsel yang acap kali diliriknya.
"Tentu saja pujian, ini pertemuan kita yang ketiga. Dua sebelumnya selalu di Watkins dan baru sekarang aku bisa melihat dirimu yang sesungguhnya. Bukan salah satu pelanggan toko kami yang buta tentang peralatan rumah tangga." ujar Ethan kemudian tertawa. Bisa dikatakan hari itu adalah hari paling membahagiakan selama beberapa bulan terakhir. Ia kembali bersemangat pada satu hal setelah melihat kehadiran Tallulah di salah satu tokonya.
"Aku sama sekali tidak mengetahui hal semacam itu kecuali alat memasak. Ya, aku sangat suka memasak." aku si gadis yang mengenakan mini dress berwarna tuscan sun.
"Wow, mungkin suatu hari kau akan mengundangku di pesta pembukaan rumah barumu dan kami bisa mencicipi masakan enak seorang Tallulah Bluebells." tawar Ethan yang sebenarnya sangat berharap sebuah undangan terbuka dari lawan bicaranya.
"Kau seperti sahabatku, Ellis. Dia terus-terusan menelepon hanya menanyakan hal yang sama." kesah Tallulah lalu menghabiskan isi gelasnya.
Ethan menatap Tallulah dengan sangat antusias, setiap gerak-geriknya. "Kabari aku jika kau merencanakan sebuah pesta, aku bisa diandalkan merancang hal semacam itu."
"Tidak.. tidak. Aku tidak merencanakan pesta besar, Ethan. Mungkin hanya sekitar 20 orang, itu termasuk dengan orang tuaku dan teman-teman dekatnya."
"Pastikan aku masuk di daftar tamunya." sergah Ethan dengan cepat.
Tallulah hanya bisa menjawab dengan anggukan sambil memamerkan sebuah senyuman yang sukses membuat Ethan merona.
"Well.. well, rupanya tuan rumah pesta kita hari ini hanya terpaku kepada satu wanita cantik ini." sapa seorang wanita berusia sepantaran dengan Ethan. "Perkenalkan saya Lucy Harrington." ucapnya sambil menjulurkan tangan ke depan.
Tallulah membalas uluran tangan wanita yang berpenampilan edgy tersebut, surainya pun dipotong pendek. "Tallulah Bluebells."
"Aku mendengarkan Ethan memanggilmu dengan Lula, apakah aku boleh memanggil dengan sebutan yang sama?" tanya Lucy sangat akrab. Sepintas ia melirik Ethan yang sedang tersenyum.
"Boleh. Aku ingin orang-orang di Nebraska memanggilku dengan nama itu." Tallulah menjawab kemudian terkekeh dengan manis. Bahkan sekelas Lucy ikut tertegun melihat ekspresi Tallulah yang lebih ceria, jangan tanyakan Ethan. Dada pria itu berdetak lebih kencang. Ia sedang jatuh cinta.
"Lucy adalah pemilik peternakan kuda terbaik di kota ini, Lula. Bahkan pemilik sebuah pacuan kuda, orang-orang senang menghabiskan akhir pekan di sana dengan bertaruh tanpa henti. Bukan begitu, Dear?" jelas Ethan sembari bergantian menatap dua wanita cantik tersebut.
Lucy mengangguk antusias. "Jika kau ingin belajar menunggang kuda, atau kau sudah tahu? Jika belum datanglah ke Ranch kami."
"Aku sama sekali tidak punya keahlian berkuda, akan kupikirkan untuk berkunjung ke sana." kata Tallulah lalu tersenyum, ia membalas keramahan teman barunya.
"Kita bisa pergi bersama jika kau ingin ke tempat Lucy. Dia tinggal di bagian timur, kita harus berkendara selama sejam untuk mencapainya Ranch-nya." imbuh Ethan.
Tallulah kembali tersenyum bahkan ketika Lucy menggamit lengan Ethan dengan intim. Ia tidak mempedulikan hal itu, walau di saat yang sama Ethan sepertinya tidak begitu suka dengan tingkah Lucy.
...
Verona memeluk Iris sambil terisak-isak pelan, sebenarnya tangisnya telah mereda dibandingkan beberapa menit yang lalu. Di ambang pintu tampak Giulio sedang bersedekap menahan kesal dan sebenarnya sangat ingin memuntahkan semua perkataan yang mencekik tenggorokannya.
"Bawa aku, Mommy." rajuk Verona mengeratkan pelukan. Ia mendongak dengan hidung, pipi, mata memerah mengharapkan kelembutan hati sang ibu.
Iris menghela napas panjang kemudian mengarahkan pandangannya ke sosok Giulio, pria yang sedang menatapnya dengan dingin. "Verona dengan daddy. Mommy belum pulang ke Paris, hanya ke rumah Grandpa." bujuknya dengan lemah lembut. Ia menangkup wajah putrinya sambil mengusap sisa air mata kemudian merapikan surai Verona yang sempat acak-acakan.
"Tapi mommy harus tetap membawa Verona. Daddy, minta mommy untuk membawa Verona. Daddy sudah besar, tidak akan kesepian di rumah." rayu Verona memelas. Kelopak matanya berkedip-kedip dengan bibir imutnya yang menggemaskan menukik ke bawah.
Giulio menghela napas pendek dan kasar. Ia kemudian menoleh ketika pengasuh Verona datang membawakan botol minuman berisi cairan berwarna putih. Aha! Tiba waktunya Giulio meluapkan segala keluh kesah dan sedikit amarah kepada Iris.
Ketika pengasuh mengambil alih Verona, Giulio memberikan isyarat kepada Iris untuk meninggalkan kamar tidur milik anaknya. "Kita perlu bicara."
Iris memerhatikan sejenak Verona, anak satu-satunya sedang asyik dengan botol susunya. Verona tidak bergeming bahkan ketika melihatnya beranjak, terlebih pengasuhnya mendendangkan sebuah lagu pengantar tidur.
Sepasang alis Iris berkerut ketika langkah kaki Giulio menuju kamar tidur pria itu, tempat yang tidak pernah didatangi selama kedatangannya di Turin.
"Kita bicara di dalam." perintah Giulio membukakan pintu. Iris berhenti menatap pria bertubuh tinggi dengan senyumannya yang memikat, hanya sedikit ia melihat hal itu. Mungkin hanya ketika Giulio bersama dengan Verona, selebihnya tidak.
"Kenapa harus di kamarmu?" tanya Iris dengan gamang. Ia bertingkah seperti gadis remaja yang hendak masuk di kamar tidur seorang pemuda yang ditaksirnya.
"Aku sudah malas berdebat denganmu, Tuan Celi." balasnya namun tetap berjalan masuk dan mencari tempat paling nyaman untuk berbicara lebih mendalam. Sambil menggigit bibir, Iris melangkah menuju sofa yang berada di depan tempat tidur, ia menghela napas pendek ketika mendudukkan tubuhnya.
Giulio mengambil tempat di sofa sebelah, wajahnya terlihat sangat serius. "Kenapa sekarang?" tanyanya membuka percakapan mereka.
Iris menatap pria yang masih berstatuskan suaminya yang sah. "Kenapa apa?" balasnya bertanya.
"Kenapa kau ingin tinggal di rumah orang tuamu. Setelah lebih sebulan kau berada di sini. Kau sangat tidak berperasaan kepada Verona." ujar Giulio menatap mata Iris dengan tajam.
Iris kontan menunduk, ia menghela napas kali ini semakin berat. Seakan dadanya memikul beban ratusan ton. "Buat apa aku tinggal di sini, ketika kau telah mengiyakan permohonan perceraian kita." jawabnya dengan lugas. Iris melihat Giulio langsung terdiam dan tegang.
"Bukankah seminggu yang lalu kita menyepakati hal tersebut. Kita berpisah." sambungnya dan Giulio terlihat berpikir keras.
"Kalau bukan sekarang, kapan? Sementara kekasihmu itu terus-menerus menelepon dan aku tidak mungkin salah dengar jika dia sangat ingin bertemu dengan Verona. Kau membujuknya untuk sabar. Mau tidak mau, aku harus pergi. Kita bisa membicarakan lebih lanjut tentang pengasuhan Verona. Tentu saja Verona akan lebih banyak denganmu. Demi Verona, aku bisa terbang Paris dan Turin setiap sebulan sekali. Berikan aku waktu untuk bersamanya selama seminggu. Hanya itu yang aku inginkan." tandas Iris dengan hati lebih lapang. Segala isi kepalanya telah ia keluarkan. Tinggal menunggu respon dari Giulio.
Ada sepi menghampiri, Giulio tertunduk sambil memijat kepalanya. Terdengan embusan napas berat berkali-kali membuat Iris duduk dengan tidak tenang.
"Tolong berikan sepatah kata." cetus Iris tidak sabar. Otak dan imaginasinya sudah berpikir ke hal yang tidak-tidak. Ini pertama kali bagi mereka berada di ruangan yang sama tanpa kehadiran Verona.
"Iris." Giulio akhirnya bersuara.
Iris hanya mengangguk kecil dan menatap Giulio.
"Seminggu lalu kita bertengkar dan aku ikut terbawa emosi. Aku mengiyakan permintaanmu tanpa memikirkan Verona. Setelah itu aku berpikir beberapa hari terakhir dan hari ini kau ingin pergi. Ini sangat mendadak dan aku belum siap." ucap Giulio gamang.
"Tapi harus, semakin lama aku di sini semakin berat aku meninggalkan Verona. Sementara kekasihmu seperti itu."
"Kau cemburu? Ya, kau terdengar cemburu, Nyonya Celi."
Maka membelalaklah Iris seketika itu juga. "Jangan memanggilku dengan sebutan itu, kita akan berpisah. Sungguh aku tidak menyukainya, Tuan. Jangan memberikan harapan di sana sini, kau menyuruh Franca untuk bersabar dan tadi kau memanggilku dengan nama belakangmu. Aku muak melihat sikapmu."
"Iris!" Hardik Giulio. "Kenapa hubungan kita selalu diwarnai dengan pertengkaran. Tarik ulur, dan secara bergantian kau atau aku yang ingin mempertahankan pernikahan ini. Tadinya kau yang tidak ingin berpisah, kemudian kini aku yang tidak bisa."
Iris mendengus dan memalingkan wajahnya. "Aku bertahan karena Verona. Aku masih memikirkan soal hak asuh, tapi aku harus bagaimana lagi jika Verona bisa menerima kekasihmu."
"Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu." sanggah Giulio.
"Oh ya?"
Tiba-tiba sorot mata Giulio meredup. "Tolong, pikirkan lagi. Demi Verona."
"Memikirkan apa? Bertahan di sini? Dan kau juga masih bersama dengan gadis itu? Kau rakus, Tuan Celi. Kau ingin memiliki tiga wanita."
"Aku ingin memilihmu." sahut Giulio cepat.
Iris meringis lalu tersenyum geli. "Aku tidak percaya."
"Bagaimana jika aku sangat serius dan jika aku memintamu untuk meninggalkan pekerjaanmu di Paris dan tinggal bersama kami di sini. Maukah dirimu melepaskan itu semua? Aku akan mengatakan dengan baik-baik kepada Franca tentang ini."
Wanita bersurai hitam dan ikal tersebut spontan berdiri dan menatap tajam pria yang mengikuti gerakan tubuhnya. "Lebih baik aku pergi. Bukan karena aku memilih pekerjaanku, tapi kau tidak konsisten. Kau menganggap kami undian yang sama besar hadiahnya. Kau tidak ingin merugi. Izinkan aku membawa Verona besok pagi ke rumah papa, dan tiga hari kemudian aku akan mengantarnya. Saat itu juga aku akan kembali ke Paris. Verona bisa menerima ini, Tuan Celi. Dia mewarisi ketangguhanku."
...
Tallulah sedang berdiri di beranda samping rumahnya, saat itu hujan baru saja reda. Dedaunan basah oleh rinai, begitupun dengan undakan yang baru terpasang tadi pagi. Tidak ada senja memerah di sore itu, sedikit berangin dan Tallulah menghangatkan tubuhnya dengan secangkir coklat panas di tangan.
Senyum puas mengembang di bibir Tallulah, hunian idamannya telah terwujud, tidak adalagi yang perlu dperhatikannya selain perawatan segala hal yang berada di tempat itu.
Ia kemudian menghirup wangi coklat panasnya yang membaur dengan wangi alam setelah hujan. Tenang dan inilah surga kecilnya. Kemudian keheningan sore itu berakhir dengan kedatangan tiba-tiba sebuah mobil SUV berwarna hitam masuk melewati pagar yang Iris lalai untuk menutupnya ketika para pekerja rumahnya pergi.
Kini Tallulah berjalan agak cepat ke arah depan, dan kemudian tubuhnya berhenti seketika ketika melihat sosok si pengemudi. Bibirnya gemetar, pun dengan kaki.
Pria itu berdiri di samping pintu mobil kemudian tersenyum seperti yang lalu-lalu, teduh, manis, dan pembawaannya yang tenang.
"Oh." Tallulah menepuk dadanya yang mendadak sesak. Manik birunya berkaca-kaca. Ia tidak pernah mengharapkan sebuah kejutan sehebat itu di sepanjang hidupnya.
"Sebuah rumah yang sangat indah, Tallulah Bluebells." sapa pria bersurai coklat itu ketika berada di puncak tangga terakhir. Manik abunya menyalakan api membara di dada Tallulah.
Pria itu kembali tersenyum, lebih manis. "Aku merindukanmu, Sweety Pie."
###
Ethan
alo kesayangan💕,
sebenarnya aku ingin mengunggahnya pas malam minggu, tp ak selalu suka notif up novel yang muncul seharian. gak mau rugi.
buat kalian yang masih menunggu novel, dan kalian2 yang tiap hari memberiku notif "like" puluhan hingga ratusan, krn membaca novel lama.. terima kasih telah singgah dan bertahan🙏🏻❤️.
maaf belum sempat membalas komentar kalian, jangan kecewa yah 🤗.
love,
D😘.