JACE

JACE
Love, Life, Inspiration



Aaron meremas majalah mode yang menampilkan Tallulah bersama dengan Jace sebagai model sampul. Walau benci mengatakan ini namun keduanya terlihat serasi.


"Harusnya aku yang berada di sini," sungutnya lalu melemparkan majalah tersebut ke tempat sampah di dekat meja.


Aaron Watkins berdiri berjalan menuju pembatas ruangan yang terbuat dari kaca, ia menyingkap tirai dan melihat keluar. Para bawahannya terlihat sibuk bekerja seperti biasa tanpa ada yang peduli dengan kegelisahan juga sakit hati yang dirasakan Aaron yang berperan sebagai pemimpin perusahaan tersebut.


Tidak ada yang peduli dengan penderitaan Aaron, terlebih di kantornya ia tidak memiliki pegawai dekat atau orang yang bisa dipercayainya sebagai teman untuk berbagi hal pribadi.


Justru teman-teman akrab Aaron tersebar di penjuru Amerika, beberapa di Kota Nebraska termasuk Lucy Harrington.


Bola mata Aaron melebar mengingat Lucy, wanita yang lebih banyak berdandan ala cowboy dibandingkan mengenakan gaun indah. Aaron bergegas kembali ke meja kerjanya dan meraih ponsel di atas meja. Setelah menemukan nomer ponsel Lucy, tanpa berpikir panjang ia menekan layar untuk menghubungkan panggilan suara.


"Hai, Sayang," Aaron menyapa terlebih dahulu.


"Hei, tidak biasanya. Aku pikir kau telah melupakanku, Mr. Watkins Yang Terhormat," Lucy langsung melancarkan kata sarkasmenya.


Aaron tertawa miris. "Aku tidak melupakanmu, Sayang. Aku hanya sibuk beberapa bulan terakhir,"


Lucy berdengus di ujung panggilan. "Sibuk di New York, bukan Aaron yang kukenal,"


Aaron sedikit lebih senang sekarang, ia tersenyum sambil duduk di kursi kerjanya. "Terus seperti apa Aaron yang kau kenal, Nona Lucy Harrington Si Bibir Pedas,"


Giliran Lucy yang terkekeh, Aaron tersenyum mendengar suara tawa temannya. "Aaron Watkins tidak menyukai suasana ramai kota besar, Nebraska selalu menjadi favoritnya, Kau mencintai kota ini sama seperti diriku".


Suasana hati Aaron semakin membaik. Ia mengembuskan napas lega dan panjang. "Kau ada waktu hari ini? Bagaimana jika kita makan malam bersama?"


"Aku sedang sibuk di peternakan, Aaron. Kami sedang memberikan suntikan inseminasi kepada sapi-sapi. Hmm.. Hari ini benar-benar tidak bisa. Bagaimana jika besok saja?"


Aaron berpikir sebentar, ia mengingat jadwalnya. "Aku yang tidak bisa, besok maksudnya. Hanya hari ini,"


"Hmm... Bagaimana jika kau datang ke peternakan, aku akan meminta Mrs. Jones untuk memasakkan makanan yang enak untuk makan malam kita,"


"Oke! Aku bisa," sahut Aaron dengan cepat. Ia membutuhkan tempat cerita dan Lucy cukup realistis dengan situasinya sekarang.


"Baiklah, Aaron. Kau bisa datang jam 5 sore sambil melihat matahari tenggelam. Beberapa hari terakhir langit memerah indah di sini,"


Aaron mengangguk. "Aku lihat unggahan foto di sosial mediamu, memang sangat indah. Tunggu aku di sana, aku akan membawakan wine yang enak,"


"Ya, aku tunggu,"


Secercah senyum menghiasi wajah Aaron. Ia pun kini memiliki semangat untuk melanjutkan pekerjaannya walau rasa kesal dan kecewa itu masih mengikis ketegarannya, sedikit demi sedikit.


...


"Benar, bahkan lebih indah dibandingkan foto yang kamu ambil," Aaron berdecak memandang langit yang memerah dari serambi cottage milik Lucy.


Peternakan milik keluarga Harrington itu sangat luas, ribuan hektar dan beberapa bangunan berada di tengah-tengah. Terdapat rumah utama yang ditempati oleh orang tua Lucy dan kedua kakaknya. Hanya Lucy yang memilih tinggal sendiri di cottage yang paling besar. Beberapa cottage lainnya terisi oleh para pekerja peternakan yang berasal dari negara bagian.


"Aku tidak berbohong, Aaron. Dan terima kasih atas wine-nya," Lucy mengacungkan botol berwarna hitam, memamerkan kepada Aaron sebelum berusaha membuka tutupnya.


"Biar aku saja," tawar Aaron dibalas gelengan kepala kuat dari Lucy.


"Jangan remehkan kekuatan dari gadis yang lahir di peternakan, Tuan," seloroh Lucy membuat Aaron mengurungkan niatnya. Pemilik beberapa cabang Watkins Store itu tertawa lepas.


"Terima kasih telah mengundangku ke sini, Sayang," Aaron bersikap manis. Lucy mengeryitkan kening kemudian menggeleng.


"Sejak kapan kita bersikap formal seperti ini, Aaron. Walau kau baru tiga atau mungkin empat kali ke peternakan namun kita sudah lama berteman. Puluhan mungkin ratusan pesta kita datangi bersama, beberapa kali di kediamanmu. Kita saling mengenal dengan baik," kilah Lucy sambil menuangkan wine ke gelas.


"Ya, sejak aku memilih Nebraska sebagai tempat untuk menghabiskan usia," Aaron meraih gelasnya lalu mengadu dengan gelas di tangan Lucy.


"Demi masa depan," kata Lucy setelah bunyi denting gelas berlalu sepersekian detik.


"Ya, demi masa depan," Aaron setuju dengan perkataan Lucy.


"Kenapa?" tanya Lucy berdiri di samping Aaron yang sedang menyesap wine sambil memandang langit memerah dengan indahnya. "Kau terlihat tidak bersemangat,"


Aaron menoleh lalu mengangguk. "Lula menikah, kau tahu bukan?"


Lucy mendengus seiring senyumannya semakin melebar walau hanya membentuk garisan yang menekuk ke atas. "Aku mengetahuinya dari berita di sosial media. Aku mengirimkan pesan ke Lula, memberikan ucapan dan dia membalasnya," sahutnya ringan.


"Lula membalas pesanmu? Nomer ponselnya tidak aktif," tampik Aaron. Ia tidak pernah berhasil menyambung panggilan suara dan puluhan pesannya tidak pernah terkirim.


Lucy mengangguk. "Ya, sepertinya dia menonaktifkan ponsel. Aku juga berusaha meneleponnya dan dialihkan ke kotak suara. Jadi aku berinisiatif untuk mengirimkan pesan lewat DM. Lula membalasnya keesokan hari. Dia mengatakan masih di Belanda. Dan sepertinya Lula dan Jace tidak akan menetap di Nebraska," tuturnya panjang.


Aaron terhenyak, gelas di tangannya ikut bergoyang. Hampir saja isi gelas membasahi kemeja bahannya yang berwarna biru. "Apa maksudnya Lula tidak akan kembali ke sini? Rumahnya ada di sini!"


Suara Aaron yan naik setengah oktaf membuat Lucy menghela napas panjang dan dalam. Ia menatap wajah Aaron yang mulai memerah, tentu bukan karena setitik wine melainkan rasa amarah mengaduk isi kepala dan hati. "Calm down, Sayang," Lucy membenturkan tubuhnya ke lengan Aaron. Ia mengulas senyuman yang lembut.


"Aku tidak habis pikir, rumah itu Lula bangun sendiri. Aku mengetahui ceritanya dengan lengkap," ujar Aaron, ia menenggak habis isi gelasnya. Aaron pula berjalan ke meja belakang mereka dan kembali mengisi gelasnya dengan penuh.


"Rumah Lula akan disewakan. Seperti itu yang kudengar dari pemiliknya langsung. Lula mengatakan jika dia akan mengikuti kemana Jace akan menetap. Lula mendapatkan suami yang kaya raya juga memiliki pekerjaan yang bisa membawanya kemana saja," Lucy melirik Aaron, ia hanya ingin memastikan reaksi temannya itu.


Aaron mengetatkan rahangnya. Kelopak matanya terpejam kuat, semua orang tahu jika ia sedang menahan emosinya.


"Tuan Aaron Watkins, sudahlah. Tolong berhentilah sebelum kau menghancurkan hidupmu," Lucy mengingatkan temannya. Ia paham apa yang dihadapi pria tampan tersebut.


"Sudah hancur," jawab Aaron lirih. Ia memandang Lucy dengan manik yang berkabut. "Wanita itu melukaiku,"


Lucy menggeleng sambil mengambil gelas di tangan Aaron dan meletakkan kedua gelas di atas meja. Ia membalik dan memberikan pelukan hangat kepada temannya. "Aaron, maafkan aku jika mengatakan ini..." ia memberi jeda ketika melepaskan pelukan setelah menepuk punggung lebar Aaron.


"Bukan Lula yang melukaimu, dia juga tidak menghancurkan dirimu. Melainkan dirimu-lah yang menghancurkan hidupmu. Kau terobsesi dengan Lula. Sangat wajar, Lula sempurna. Aku yang notabene adalah seorang wanita juga terpukau dengan pesonanya apalagi kalian para pria. Tapi level terobsesimu kepadanya di atas kewajaran, Sayang. Walau kita tahu Lula sempat sendiri ketika awal perkenalan dengannya. Walau dia akrab denganmu namun tidak ada yang tahu isi hatinya. Mungkin kau sudah berusaha melakukan pendekatan dan berusaha membuka hatinya untukmu, tapi bukan kau yang Lula tunggu. Tapi Mr. Alstrom, pria itu adalah cinta sejatinya. Kau mengerti dengan perkataanku bukan?"


 Aaron masih berkeras dengan keegoisannya walau di dalam hati ia mulai terketuk dengan perkataan Lucy.


"Mereka saling mencintai, Sayang. Dan mereka menjalani takdir dari Tuhan. Jadi sekuat apapun kau berusaha memisahkan atau memotong jalan takdir, kau takkan akan pernah bisa. Kita hanya manusia biasa, Aaron. Hal yang bisa kau lakukan sekarang adalah menerima dengan lapang dada. Seperti aku yang dulu ketika menyerah mengharapkanmu," papar Lucy.


Aaron termenung. Kemudian matanya melebar. "Mengharapkanku? Aku?" serunya dengan kaget. Aaron bahkan menunjuk ke dadanya sendiri.


Lucy tersenyum dan mengangguk. "Aku pun pernah terpukau hanya kepada satu pria, berharap suatu hari pria itu akan melihatku sebagai seorang wanita. Hingga aku melihat sendiri bagaimana kau mengejar Lula. Di saat itu aku berpikir, yeah Aaron sedang menjalani takdirnya bertemu dengan wanita impian. Aku harus mengubur impianku demi kebahagiaanmu, aku bahkan mendoakan kalian. Sayangnya...." Lucy memilih tidak meneruskan perkataannya. Ia memilih memandang raut wajah Aaron yang syok dan semakin memerah.


"Aku kehilangan kata-kata," Aaron menggeleng-gelengkan kepala, ia tidak percaya dengan perkataan Lucy.


"Itu dulu, Aaron. Aku membandingkan diriku sehari-hari adalah gadis cowboy dengan pasangan-pasangan kencanmu yang "wah" itu. Mereka tidak bisa kusaingi, apalagi dengan Lula. Aku sadar diri dengan potensiku. Dari pengalamanku sendiri aku banyak belajar. Bahwa ada satu waktu kita harus merelakan, melepaskan perasaan suka mungkin juga cinta, ketika tahu perasaan yang demikian hebatnya itu tidak akan pernah bisa terbalas. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku untuk mengejar, memuja, berharap kepada sesuatu yang tidak bisa kugenggam,"


"Sekarang?" tanya Aaron.


Alis Lucy terangkat. "Ada apa dengan sekarang?"


Lucy mengedikkan bahu lalu meninju lengan Aaron. "Hei, aku bercerita karena hatiku sudah lega. Bukan berharap di saat kau sedang berduka. Aku hanya berbagi dan menceritakan pengalamanku ketika berada di posisimu sekarang, Sayang. Tidak ada yang lebih. Dan sekarang pun aku sudah berkencan dengan seorang pria pemilik peternakan di desa sebelah. Walau hanya sekedar berkencan, bersenang-senang bukan sebuah hubungan yang serius. Tapi kita tidak tahu apa yang terjadi ke depannya, bukan?"


Aaron mendesah kemudian memalingkan kepala ke depan. Jika ingin jujur, ia sangat tidak menyukai perkataan Lucy yang terakhir. Bisa dikatakan kecewa, juga tidak berharap Lucy dengan mudahnya berkencan dengan pria baru. Ya, wanita adalah ciptaan Tuhan yang lebih mudah melanjutkan hidup.


...


"Di sana?" tunjuk Jace ke arah restoran yang berada di pedestrian.


"Ya, kita makan siang di sana," Sahut Tallulah.


Jace menoleh menatap Tallulah, alisnya terangkat. "Bukan tempat biasanya?"


"Tidak. Aku ingin mencoba tempat baru," Tallulah mengeratkan genggaman jemarinya. Ia mengayunkan kedua tangan yang saling bergenggaman layaknya dua anak kecil yang ingin mendatangi sebuah kedai minuman dingin pada suatu hari di musim panas. "Ayo," serunya riang.


Jace yang mendekap tas kertas yang berisi belanjaan di dada hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekanakan istrinya. Mereka baru saja pulang dari berbelanja kebutuhan makanan di swalayan dua blok dari apartemen dan sepanjang jalan Tallulah hanya membahas makanan. "Kau kelaparan,"


"Tentu saja aku kelaparan. Bangun jam 7 pagi, memasak, membersihkan rumah. Aku bahkan tidak sempat berolahraga," keluh Tallulah sambil menggigit bibirnya.


Jace menyentak pelan genggaman tangan mereka, manik abunya melebar dan hidung mancung dan pipih itu mengeluarkan dengusan di saat bersamaan. "Orang-orang bisa mendengarmu, Sweety Pie,"


"Biarkan saja," Tallulah menarik tempat duduk untuknya. Tangannya belum sempat melambai ketika pelayan terlebih dahulu menghampiri.


"Selamat siang, Tuan dan Nyonya. Perkenalkan saya Jan, silahkan memesan, Miss Bluebells," sapa ramah sang pelayan pria. Pemuda tanggung itu tersenyum dan tersipu.


Bola mata Tallulah melebar. "Kau mengenalku?" tanyanya terkesima. Ia berpikir orang-orang di kota Haarlem terlalu santai hingga ia sangat jarang menjumpai penggemar yang mengambil foto.


Sekilas pemuda tanggung itu melirik Jace yang sedang sibuk dengan ponselnya. Si pelayan itu lalu mengangguk pelan. "Iya, saya mengenal Anda. Oh iya selamat atas pernikahan Anda, Miss Bluebells," ucapnya tulus.


Tallulah tersenyum bahagia. "Terima kasih, Jan. Karena aku sudah menikah berarti kau harus memanggil Nyonya Alstrom bukan Miss Bluebells," koreksinya membuat Jan tertunduk.


"Maafkan saya, Nyonya Alstrom," ucap Jan pelan.


"Tidak apa-apa, Jan. Kami baru menikah seminggu yang lalu, jadi wajar orang-orang belum terbiasa. Aku pun masih suka lupa," kata Tallulah polos. Ia tertawa, Jan tersenyum malu-malu.


"Oh iya, kami ingin memesan menu starters terlebih dahulu sebelum masuk ke menu utama. Hmm.. 1 sweet orion rings dan 1 nachos. Minumnya untukku hot chocolate dan suamiku frappucino," Tallulah mulai terbiasa mengambil kendali. Di samping Jace yang terlihat sibuk dengan ponselnya, Tallulah pun tahu 100 persen akan selera suaminya.


"Pesanan akan kami antarkan secepatnya, Nyonya Alstrom," kata Jan setelah mengulang pesanan Tallulah.


"Terima kasih, Jan," Tallulah mengantar kepergian Jan dengan mengamati pelayan berusia awal 20 tahun itu berjalan memasuki bangunan restoran.


Ia terdiam sejenak memandang pria rupawan bersurai coklat di depannya. Tallulah tak tahan dengan sikap tenang Jace.  "Boo!" serunya meminta perhatian suaminya.


Jace sontak menaikkan kepala. "Ya?"


Tallulah cemberut seraya mendekap tangan di dada. "Kau mengacuhkanku," rajuknya.


Jace menggeleng dan mendesah kasar. "Aku tidak habis pikir, kenapa ada orang yang tidak mau menyerah bahkan ketika mereka sudah tahu orang disukainya telah menikah,"


Tallulah menyatukan alisnya. "Aaron menghubungimu? Mana?" tangannya terulur ke depan meminta ponsel Jace.


"Bukan Aaron tapi dia," Jace memberikan ponselnya dengan sukarela.


Tallulah membaca pesan yang tertera di layar ponsel. Selamat atas pernikahanmu, Mr. Alstrom. Maafkan aku tidak bisa menahan diri untuk mengucapkan kata selamat. Semoga kalian selalu berbahagia.


Tallulah kembali membaca nama pengirim pesan singkat itu. Iris Coppole.


"Aku tidak pernah membalas pesannya, sudah lama aku berhenti.." Jace berusaha menenangkan Tallulah.


"Kau harus membalasnya, Mr. Alstrom. Iris mengirimkan kata selamat dan doa untuk kita terus berbahagia. Entah itu dia tulus atau tidak. Jika Iris kembali membalas pesan pesanmu, abaikan saja. Aku tidak cemburu dengan Iris bahkan siapapun, Boo. Kau adalah milikku sekarang, mereka harus bersusah payah untuk mendapatkan perhatianmu. Apalagi sampai harus merusak penjanjian kita dengan Tuhan. Percayalah aku akan mempertahankan pernikahan ini dengan segenap jiwaku," tutur Tallulah


Jace meraih jemari Tallulah. Mereka bergenggaman di atas meja dengan pandangan saling mencintai, rasa kasih yang membuat jantung berdebar sama seperti ketika mereka menyadari rasa itu. "Tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali Tuhan. Aku bersusah payah memenangkan hatimu, Sweety Pie. Kau adalah cintaku, hidupku, inspirasiku, kelak ibu anak-anak kita,"


Manik biru Tallulah berkaca-kaca. Ia melipat bibir, sambil menarik napas merasakan perkataan Jace membuai hati dan meremas jantungnya dengan indah dan perih. "Aku mempercayaimu, Mr. Alstrom. Karena aku mempercayaimu jadi balaslah pesan Iris,"


Jace mengeleng. "Tidak perlu,"


"Bolehkah aku yang membalasnya?" Tallulah menawarkan diri.


"Ya, kau saja,"


"Baiklah," Tallulah menyentuh layar ponsel Jace. Dengan cepat ia mengetik rangkaian kalimat yang terbit di kepalanya.


Semenit kemudian Tallulah bersorak riang. "Sudah!" teriaknya bersamaan denan kedatangan Jan yang tersipu malu membawakan pesanan mereka.


...


Terima kasih atas doanya, Iris. Semoga hidupmu juga diberkahi Tuhan kebahagiaan sama seperti aku dan Tallulah. 


Nun jauh di kota Paris, Iris mematung di pinggiran tempat tidur. Tangannya masih menggenggam ponselnya. Giginya gemeretak marah, ia sangat tahu jika bukan Jace yang membalas pesannya. Jace sangat jarang memanggilnya dengan nama depan. Bahkan Jace memberinya julukan "Gadis Pizza".


Iris terluka, darahnya naik ke ubun-ubun. Sebuah rasa amarah yang membuatnya kehilangan akal sehat. Ia bahkan lupa jika sedang mengandung besar.


Iris melempar ponselnya ke tempat tidur. Tanpa ancang-ancang ia berdiri, layaknya hebat dan kuat. Belum sempat sampai ke ambang pintu, ia terjatuh dengan penglihatan berangsur-angsur menggelap.


###



alo kesayangan💕,


aku revisi ini dengan mata terkatup hampir full, 11.06 WIB.


aku mengantuk dan mungkin dulu aku pernah mengantuk saat menulis, karakter Aaron sepertinya tertukar nama..


aku akan merevisinya..


saking lamanya tidak diupdate, lupa pula jalan ceritany.


please habislah novel ini, ben fokus k Mersia 😑


love,


D😘