JACE

JACE
Shot at The Night



Tepukan tangan riuh bergemuruh sahut-sahutan ketika Jace berjalan keluar ke panggung setelah peragaan busana berakhir , semua tamu Paris Fashion Week memberikan standing applause.


“Bravo!”


“Bravo.”


Seruan dari para tamu memenuhi ruangan itu. Pemilik sekaligus designer utama Alstrom membungkukkan badannya dalam senyuman merekah tersungging di bibir. Berbagai perasaan membuncah di dada Jace, bahagia tentu saja, pula haru dan bangga. Semua jerih payahnya dan team terbayarkan oleh sambutan meriah dari para tamu.


Jace menerima dua buket bunga yang setahunya dari selebriti undangan. Sambil mendekap buket bunga, sekali lagi Jace melambaikan tangan kepada para tamu dan kilatan lampu para fotografer kembali mengambil gambarnya. Setelah itu pria yang mengenakan suit sangat elegan membalikkan badan, tepukan tangan meriah kembali menyambutnya. Kali ini dari para model bertubuh indah, langsing dan menjulang beserta para asisten makeup beserta penyelenggara PFW.


Jace memberikan buket bunga di tangan kepada asistennya ketika melihat tubuh tinggi dan indah bergerak melangkah kepadanya.


“Selamat peragaannya sukses besar, Jace.” seru Sky sambil memeluknya dengan erat.


“Ini berkatmu juga, baby Sky. Terima kasih meluangkan waktu menjadi model utama peragaanku.” Jace memberikan kecupan di pipi sahabatnya, sang supermodel papan atas.


Ia lalu menarik tubuh Sky menepi, berbincang dan melepaskan rindu. Jace sempat membisiki asistennya.


“Mereka boleh mengambil foto kami, tapi aku belum mau menerima sesi wawancara. Ya nanti setelah berbicara dengan Sky.” pintanya diikuti


tatapan penuh harap. Jace sangat tahu jika puluhan media sedang menantinya, tapi bertemu


dengan Sky hanya sekali ini setelah tahun lalu mereka bertemu pada peragaan yang sama.


Jace sangat hapal kebiasaan sahabatnya setelah menikah. Sky hanya menerima dua fashion show, yakni New York dan Paris Fashion Week. Selebihnya hanya menjadi model ambassador dan pemotretan majalah.


“Yakin kau tidak menyapanya kali ini?” tanya Ellis Wilder, model cantik membisiki sangat pelan di telinga Lula, Tallulah Bluebells.


Keduanya adalah model yang baru saja memeragakan koleksi busana Alstrom. Gadis berusia awal 20 tahun itu terpaku pada dua sosok yang sangat bersinar di ruangan itu.


Jace beserta supermodel top dunia, Sky Navarro. Sosoknya menyilaukan mata, terlebih kilatan lampu kamera berkedip mengambil gambar


keduanya. Baik Jace dan Sky tidak terganggu oleh kilatan lampu blitz, mereka tetap berbincang disertai gelakan tawa yang manis. Tangan Jace terlihat sangat posesif merengkuh punggung sang supermodel.


“Aku hanya butiran debu, love. Kau tahu setiap melihatnya kakiku gemetar.” Tallulah menatap penuh pemujaan kepada pria tampan dan sangat


menonjol di depannya.


Ellis tersenyum menyeringai sambil mengalunkan tangan di leher temannya “Setiap peragaan kau seperti itu, sejak kemarin saat latihan kemudian sekarang. Kesempatan terakhir untukmu berbincang, oh mungkin nanti malam ketika pesta Alstrom, cintaku.” Bisiknya dan tersenyum manis ketika satu fotografer mengambil gambar mereka.


Ellis melepaskan tangan lalu berpose natural dan terlatih, Tallulah terlebih dulu memamerkan kakinya yang jenjang.


“Kau sangat jago dalam berpose, tapi rendah dalam bersosialisasi terlebih kepada pria yang kau kagumi. Berhentilah menjadi pemalu seperti itu,


Cintaku. Kita akan lama bertemu lagi dengannya. Milan, bulan September.” tandas Ellis memanaskan semangat temannya.


“Dan sekarang masih Maret.” Racau Tallulah semakin galau, ia menoleh dengan tatapan khawatir kepada temannya. Ellis memamerkan gigi indahnya yang berbaris rapi, temannya itu sangat cantik dan pula tinggi.


Mereka adalah model-model terpilih untuk peragaan Alstrom. Ini tahun kedua Tallulah menjadi model Alstrom, baik model peragaan maupun untuk katalog. Hanya saja pada saat


peragaan ia baru bisa melihat dari dekat seorang Jace Von Alstrom. Pria yang membuatnya terjun ke dunia modelling.


“Jadi mulailah, mungkin sekadar memuji tentang peragaan hari ini. Atau hal menarik lainnya.” usul Ellis tak surut menyemangati temannya.


Tallulah melirik “Aku akan coba nanti malam, sekarang aku tidak akan menjadi manusia ketika ada malaikat di sebelahnya. Sky sangat sempurna.”


“Kau adalah bunga, seperti namamu. Ketika mendekatinya jadilah bunga Bluebells.”


Lula mengulum senyuman. Ellis tak bosan mengingatkan akan nama belakangnya, Bluebells. Nama bunga liar dari negara tempat Lula lahir,


sebelum akhirnya kedua orang tuanya pindah ke Nebraska. Ya, kita sedang membicarakan Alaska, salah satu negara bagian Amerika. Satu alasan yang membuat keluarga Lula pindah dari Alaska adalah kegelapan selama 65 hari terjadi di


negara itu. Matahari akan kembali muncul ketika musim panas telah tiba, dan sama juga ketika gelap yang lama. Begitupun dengan siang bisa terjadi selama berhari-hari.


Impian Lula terwujud ketika berusia 16 tahun, orang tuanya nekat menjual semua aset dan memutuskan pindah ke Nebraska. Setidaknya di


negara ini matahari bersinar dengan normal, dan memiliki pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Musim dinginnya bisa bersaing dengan Alaska, setidaknya salju masih bisa menenggelamkan kakinya ketika musim itu tiba. Lula sangat menyukai salju, syukurnya ia berada di New York di mana musim dinginnya bersalju tebal. Kota yang sama dengan tempat Jace berdomisi.


Gelak tawa Jace yang indah mengalun di telinga Lula mengembalikannya ke Bumi, tempat ia masih bernapas dan melihat keindahan seorang pria yang sangat sempurna.


Jantung Lula mencelos ketika ia mendapati Jace meliriknya lalu pria itu melayangkan sebuah senyuman manis.


Tuhan ! Ia bisa saja mati hanya karena sebuah senyuman dan gigi kelinci indah itu adalah ciptaan terindah pada wajah Jace, kemudian mata abu dan bibirnya.


Ia harus berbicara dengannya. Ya! Nanti malam, Lula tidak akan melewatkan kesempatan itu dan


memulai dari nol lagi saat Milan Fashion Week.



Jace mengelilingi restoran mewah yang diatur sedemikian rupa demi merayakan suksesnya peragaan Alstrom tadi siang. Lampu ruangan itu


bersinar redup dan alunan musik slow pop memanjakan telinga para model, tamu


VIP dan orang-orang Alstrom. Semua melebur dalam perbincangan dan gelak tawa, beberapa orang nampak duduk di sofa, berakrab ria saling berangkulan. Mereka bukan pasangan, namun pesta -lah mempertemukan, yang kemungkinan besar orang-orang itu berakhir di tempat tidur.


Sayangnya Sky tidak bisa menghadiri pesta Alstrom, sahabat Jace bersurai putih itu memilih terbang ke Lyon bersama keluarganya.


Semua orang mencari perhatian Jace, untungnya ia bersama dengan Jacob Westberg, sahabat sekaligus kepala divisi keuangan Alstrom. Sahabatnya sengaja terbang ke Paris demi menemani di peragaan dan pesta Alstrom.


Kehadiran Jacob sangat membantu Jace di pesta, ia memiliki tameng ketika banyak orang hendak mengambil waktu untuk berbincang lama. Jacob juga sangat paham akan gestur tubuh Jace ketika ia terlihat bosan berbicara dengan seseorang. Dengan cepat Jacob beralasan agak Jace meninggalkan orang-orang itu.


“Mr. Alstrom.” Sapa model mengenakan mini dress memamerkan tungkai panjangnya.


Jacob tersenyum menyeringai lalu mencondongkan tubuh ke telinga Jace “Daun muda, mereka baru menginjak 20 tahun.”


Jace hanya membalas dengan sebuah lirikan tajan ke arah Jacob.


“Hai Ellis.” Jace balas menyapa dan berhenti di tempat 2 model itu berada.


Model bernama Ellis itu tersenyum lebar karena Jace mengingat namanya.


“Hai Tallulah.” Jace menyunggingkan senyuman kepada model yang terlihat gugup dengan kedatangannya.


“Mr. Alstrom.” Suara model bernama Tallulah tercekat dan bergetar memanggil namanya. Jace memandangi dengan lekat gadis yang sedang naik di dunia model. Wajahnya yang unik, sederhana dan cantik, maniknya biru dianugerahi


bola mata yang sangat besar.


“Bagaimana dengan pestanya, apakah kalian menyukainya?” tanya Jace, ia melirik Jacob menepi menerima panggilan telepon. Ia bisa menebak jika itu telepon dari istri Jacob yang sangat posesif. Kabar baiknya adalah wanita itu telah hamil hingga Lainey Westberg tidak bisa ikut ke Paris. Namun tetap saja setiap 30 menit menelepon suaminya.


“Kami sangat menikmatinya, ini adalah gelas kami yang ke 3.” Ellis menaikkan gelas winenya keatas.


Jace memerhatikan jemari gemetar Tallulah yang ikut memamerkan gelas panjangnya yang isinya hampir habis.


“Apakah kau sakit, Tallulah?” tanya Jace sedikit merunduk memerhatikan wajah serba salah sang model belia.


Ellis menyenggol keras temannya “Ayo.”


“Maafkan aku Mr. Alstrom sepertinya temanku sedang tidak enak badan. Aku akan meninggalkan kalian sebentar dan mencari aspirin. Apakah kau


bisa menjaganya?” ucap Ellis model berambut pirang coklat tua memohon kepada Jace.


Pemilik Alstrom itu mengangguk dengan pelan “Serahkan Tallulah kepadaku.”


Jace tersenyum geli melihat kedua model itu berpelukan sambil berbisik. Ia tidak bisa mendengarkan perbincangan Ellis dan Tallulah karena suara musik berganti genre hip hop memenuhi ruangan itu, ditambah seruan beberapa orang bergoyang di tempat masing-masing.


“Kau bisa berjalan?” Jace mengamati perubahan ekspresi Tallulah ketika Ellis berjalan meninggalkan mereka.


“Iya, saya bisa.” Gadis belia itu menjawab lalu menghela napas dengan lembut dan melangkah mengikuti Jace ke arah sofa VVIP.


“Duduklah sambil menunggu temanmu.”


Tallulah, model yang mengenakan dress berwarna hitam mendudukkan bokongnya dengan pelan, seolah sofa yang didudukinya terbuat dari hal sangat mahal dan berharga.


“Mungkin Paris Fashion Week menguras tenagamu.” Jace membuka percakapan sambil menyodorkan air mineral ke arah Tallulah. Model belia itu menyambutnya dengan kikuk.


“Tidak, Mr. Alstrom. Tadi sebelumnya saya masih baik-baik saja.”


Tallulah terlihat menikmati air mineral membasahi


tenggorokannya, Jace menebak jika gadis itu baru menyesap cairan bening yang tidak berasa.


“Setelah pesta kau beristirahat -lah yang banyak. Tidak perlu berwisata seperti teman-temanmu.” Ucap Jace berlagak sosok dewasa menasehati


Tallulah. Gadis cantik itu menganggukkan kepala dengan bibir terlipat gugup.


“Saya akan kembali ke New York, Mr. Alstrom. Ellis sebenarnya mengajak berlibur ke Cannes tapi orang tua saya akan berkunjung ke NY.”


“Kenapa kau tidak mengundangnya ke Paris? Kalian bisa berliburan di kota ini, sekalian ke Cannes.” Imbuh Jace cepat melihat Tallulah mulai bisa berbicara panjang kepadanya.


Kelopak mata sendu menatap Jace, gadis belia itu terlihat sangat cantik.


“Mommy sedang malas terbang ke Eropa, Mr. Alstrom.” Jawab Tallulah sopan kemudian menyeka keringat di pelipisnya.


“Dari Nebraska?” Jace melihat kegugupan Tallulah kembali muncul.


Pandangan mata Tallulah nanar menatap pria tampan di sampingnya, semua isi perutnya bergolak di dalam sana. Jantungnya membara


dengan keberadaan Jace yang hanya berjarak 30 centi dengan tubuhnya.


“Iya, Nebraska.”


Jace mendekatkan tubuh, spontan memegang kening Tallulah. Manik indah mengerjap lalu melebar ketika Jace melalukan itu.


“Kau demam, Tallulah.” Diagnosa Jace setelah merasakan suhu tubuh model belia itu berada di atas normal manusia umumnya. Ia pun mengendarkan pandangan mencari Ellis yang belum menampakkan batang hidungnya.


Tangan lentik memegang kuat lengan Jace “Mr. Alstrom. Aku ingin muntah.” Lirih Tallulah dengan wajah pucat pasi.


“Oh Tuhan!” Jace berseru, spontan menggendong Tallulah ke arah toilet yang berada tidak jauh dari sofa VVIP. Jangan bayangkan toilet pada


umumnya, ruangan bertuliskan toilet adalah ruangan kamuflase. Di dalamnya adalah


sofa mewah nan empuk, dan 4 pintu untuk dua gender.


Jace sangat yakin jika tidak ada orang di toilet wanita, ia membuka kenop pintu bergagang emas. Dengan pelan Jace menurunkan Tallulah di


depan kloset.


“Tinggalkan aku, Mr. Alstrom.” Tallulah mendorong dengan tangan kanan sementara tangan kirinya mencengkeram kloset.


“Tidak,Tallulah. Keluarkan semua isi perutmu.” Jace memegang surai coklat Tallulah bersamaan gadis memuntahkan segala macam.


Aku akan bunuh diri setelah ini ! pekik Tallulah merasakan perih luar biasa di tenggorokannya. Alkohol dan makan yang tercerna keluar dari


mulutnya.


Jace mengusap punggung Tallulah yang keringatan, sungguh kasihan gadis belia ini. Berada jauh dari keluarga dan sedang sakit karena peragaan busana. Jace yakin jika bukan hanya Alstrom diperagakan oleh Tallulah, paling tidak 3 brand menguras fisik gadis itu.


Syukurnya Alstrom tahun ini memilih hari terakhir Paris Fashion Week, bukan hari pertama atau pertengahan event. Menjadi penutup dan


menjadi headline berita mode hari itu.


“Lap bibirmu dengan ini.” Jace mengulurkan sapu tangan berbahan sutra ke arah Tallulah. Gadis bertubuh indah tidak berani menatap, hanya meraihnya dalam anggukan kepala yang lemah.


Jace pula –lah yang menekan tombol kloset ketika insiden muntah Tallulah berakhir, sang model belia berusaha berdiri dengan kaki yang goyah. Kembali Jace sigap membantu Tallulah.


“Kau harus pulang, Tallulah.” Saran Jace lembut, Tallulah mendongak dengan wajah pucat. Manik indah itu menatapnya sendu, sebelum terpejam dalam erangan kecil Tallulah.


“Tidak!” seru Jace kaget. Tallulah pingsan dalam pelukannya.



Sebuah tepukan di punggung Jace menyadarkannya.


“Dia akan baik-baik saja, bro. Hanya kelelahan dan sedikit syok. Harusnya Tallulah beristirahat bukannya nekat menghadiri pesta Asltrom.”


Jacob berbicara dengan pandangan mata ke arah mobil ambulance bergerak menjauh. Di dalam mobil itu ada dua model menemani Tallulah. Jace ingin ikut mengantar sang model namun Jacob mengingatkan jika pestanya masih berlangsung dan makin meriah. Ia tentu tidak bisa meninggalkan tamu-tamunya, demi gadis berkelopak sendu bermanik biru.


Jace menggelengkan kepala lalu mengembuskan napas dalam “Ya, dia akan baik-baik saja.” Ucapnya berbalik kembali memasuki restoran mewah melalui pintu belakang. Tallulah dikeluarkan dari pintu yang sama, panitia pesta yang menyarankan hal itu agar tidak terjadi kehebohan kala pesta sedang berlangsung meriah.


Dua jam kemudian Jace menghempaskan tubuhnya di jok mobil dengan kasar, di kursi belakang ada Jacob separuh sadar beserta wanita yang berhasil di gaetnya di pesta.


Pernikahan Jacob sungguh unik, istrinya sedang hamil muda dan lihatlah pria itu di belakang. Antara mabuk dan sadar menggeranyangi tubuh si model berambut merah. Kate Thomas, nama model itu. Jika Jace tidak salah, Kate berusia 27 tahun, cantik dan yah binal. Terbukti Kate tidak mempedulikan status Jacob dan terus menempel pada kepala divisi keuangan Alstrom selama pesta.


Jace hanya bisa menghela napas panjang dan


membuka sandi pengaman ponselnya. Banyak notifikasi yang masuk dan ada satu pesan yang sangat menarik perhatiannya.


Hi, Mr. Alstrom. Ini nomerku, Aubrey Camomile. Jacob memberikan nomermu kepadaku, jangan marah kepadanya karena aku –lah yang memaksanya. Oh ya, selamat atas keberhasilan peragaan Alstrom hari ini. Aku menontonnya di NY


dengan live streaming. Aku merasa akan menguras tabunganku melihat koleksi Alstrom yang sangat luar biasa. Sekali lagi selamat, Mr. Alstrom.


Desahan puas keluar dari bibir Jace setelah membaca pesan Aubrey, single parent sepupu Jacob. Pria selaku sahabatnya yang sedang


berperang dengan Kate Thomas, menggunakan mulut.


Jace menatap pada jalanan, perhatiannya terarah pada toko swalayan 24 jam yang lampunya menyala terang.


“Tolong berhenti.” Pinta Jace kepada sopirnya.


Pria jangkung itu melesak turun dari mobil dan melangkahkan tungkai kakinya dengan lebar.


“Hei Iris!” panggilnya kepada gadis yang beberapa saat lalu keluar dari swalayan 24 jam itu.


Gadis yang dipanggil berbalik tersentak, serba salah lalu terpekik riang.


“Mr. Alstrom! Apa kabarmu?” seru Iris setengah berlari menghampiri Jace.


Malam menjelang pagi, Paris semakin syahdu dan romantis. Dua anak manusia saling berpandangan dengan senyum terbaik tersungging di wajah


masing-masing.


“Baik dan sangat lelah, tapi maukah kau menemaniku mengobrol hingga pagi tiba, Nona Pizza?” tanya Jace lembut dan manis, ia sangat tahu jawabannya hingga dengan mantap melangkahkan kaki ke dalam swalayan. Mesin kopi otomatis adalah tujuan pria yang kehilangan gel pada surainya. Jace bisa menatap pantulan samar wajahnya pada dinding kaca, acak-acakan.


“Americano. Aku suka Americano, Mr. Alstrom.”


###


Aubrey



Iris



Tallulah



Mr. Alstrom



alo kesayangan 💕,


aku berhenti membuat capture komen terbaik.. apakah menurut kalian itu perlu diteruskan ??


btw, kalian masih team Iris ? team Aubrey atau team Tallulah?.


love,


D 😘